
Keesokan paginya, Aileen datang menghampiri sang suami yang sudah lebih dulu berada di meja makan bersama Gabino. Ya semalam memang Gabino dan Alana ikut menginap di rumah Ardiaz yang baru dibeli sejak tiga bulan kehamilan Aileen, alasannya tentu karena Ardiaz tidak mau merepotkan mamanya lagi.
"Mas, kak, ini lagi pada nunggu sarapan apa gimana?" tanya Aileen menegur kedua pria itu.
"Eh kesayangan saya udah turun, kamu tuh kenapa bandel banget sih? Kan setiap hari tuh saya selalu kasih tau kamu, kalau mau keluar kamar kabarin saya dulu biar saya bisa bantu kamu jalan kesini! Eh ini malah jalan sendiri," ujar Ardiaz.
"Biarin lah mas, lagian aku juga bisa jalan sendiri kok. Toh juga gak terjadi apa-apa tadi, kamu gausah lebay deh!" ucap Aileen.
"Bukan lebay sayang, saya—"
"Ah udah deh mas, mending kamu keluar sekarang terus beliin aku nasi kuning yang paling enak!" sela Aileen sambil tersenyum.
"Nasi kuning? Kamu ngidam?" tanya Ardiaz.
"Iya mas, kayaknya anak kita kepengen makan nasi kuning deh. Beliin ya mas?" jawab Aileen.
"Pasti dong saya beliin, tapi tunggu sebentar ya?" ucap Ardiaz mengusap perut Aileen.
Aileen mengangguk pelan, Ardiaz langsung bangkit dari duduknya setelah berpamitan dan menitipkan Aileen kepada Gabino karena ia harus pergi ke luar membelikan nasi kuning permintaan istrinya itu.
Saat sampai di tukang nasi kuning, tanpa diduga pria itu justru tak sengaja bertemu dengan Laura yang juga baru datang kesana untuk membeli nasi kuning. Ardiaz sungguh kaget, tapi ia cukup senang juga sebab sudah lama mereka tak bertemu.
"Eh Laura, kamu disini juga? Mau beli nasi kuning buat sarapan ya pasti?" ujar Ardiaz.
"Ardiaz? Duh iya nih, aku lagi kepengen nasi kuning. Gak nyangka banget ya kita bisa ketemu disini? Kamu apa kabar Ardiaz?" ucap Laura pelan.
"Aku baik, kamu sendiri gimana? Terus kok kamu kesini sendiri? Suami kamu mana?" tanya Ardiaz.
Laura menundukkan kepala menunjukkan wajah sedih, "Aku sama suami aku udah cerai Diaz," jawabnya pelan.
"Apa??" Ardiaz terkejut bukan main.
"Kamu serius Laura? Kok bisa sih kalian cerai? Ada masalah apa emangnya?" tanya Ardiaz penasaran.
"Kita bicaranya sambil duduk aja yuk!" ajak Laura.
"Eh iya iya.." Ardiaz setuju dan menarik kursi untuknya serta Laura, mereka pun duduk berhadapan saat ini.
"Jadi, apa yang bikin kamu sama suami kamu bisa pisah Laura?" tanya Ardiaz.
"Ini sebenarnya masalah kecil Ardiaz, dia mutusin buat ceraikan aku karena aku belum bisa mencintai dia seutuhnya," jawab Laura.
"Hah? Maksudnya kamu menikahi laki-laki itu bukan karena cinta?" kaget Ardiaz.
"Iya Diaz, aku sama sekali gak cinta sama dia. Aku menikah karena aku pengen bisa moveon dari kamu yang udah nikah sama Aileen," jelas Laura.
Sungguh Ardiaz sangat terkejut, tak ada yang menyangka jika Laura ternyata mencintainya dan pernikahannya kemarin hanya sebuah cara agar gadis itu dapat melupakan Ardiaz. Namun, nyatanya Laura sulit melakukan itu sebab yang ada di dalam hatinya hanyalah Ardiaz seorang.
"Kenapa kamu gak pernah bilang ke aku kalau kamu cinta sama aku? Selama ini aku tahunya kamu cuma anggap aku teman loh," ujar Ardiaz.
