Kepastian Cinta

Kepastian Cinta
92


__ADS_3

Rayya yang mendengar itu pun tersenyum, “Anak? Sejak kapan Rayya setuju untuk menjadi istri kakak melahirkan anak untukmu.” Ucap Rayya.


“Ouh ayolah dek. Jangan mengerjai kakak begini.” Ujar Ariq menarik lengan Rayya dan akhirnya mereka pun saling bertatapan.


Rayya segera memalingkan wajahnya ke arah lain, “Siapa coba yang mengerjai kakak. Kakak sendiri yang pikirannya terlalu kejauhan. Rayya memang kemarin sudah menerima lamaran dadakan kakak itu ya karena terpaksa juga. Banyak orang yang melihat dan tidak mungkin Rayya mempermalukan kakak dengan menolaknya. Jadi jangan anggap karena cincin ini masih tersemat di jari Rayya berarti hal itu Rayya sudah bersedia menerima lamaran kakak. Bersedia menikah dan menjadi istri lalu melahirkan anak untukmu. Lamaran kemarin memang sudah bisa di sebut lamaran tapi Rayya tidak ingin lamaran yang seperti itu.” Ujar Rayya.


Ariq tersenyum, “Ya sudah coba kamu katakan kau ingin lamaran seperti apa?” tanya Ariq.


Rayya mengangkat bahunya, “Rayya juga gak tahu. Kakak pikir saja sendiri. Hanya satu hal yang pasti aku tidak ingin lagi ada lamaran dadakan atau kakak datang tanpa pemberitahuan begini. Jangan terlalu membuatku kaget kak. Walau aku tidak punya riwayat jantung tapi setidaknya untuk menjaga jantungku agar tetap sehat jangan mengagetkan seperti ini.” ucap Rayya.


Ariq mengangguk, “Baiklah. Maaf! Aku akan ingat semua keluhanmu ini.” ujar Ariq.


Rayya pun tersenyum, “Keluhan. Ya anggap saja itu keluhanku. Dan bicara tentang keluhan. Mungkin kakak dan ibu kakak sudah berencana untuk datang melamar. Tapi setidaknya sebelum lamaran itu aku ingin bertemu dan mengenal keluarga kakak yang lain. Aku tidak ingin menjadi menantu yang tidak kenal keluarga suaminya. Kita memang sudah berkomunikasi selama dua bulan tapi tidak sama sekali membahas keluarga. Bahkan kemarin aku baru saja berkenalan dengan ibumu. Jadi setidaknya kakak jelaskan keluarga kakak untukku dan aku juga akan melakukan hal yang sama. Aku akan menjelaskan keluarga dan akan mengenalkanmu pada mereka. Tapi seperti yang sudah kakak lihat kemarin dan berkenalan kemarin. Itulah seluruh keluarga intiku.” Ucap Rayya duduk.


Ariq pun ikut duduk, “Aku paham apa maksudmu dek. Tapi terkait keluarga ini kamu sudah berkenalan dengannya kemarin. Kakak anak yatim hanya tinggal dengan ibu dan tidak memiliki adik. Jadi kita sudah saling mengenal keluarga inti satu sama lain. Tinggal keluarga besar saja yang belum.” Ucap Ariq.


Rayya yang mendengar pengakuan Ariq ini kaget walaupun dia sudah bisa menduganya bahwa Ariq itu sudah tidak memiliki ayah, “Apa kamu kaget? Jadi apakah kamu masih bersedia menikah dengan seorang anak yatim ini?” tanya Ariq.


“Ouh ayolah kak. Jangan bicara hal yang seperti ini. Kita tidak pernah memilih untuk di lahirkan dalam keluarga seperti apa. Aku kagum walaupun kakak tidak memiliki seorang ayah namun kakak bisa menjadi seperti sekarang. Kakak sudah punya pencapaian besar yang tidak bisa semua orang miliki. Aku hanyalah seorang gadis yang datang padamu saat kau sukses. Jadi apakah pantas aku mengeluh padamu. Jika kau saja sudah memutuskan untuk memilihku gadis dua bulan yang kau kenal lalu kenapa aku tidak harus memilihmu.” Ucap Rayya.


“Jadi? Apa itu artinya kau menerimanya?” tanya Ariq.


