
Laura kini telah berada di luar rumah Ardiaz dan Aileen, ia berniat melangkah menuju mobil karena ia memang hendak pergi dari sana. Namun, dirinya justru dihadang oleh seseorang yang tak lain tak bukan adalah Gabino, sang kakak dari Aileen.
Kebetulan Gabino memang baru tiba di rumah adiknya, ia juga tak sengaja melihat Laura yang melangkah keluar dari rumah itu. Sontak saja Gabino langsung mencegah Laura dan mengajak wanita itu bicara disana.
"Tunggu dulu, kamu perempuan yang waktu itu saya pergokin di tukang nasi kuning bareng Ardiaz kan?" tanya Gabino memastikan.
"Eh eee i-i-iya betul, apa kabar kak? Pasti kamu mau jenguk Aileen ya?" ucap Laura gugup.
"Iya, saya kesini karena saya kangen dengan Aileen dan juga ponakan saya. Kamu sendiri mau apa datang kesini? Godain Ardiaz?" ujar Gabino.
"Hah? Enggak kak, saya gak begitu kok," elak Laura.
"Gak perlu ngelak, kamu jujur aja deh sama saya sekarang! Saya tahu kalau kamu pasti ada rasa sama Ardiaz kan?" ucap Gabino.
"Sa-saya emang pernah jatuh cinta sama Ardiaz, tapi itu dulu kak. Saya juga gak mau jadi pelakor diantara hubungan Ardiaz dan Aileen, saya sadar diri kak," ucap Laura.
"Baguslah, tapi awas ya kalau kamu coba dekati Ardiaz lagi! Saya gak akan biarkan hidup kamu tenang!" ancam Gabino.
Laura dibuat ngeri dengan ancaman itu, "Kamu gak perlu cemas, saya janji gak akan hadir lagi di hidup Ardiaz maupun Aileen. Sekarang saya permisi ya?" ucapnya gugup.
"Saya pegang kata-kata kamu, sekali aja saya lihat kamu masih ada di dekat Ardiaz, saya pastikan kamu ada dalam bahaya!" ucap Gabino.
Glek
Laura menelan saliva nya dengan susah payah akibat ancaman Gabino barusan, namun ia memilih tetap kuat dan pergi begitu saja meninggalkan Gabino dari tempat itu. Kini Gabino membiarkan Laura pergi, sebab ia juga sudah tidak mau Laura ada di rumah adiknya.
"Gue gak akan biarin ada orang yang mau menghancurkan rumah tangga adik gue!" ucap Gabino pelan.
Setelahnya, pria itu langsung melangkah memasuki rumah Aileen. Sedangkan Laura sudah berada di dalam mobil, tapi ia masih terdiam memikirkan ancaman Gabino tadi.
"Haduh, kakaknya Aileen itu galak banget sih. Padahal aku kan cuma mau ketemu sama Ileana, eh dia malah ngira aku deketin Ardiaz," ujar Laura.
"Sekarang aku harus hati-hati nih, aku gak mau dia makin salah paham dan ngira kalau aku deketin Ardiaz karena aku cinta sama dia," sambungnya.
Laura menyalakan mesin mobil, melaju pergi dengan kecepatan sedang meninggalkan rumah tersebut. Gabino meliriknya sekilas dan tersenyum tipis saat mengetahui mobil Laura telah pergi dari rumah sang adik.
"Syukurlah dia pergi, emang janda kayak dia gak boleh dibiarin terus-terusan dekat sama Ardiaz yang statusnya masih suami Aileen," ucap Gabino.
Ceklek
Tiba-tiba pintu dibuka, Gabino terkejut dan reflek menoleh ke depan menatap Aileen yang keluar membuka pintu.
"Eh kakak?" ujar Aileen sambil tersenyum.
"Kangen dong," Aileen langsung mendekat dan memeluk kakaknya dengan erat.
Setelah beberapa menit, Gabino melepas pelukan dan menangkup wajah Aileen seraya menatapnya dengan tajam.
"Kamu dengar ya, kamu harus ekstra waspada dan jaga terus suami kamu!" ucap Gabino tegas.
Aileen hanya bisa melongok tak mengerti mendengar ucapan Gabino barusan, ia sungguh bingung mencoba mencari tahu apa maksud Gabino berbicara seperti itu padanya.
