Kepastian Cinta

Kepastian Cinta
115


__ADS_3

“Diaz, katakan saja berapa banyak waktu lagi yang ku punya?”


“Mas, nak, dek!” itu suara Nayya, mami Vega dan Adiba dengan ekpresi sedih masing-masing.


Risam tersenyum menatap seluruh keluarga di sana, “Aku tahu ini berat untuk kita semua. Jujur saja ini berat untukku juga. Tapi aku sudah bersiap untuk per--”


Nayya segera menutup bibir suaminya itu dengan jari telunjuknya dan menggeleng, “Jangan katakan itu mas. Kita akan cari obat dan berjuang bersama-sama.” ucap Nayya meneteskan air matanya. Mami Vega dan Adiba yang melihat itu pun hanya bisa ikut menangis dan bersembunyi di dada suami masing-masing.


“Diaz, katakan saja!” ulang Risam.


Diaz menatap kembali seluruh keluarga dan menarik nafas panjang lalu dia menggeleng. Mama Fara yang melihat jawaban menantu kecilnya itu seketika menangis dan bersembunyi di dada papa Imran.


Sementara Risam tersenyum lalu mengusap air mata di pipi Nayya dengan lembut, “Sayang, jangan menangis. Aku tidak akan pernah rela istriku ini menangis. Jangan menangis sayang.” ucap Risam lembut. Nayya tetap menangis. Semua keluarga pun ikut menangis. Ternyata perjuangan Nayya dan Risam selama ini akan berakhir seperti ini.


Tiga hari kemudian, keadaan Risam stabil tapi detak jantungnya makin lambat karena memang jantungnya mengalami kegagalan. Dadanya terasa nyeri. Walaupun operasi yang dia lakukan berjalan lancar tapi itu tidak menjamin semuanya akan kembali pulih.


Nayya menyuapi suaminya itu dengan lembut sambil tetap berharap bahwa akan ada keajaiban walaupun dia tahu itu mustahil karena Diaz mengatakan sudah tidak ada harapan lagi. Risam juga sudah menerima takdirnya itu. Dia sudah berpesan kepada semuanya.


“Ayah!” panggil triplets datang bersama Rayya dan Zayya.


Ketiga buah hatinya itu hari ini mengajukan izin karena ingin menjenguk ayah mereka di rumah sakit. Mereka memang tahu ayah mereka itu sakit karena mereka adalah anak-anak yang cerdas yang memiliki IQ di atas rata-rata sehingga bisa dengan mudah memahami apa yang terjadi.


“Sayang, aku ingin bicara dengan ketiga anakku. Kamu bisakah keluar?” pinta Risam.


Nayya pun mengangguk lalu dia segera keluar dan duduk di ruang tunggu. Rayya dan Zayya yang melihat itu pun segera mendekati Nayya.


“Kaakk!” panggil keduanya bersamaan.


Nayya pun menatap dua adiknya itu dengan air mata yang sudah menetes di pipinya, “Dek, sakit dek. Kenapa ini terjadi?” tanya Nayya kepada kedua adiknya itu.


Rayya dan Zayya pun segera memeluk kakak mereka itu, “Kak, sabar kak.” Ucap Rayya.


“Dek, apa ada seorang suami yang meminta istrinya berjanji untuk menikah lagi sementara--” ucap Nayya tidak bisa melanjutkan perkataannya. Hanya tangisan yang bisa mendeskripsikan perasaannya saat ini yang benar-benar lemah. Bagaimana tidak lemah saat suami yang dia cintai di akhir hidupnya justru meminta berjanji untuk menikah lagi.

__ADS_1


Kini Nayya kembali bersama suaminya itu di ruangannya. Risam sudah meminta Nayya untuk menyuruh keluarga mereka datang. Kini di ruangan itu semua ada.


“Sayang, tolong bacakan aku surah Ar-Rahman. Itu adalah surah yang pertama kali ku dengar saat kau membacanya dan membuatku jatuh hati padamu. Aku ingin pergi membawa cintaku dengan lantunan surah yang sama.” ucap Risam.


“Jangan menangis sayang. Jangan menangis anak-anak hebat ayah. Mami, papi, kak dan semuanya. Jangan menangisi kepergianku. Aku hanya akan tidur saja.” ucap Risam tersenyum.


Semua keluarga yang mendengar itu menahan tangis mereka di dada terutama mami Vega yang justru kini terdengar menangis karena ucapan Risam itu sama seperti mertuanya meninggal dulu. Pesan yang sama.


“Sayang, ayo mulailah!” pinta Risam.


