
Setelah menempuh perjalanan cukup lama, akhirnya Ardiaz berhasil sampai di rumah Aileen untuk mengantar gadisnya itu pulang.
Aileen tampak melirik sekilas wajah Ardiaz yang masih kecewa karena ia tidak mau mengulang ciuman bibir mereka tadi.
"Pak, sampe kapan bapak mau diem terus begitu? Bapak marah sama aku?" tanya Aileen.
"Enggak, siapa yang marah? Mana bisa saya marah sama kamu Aileen? Saya aja panik banget waktu kamu diemin saya, masa iya saya marah ke kamu?" jawab Ardiaz sambil tersenyum.
"Bagus deh! Tapi, kenapa bapak daritadi diem aja gak ngomong sama sekali?" tanya Aileen lagi.
"Ya karena saya mau fokus nyetir, kalo kita ngobrol terus nanti gak sampe-sampe," jawab Ardiaz.
"Serius bapak gak marah?" tanya Aileen tak percaya.
"Iya sayang, emangnya kalau saya marah terus kamu mau apa?" ujar Ardiaz.
"Mau ikutan marah juga," ucap Aileen.
"Yeh kirain mau bujuk gitu atau cium saya, eh malah ikutan marah. Pacar macam apa itu?" ujar Ardiaz.
"Hehe, kan biar bapak gak marah lagi sama aku, jadi aku harus ikutan marah deh," kekeh Aileen.
"Duh kamu gemesin banget sih!" ucap Ardiaz sembari mencubit pipi gadisnya.
"Ih jangan dicubitin terus pak! Nanti kalau pipi aku makin ngembang gimana?" protes Aileen.
"Gapapa, saya justru suka kalau pipi kamu lebar. Jadinya saya bisa cubitin terus setiap hari," ucap Ardiaz.
"Udah ah pak, aku turun duluan ya?" ucap Aileen sambil menyingkirkan tangan Ardiaz dari pipinya.
"Ya ya, tapi saya ikut masuk ya?" pinta Ardiaz.
"Hah ngapain??" tanya Aileen kaget.
"Mau ngobrol aja sama kakak kamu, bahas soal hubungan kita. Saya ini kan mau serius sama kamu Aileen, supaya gak ada cowok lain yang bisa rebut kamu dari saya," jawab Ardiaz.
"Maksud bapak? Apa bapak pengen nikahin aku secepatnya gitu?" tanya Aileen.
"Mungkin begitu," jawab Ardiaz.
"Hah? Ih enggak-enggak, jangan ah pak!" sentak Aileen.
"Kamu kenapa sih Aileen? Apa salahnya kalau kita nikah?" tanya Ardiaz.
"Aku belum mau nikah pak, aku masih pengen lanjutin pendidikan aku sampai kuliah. Bapak kan juga udah setuju waktu itu tau," ujar Aileen.
"Iya sih, tapi makin kesini saya makin gak bisa tahan diri. Saya takut lepas kontrol aja kalau terus dekat-dekat sama kamu," ucap Ardiaz.
"Ohh, terus bapak maunya kita jauhan gitu?" tanya Aileen dengan bibir mengerecut.
"Gak gitu Aileen, saya maunya kita langsung nikah supaya saya gak perlu takut dosa kalau nanti saya gak tahan," jawab Ardiaz.
"Ck bapak mesum dasar—mmpphh!!" Ardiaz langsung menyumpal mulut Aileen dengan telapak tangannya sebelum gadis itu sempat melanjutkan ucapannya.
"Kamu bisa gak sih jangan panggil saya bapak kalo kita lagi berduaan? Saya jadi ngerasa kayak pedofil tau gak?!" kesal Ardiaz.
"Mmppphhh.." Aileen terus berontak dan memukul-mukul tangan Ardiaz yang menutupi mulutnya hingga berhasil lepas.
__ADS_1
"Ish, tangan bapak bau tau!" sentak Aileen.
"Biarin, suruh siapa kamu nakal? Sekali lagi kamu panggil saya bapak, saya cium bibir kamu sampai bengkak!" ancam Ardiaz.
Aileen sontak memegangi bibirnya, membayangkannya saja sudah membuatnya ngeri, apalagi jika Ardiaz benar-benar melakukan itu.
"Ih gak mau, bap— eh maksudnya mas mesum dasar!" ujar Aileen.
"Ya itu lebih baik, yaudah yuk kita temuin kakak kamu!" ajak Ardiaz.
Aileen hanya mengangguk, lalu keduanya pun turun bersama-sama dan segera melangkah ke depan rumah gadis itu.
•
•
Ting nong ting nong
Ardiaz menekan bel berkali-kali, berharap orang di dalam bisa mendengar dan lalu keluar membukakan pintu.