•
•
Kini Alana pulang ke rumah, ia tersenyum senang dan duduk di sofa ruang tamu sembari memanggil bik Lesti meminta dibuatkan minum. Ia lalu mengambil sesuatu dari dalam tasnya, itu adalah sebuah surat dokter yang berhasil membuatnya bahagia seperti sekarang.
"Aku senang banget, ternyata emang hasil testpack tadi itu gak salah. Aku jadi gak sabar buat kasih tau mas Gabi!" ucap Alana lirih.
"Tapi omong-omong, mas Gabino mana ya? Kok gak kelihatan?" gumamnya.
Alana pun menoleh ke kanan-kiri serta atas bermaksud mencari suaminya, tapi sesaat kemudian ia baru sadar kalau saat ini Gabino masih berada di rumah Aileen sesuai apa yang pria itu katakan tadi.
"Oh iya, mas Gabi kan lagi di rumah Aileen. Dia pasti masih disana sekarang," ucapnya.
"Loh Alana?" tiba-tiba Malika datang di dekatnya dan duduk di sebelah Alana sambil tersenyum.
"Kamu darimana aja sayang? Kata Gabino tadi kamu milih buat pergi sendiri, kok kamu gak ajak mama aja sih biar aman?" tanya Malika.
"Gapapa ma, aku cuma mau healing sendiri aja. Mama kan tahu kalau aku udah lama gak pergi sendirian," jawab Alana.
__ADS_1
"Pasti karena kamu masih sedih dan kepikiran soal kamu yang belum dikaruniai anak ya?" tebak Malika.
Alana menunduk lesu, tampak sekali kalau ia masih bersedih memikirkan itu. Malika pun mendekati menantunya, perlahan ia menyentuh pundak Alana dan mengusapnya lembut bermaksud menenangkan wanita itu.
"Sudah ya sayang, kamu jangan sedih lagi! Kalau emang udah takdirnya, nanti pasti kamu juga bisa menjadi ibu dan dikaruniai anak," ucap Malika.
"Iya ma, tapi sebetulnya ada kabar gembira yang aku baru dapetin ma," ucap Alana.
"Hah apa itu sayang?" tanya Malika terlihat penasaran.
Alana langsung menunjukkan surat dari dokter yang baru ia dapatkan itu kepada mama mertuanya, sontak Malika makin dibuat penasaran dengan isi surat tersebut. Langsung saja Malika membukanya dan membaca semua isinya tanpa ada yang terlewati, lalu Malika tampak syok kaget bukan main begitu membacanya.
"Apa? Ini beneran kan sayang? Ka-kamu hamil?" tanya Malika memastikan.
Alana mengangguk singkat, "Benar ma, aku juga kaget banget sewaktu tadi coba tes pake testpack di rumah dan hasilnya positif. Awalnya aku gak percaya, tapi begitu cek langsung ke dokter, sekarang aku udah percaya ma," jawabnya.
"Syukurlah sayang! Akhirnya penantian panjang kamu berakhir juga, sekarang kamu positif hamil!" ucap Malika penuh antusias.
Alana tersenyum lebar menampakkan kebahagiaan yang ia rasakan saat ini, Malika langsung memeluknya erat memberi selamat sekaligus turut merasakan apa yang Alana rasakan. Malika juga senang dengan kehamilan Alana, sebab ia pun telah lama menanti hal tersebut.
"Mama senang banget sayang, itu artinya mama sebentar lagi punya dua cucu!" ucap Malika.
"Iya ma, aku minta maaf ya karena aku kasih cucu buat mama nya telat! Malah keduluan sama Aileen dan Ardiaz," ucap Alana.
"Gak masalah sayang, biarpun telat yang penting kan masih diberi karunia sama Tuhan. Oh ya, Gabino sudah tau belum soal ini?" ucap Malika.
Alana menggeleng, "Belum ma, aku baru aja mau kasih tau mas Gabi. Tapi, aku baru ingat kalau dia masih di rumah Aileen," ucap Alana.
"Iya sih, kamu tunggu aja sampai dia pulang ya?" ucap Malika.
Alana mengangguk pelan, sedangkan Malika kini sudah menangkup wajahnya dan terlihat sangat bahagia mendengar berita kehamilan itu.
•
•
Ceklek
Tiba-tiba pintu dibuka, Gabino terkejut dan reflek menoleh ke depan menatap Aileen yang keluar membuka pintu.
