
Aileen mengikuti langkah Ardiaz dari belakang sembari membawa kopernya, mereka kini sudah siap untuk pergi dari hotel dan mencari tempat penginapan lain sesuai ucapan Ardiaz.
Keduanya melangkah keluar dari kamar, menuju pintu lift di depan sana. Tak lupa satu tangan Ardiaz digunakan untuk menggandeng lengan gadisnya agar Aileen bisa terus bersamanya.
"Cantik, nanti sebelum cari penginapan kita jalan-jalan dulu yuk!" ajak Ardiaz.
"Ngapain sih pak jalan-jalan mulu? Mending kita belanja aja, aku kepengen beli oleh-oleh buat kak Lana di Jakarta," ucap Aileen.
"Ya itu kan sama aja jalan-jalan," ucap Ardiaz.
"Iya sih, tapi kan bukan ke tempat wisata. Kita cari pusat perbelanjaan di sekitar sini, terus beli oleh-oleh deh buat kak Lana!" ucap Aileen.
"Yaudah, apapun itu saya turutin kalau kamu yang minta sayang," ucap Ardiaz.
"Halah omong kosong! Buktinya tadi aku minta pak Ardiaz buat gak perpanjang masalah, eh bapak gak mau dengerin aku," cibir Aileen.
"Itu beda lagi sayang, kan saya gak terima karena kamu udah direndahkan sama cowok tadi. Jadi, saya harus kasih dia pelajaran!" ucap Ardiaz.
"Iyain aja deh, daripada aku yang kena," ucap Aileen.
Ardiaz tersenyum sembari menggeleng pelan, lalu tiba-tiba seseorang muncul dan berhenti di hadapannya, membuat mereka sontak menghentikan langkahnya sejenak.
"Mau apa lagi kamu cegat kita?" tanya Ardiaz.
Ya pria yang berdiri di depan mereka itu adalah Gilang, orang yang sebelumnya bermasalah dengan Aileen saat di lorong hotel.
"Saya rasa urusan kita tadi belum selesai, jadi saya kesini mau selesaikan semuanya. Saya mohon maaf atas sikap arogan saya tadi ke kalian, tolong jangan perpanjang masalah ini ya! Saya minta maaf yang sebesar-besarnya!" ucap Gilang.
"Kenapa tiba-tiba kamu berubah pikiran? Kamu takut kalau saya akan hancurin reputasi hotel kamu ini? Ya baguslah, artinya kamu sadar dengan kesalahan kamu tadi," ucap Ardiaz.
"Iya, saya sadar saya terlalu terbawa emosi tadi, untuk itu saya minta maaf!" ucap Gilang.
"Minta maaf aja gak cukup untuk saya, karena kamu sudah berani merendahkan gadis saya di depan banyak orang," sentak Ardiaz.
"Lalu, apa yang kamu mau untuk saya lakukan agar kalian mau memaafkan saya?" tanya Gilang.
"Mudah saja, kamu berlutut sekarang dan minta maaf secara langsung pada pacar saya!" jawab Ardiaz.
Gilang tersentak kaget dengan itu.
"Eee apa harus begitu ya pak? Tidak ada cara lain?" tanya Gilang.
__ADS_1
"Tidak ada, itu sudah paling mudah untuk dilakukan," jawab Ardiaz.
"Saya tidak mungkin melakukan itu, harga diri saya bisa hancur!" tolak Gilang.
"Terserah, kalau anda gak mau melakukannya maka anda harus siap menanggung resikonya!" ucap Ardiaz tak main-main.
"Tolong jangan mempermainkan saya! Disini saya sudah punya itikad baik untuk minta maaf, tapi kamu malah seperti ini," ucap Gilang.
"Siapa yang mempermainkan kamu? Saya minta kamu minta maaf ke Aileen dengan berlutut di depannya, itu saja kok!" ucap Ardiaz.
Gilang memalingkan wajahnya dan merutuki semua ini.
"Bagaimana pak? Apa kamu masih tidak mau melakukan itu? Baiklah, saya akan buat reputasi hotel kamu ini jelek dan tidak akan ada lagi yang mau menginap disini," ancam Ardiaz.
"Kamu jangan mengancam saya! Kamu tidak bisa melakukan itu!" ucap Gilang.
"Oh tentu saya bisa, itu hal yang sangat mudah untuk saya. Kamu belum tahu kan siapa saya?" ucap Ardiaz tersenyum smirk.