Ting nong ting nong
"Ih udah kali pak, gausah dipencet terus berisik tau!" tegur Aileen.
"Tuh kan masih panggil pak, mau dibikin bengkak tuh bibir?" kesal Ardiaz.
"Hah? Enggak-enggak!" panik Aileen.
Ardiaz tersenyum seringai melihat ekspresi ketakutan gadisnya, menurutnya Aileen sangat menggemaskan saat seperti itu.
Tak lama, pintu terbuka. Namun yang muncul bukanlah Gabino, melainkan Alana sang kakak ipar Aileen.
"Oalah ternyata kalian yang datang, aku pikir siapa tadi. Yuk masuk!" ucap Alana.
"Iya kak, maaf ya ganggu! Ini mas Ardiaz emang gak sabaran banget tadi mencet bel terus," ucap Aileen.
"Iya gapapa, aku tadi lagi di dapur makanya lama. Ayo masuk aja!" ucap Alana melebarkan pintu.
"Makasih kak!" Aileen tersenyum kemudian melangkahkan kaki memasuki rumahnya, bersama Ardiaz menyusul dari belakang.
Mereka duduk di sofa berdampingan.
"Pada mau minum apa nih??" tanya Alana.
"Panas-panas gini kayaknya enak minum es deh kak," jawab Aileen sambil mengelus kerongkongan nya.
"Heh! Kamu gak boleh minum es Aileen, nanti sakit lagi loh kayak waktu itu!" tegur Ardiaz.
"Nah iya, betul tuh yang dibilang Ardiaz! Jangan minum es dulu Aileen!" sahut Alana.
"Apa sih mas? Aku kan sakitnya udah lama, sekarang mah aku baik-baik aja. Apa salahnya kalo aku mau minum es?" protes Aileen.
"Tetep gak bisa, saya gak mau kamu sakit Aileen!" tegas Ardiaz.
"Bodo! Aku mau bilang sendiri ke bik Lesti buat bikinin aku es," ucap Aileen.
Saat Aileen hendak bangkit, Ardiaz dengan cekatan mencengkram lengan gadis itu dan tak membiarkan dia untuk pergi ke dapur.
__ADS_1
"Akh ih apa sih mas? Lepasin tangan aku!" sentak Aileen berusaha melepaskan diri.
Ardiaz menarik Aileen kembali duduk di sofa tanpa melepaskan cengkeramannya, membuat Aileen terus meringis menahan sakit.
"Mas lepas!" mohon Aileen.
"Saya lepas, tapi kamu nurut sama saya!" tegas Ardiaz.
"Iya iya mas, aku nurut kok," ucap Aileen.
"Bener?"
"Iya bener,"
Ardiaz pun melepaskan tangan Aileen, seketika itu juga Aileen mengusap-usap tangannya yang terasa perih akibat cengkraman kasar Ardiaz.
"Uhh kamu mah jahat!" keluh Aileen.
"Saya cuma gak mau kamu sakit, minum es pas panas-panas emang enak, tapi gak sehat," ucap Ardiaz.
"Hilih kayak gak pernah minum es aja!" cibir Aileen dengan bibir mengerecut.
Ardiaz tentu mendengarnya, namun dia hanya menggeleng dan menghela nafas dengan tingkah gadisnya saat ini.
"Aileen, udah sih kamu nurut aja sama pacar kamu!" ucap Alana.
"Aku nurut kok kak, aku mau minum coklat panas aja," ucap Aileen mengalah.
"Ya itu lebih bagus, sebentar ya aku ke belakang dulu bilang sama bik Lesti?" ucap Alana.
"Iya kak," lirih Aileen. Wajahnya masih saja cemberut akibat perdebatan tadi.
Setelah Alana pergi, Ardiaz memberanikan diri mendekati Aileen dan menatapnya sambil tersenyum.
"Mau ngapain deket-deket?" sentak Aileen.
"Galak amat sih! Saya cuma pengen usap-usap kamu sayang, supaya tangan kamu itu gak sakit lagi," ucap Ardiaz seraya meraih satu tangan gadisnya.
"Gausah, udah gak sakit kok!" ketus Aileen yang langsung menarik tangannya.
Aileen pun bangkit dari sofa dan berniat pergi.
"Eh eh, mau kemana kamu?" tanya Ardiaz.
"Ke kamar lah ganti baju, bapak mau ikut?" jawab Aileen.
"Kalau kamu izinin, jelas lah saya mau," kekeh Ardiaz.
"Dih dasar mesum!" cicit Aileen.
"Hahaha," Ardiaz tertawa kecil dan menyandarkan punggungnya pada sofa.
Sementara Aileen berlari kecil menaiki tangga menuju kamarnya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1