Kepsek Itu, Pacarku

Kepsek Itu, Pacarku
Episode 76. Gabino kasar


__ADS_3

Anna terkejut dengan ucapan Sean, ia langsung duduk di sebelahnya menatap penuh penasaran karena ia tak mengerti apa yang terjadi padanya.


"Lo itu sebenarnya kenapa Sean? Kalau ada masalah, coba aja cerita ke gue!" ucap Anna.


"Dih malah duduk disini lagi, kan gue bilang jangan ganggu gue!" sentak Sean.


"Ya ampun Sean, lu kok galak amat sih?! Gue cuma mau bantu lu tau," ucap Anna.


"Bantu apa? Gue udah bilang gue gak kenapa-napa, aneh banget sih lu!" ucap Sean.


"Kalau lu gapapa, kenapa lu ngelamun disini? Udah jujur aja kali sama gue, pasti gue bakal dengerin cerita lu kok!" ucap Anna.


"Gue tuh lagi mikirin Aileen yang mau nikah sama pak Ardiaz, puas lo?!" ucap Sean tegas.


"Hah? Gila lu Sean, lu suka sama calon istri orang gitu maksudnya?" kaget Anna.


"Gue juga gak tahu gue ini kenapa, tapi kayaknya sih iya emang gue suka sama Aileen. Soalnya gue gak terima waktu dengar dia mau dinikahin sama pak Ardiaz setelah lulus sekolah," ucap Sean.


"Tuh kan, lu sih ngeyel udah gue bilangin jangan dekat-dekat sama Aileen lagi, eh malah tetap kekeuh! Sekarang jadinya kayak gini kan?" ucap Anna.


"Apa sih? Kenapa lu malah bilang begitu? Bukan salah gue dong kalo gue punya rasa sama Aileen, orang itu muncul sendiri di hati gue," ucap Sean.


"Iya iya, lu gak salah. Tapi, lu harus bisa lupain Aileen! Karena gak mungkin lu bisa milikin Aileen, secara dia udah mau dinikahin sama pak Ardiaz kan," ucap Anna.


"Justru itu Anna, gue disini ya karena gue lagi pengen usaha buat lupain si Aileen," ucap Sean.


"Yaudah, gue temenin lu ya disini? Gue bakal bantu lu buat lupain Aileen," ucap Anna.


"Gimana caranya? Emang lu bisa?" tanya Sean.


"Barangkali lu butuh seseorang buat nemenin lu ngobrol, supaya lu gak kepikiran Aileen terus. Gue siap kok Sean," jawab Anna.


"Thanks ya!" lirih Sean.


Akhirnya Sean mau terbuka dan berbicara dengan Anna mengenai perasaannya pada Aileen.


Setelah beberapa menit, Anna kembali menatap Sean untuk memastikan kondisi pria itu.


"Gimana Sean?" tanya Anna lirih.


"Gue udah baikan sih, cuma masih belum percaya aja kalau Aileen bakal dinikahin sama pak Ardiaz secepat ini," jawab Sean.


"Ya ampun! Kita udah ngobrol panjang lebar, eh ternyata lu masih mikirin Aileen. Sia-sia aja dong obrolan kita daritadi Sean," kesal Anna.


"Kan gue gak maksa lu buat dengerin obrolan gue," ucap Sean santai.


"Ish, kok lu gitu sih? Udah deh mending kita sekarang ke ruang OSIS aja, udah pada nungguin tuh mereka!" ajak Anna.


"Gue gak mau Anna, kenapa maksa banget sih? Lu aja sana yang pimpin rapat!" ketus Sean.


"Sean, ada Bu Laura sama Bu Isma juga disana. Emang lu mau dianggap gak becus jadi ketua OSIS terus diturunin?" ucap Anna.


"Ya gapapa, toh masa jabatan gue juga emang udah mau abis," ucap Sean santai.