"Eh kakak?" ujar Aileen sambil tersenyum.
"Kangen dong," Aileen langsung mendekat dan memeluk kakaknya dengan erat.
Setelah beberapa menit, Gabino melepas pelukan dan menangkup wajah Aileen seraya menatapnya dengan tajam.
"Kamu dengar ya, kamu harus ekstra waspada dan jaga terus suami kamu!" ucap Gabino tegas.
Aileen hanya bisa melongok tak mengerti mendengar ucapan Gabino barusan, ia sungguh bingung mencoba mencari tahu apa maksud Gabino berbicara seperti itu padanya.
"Maksud kakak apa sih? Kenapa aku harus ekstra waspada segala? Emang ada apa kak?" tanya Aileen penasaran.
"Iya sayang, kakak rasa kehadiran seorang wanita di rumah tangga kalian itu cukup berbahaya. Bisa saja kan Ardiaz tergoda nantinya?" jawab Gabino.
"Maksud kakak apa sih? Perempuan siapa emangnya yang ada di rumah tangga aku sama mas Ardiaz?" tanya Aileen tak mengerti.
"Kakak yakin kamu juga tahu sayang, dia itu wanita yang tadi baru keluar dari rumah kamu. Kakak curiga dia punya rasa sama suami kamu," jawab Gabino.
Aileen terdiam untuk berpikir, ia pun teringat pada sosok Laura yang memang baru saja pulang dari rumahnya. Tapi, ia tak tahu apakah mungkin Laura yang dimaksud oleh kakaknya.
"Maksudnya bu Laura kak? Dia emang sih baru keluar dari rumah aku tadi," tanya Aileen memastikan.
"Ya dia sayang, emang kamu gak lihat ada yang mencurigakan dari dia?" jawab Gabino.
"Sebenarnya aku juga udah curiga dari dulu sih kak, bahkan sebelum aku nikah sama mas Diaz. Bu Laura juga jadi penyebab aku dan mas Diaz sering bertengkar kok," ucap Aileen.
"Oh ya? Terus kenapa kamu masih kasih ruang buat dia datang kesini, ha?" heran Gabino.
"Gak gitu kak, dia datang sendiri dan mau gak mau ya aku terpaksa terima dia. Aku gak mungkin tolak kedatangan dia, nanti mas Ardiaz malah jadi marah sama aku," ucap Aileen.
"Kenapa Ardiaz mesti marah? Dia ada rasa sama wanita itu?" tanya Gabino.
__ADS_1
"Katanya sih enggak, lagian kalau sampai mas Diaz begitu, aku yang pertama kali bakal marahin dia!" jawab Aileen.
"Iya iya, tapi ingat loh kamu jangan sampai kecolongan sayang!" ujar Gabino mengingatkan.
"Iya kak, terimakasih udah diingetin. Eee ini kakak kok sendirian sih? Kak Lana mana? Gak ikut juga kesini?" ucap Aileen.
"Enggak sayang, Alana lagi pergi mau self healing katanya. Kakak jadinya gak bisa ajak dia kesini deh buat ketemu Ileana cantik," ucap Gabino.
"Ohh, emang kak Lana kenapa? Kok sampai harus self healing segala?" tanya Aileen.
"Alana masih kepikiran soal nasibnya, sampai sekarang kan kami belum diberi keturunan. Dia jadi sedih dan butuh waktu untuk sendiri," jawab Gabino.
"Ya ampun, kasihan banget kak Lana! Semoga aja kak Lana bisa cepat hamil ya kak!" ucap Aileen.
Gabino tersenyum seraya mengusap rambut adiknya, "Aamiin, makasih doanya sayang!" ucapnya pelan.
"Sama-sama kak, udah yuk masuk aja! Ileana tapi lagi sama mama Mita," ajak Aileen.
Gabino hanya mengangguk pelan, kemudian masuk ke dalam bersama Aileen. Namun, di pikiran Aileen masih saja mengarah pada perkataan Gabino tadi mengenai Laura.
•
•
Singkat cerita, Gabino telah pulang ke rumah tepat di malam hari pukul setengah sembilan ini. Ia merasa cukup puas bermain bersama Ileana di rumah adiknya, bisa dibilang dirinya juga sangat ingin memiliki seorang anak seperti Ileana.
