
Aileen tak perduli, ia malah menjulurkan lidahnya ke arah Gabino seakan meledek pria itu dan membuat seisi meja makan tertawa.
"Hahaha, sudahlah kalian ini ribut terus sih! Ayo dimakan makanannya dong!" ucap Malika.
"Iya mas, ini masakan Aileen juga loh. Ardiaz, kamu cobain dong!" sahut Alana.
"Ah iya, saya juga gak sabar sih pengen nyicipin masakan calon istri. Ini pasti enak banget deh," ucap Ardiaz memuji masakan gadisnya.
"Iya cobain aja pak, pasti enak dong kan aku yang masak!" ucap Aileen dengan pede.
"Heleh boong banget, paling juga lu cuma bantuin dikit, ini mah namanya masakan mama bukan lu!" cibir Gabino.
"Ih sewot aja sih kakak, bilang aja kakak iri sama aku karena kakak gak bisa masak!" ujar Aileen.
"Ngapain gue iri? Masak itu tugas perempuan, dan istri gue udah jago masak kok. Nah, yang kasihan tuh Ardiaz karena dapat cewek kayak lu!" ucap Gabino sambil terkekeh.
"Jahat banget sih kakak, kakak macam apa yang ledekin adiknya sendiri?!" kesal Aileen.
"Heh! Mau sampai kapan kalian debat terus? Udah ayo dilanjut makannya!" tegur Axel.
"Kak Gabi tuh pa, dia ngeselin banget!" ucap Aileen.
"Lu yang lebay, masa digituin doang baper?" balas Gabino.
Alana coba menenangkan suaminya itu, ia sentuh dan usap punggung Gabino berharap agar pria itu berhenti menggoda adiknya.
"Mas, udah lah mas jangan kayak gitu sama Aileen ah!" ucap Alana.
"Hahaha, biarin aja sayang biar Aileen kapok dan gak bertingkah kayak anak kecil lagi," ucap Gabino.
"Cukup mas, kamu gak boleh gitu sama adik kamu sendiri tau!" ucap Alana.
"Iya iya, yaudah yuk kita fokus makan aja!" ucap Gabino mengalah.
Mereka pun mulai melanjutkan makan siang itu, tak lupa Gabino meminta Alana menyuapinya begitupun sebaliknya.
"Mmhhh enak nih," ujar Ardiaz.
"Iya kan pak? Siapa dulu yang masak, Aileen gitu loh!" ucap Aileen pede.
"Iya, kamu pintar Aileen!" puji Ardiaz.
Aileen tersenyum lebar mendengarnya, ia sangat senang dapat menghidangkan makanan untuk calon suaminya itu.
__ADS_1
"Oh ya Diaz, kamu tahu kan soal isu hantu yang mengganggu Aileen?" tanya Malika tiba-tiba.
Deg!
Senyum di wajah Ardiaz seketika hilang mendengar pertanyaan calon mertuanya, begitu juga Aileen yang langsung menatap mamanya.
"Mama jangan bahas itu dulu dong! Kita kan lagi makan tau, jadi gak enak deh suasananya. Itu kan masalah yang penting ma, mending dibahas nanti aja," ucap Aileen.
"Gapapa, mama mau tahu aja reaksi Ardiaz kayak gimana dengan isu ini," ucap Malika.
"Iya sayang, mama kamu betul loh. Masalah ini harus segera diselesaikan!" ucap Axel.
"Ya aku tahu pa, tapi kan sekarang kondisinya kita lagi makan-makan bareng tau," ucap Aileen.
"Udah gapapa, mama sama papa kamu bener kok Aileen. Jujur saya juga belum bisa berhenti mikirin semua ini," ucap Ardiaz.
"Lalu, apa yang sudah kamu lakukan atau rencanakan terkait semua ini?" tanya Axel.
"Sejauh ini belum ada sih om, saya—"
"Masih om aja, panggil papa dong Diaz!" sela Axel.
"Iya pak, biasain panggil papa ke papa aku! Toh nanti papa aku juga bakal jadi papa kamu," sahut Aileen.
"Kalau menurut gue, lu mendingan datengin lagi deh tuh makam mantan lu itu!" usul Gabino.