Rayya tersenyum lalu mengangguk, “Aku tidak punya jawaban selain iya untukmu kak. Aku nyaman denganmu. Harus aku akui bahwa berteman denganmu membuatku nyaman dan rasa suka dan kagum padamu muncul hanya dengan kita saling bertukar pesan. Jadi untuk menumbuhkan cinta di hatiku setidaknya kenalkan aku dengan dirimu. Aku pun akan melakukan hal sama. Aku tidak akan menyembunyikan apapun darimu.” Ucap Rayya.


“Aku akan mengenalkan diriku. Tapi kau jangan kaget jika apa yang kau lihat sekarang bukanlah aku yang sebenarnya. Seperti yang kau katakan nanti mungkin kehidupanku akan membuatmu kaget dan kesehatan jantungmu akan terganggu nanti.” Ucap Ariq tersenyum.


“Aku akan menyiapkan diriku untuk itu. Aku akan minum obat penguat jantung agar tidak akan kaget lagi nanti.” Timpal Rayya tersenyum.


Ariq yang mendengarnya pun terkekeh, “Jadi, apakah kau setuju kita jalan malam ini?” tanya Ariq.


Rayya yang mendengar itu pun menatap Ariq sekilas lalu dia tersenyum dan mengangguk, “Untuk ajakan ini jawabannya iya. Tapi kemana kita akan jalan?” tanya Rayya.


“Ini adalah kejutan. Aku harap kau tidak kaget dan kau sudah menyiapkan jantungmu agar tidak kaget nanti.” Ucap Ariq.


Rayya pun mengangguk, “Baiklah jika begitu. Rayya suka kejutan.” Ucap Rayya.


“Dek, apa bisa kakak numpang sholat?” tanya Ariq.


Rayya pun mengangguk, “Tentu saja kak. Ayo masuk! Aku tunjukkan ruang sholat.” Ajak Rayya.


Ariq pun segera mengikuti Rayya dari belakang sampai masuk ke dalam kediaman calon mertuanya itu. Menurutnya kediaman mertuanya itu sangat unik dan cantik. Semua barang dan furniture di sana lengkap dan teratur dengan rapi.

__ADS_1


“Silahkan kakak wudhu dulu.” Ucap Rayya.


Ariq pun segera berwudhu sementara Rayya menunggu dari jauh. Zayya mendekati kakaknya itu dan tersenyum menggoda, “Cielah, yang menunggu calon suami berwudhu.” Bisik Zayya tersenyum.


Rayya pun hanya tersenyum menanggapi adiknya itu. Rayya memang seperti itu. Memiliki sifat yang sangat unik. Suka menggoda kedua kakaknya.


Zayya segera menghilang lagi begitu Ariq sudah terlihat. Dia segera bersembunyi dan hanya Rayya yang bisa melihatnya.


“Ayo kak!” ucap Rayya sambil menatap adiknya yang tersenyum menggoda.


“Silahkan ini ruang sholatnya. Ohiya ini sejadah sama sarung.” Ucap Rayya mengambil sejadah dan sarung dari lemari yang ada di sana.


“Silahkan kakak sholat. Rayya akan menunggu di luar.” Ucap Rayya lalu dia segera keluar.


Ariq pun mengangguk dan melihat sekelilingnya dan dia tersenyum melihat semua yang di sana itu teratur rapi. Dia mengaguminya.


***


Sementara Rayya yang keluar segera menuju kamar yang di mana di sana sudah ada Zayya yang sedang berbaring di tempat tidur dan tersenyum menggoda padanya. Rayya pun mendekati adiknya itu dan merebut coklat yang sedang dia makan, “Kak, kembalikan coklatku.” Pinta Zayya kesal.


“Ambil saja sendiri jika bisa. Salah sendiri menggodaku. Itu adalah bayaran atas godaanmu.” Ucap Rayya.


“Dari pada kamu cemberut dan sedih yang mengakibatkan wajahmu kusut begitu. Lebih baik kau segera mandi sana.” Ucap Rayya sambil menutup hidungnya.


Zayya yang melihat itu pun melempar Rayya dengan bantal, “Ih kak aku itu masih wangi ya. Aku itu harum. Dasar kau. Aku tidak sebau itu.” ujar Zayya kesal.