Aileen yang ada disana hanya bisa geleng-geleng kepala melihat perdebatan dua lelaki itu.
•
•
Gabino benar-benar kaget dengan ucapan Alana barusan, ia tak mengerti bagaimana bisa istrinya tahu tentang hal itu?
"Kok kamu bisa tahu sih sayang? Siapa yang kasih tahu kamu? Apa ada seseorang yang kirim foto juga ke kamu kalau aku lagi peluk Silvi di lobi?" Gabino berbalik bertanya.
"Itu gak penting mas, kamu jawab aja dengan jujur sekarang semua itu!" ucap Alana.
"Okay, iya aku ngaku kalau itu benar! Aku emang peluk Silvi dan kamu gak salah!" tegas Gabino.
Seketika air mata lolos membasahi pipi Alana.
Gabino sontak menghampiri Alana, coba menenangkan wanita itu agar tidak menangis lagi.
Namun, Alana justru menepis tangan suaminya yang hendak menyentuh wajahnya.
"Jangan sentuh aku dengan tangan menjijikan kamu itu mas! Aku gak mau lagi disentuh sama kamu!" tegas Alana.
"Iya iya, aku gak akan sentuh kamu. Tapi, tolong kamu jangan nangis Alana! Aku bisa jelasin semuanya, kamu dengerin dulu ya!" ucap Gabino.
__ADS_1
"Gak ada lagi yang perlu dijelasin mas, semuanya udah jelas. Kamu selingkuh sama asisten kamu sendiri!" geram Alana.
"Aku gak selingkuh sayang, kamu ngaco aja ih kalo ngomong!" elak Gabino.
"Enggak gimana? Tadi kamu ngaku sendiri kan kalau kamu peluk-peluk si Silvi? Itu apa namanya kalau bukan selingkuh?" ujar Alana.
"Ya aku emang peluk dia kemarin, tapi itu karena dia kepeleset dan hampir jatuh. Aku gak ada niatan buat selingkuh dari kamu," jelas Gabino.
"Bohong!" sentak Alana.
"Buat apa aku bohong? Lagian siapa sih yang kasih tahu ke kamu soal itu? Bisa-bisanya dia fitnah aku," tanya Gabino kesal.
"Aileen mas, Aileen yang lihat sendiri dan foto kamu waktu lagi peluk Silvi di Malang," jawab Alana masih dengan isakan tangisnya.
"Hah? Aileen? Kok bisa dia ada disana? Emang dia nyusulin aku?" tanya Gabino terkejut.
"Iya mas, Aileen nyusulin kamu setelah aku dapat foto pas kamu lagi tidur sama Silvi berdua. Dia katanya mau cari tau apa benar kamu selingkuh atau enggak," jelas Alana.
"Ah kamu itu kenapa gak percayaan banget sih sama aku?! Aku ini setia loh ke kamu, aku gak selingkuh sama Silvi!" ujar Gabino.
"Gimana aku bisa percaya mas? Kamu yang udah rusak kepercayaan aku," ucap Alana.
"Loh ngerusak gimana? Aku kan udah jujur ke kamu, aku gak selingkuh. Soal tidur bareng itu aku sama sekali gak sadar dan gak tahu, aku juga marah ke Silvi begitu tau kalau dia tidur di samping aku. Terus yang aku peluk dia, aku cuma mau bantu dia supaya gak jatuh," ucap Gabino.
Alana hanya diam memalingkan wajahnya, air mata masih terus menggenang di kedua pipinya karena rasa curiga yang belum bisa hilang.
"Dengar ya sayang, aku ini sayang dan cinta sama kamu! Aku gak mungkin khianati cinta kita, aku juga gak tertarik sama sekali sama Silvi. Kamu bisa percaya aku sayang!" tegas Gabino.
"Kamu mungkin emang gak tertarik sama Silvi, tapi kelihatannya Silvi suka sama kamu mas. Aku yakin dia punya rasa ke kamu, itu sebabnya dia sengaja deketin kamu," ucap Alana.
"Ya itu bukan salah aku dong sayang, yang penting aku gak kegoda sama dia," ucap Gabino.
"Tetap aja aku takut mas," lirih Alana.
Gabino mendekat dan memeluk istrinya erat, menenangkan sang istri agar tidak terus menangis seperti itu.
"Hey, sudah ya jangan takut!" ucap Gabino.
Alana mulai merasa tenang dan nyaman, ia benamkan wajahnya di bahu sang suami.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...