
Setelah selesai latihan dan berganti pakaian, Aileen bersiap untuk pulang ke rumahnya bersama Shanum yang juga baru mengganti pakaiannya di toilet sekolah.
Namun, mereka dibuat terkejut saat Ardiaz ternyata sudah ada di depan mereka. Aileen pun spontan memalingkan wajahnya begitu mengetahui Ardiaz tersenyum ke arahnya.
"Hai sayang! Udah selesai ganti bajunya?" ucap Ardiaz sambil tersenyum.
"Eh ada pak Ardiaz, duh aku berasa jadi nyamuk deh disini. Aku pergi duluan deh ya Aileen? Biar kamu sama pak Ardiaz aja," ucap Shanum.
"Apa sih Shanum? Kamu disini aja, aku gak mau malah sama pak Ardiaz!" ujar Aileen.
"Loh kenapa Aileen? Bukannya tadi kalian udah baikan ya pas di lapangan voli?" tanya Shanum.
"Kata siapa? Udah ah, ayo kita pulang bareng ya Shanum!" ucap Aileen.
"Terus pak Ardiaz gimana? Kasihan tahu kalau kamu tinggalin pak Ardiaz sendirian!" ucap Shanum.
"Biarin aja," ketus Aileen.
Saat Aileen hendak pergi bersama Shanum, Ardiaz kembali menghalangi jalan mereka.
"Tunggu Aileen!" ucap Ardiaz.
"Apa lagi sih pak? Aku lagi gak mau ngobrol sama bapak, aku pengen pulang!" kesal Aileen.
"Yaudah, saya antar kamu ya?" ujar Ardiaz.
"Gak mau!" tegas Aileen.
"Kenapa? Udah kamu bareng saya aja, supaya kita bisa selesaikan masalahnya hari ini Aileen sayang!" bujuk Ardiaz.
"Aku bilang gak mau, ya gak mau pak Ardiaz!" ujar Aileen.
"Aduh! Kok gue jadi ikut-ikutan kebawa sama masalah mereka sih? Rasanya gue pengen kabur aja dari sini deh," gumam Shanum.
Lagi-lagi Aileen menahan Shanum yang hendak pergi, dia tak membiarkan gadis itu pergi meninggalkannya begitu saja.
"Kamu mau kemana sih Shanum?" tanya Aileen.
"Eee anu itu..." ucapan Shanum terjeda, dia coba memikirkan alasan yang tepat lebih dulu.
"Aku udah ada janji sama Nizar, maaf banget ya Aileen!" sambungnya.
"Masa sih?" tanya Aileen tak percaya.
"Iya Aileen, sorry banget ya!" jawab Shanum.
"Kamu jangan bohong deh! Aku—"
"Aileen, udah biarin aja Shanum pergi! Kamu kan bisa sama saya," potong Ardiaz.
"Ish apa sih pak? Kalaupun Shanum pergi, aku juga tetap gak mau sama bapak!" tegas Aileen.
__ADS_1
"Eee yaudah ya Aileen, gue kayaknya harus cabut sekarang deh. Sekali lagi sorry ya gue terpaksa tinggalin lu!" ucap Shanum.
"Num, tapi—"
"Sorry banget! Gue pergi ya? Dadah!" sela Shanum yang kemudian melangkah begitu saja meninggalkan mereka.
"Ih Shanum tunggu!" Aileen berteriak dan coba mengejar Shanum, tetapi ditahan oleh Ardiaz yang langsung mencekal lengannya.
"Mau kemana sih Aileen? Udah, kamu disini aja sama saya jangan pergi!" paksa Ardiaz.
"Pak lepas! Aku gak mau sama bapak!" Aileen coba berontak untuk melepaskan diri dari Ardiaz, tetapi usahanya gagal karena tenaganya kalah jauh dibanding pria itu.
"Saya gak akan lepaskan kamu, saya mau masalah kita selesai hari ini supaya kita gak terus-terusan bertengkar kayak gini!" ujar Ardiaz.
"Ih kenapa sih bapak suka maksa?!" kesal Aileen.
"Maaf Aileen! Tapi, ini juga demi kebaikan hubungan kita berdua!" ucap Ardiaz.
"Tau ah aku sebel sama bapak!" ujar Aileen.
"Terserah kamu mau bilang apa, intinya sekarang kamu harus ikut sama saya!" tegas Ardiaz.
"Kemana?" tanya Aileen sedikit cemas.
"Kita ke restoran aja yang terdekat dari sini, terus kita bicara disana. Kamu mau kan?" jawab Ardiaz.