Ardiaz serta yang lainnya disana tampak manggut-manggut menyetujui usulan Gabino yang memang terdengar benar itu.
•
•
Singkat cerita, Ardiaz datang ke makam Vivi bersama Aileen yang menemaninya sesuai usul Gabino di meja makan tadi.
Ardiaz yakin dengan cara ini Vivi bisa berhenti meneror Aileen dan memberi izin bagi mereka untuk melangsungkan pernikahan.
"Pak, bapak yakin semua ini akan berhasil dan Vivi gak akan marah lagi?" tanya Aileen pelan.
"Semoga aja sayang, yang penting kita berusaha dulu dan kita tunggu apa yang terjadi nantinya! Tapi, saya yakin sih Vivi bisa dengerin perkataan saya dan mau nurut," jawab Ardiaz.
Aileen mengangguk paham, lalu mengikuti langkah Ardiaz duduk di dekat makam Vivi yang masih bertabur bunga itu.
"Selamat pagi Vivi! Saya dan Aileen datang lagi kesini temui kamu, semoga aja kali ini masalah diantara kita bisa selesai ya Vivi! Saya gak mau ada lagi kejadian seperti kemarin," ucap Ardiaz.
__ADS_1
"Iya Vivi, aku juga mau minta izin dari kamu buat menikah sama pak Ardiaz. Aku tahu kamu cinta banget sama dia dan begitupun sebaliknya, maka dari itu aku minta restu dari kamu," ucap Aileen.
"Saya tahu kamu orang baik Vivi, pasti kamu gak akan melakukan kejahatan itu," ucap Ardiaz.
Tak lama kemudian, angin kencang kembali muncul dan membuat Aileen sontak panik lalu reflek berdiri menatap ke sekeliling.
"Pak, ini kenapa pak?" ujar Aileen.
"Tenang Aileen!" pinta Ardiaz.
Sosok wanita berbaju putih tiba-tiba muncul di hadapan mereka, Ardiaz sontak bangkit dan memegang tangan Aileen dengan erat.
"Hah? Siapa itu pak??" kaget Aileen.
"Vivi?" ucap Ardiaz lirih saat menyadari wanita di hadapannya mirip sekali dengan sang mantan.
"Mas Ardi," balas perempuan itu.
"Vivi, kamu apa kabar? Kamu aman-aman aja kan di atas sana? Aku harap kamu bisa tenang dan gak mengusik kehidupan Aileen lagi, karena itu bukan sikap kamu yang dulu sayang!" ucap Ardiaz.
Tanpa sadar, air mata menetes di wajah Ardiaz serta Vivi. Keduanya sama-sama bersedih dan bayangan masa lalu kembali terlintas.
"Aku sayang sama kamu, dari dulu sampai sekarang rasa itu tidak akan pernah hilang Vivi. Tapi, aku juga butuh sosok pasangan hidup yang bisa ada untuk aku di dunia ini," ucap Ardiaz.
"Bukan sebagai pengganti kamu Vivi, tapi lebih ke orang yang membantu kamu," sambungnya.
"Aku paham, aku minta maaf atas sikap aku belakangan ini yang selalu ganggu hubungan kalian. Aku sadar apa yang aku lakukan itu salah, aku benar-benar menyesal," ucap Vivi.
"Kamu gak perlu minta maaf, aku sudah maafkan kamu kok dan aku yakin Aileen juga begitu. Asalkan kamu mau berubah dan berjanji tidak akan melakukan itu lagi," ucap Ardiaz.
"Semua yang aku lakukan kemarin semata-mata karena aku cemburu mas, aku belum siap kalau kamu harus menikah dengan wanita lain," ujar Vivi.
Ardiaz menghela nafas, ia melangkah maju mendekati Vivi dan berniat menyentuhnya.
Namun, dengan cepat Vivi mengangkat tangan menahan Ardiaz agar tak mendekatinya.
"Tahan mas, kamu gak perlu kesini samperin aku! Kamu benar mas Ardi, dunia kita sudah berbeda dan aku gak bisa memaksakan kehendak untuk tetap memiliki kamu," ucap Vivi sambil terisak.
Melihat itu membuat Ardiaz tak kuasa menahan air mata yang semakin meledak.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1