Nayya pun menatap suaminya itu dengan air mata yang sudah berada di pelupuk matanya. Dia segera membaca ta’awuz dan basmalah lalu mulai membaca surah Ar-Rahman itu ayat demi ayat walaupun suara yang keluar dari bibirnya itu seraya tercekat di tenggorokannya karena bagaimana mungkin seorang istri bisa melakukan itu di saat dia tahu bahwa itu adalah saat-saat terakhir suaminya. Tapi itu adalah permintaan suaminya.


“Tabaarakasmu rabbika dzil-jalaali wal-ikraam.” Itu adalah ayah terakhir dari surah Ar-Rahman yang keluar dari bibir Nayya.


“Aku ingin tidur. Jangan bangunkan aku.” Ucap Risam lalu dia mulai mengucap syahadat. Tepat di kata terakhir muhammadarasullullah. Risam menghembuskan nafas terakhirnya.


Nayya yang melihat itu menangis menatap suaminya yang justru sedang tersenyum seperti sedang tidur saja. Nayya menangis tanpa suara sambil memeluk ketiga buah hatinya yang tidak menangis. Mereka benar-benar menepati janji untuk tidak menangis atas kepergian ayah mereka itu. Mereka tahu bahwa ayah mereka itu telah pergi tapi janji yang sudah di buat bersama ayah mereka tadi akan mereka tepati.


Sementara keluarga yang lain sudah pada menangis meraung-raung terutama mami Vega. Bahkan sampai pingsan karena tidak sanggup menerima kepergian putranya. Hati ibu mana yang tidak akan sedih saat anaknya meninggal walaupun dia sudah tahu akan hal itu.


Singkat cerita, Kini risam sudah selesai di makamkan. Dia dia makamkan di pemakaman keluarga dekat kediaman orang tuanya karena itu memang permintaannya sebelum dia meninggal. Nayya sambil memeluk ketiga buah hatinya itu menatap gundukan tanah di hadapannya dengan tatapan yang menyedihkan. Matanya sudah bengkak karena menangis sejak tadi.


“Aku tidak bisa mas! Kenapa kau pergi meninggalkan aku?” tangis Nayya.


“Nak, berhentilah menangis. Itu hanya akan menyiksanya.” Ucap mama Fara menatap nanar putrinya itu. Hati ibu siapa yang tidak akan sedih melihat putrinya kehilangan suaminya untuk selama-lamanya dan harus menyandang status janda di usia muda seperti itu. Belum genap 34 tahun.


“Ma, kenapa dia tega meninggalkan aku!” ucap Nayya tersedu-sedu. Lalu tiba-tiba Nayya pun pingsan di pemakaman suaminya itu mengikuti mami Vega yang memang dari tadi hanya pingsan saja karena tidak bisa menerima apa yang terjadi. Nayya segera di gendong oleh papa Imran dan di bawa ke rumah dengan di ikuti oleh keluarga yang lain.


Kini makam itu memdadak sunyi. Lalu tiba-tiba ada seseorang yang datang dan menaburkan bunga di atas makam yang masih baru itu, “Aku akan menepati janjiku. Aku akan menjaganya dan menjaga anak-anakmu!”


*


*

__ADS_1


...__TAMAT__


...


...[“Kebahagiaan itu tidak akan datang sendiri, kita harus menciptakannya jika ingin bahagia. Temukan kebahagiaanmu sendiri. Jangan menggenggam sesuatu yang tidak bisa kau genggam lagi. Lepaskan dan carilah yang lain. Percayalah bahagia akan datang pada orang-orang yang ingin merasakan bahagia itu.” _Nayyara Apriliani Al Ayaan_]


...


...[“Nikahilah seseorang yang kau cintai dan kau tahu bahwa kau bisa hidup bahagia bersamanya. Perjuangkan dirinya dan jangan menyerah. Untuk urusan takdir nanti semuanya adalah rahasia. Kita hanya perlu menjalani saja.”_Abrisam Fauzi El Amin]


...


...[“Jodoh dan kematian adalah takdir Allah yang di rahasiakan dan memiliki jangka waktu tertentu. Perpisahan karena kematian memang menyesakkan dada tapi keikhlasan pasti akan jadi obatnya.”_Author MirDa11_Kepastian Cinta_]


...


*


*


...Terima kasih sudah menemani author sampai novel ini selesai. Semoga saja kalian menyukai novel ini yang memang memiliki ending yang berbeda dengan novel author lainnya. Novel ini memang di rancang untuk memiliki ending seperti ini. Jadi love sekebon untuk para pembaca yang mengikuti novel ini hingga akhir🧡🧡🧡🧡🧡🧡


...


...Tetap semangat menjalani hari-hari yang banyak tuntutannya!!


...


...Sampai jumpa di karya Author selanjutnya!!


...


...Tungguin yaa..😊

__ADS_1


...


__ADS_2