
"Iya iya, mama percaya aja deh sama kamu biar kamu senang. Terus kapan kamu berangkat Diaz? Si Felix itu masih lama datangnya?" ucap Mita.
"Gak tahu juga ma, aku belum dapat kabar dari dia. Tapi, katanya sih dia langsung berangkat kesini tadi pas aku minta bantuan," ucap Ardiaz.
"Oalah, sabar aja mungkin dia lagi di jalan kali kena macet atau apa!" ucap Mita.
"Iya ma, kalo gitu aku mau ke depan aja deh. Aku nunggu Felix nya di luar aja biar nanti bisa langsung berangkat," ucap Ardiaz.
"Oh yaudah, terserah kamu aja," singkat Mita.
"Aku berangkat dulu ya ma?" pamit Ardiaz seraya mencium tangan mamanya.
"Iya, hati-hati sayang!" ucap Mita tersenyum.
Ardiaz pun beranjak dari tempatnya, lalu melangkah menuju ke luar meninggalkan mamanya disana.
Dan saat ia membuka pintu, matanya terbelalak ketika melihat sosok gadis cantik berdiri disana memandang ke arahnya sambil tersenyum.
"Vivi?" ucapnya lirih.
Ardiaz coba mengerjapkan matanya dan masih tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.
"Iya mas Ardi, ini aku Vivi tunangan kamu,"
"Gak, gak mungkin kamu Vivi!" ujar Ardiaz.
Gadis itu tersenyum dan terus memandang ke arah Ardiaz dengan penuh keramahan, membuat Ardiaz semakin tak percaya.
"Kamu itu sebenarnya siapa? Kenapa muka kamu bisa mirip sekali sama Vivi?" tanya Ardiaz.
"Loh kamu gimana sih Ardi? Aku emang Vivi, kamu gak salah lihat. Aku datang kesini untuk kamu, aku gak bisa biarin kamu nikah dengan wanita lain sayang," jawab Vivi.
"Cukup ya! Saya gak percaya sama kamu, kamu pergi sekarang dan jangan ganggu saya!" sentak Ardiaz dengan suara lantang.
Wanita yang sekilas mirip dengan Vivi itu seketika menangis histeris.
"Kamu jahat mas! Kenapa kamu usir aku? Aku ini tunangan kamu loh, aku juga calon istri kamu yang sebenarnya," ucap Vivi.
"Bukan, kamu jangan mengada-ada!" ucap Ardiaz.
"Terserah apa kata kamu mas Ardi, tapi aku ini beneran Vivi dan kamu harus percaya sama aku!" ucap Vivi tegas.
Ardiaz masih terus menggeleng, berkali-kali ia mengucek matanya berharap yang ia lihat saat ini hanyalah khayalan semata.
Namun, nyatanya wanita yang berdiri di hadapannya saat ini memanglah nyata dan bukan hanya sekedar khayalan.
__ADS_1
"Ada apa ini? Siapa yang lagi saya lihat sekarang? Apa benar dia Vivi?" batin Ardiaz.
Wanita itu perlahan mendekatinya, Ardiaz tersentak lalu memundurkan langkahnya dan mencoba menahan pergerakan Vivi.
"Berhenti disitu, jangan dekati saya!" suruh Ardiaz.
"Ada apa mas Ardi?" tanya Vivi kecewa.
"Kamu itu bukan manusia, kita sudah beda dunia Vivi. Kamu harus sadar dan pergi dari sini, jangan pernah kamu muncul lagi di depan saya!" ucap Ardiaz dengan keras.
"Jadi, kamu mau aku pergi mas? Kamu tega usir tunangan kamu sendiri? Dimana hati kamu?" tanya Vivi dengan tampang sedihnya.
"Aku minta maaf Vivi, aku emang masih cinta kamu. Tapi, dunia kita sudah berbeda dan kamu harus sadar akan itu Vivi!" jawab Ardiaz.
Vivi menggeleng pelan sembari menundukkan kepalanya, ia amat kecewa saat ini.
"Enggak mas, aku gak mau pergi dari kamu. Aku akan tetap ada di dekat kamu sampai kamu mau lepasin perempuan itu," ucap Vivi.
"Hahaha hahaha.." tiba-tiba wanita itu tertawa keras dan menimbulkan angin kencang di sekitar rumahnya.
Ardiaz seketika panik, tubuhnya merinding mendengar suara tawa Vivi yang amat mengerikan.