"Gapapa, perasaan cinta itu gak harus diungkapkan. Toh kamu juga sudah memiliki kekasih saat itu, mana mungkin aku tega rebut kamu dari Aileen? Aku bukan tipe wanita seperti itu," ucap Laura.
"Kamu benar Laura, kamu memang wanita yang berbeda. Aku salut sama kamu!" ucap Ardiaz.
Laura tersenyum menunduk, Ardiaz pun dapat merasakan kesedihan yang saat ini dirasakan Laura setelah berpisah dari suaminya karena ia.
•
•
Disisi lain, Aileen masih menunggu kedatangan Ardiaz di rumahnya. Ia terus memegangi perut pertanda ia sudah mulai lapar, tetapi belum juga ada tanda-tanda Ardiaz akan kembali dari membeli nasi kuning di luar. Ia pun terpaksa harus menahan rasa laparnya karena sedang tidak ingin makan yang lain selain nasi kuning.
Mita yang melihatnya pun merasa kasihan, ia tahu bagaimana rasanya harus menahan lapar seperti itu. Ia pun menghampiri Aileen, berusaha membujuk Aileen agar mau memakan yang lain terlebih dulu untuk sekedar mengisi perut.
"Aileen, kamu makan dulu yuk! Nanti kalo Ardiaz udah balik, baru kamu bisa makan nasi kuningnya," ucap Mita membujuk menantunya.
__ADS_1
Namun, jawaban Aileen tetap sama ketika ditawarkan Gabino serta Alana sebelumnya. Ya Aileen tidak mau memakan yang lain selain nasi kuning, karena itu memang bawaan bayi dan Aileen tidak bisa berbuat apa-apa. Meskipun Aileen harus menahan lapar sampai sekarang ini.
"Tapi Aileen, kalau kamu telat makan nanti kamu sakit loh. Kamu makan dulu ya walau sedikit, please Aileen!" bujuk Mita sekali lagi.
"Aku gak mau ma, anak aku tuh pengen nasi kuning dan dia gak mau makan yang lain selain itu. Aku mau tunggu pak Ardiaz aja sampe pulang," ucap Aileen seraya mengusap perut dan menggeleng.
"Duh, ini tapi udah mau lewat jam sarapan loh Aileen. Ardiaz juga belum ada tanda-tanda mau balik, dia beli nasi kuning dimana coba?" ujar Mita.
"Aku juga gak tahu ma," ucap Aileen singkat.
"Eee apa aku harus susul Ardiaz, ma? Ini kayaknya udah terlalu lama, bisa aja dia nyasar atau malah terjadi suatu hal yang gak diinginkan," ucap Gabino.
"Boleh tuh mas, iya kamu susulin aja Ardiaz sana supaya dia bisa cepat pulang!" ucap Alana.
"Yaudah, kalo gitu aku susulin Ardiaz dulu ya? Aileen kamu sabar aja, kakak bakal bawa Ardiaz pulang dengan nasi kuning buat kamu!" ucap Gabino pamit.
"Iya kak, tolong cari mas Diaz sampe ketemu ya kak dan bawa dia pulang! Bilang ke dia kalau aku udah lapar banget ini," ucap Aileen cemberut.
"Siap sayang!" ucap Gabino patuh.
Gabino beranjak dari tempatnya, kemudian pergi ke luar menyusul Ardiaz. Ia yakin sekali ada sesuatu yang membuat Ardiaz sampai sekarang belum pulang juga ke rumahnya, padahal sudah hampir satu jam Ardiaz pergi untuk membeli nasi kuning.
Aileen sendiri masih terus cemberut di tempat duduknya, Mita serta Alana berada di dekatnya sambil berusaha menenangkan Aileen agar tidak bersedih.
"Sabar ya sayang, bentar lagi Ardiaz balik kok!" bujuk Mita.
"Iya Aileen, kamu beneran nih gak mau makan dulu sambil nunggu Ardiaz?" tanya Alana.
"Enggak kak, aku cuma pengen nasi kuning yang dibeliin mas Ardiaz," jawab Aileen.
"Yakin sayang? Makan aja yuk sedikit, biar kamu gak lapar! Ingat loh, sekarang di tubuh kamu juga ada anak kamu!" ucap Mita.
