Kepastian Cinta

Kepastian Cinta
Hati yang Berbicara


__ADS_3

Mulut bisa berbohong tapi tidak dengan hati. Hati tidak bisa berbohong karena hati memiliki perasaan yang kuat.


Begitupun dengan guru muda nan tampan ini. Ia sedang terombang ambing dengan perasaannya sendiri. Tak tahu apa yang mengganjal dihatinya. Sudah lama ia merasakan hal yang membuatnya tak nyaman. Ia selalu merasakan hal itu saat ia dekat dengan Yuna, namun ia tak menganggap serius hal itu. Ia bingung kenapa ia sangat khawatir saat melihat Yuna dalam bahaya, bahkan ia sangat nyaman saat memeluk Yuna.


Padahal ia memeluk Yuna hanya untuk menenangkannya. Tapi kenapa hatinya menolak jika itu hanya perasaan khawatir guru kepada muridnya. Pak Ahmad risau jika perasaan itu adalah perasaan antara dua orang perempuan dan laki-laki.


Kenapa aku harus mencintai muridku? pertanyaan itu selalu terngiang-ngiang dipikiran pak Ahmad.


Ia ingin menjaga jarak dengan Yuna namun ia tak bisa, karena melihat kondisi Yuna sekarang sangat tidak mungkin ia menjauh. Yuna membutuhkan perawatan dan perhatian darinya. Tidak ada orang selain ketiga guru laki-laki, kedua petugas yang sedang bertugas dipondok, dua orang petugas PMR, dan keempat teman Yuna. Mereka sibuk sendiri dengan urusan masing-masing. Ketiga teman Yuna berada ditenda bersama Alia, mereka sangat khawatir dengan kondisi Alia.


Sehingga pak Ahmad lah yang mengurusi Yuna. Ia selalu menemani Yuna di dalam tenda. Ia sangat khawatir dengan kondisi Yuna, tak henti-hentinya pak Ahmad menanyakan keadaan Yuna. Namun Yuna selalu menjawab bahwa ia sudah baikan karena dirawat oleh pak Ahmad.


" Bagaimana keadaan kamu?" tanya Pak Ahmad memastikan Yuna baik-baik saja.


" Saya sudah baikan pak, kalau pak Ahmad ada urusan bapak bisa pergi. Lagian disini ada petugas PMR yang bisa membantu saya jika saya butuh sesuatu," jawab Yuna memastikan bahwa ia sudah lebih baik dari tadi karena sudah dirawat oleh pak Ahmad. Yuna merasa nyaman berada disisi pak Ahmad, namun ia tak boleh egois. Ia tak bisa terus-terusan meminta pak Ahmad menemaninya disini. Pasti pak Ahmad punya kesibukan sendiri.


" Baguslah jika kamu sudah baikan saya ikut senang mendengarnya. Saya tidak ada urusan apapun selain menemani kamu disini" ucap Pak Ahmad yang tidak merasa direpotkan oleh Yuna. Ia malah merasa senang bisa menemani dan menjaga Yuna.


Hati Yuna terasa hangat saat pak Ahmad mengatakan hal itu. Ia merasa disayangi disini, merasa diperhatikan oleh gurunya.


" Oiya, kenapa nama panggilan saya kembali seperti semula?" tanya Pak Ahmad tak suka dipanggil seperti biasa oleh seluruh muridnya. Padahal ia sudah merasa senang dipanggil berbeda oleh Yuna, namun hanya sebentar sudah kembali lagi seperti semula.

__ADS_1


" Ehh masa si? Maaf ya pak, ma..maksud saya kak. Saya belum terbiasa dengan itu, jadi saya minta maaf dan mohon pengertian dari kakak." ucap Yuna, ia tidak bermaksud salah panggil namun ia masih belum terbiasa dengan itu sehingga masih sering salah.