"Umm aku..."
"Kamu harus mau!" potong Ardiaz memaksa Aileen ikut dengannya.
•
•
Sesampainya di restoran, Ardiaz dan Aileen duduk berdampingan pada tempat yang tersedia. Terlihat disana cukup ramai oleh pengunjung lainnya.
Aileen masih tetap cemberut seperti sebelumnya, ia belum mau menatap Ardiaz dan hanya diam sedari tadi.
"Kamu kenapa diam aja sih? Ayo dong bicara sama saya Aileen cantik!" ucap Ardiaz.
Namun, gadis itu justru membuang muka dengan melipat kedua tangannya di depan. Ardiaz menepuk jidat, kemudian meraih satu tangan Aileen untuk digenggamnya.
"Kalau kamu gak mau bicara, buat apa dong kita berdua kesini?" tanya Ardiaz.
"Ya gak tahu, kan kamu yang paksa aku buat ikut ke tempat ini!" kesal Aileen.
"Saya paksa kamu karena saya gak mau kita terus-terusan bermasalah kayak gini, saya juga gak bisa didiemin terus sama kamu!" ujar Ardiaz.
"Itu kan kesalahan kamu juga, suruh siapa kamu malah belain cewek itu di depan aku!" ujar Aileen.
"Sayang.." Ardiaz mencengkeram rahang Aileen dan menatapnya intens, membuat jantung gadis itu berdegup kencang.
__ADS_1
"Ih kamu mau apa?" tanya Aileen tak suka.
"Saya cuma pengen tatap kamu dari dekat seperti ini, mata kamu itu indah Aileen dan saya suka lihatnya. Jadi, kamu jangan sembunyikan mata indah kamu itu dari saya ya!" jawab Ardiaz.
"Apaan sih? Bapak gausah gombalin saya deh ya! Mending bapak cari aja tuh si Laura, terus bapak gombalin dia!" ketus Aileen.
"Emangnya kalau saya gombalin Laura, kamu gak cemburu gitu?" goda Ardiaz.
"Siapa juga yang cemburu? Udah ah lepasin, malu tau dilihat banyak orang!" kesal Aileen.
"Kamu senyum dulu buat saya, baru deh nanti saya lepasin kamu!" pinta Ardiaz.
"Pak, ih lepas!" ucap Aileen yang sudah mulai kesusahan untuk menggerakkan wajahnya, ia terus memukul-mukul tangan Ardiaz tapi tak membuahkan hasil dan pria itu malah semakin kuat mencengkram nya.
"Senyum doang apa susahnya sih Aileen? Saya mau lihat senyum manis kamu," ujar Ardiaz.
"Iya iya, nih aku senyum," ucap Aileen.
Akhirnya dengan sangat terpaksa, gadis itu mau menunjukkan senyumannya di depan Ardiaz dan membuat Ardiaz senang.
"Udah kan pak?" tanya Aileen.
"Iya, senyum kamu emang manis banget. Jangan cemberut lagi ya sayang!" ucap Ardiaz.
"Iya pak iya," lirih Aileen.
Ardiaz pun melepaskan rahang Aileen, kemudian memeluk gadis itu dan mengecup puncak kepalanya.
Cup!
"Pak lepas ah malu tau dilihatin banyak orang!" ujar Aileen coba mendorong tubuh Ardiaz.
"Siapa sih yang ngeliatin? Mereka juga pada gak perduli lah sama kita sayang," ucap Ardiaz.
"Ya tetap aja aku malu, lepas pak!" pinta Aileen.
"Iya iya.." Ardiaz pun terpaksa menuruti permintaan Aileen dan melepas pelukannya.
"Yaudah, kita makan dulu yuk!" ucap Ardiaz.
Aileen mengangguk disertai senyum tipisnya, Ardiaz yang gemas pun mencubit pipi gadis itu sembari mengacak-acak rambutnya.
"Pak, kalo ada yang risih ngeliat kita gimana? Bayangin aja anak SMA kayak aku, pacaran sama bapak-bapak umur tiga puluh tahunan," tanya Aileen.
"Kok kamu bicaranya begitu sih? Walaupun saya udah tiga puluh tahun, tapi saya kan masih perjaka sayang," ucap Ardiaz.
"Ah masa??" goda Aileen.
"Iyalah, nanti kamu yang rebut keperjakaan saya. Begitupun saya juga rebut keperawanan kamu," ucap Ardiaz.
Entah mengapa wajah Aileen memerah mendengar ucapan Ardiaz.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...