"Serem banget sih ini, saya harus gimana supaya bisa bikin Vivi sadar kalau dia sudah mati?" gumam Ardiaz dalam hati.
•
•
Felix yang mendengar itu cukup bergidik seakan tidak percaya dengan apa yang dialami Ardiaz.
"Pak, kok bisa sih itu terjadi? Emangnya mantan bapak itu belum sadar kalau dia udah meninggal? Serem banget tau dengarnya," ucap Felix.
"Entahlah Felix, saya juga bingung kenapa ini semua bisa terjadi. Padahal sebelumnya Vivi gak pernah menampakkan diri di hadapan saya, tapi kali ini dia justru bicara sama saya," heran Ardiaz.
"Perasaan bapak waktu bicara sama hantu Vivi itu gimana pak? Saya heran, kok bisa sih bapak berani banget ladenin dia?" tanya Felix.
"Sebetulnya saya juga takut, tapi karena keyakinan saya bahwa dia tidak mungkin bisa apa-apakan saya, jadinya ya saya lawan aja rasa takut itu," jawab Ardiaz.
"Terus sekarang kita harus gimana pak?" tanya Felix bingung.
"Kita cari tahu dulu, ini beneran teror Vivi atau cuma akal-akalan orang aja! Soalnya saya agak gimana gitu," ucap Ardiaz.
"Sama sih pak, saya belum percaya seratus persen kalau teror ini dilakukan hantu. Tapi, bukannya semalam bapak lihat sendiri hantu itu?" ujar Felix.
"Iya emang saya lihat dan bicara sama dia, tapi gak tahu deh saya masih ragu aja gitu," ucap Ardiaz.
__ADS_1
"Mungkin aja yang semalam bicara sama bapak itu memang benar hantu Vivi, tapi soal teror yang dialami calon istri bapak kayaknya bukan murni dari hantu deh," tebak Felix.
"Kenapa kamu bisa menebak begitu Felix?" tanya Ardiaz.
"Eee saya cuma ngasal sih pak, bisa aja tebakan saya salah. Soalnya saya kan gak mengalami langsung kejadian itu," jawab Felix.
"Huft, kalau memang benar Vivi dibalik semua ini, kayaknya saya harus datangi lagi makam dia dan minta maaf sama dia deh," ucap Ardiaz.
"Mungkin sebaiknya memang seperti itu pak, supaya arwah almarhum bisa tenang di dalam sana," ucap Felix.
"Tapi yang saya bingung, kenapa ya Vivi gak suka sama Aileen?" heran Ardiaz.
"Eee entahlah pak, saya juga belum bisa menebak ada apa ini sebenarnya," ucap Felix.
"Padahal Aileen itu kan gadis yang baik dan manis, tapi kenapa dia malah diganggu sama Vivi. Saya semalaman gak bisa tidur gara-gara mikirin soal ini," ucap Ardiaz.
"Tenang dulu pak, kita bisa cari tau semuanya lebih lanjut secara perlahan-lahan!" ucap Felix.
"Gimana bisa begitu Felix? Sebentar lagi acara pernikahan saya dengan Aileen akan dilaksanakan, kita harus bisa selesaikan masalah ini sebelum waktu itu tiba!" ucap Ardiaz.
"Ya pak, akan saya usahakan secepatnya kita bisa menemukan solusi untuk semua ini. Mungkin seperti yang tadi bapak bilang, ada baiknya bapak mengunjungi lagi makam mantan bapak itu," ucap Felix.
"Yasudah, itu saja yang ingin saya bahas. Saya permisi ya? Kamu lanjutkan pencarian, kalau ada apa-apa kabari saya!" ujar Ardiaz.
"Siap pak!" ucap Felix patuh.
Disaat Ardiaz hendak pergi, ponselnya justru berdering tiba-tiba dan mengagetkannya.
Drrttt
Drrttt
"Duh, Aileen pake telpon lagi. Saya harus jawab apa ya ke dia?" gumam Ardiaz.
Akhirnya Ardiaz pun mengangkat telpon tersebut.
📞"Halo sayang! Ada apa telpon? Kangen ya sama saya?" ucap Ardiaz dengan pedenya.
📞"Halo! Diaz, ini mamanya Aileen. Boleh kan kita bicara sebentar?"
Ardiaz sontak terkejut mendengar suara itu, ternyata bukan Aileen yang menelponnya melainkan Malika alias calon mertuanya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1