" Saya kan sudah bilang ke kamu untuk panggil saya Ahmad saja itu yang paling akrab. Kalau pake kakak itu artinya kamu menganggap saya kakak kamu. Saya ngga mau jadi kakak kamu saya maunya lebih," ucap Pak Ahmad menyarankan panggilan yang menurutnya sangat tepat namun ia kelepasan berbicara tentang hubungan yang ia inginkan.


" Ahmad? Tidak buruk, tapi saya tidak janji akan memanggil anda sesuai yang anda inginkan. Dan apa maksud anda dengan kata akrab dan maunya lebih?" tanya Yuna menegaskan kata yang ia ulang dari ucapan pak Ahmad.


Pak Ahmad yang merasa telah keceplosan pun hanya bisa diam. Mau bicara namun bicara apa, ia takut semakin salah bicara. Ia semakin bingung dengan hatinya, apa sebenarnya yang ia inginkan. Apakan ia ingin menjadikan Yuna sebagai kekasih? Ia sendiri masih bingung dengan perasaannya.


Dan Yuna sendiri dibuat bingung oleh ucapan gurunya itu. Ia yang tidak peka itu pun berpikir keras apa yang dimaksud pak Ahmad.


Namun ia tak ingin salah tanggap dengan ini, karena jika salah sedikit saja takutnya pak Ahmad akan tersinggung dan malah menjauh dari Yuna. Ia tak mau dijauhi oleh orang yang sudah dekat dengannya. Jadi Yuna memilih untuk diam dan pura-pura tidak tahu.


** Lebih baik gue lupain omongan pak Ahmad** itulah yang ia pikir lebih baik karena ia tak ingin membuat masalah lagi.


(Eaaa kaya udah PDKT aja si pake aku kamu😂)


(AUTHOR)


Back to story!


Pak Ahmad dibuat tak berkedip matanya dengan panggilan yang disematkan Yuna. Ia sangat senang dengan panggilan itu. Sudah sejak tadi ia menunggu Yuna memanggilnya seperti itu. Hatinya berdebar-debar tidak karuan dibuatnya. Ia bagai terbang ke langit ketujuh karena ucapan yang terlontar dari mulut Yuna.

__ADS_1


" Halooo?" Yuna menyadarkan lamunan Ahmad yang entah pikirannya sedang dimana.


" Kamu ngga papa?" tanya Yuna yang membuat Ahmad semakin terbang tinggi melupakan segalanya.


Sekarang ia yakin dengan perasaannya. Seorang Ahmad sudah menyukai salah satu muridnya, dan itu adalah Yuna Akilazahra.


Ia akan berusaha mendapatkan cinta dari Yuna bagaimanapun caranya, ia akan memulai pendekatan dengan Yuna mulai dari sekarang.


" Ahmad!" seru Yuna mengagetkan Ahmad yang sedang berkhayal.


Karena seruan Yuna, Ahmad terlonjak kaget dan terjatuh dari kursinya. Namun sebelum ia jatuh ia meraih tangan Yuna, karena Yuna tidak siap,


BRUKK


Keduanya jatuh kebawah, dengan posisi Yuna berada diatas tubuh Ahmad. Mereka saling bertatap mata, ada hal tersembunyi dibalik tatapan mata Yuna yang tak diketahui olehnya. Ia semakin penasaran dengan apa yang disembunyikan oleh Yuna dibalik tatapan sayu itu. Dari posisi itu Ahmad bisa mencium aroma tubuh Yuna yang wangi walaupun berkeringat cukup banyak saat kejadian tadi.


Yuna yang mulai berdebar segera mengalihkan pandangannya kearah lain dan bangun dari posisinya


Beruntunglah didalam tenda hanya ada kedua orang itu tidak ada orang lain. Pak Ahmad hatinya berdebar-debar tak karuan, ia merasa telah mendapat durian runtuh. Ia pun bangun dan melihat wajah Yuna. Wajahnya terlihat merah semerah tomat. Yuna yang tau sedang diperhatikan oleh gurunya membuang muka karena malu. Jangan sampai pak Ahmad melihat mukanya yang sudah sangat merah.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa like yaa...


__ADS_2