Rayya pun terkekeh lalu segera mengambil bantal di lantai yang di lempar adiknya itu dan meletakkannya di ranjang, “Maaf ya adikku yang cantik. Aku akan menukar coklatmu itu. Aku akan membelikannya nanti.” Ucap Rayya.


Zayya yang mendengar itu langsung tersenyum berbinar, “Beneran yaa? Okay. Aku tidak jadi kesal padamu. Aku tidak akan menggodamu lagi.” Ucap Zayya senang.


Rayya pun tersenyum melihat ekspresi adiknya itu dan kini timbul ide jahat di otaknya, “Yah, tapi mana uangnya?” ucap Rayya sambil menengadahkan tangannya.


“Ih kakak. Kok gitu. Masa iya menukar coklatku dengan uangku juga. Ih sudah rugi aku menjanjikan hal itu tadi. Aku menarik kata-kataku lagi.” Ucap Zayya kesal.


Rayya pun tertawa, “Kakak gak bilang loh akan membelikanmu coklat dengan uang kakak. Kakak hanya bilang akan membelikanmu coklat. Masa iya sudah kakak yang membelinya pakai uang kakak lagi. Rugi dong aku.” Ucap Rayya.


“Tapi kan kak Ray mengatakan tadi akan menukar coklatku. Nah, di mana-mana menukar itu berarti mengganti. Jadi sudah pasti uang untuk menggantinya itu pakai uang kakak dong. Kok begini sih. Sudah ahh aku mau mandi aja. Aku malas debat denganmu.” Ucap Zayya segera turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.


Rayya pun menahan tangan adiknya itu, “Sudah ahh jangan kesal begitu. Kakak hanya bercanda aja. Jangan menganggapnya serius. Sudah sana selesai kau mandi. Tulis saja yang ingin kau pesan. Kakak akan membelikannya untukmu.” Ucap Rayya.


“Membelikannya untukku? Itu berarti pakai uang kakak kan?” tanya Zayya memastikan. Dia tidak ingin di kerjai lagi seperti tadi.

__ADS_1


Rayya menggeleng tersenyum, “Pakai uangmu lah.” Ucap Rayya.


Zayya pun cemberut dan hendak melepas tangan kakaknya yang menahannya itu, “Sudah pakai uang kakak. Kakak bercanda dek.” ujar Rayya akhirnya karena tidak tega melihat wajah adiknya itu.


Zayya pun tersenyum lalu segera mengecup pipi Rayya, “Terima kasih kakak cantikku. Aku akan menulis itu dulu sebelum mandi. Lebih baik kakak saja yang duluan mandi sana.” Ucap Zayya segera mendorong Rayya menuju kamar mandi.


“Giliran ada maunya langsung saja memuji kakak pakai cium segala lagi. Uhh dasar adikku.” Ujar Rayya lalu dia segera masuk menuju kamar mandi.


Sementara Zayya segera mengambil kertas dan pulpen di meja belajar mereka dan mulai menuliskan apa yang akan dia pesan kepada kakaknya itu. Mumpung gratis kan. Sebagai adik yang baik dan sholelah Zayya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini untuk menguras kantong kakak keduanya itu. Kapan lagi coba dia bisa melakukan ini. Jika nanti kakaknya itu akan menikah maka pasti dia akan canggung untuk meminta hal seperti ini lagi. Jadi mumpung kakaknya itu belum menikah maka dia akan menguras kantong kakak keduanya itu. Memang jadi adik itu sangat membahagiakan jika memiliki kakak yang punya uang seperti Nayya dan Rayya.


***


Sementara di luar, Ariq baru saja selesai sholat dan dia segera keluar dari ruang sholat itu.


“Nak, di mana Rayya?” tanya mama Fara yang melihat Ariq keluar sendiri.


“Rayya. Ariq juga gak tahu mah.” jawab Ariq.


“Mungkin dia di kamarnya. Ohiya duduk nak.” ucap mama Fara mempersilahkan Ariq duduk di ruang keluarga itu. Mama Fara segera memanggil papa Imran untuk menemani Ariq bicara di ruang keluarga.


“Nak!” ucap papa Imran segera bergabung dengan Ariq.