"Tapi aku gak mau ma, aku tuh cuma pengen makan nasi kuning gak mau yang lain!" sentak Aileen.
Mita sedikit kaget saat nada bicara Aileen yang berubah meninggi, namun ia mewajarkan sebab Aileen saat ini sedang hamil dan perasaannya seringkali berubah-ubah.
•
•
"Laura, kamu pulangnya saya antar aja ya? Saya gak tega biarin kamu balik sendiri dalam kondisi seperti sekarang," ucap Ardiaz.
"Emangnya aku kenapa Diaz? Perasaan aku baik-baik aja gak ada masalah," heran Laura.
"Ya kamu mungkin emang gak ngerasa, tapi saya tahu kamu saat ini sedang hancur dan itu cukup bahaya buat kamu kalau kamu menyetir mobil sendiri. Mending kamu saya antar aja," ujar Ardiaz.
"Gausah Diaz, aku gak mau nantinya terjadi salah paham diantara aku dan Aileen. Aku bisa pulang sendiri kok," tolak Laura.
"Tapi Laura, saya khawatir sama kamu!" ucap Ardiaz panik.
"Kamu kenapa jadi lebay kayak gini sih Diaz? Perasaan tadi kamu biasa aja deh, lagian aku gak ada masalah kok," ujar Laura.
"Eee saya itu cuma gak mau teman saya yang cantik ini kenapa-napa," elak Ardiaz.
Laura tersenyum dibuatnya, ia bingung mengapa Ardiaz selalu saja membuat dirinya merasa bimbang. Disaat ia sedang berusaha melupakan rasa cintanya, tapi justru sikap Ardiaz yang lembut seperti inilah yang membuatnya amat bingung.
"Aku gak akan kenapa-napa kok, aku bisa pulang sendiri. Kamu sekarang pulang aja ya, temuin istri kamu!" ucap Laura.
"Duh, iya saya sampai lupa kalau saya harus beliin nasi kuning buat Aileen. Saya malah asyik makan sendiri disini sama kamu, pasti sekarang dia udah nungguin deh," ucap Ardiaz.
"Tuh kan, yaudah kamu pesen satu lagi gih nasi kuningnya buat Aileen! Abis itu kamu pulang ya!" ucap Laura.
"Okay," singkat Ardiaz.
Ardiaz pun memesan satu porsi nasi kuning pada si penjual, dan untungnya masih ada sehingga Ardiaz merasa lega. Namun, ia menjadi bingung saat ini apakah ia harus kembali ke rumah dan meninggalkan Laura atau mengantar wanita itu terlebih dulu.
__ADS_1
"Terus kamu pulang sama siapa dong? Saya beneran khawatir deh," ujar Ardiaz.
"Gapapa, aku bisa pulang sendiri. Kamu gausah khawatir ya!" ucap Laura.
"Kamu yakin? Apa saya anterin kamu aja dulu kali ya baru saya pulang ke rumah?" usul Ardiaz.
"Enggak enggak, jangan begitu Ardiaz! Udah kamu sekarang mending pulang aja!" tolak Laura.
"Huh kamu tuh kenapa sih gak mau banget diantar sama saya?" heran Ardiaz.
"Ya karena aku gak mau dituduh jadi pelakor dalam rumah tangga orang," ucap Laura.
"Kamu itu bukan pelakor, kamu teman saya yang udah ada buat saya selama ini. Gak ada salahnya kan kalau saya antar kamu?" paksa Ardiaz.
"Umm, aku tetap gak mau Diaz. Kamu tau kan seperti apa sikap istri kamu itu?" ucap Laura.
Ardiaz berpikir di dalam hatinya, memang benar Aileen selalu sulit untuk menerima Laura berdekatan dengan Ardiaz. Pastinya Aileen akan semakin marah dan kecewa jika tahu bahwa suaminya mengantar wanita lain saat ini.
Lalu, sang penjual datang ke meja mereka membawa satu bungkus nasi kuning yang tadi dipesan Ardiaz untuk Aileen. Setelah membayar, Ardiaz berniat pergi bersama Laura menuju parkiran di luar.