Begitu sampai di rumah, pria itu langsung menuju ke kamar karena kondisi di bawah cukup sepi tak ada siapapun. Gabino coba mengetuk pintu kamar, tapi karena tak ada jawaban akhirnya ia memilih membukanya dan masuk begitu saja.
Betapa kagetnya Gabino, tiba-tiba Alana muncul dari hadapannya dan berjalan ke arahnya sambil tersenyum. Seketika Gabino langsung panas dingin, pasalnya sang istri saat ini memakai baju tidur yang cukup seksi memperlihatkan lekuk tubuhnya.
"Mas, kamu udah pulang? Mandi gih, abis itu kita bicara disini!" ucap Alana dengan nada menggoda.
"Eee kamu lagi kenapa sayang? Kok pakai baju kayak gini sih?" heran Gabino.
"Aku gapapa kok mas, emang salah ya kalau aku pake baju begini? Kamu kegoda ya mas sama aku?" ucap Alana yang semakin gencar melancarkan godaannya.
"Haish, stop ya Alana! Kamu itu malam-malam bikin aku tegang aja, aku gak bisa tahan kalo gini!" kesal Gabino.
"Gausah ditahan mas, kalau kamu mau ya lakukan aja! Tapi, kita bicara dulu sebentar. Ada hal penting yang mau aku sampein ke kamu," ucap Alana.
"Soal apa?" tanya Gabino penasaran.
"Nanti juga kamu tau, udah sana gih mandi dulu yang bersih! Cepetan mandinya ya, biar cepat juga kita anu-anu nya!" ucap Alana.
"Ohh, jadi ini ceritanya kamu lagi kepengen nganu makanya kamu godain aku? Yaudah, kalo gitu langsung aja ayo sekarang!" ucap Gabino mulai tergoda dan tidak tahan lagi.
Pria itu mendekati istrinya, merengkuh pinggang sang wanita dan menekannya. Saat Alana hendak protes, Gabino langsung membungkam bibirnya dan menyatukan bibir mereka. Gabino mendorong tubuh Alana sampai mepet tembok tanpa melepas ciuman itu, kedua tangannya juga sudah mencengkram erat telapak tangan Alana dan menaruhnya di atas kepala.
Sesaat ciuman itu terlepas, Gabino kini beralih pada leher jenjang sang istri serta cuping telinganya. Alana mulai mengeluarkan suara indahnya dengan perlahan dan terdengar lembut di telinga Gabino. Tentu itu semakin membuat Gabino bersemangat untuk melanjutkan aktivitasnya ke bagian yang lebih intim dan membuat Alana tak bisa menahan diri.
"Ahh mas, stop udah dulu!" Alana coba menghentikan suaminya dengan cara mendorong bahu pria itu, tetapi usahanya gagal.
"Mas, ih udahan dong aku mau ngomong dulu sama kamu!" pinta Alana.
Akhirnya Gabino mau mendengarkan istrinya, ia menghentikan ciumannya dan beralih menatap wajah sang wanita yang sudah mulai dipenuhi peluh itu.
"Apa sih sayang? Tadi kamu yang godain aku, giliran diserbu malah minta berhenti. Kamu mau ngerjain aku ya?" kesal Gabino.
"Gak kok mas, aku juga emang lagi pengen. Tapi, sebentar dulu ada sesuatu yang mau aku sampaikan ke kamu mas sayang," ucap Alana.
"Sampein apa sayang?" tanya Gabino penasaran.
Alana tersenyum dan pergi mengambil surat kehamilan dari dokter yang ia simpan di laci, Gabino menatap heran ke arah istrinya saat wanita itu kembali mendekatinya sambil membawa sebuah surat.
"Ini buat kamu mas, silahkan dibaca biar kamu tau apa isinya!" ucap Alana menyodorkan surat itu.
Gabino mengangguk, lalu mengambil surat tersebut dan membaca isinya. Ia langsung terperangah melihat isi surat yang ia baca, matanya mengarah ke Alana dengan mulut terbuka lebar.
"Ini beneran sayang? Kamu hamil?" tanya Gabino memastikan.
Alana menjawab dengan anggukan pelan, setelahnya Gabino bergerak mendekat dan memeluk erat wanita itu. Sangking bahagianya, Gabino tak bisa menahan diri dan langsung merobek pakaian yang dikenakan Alana. Ya sehabis itu mereka pun melakukan aktivitas panas sampai pagi.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...