Ariq pun menunduk penuh hormat, “Apa Rayya setuju di ajak jalan?” tanya papa Imran basa basi.


Ariq pun mengangguk, “Dia setuju pah. Ohiya Ariq ingin mengajaknya bertemu dengan teman-teman Ariq. Mungkin Aria akan mengantarnya ke sini sekitar pukul sembilan atau sepuluh begitu.” Ucap Ariq.


Papa Imran pun mengangguk, “Papa percaya padamu nak. Kau akan menjaga Rayya dengan baik. Kau pasti tidak akan melakukan hal yang tidak-tidak padanya. Kalian sudah sama-sama dewasa sudah tahu mana yang terbaik untuk kalian. Jadi satu pesan saya, jangan kecewakan orang yang mempercayai kalian.” ucap papa Imran.


Ariq pun mengangguk, “Terima kasih pah atas izinnya. Ariq janji akan menjaganya dengan baik dan akan memulangkannya tanpa kurang sedikit pun. Ohiya pah, Ariq dan ibu ingin meminta izin kepada papa dan mama. Kami berencana untuk datang melakukan lamaran resmi minggu depan. Kira-kira apa papa dan mama bersedia untuk itu.” ujar Ariq.


“Lamaran resmi ya? In syaa Allah kami bersedia dan siap menyambut kalian nak. Tapi apa papa bisa bertanya beberapa hal?” izin papa Imran.


Ariq kembali mengangguk, “Silahkan pah. Ariq akan menjawabnya dengan jujur.” Jawab Ariq.


Papa Imran pun mengangguk, “Kalau begitu. Untuk pertanyaan pertama, apa alasanmu memilih putri kami untuk jadi istrimu nak? Bukankah banyak gadis di luaran sana yang bahkan lebih cantik lebih segalanya dari putri kami? Tapi kenapa kau justru menjatuhkan pilihanmu pada putri kami. Padahal putri kami baru saja lulus juga dari profesinya. Belum punya kerjaan sama sekali.” ucap papa Imran.


Ariq tersenyum, “Papa benar. Banyak di luaran sana yang memang cantik atau mungkin lebih kaya dari Rayya. Tapi Rayya menurut saya berbeda. Dia memiliki sesuatu yang tidak di miliki oleh banyak gadis. Dia unik dengan segala pembawaannya yang jujur. Dia tidak memendam apa yang dia rasakan. Dia mengungkapkannya. Selain itu juga dia pernah menjadi penyelamat untuk saya. Mungkin secara tidak sengaja. Bahkan Rayya sendiri tidak ingat sama sekali. Saya tidak pernah lupa kejadian itu. Saya melihatnya untuk pertama kali. Saat itu saya baru saja selesai pendidikan belum di lantik. Dia membantu saya menjadi saksi mata untuk sebuah kecelakaan yang hampir menyeret nama saya. Dia datang bagai pahlawan yang menjelaskannya semuanya sehingga saya pun akhirnya tetap di lantik menjadi polisi. Jika bukan karena pertolongan Rayya saat itu mungkin saya tidak menjadi seorang polisi saat ini dan mungkin justru mendekam di balik jerusi besi.” Ujar Ariq.


Papa Imran pun mengangguk-ngangguk mencoba memahami apa yang terjadi, “Jadi apa itu pertemuanmu dengan Rayya untuk pertama kali? Kejadian apa itu? Apa saya bisa tahu?” tanya papa Imran.


“Saat itu saya yang baru pulang dari pendidikan segera pulang ke rumah. Namun ibu meminta saya untuk membeli sesuatu lebih dulu. Nah, saat itu siang hari ahh bukan sekitar jam dua begitu. Saya yang saat itu membawa sepeda motor milik ibu hampir saja menabrak anak kecil di jalanan. Saya mengerem mendadak. Itu bukan salah saya sebenarnya karena anak itu tiba-tiba menyebrang padahal saya sudah menyalahkan lampu sein. Anak itu juga berjalan dengan bapaknya. Saya tidak menabraknya karena langsung mengerem mendadak namun tetap saja stir motor saya terkikis padanya sehingga dia jatuh tapi tidak terluka sama sekali. Namun bapak anak itu marah dan menimbulkan keributan.”

__ADS_1


__ADS_2