"Yuk Laura, kita bareng aja sampe ke parkiran!" ajak Ardiaz.
Laura mengangguk setuju, "Iya Diaz."
"Tapi, abis itu kamu pulang ya?" sambungnya.
"Iya iya.." Ardiaz menurut saja.
Dan tanpa disangka, mereka justru berpapasan dengan Gabino yang baru sampai di tempat nasi kuning itu. Ardiaz sontak terkejut dan tak menyangka akan bertemu dengan Gabino disana, apalagi saat ini posisinya ia sedang bersama Laura yang mungkin saja akan menimbulkan salah paham.
"Ohh, jadi ini yang lu lakuin Diaz? Pantas aja daritadi ditungguin gak balik-balik, ternyata lu malah sama cewek lain," ucap Gabino spontan.
Ardiaz menggeleng mengelak, ia mencoba menjelaskan semuanya pada Gabino.
•
•
Aksal masih memandangi layar ponselnya, ingin rasanya ia menghubungi nomor Aileen dan mengajak wanita itu bertemu. Namun, entah mengapa ia tak memiliki keberanian untuk melakukan itu sebab ia khawatir mengganggu kesibukan Aileen yang saat ini sedang hamil.
Pria itu tengah berada di apartemennya, ia sangat merindukan Aileen dan ingin bertemu dengan wanita itu saat ini. Andai saja ia tahu alamat rumah Aileen, mungkin ia sudah datang kesana demi menemui sahabat lamanya yang dari dulu hingga sekarang masih ia cintai itu.
Sudah sejak lama memang Aksal memendam perasaannya, ia ragu untuk mengungkap semua sebab saat itu Aileen adalah seorang seleb yang memiliki banyak penggemar. Ditambah kehadiran Ardiaz juga membuat Aksal sulit untuk bisa memiliki Aileen.
"Gue gak nyangka lu sama pak Ardiaz bisa nikah secepat itu, apa mungkin gue udah salah langkah dengan ninggalin lu?" gumam Aksal.
Ya alasan utama Aksal menjauh dari Aileen dan memilih pindah sekolah adalah karena ia ingin mencoba melupakan rasa cintanya dari gadis itu, akan tetapi ternyata semua itu sangat sulit ia lakukan dan hingga kini rasanya masih tetap bertumbuh. Apalagi Aksal kembali bertemu dengan Aileen dan harus menerima kenyataan pahit bahwa wanita yang ia cintai sudah menjadi milik orang.
"Kalau aja waktu itu gue gak pergi, apa mungkin gue bisa milikin lu Aileen? Kayaknya gak mungkin deh, secara lu cuma cinta sama pak Ardiaz," ucap Aksal lirih.
"Huft, ayolah Aksal lu harus lupain Aileen dan jangan berharap lagi sama dia! Tuh cewek udah jadi istri orang, masa mau lu rebut?" sambungnya.
Ia terus mengacak-acak rambut, merasa kesal dengan dirinya sendiri karena tidak bisa melupakan Aileen. Sudah berbagai macam cara ia lakukan, tetapi rasa cintanya justru terus menggunung dan membuatnya kesal sendiri. Mungkin itu semua akibat Aileen adalah cinta pertamanya.
Ting nong ting nong
Bel apartemennya berbunyi, Aksal beranjak dari tempat tidur lalu melangkah menuju pintu dan membukanya. Dilihatnya sosok gadis cantik berdiri di hadapannya sembari membawa kotak makanan dengan senyum merekah lebar.
"Hai Aksal! Lo pasti belum makan kan? Gue dateng nih bawain makanan buat lu, kita makan dulu yuk!" ucap gadis itu penuh semangat.
"Sintya, lu ngapain sih setiap hari kesini terus bawain gue makanan segala? Lu gak perlu kali kayak begini," ujar Aksal.
"Gapapa loh Sal, niat gue kan baik supaya lu gak telat makan. Soalnya gue tahu lu selalu susah makan, ya kan?" ucap gadis bernama Sintya itu.
Aksal hanya diam memandangi wajah Sintya, gadis itu memang hampir setiap hari selalu datang ke apartemennya dan membawakan makanan, mungkin sebab jarak mereka tinggal tidak terlalu jauh.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...