"Iya sih, ta-tapi kan lu sekarang masih dikasih tanggung jawab buat pimpin organisasi kita. Ayolah Sean ke ruang OSIS!" paksa Anna.


"Lo merem dulu coba!" perintah Sean.


"Hah? Ngapain merem sih?" tanya Anna heran.


"Udah merem aja cepet! Lu mau gue ikut sama lu kan? Kalo gitu lu harus turutin perintah gue!" sentak Sean.


"Haish, iya deh iya!" Anna pun pasrah dan menutup matanya sesuai perintah Sean.

__ADS_1


Itu dijadikan kesempatan oleh Sean untuk kabur dari Anna dan meninggalkan gadis itu sendirian disana dengan wajah bingung.


"Sean? Udah belum? Sean ih, lu dimana sih?" tanya Anna sembari merabaa-rabaa kursi.


Ia lalu membuka mata, betapa terkejutnya ia karena Sean sudah tidak ada di sampingnya dan di sekitarnya pun tak ada.


"Anjir gue ditipu sama tuh cowok!" umpat Anna.




Aileen merasa terpojok saat Gabino mengurungnya dan meletakkan satu tangannya di atas, ia sungguh tak mengerti mengapa Gabino seperti itu.


Tadi waktu masuk ke rumah, tiba-tiba saja pria itu langsung menariknya dan mendorongnya sampai mepet dinding ruang tamu tanpa alasan jelas.


"Kak, ada apa sih? Kenapa kakak tiba-tiba tarik aku kayak gini?" tanya Aileen jengah.


"Kamu beneran mau nikah sama Ardiaz setelah lulus nanti?" ucap Gabino balik bertanya.


"Ya iyalah, emang kenapa? Kan pak Ardiaz itu tunangan aku kak," ucap Aileen.


"Perasaan sebelumnya kamu gak mau nikah muda, kenapa sekarang jadi gini?" heran Gabino.


"Loh suka-suka aku dong, aku yang mau nikah kenapa kakak yang ribet sih," ucap Aileen.


"Bukan gitu, kakak cuma heran aja. Apa ini karena sikap kakak ke kamu?" ucap Gabino.


"Gak dong kak, emang aku pengen cepat-cepat nikah sama pak Ardiaz aja," ucap Aileen.


"Bohong! Kakak gak percaya sama kamu!" tegas Gabino.


"Ih yaudah, aku juga gak minta kakak buat percaya sama aku tuh," ucap Aileen.


"Duh, galak amat sih kak! Jangan pake lu-gue dong ngomongnya gak enak tau!" ucap Aileen.


"Bodoamat! Suruh siapa lu susah amat diaturnya? Ditanya baik-baik juga," ujar Gabino.


"Iya iya, aku mau nikah sama pak Ardiaz karena aku udah gak sabar pengen tinggal berdua bareng dia. Dan tebakan kakak tadi benar juga, aku emang gak betah disini sama kakak," ucap Aileen.


Gabino sontak mencengkram rahang Aileen kuat dan membuat gadis itu tersentak, dia coba melepaskannya tetapi gagal.


"Mmhhh lepas kak!" rengek Aileen.


"Gak! Lo nyebelin sih, jadi lo harus dihukum!" bentak Gabino.


"Aku minta maaf kak! Akh!" Aileen memeluk saat Gabino mencengkramnya makin kuat.


"Gue maafin, tapi lu harus cuciin baju sama celana gue terus masakin buat gue!" titah Gabino.


"Hah apa? Ih banyak banget kak, gak ada yang lebih ringan apa gitu?" kaget Aileen.


"Gak, itu udah paling ringan. Sekarang lu lakuin itu semua atau gue patahin rahang lu!" ancam Gabino.


"Awhh akh akh iya kak! Lepasin lepasin, aku mau kerjain semuanya kok!" rengek Aileen.


Ya Aileen terpaksa mengiyakan keinginan Gabino, karena ia tahu pria itu tak akan main-main dengan perkataannya.


"Sure?" tanya Gabino memastikan.


"Iya kak," jawab Aileen singkat.


Akhirnya Gabino melepaskan cengkeramannya dari rahang Aileen, dan gadis itu sontak memegangi bagian rahangnya yang terasa perih.

__ADS_1


"Uhh perih banget! Kakak emang keterlaluan!" kesal Aileen.


"Biarin aja, suruh siapa kamu bandel? Makanya jangan main-main sama kakak!" ujar Gabino.


"Yaudah, aku mau ke kamar dulu ya kak?" pamit Aileen.


"Eh eh eh, apa-apaan kok malah ke kamar? Lupa sama perintah kakak tadi? Cuciin pakaian gue dulu sama masakin buat gue makan malam!" ucap Gabino mencegah adiknya.


"Apa sih kak? Aku ke kamar dulu lah, aku mau ganti baju sama bersih-bersih," ucap Aileen.


"Okay, tapi awas ya kalo kamu malah gak balik lagi kesini! Kakak hukum kamu!" ancam Gabino.


"Ih galak amat sih! Iya iya, aku pasti balik kok. Udah kakak tenang aja!" ucap Aileen cemberut.


"Udah sana ke kamar! Kakak tunggu lima belas menit dari sekarang, kalau gak turun juga langsung kakak samperin ke kamar kamu!" ucap Gabino.


"Berisik ah! Iya aku ingat kakak, gak mungkin juga aku bohong sama kakak," ucap Aileen.


Gabino yang kesal pun kembali mencengkram rahang Aileen dan membuat gadis itu meringis kesakitan.


"Lo bener-bener ya Aileen!!" geram Gabino.


"Mas!" suara teriakan Alana dari belakang membuyarkan momen itu, sontak Gabino menoleh namun tidak melepaskan cengkeramannya.


"Alana, kamu kenapa keluar sih? Aku lagi ada urusan sama Aileen nih," ucap Gabino.


"Mas ih, kasihan Aileen tau! Lepasin gak!" pinta Alana.


"Aku gak mau, biarin aja dia kayak gini supaya dia dapat pelajaran!" sentak Gabino.


Aileen sendiri masih terus berupaya melepaskan diri dari cengkraman Gabino, tetapi upayanya gagal karena tangan Gabino terlalu kuat.


"Mas, kamu jangan kayak gini dong! Aileen itu adik kamu loh!" ujar Alana.


"Aku tahu Lana, tapi dia udah bikin aku emosi. Aku kesel banget sama dia!" ucap Gabino.


"Mmhhh ampun kak!" rengek Aileen sambil terus memukul-mukul tangan Gabino minta dilepaskan.


"Kakak gak akan ampuni kamu, sampai kamu janji mau berubah!" bentak Gabino.


"I-i-iya, aku janji akh!" ucap Aileen kesulitan.


"Yakin janji gak ngulangin yang tadi lagi?" tanya Gabino tak percaya.


Aileen mengangguk tanda iya.


"Jawab! Bukan manggut-manggut aja!" sentak Gabino dengan kasar.


"Iya kak iya, aku janji beneran deh!" ucap Aileen yang sudah sangat kesakitan.


Barulah Gabino melepaskan rahang adiknya, itupun sambil menghentak kasar hingga Aileen harus berpegangan pada tembok agar tidak jatuh.


"Aileen, kamu gapapa?" Alana bergerak menghampiri Aileen karena cemas.


"Gak kok kak, aku baik. Cuma rahang aku rasanya mau patah nih gara-gara kak Gabino," jawab Aileen.


"Duh, yaudah yuk kita ke kamar kamu! Nanti disana aku coba bantu sembuhin ya?" ucap Alana.


"Boleh kak, makasih!" ucap Aileen pelan.


Alana pun membantu Aileen berjalan menuju kamarnya, mereka pergi meninggalkan Gabino yang masih terlihat kesal dan emosi.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2