
"Selamat pagi semua!" suara sapaan dari Bu Diana membuat suasana hening, seketika Virgo membalik posisinya menghadap ke depan dan tidak lagi menggoda Aileen.
"Pagi Bu!" balas seluruh murid yang ada di kelas itu.
Bu Diana pun duduk di tempatnya, menatap heran ke arah Virgo yang tengah terduduk santai di hadapannya sambil senyum-senyum.
"Virgo? Kamu duduk di depan sekarang?" tanya Bu Diana yang masih tak percaya.
"Iya Bu, emang salah ya kalau saya duduk di depan kayaknya ibu kaget gitu?" jawab Virgo.
"Gak salah kok Virgo, saya cuma heran aja lihatnya. Dari dulu kan kamu selalu duduk di belakang, terus paling suka bikin onar di kelas. Eh sekarang tiba-tiba kamu duduk di depan, ya kaget lah saya," ujar Bu Diana.
"Iya Bu, saya udah kapok bikin onar terus. Alhasil saya jadi gak lulus deh kemarin, masih untung saya gak dihantam sama ibu bapak saya. Ya makanya saya mulai sekarang berjanji sama diri saya sendiri Bu, kalau saya pengen berubah!" ucap Virgo.
"Nah, itu bagus Virgo! Penyesalan memang selalu datang di akhir, tapi gapapa yang penting kamu punya niat untuk berubah," ucap Bu Diana.
Virgo manggut-manggut saja sambil sesekali melirik ke belakang dan memberikan senyuman tipis pada Aileen, seketika gadis itu langsung memalingkan wajahnya dengan cepat.
"Baik semuanya, pertama-tama kenalkan saya Diana, kalian semua boleh panggil saya Bu Diana. Mungkin beberapa dari kalian sudah ada yang mengenal saya, terutama para anggota OSIS atau yang lainnya. Saya itu disini jadi wali kelas kalian, saya yang akan bertanggung jawab terhadap kalian semua selama setahun ke depan," ucap Bu Diana.
Murid-murid disana hanya mengangguk-angguk kecil tanpa ada yang berbicara.
"Karena ini hari pertama sekolah, dan ada beberapa murid OSIS yang masih bertugas di bawah, jadi kita belum belajar dulu ya untuk saat ini. Sebagai gantinya, saya mau bentuk pengurus kelas untuk di kelas ini dulu," sambung Bu Diana.
"Aileen, bisa kamu bantu saya menunjuk siapa saja yang pantas untuk jadi pengurus di kelas ini?" tanya Bu Diana pada Aileen.
"Hah? Saya Bu? Saya aja gak kenal sama mereka semua Bu, gimana caranya saya bisa tunjuk pengurus kelas coba?" ujar Aileen.
"Yaudah gapapa, kamu maju aja sini dulu!" ucap Bu Diana.
Aileen pun menurut dan maju menghampiri Bu Diana dengan terpaksa, ia berdiri menghadap ke arah teman-temannya dengan bu Diana di sampingnya.
"Virgo, kamu mau ya jadi ketua kelas disini? Saya yakin yang lainnya pasti setuju kok, karena kamu kan udah punya pengalaman," ucap Bu Diana.
"Hah? Kok saya Bu??" tanya Virgo terkejut.
"Ya gapapa, di kelas ini kamu yang paling tua dan punya pengalaman. Gimana yang lain? Setuju?" ucap Bu Diana.
"Setuju Bu!" jawab semua murid serentak.
"Waduh jangan saya dong Bu! Yang lain aja lah Bu, saya gak bisa!" tolak Virgo.
"Kamu pasti bisa Virgo, wakilnya Aileen kok!" ucap Bu Diana.
__ADS_1
"Hah??!" kali ini giliran Aileen yang terkejut.
Sementara Virgo justru berteriak gembira mengetahui Aileen yang menjadi wakilnya.
"Yes! Nah kalau ditemenin sama Aileen saya mau Bu, boleh deh jadi ketua kelas sampe kuliah juga gapapa saya mah Bu," ujar Virgo.
"Eee Bu, kenapa saya yang jadi wakil? Saya gak ngerti apa-apa Bu, yang lain aja ya?" protes Aileen.
Bu Diana tersenyum lalu membisikkan kata-kata di telinga Aileen, "Pak Ardiaz yang minta ini sama saya, kamu nurut aja ya!"
Seketika tubuh Aileen menegang, ia melirik ke arah jendela dan melihat Ardiaz tersenyum dari sana.
•
•
"Pak, kenapa bapak nyuruh Bu Diana buat angkat aku jadi wakil ketua kelas sih? Aku kan gak mau jadi begituan pak, aku males tau!" protes Aileen pada kekasihnya.
Saat ini Aileen berada di ruang kepala sekolah, menemui Ardiaz untuk memprotes apa yang dilakukan pria itu padanya.
"Kamu apa sih Aileen, datang-datang kok ngegas gitu? Sudah, ayo duduk dulu!" ucap Ardiaz dengan lembut sambil berusaha menenangkan Aileen.
"Gak mau! Pokoknya bapak harus bilang dulu ke Bu Diana buat ganti orang di posisi wakil ketua kelas, karena saya gak mau pak!" tegas Aileen.
"Saya gak bisa lakuin itu Aileen, semuanya kan udah disetujui bersama. Lagian jadi wakil ketua kelas itu gampang kok, kamu cuma perlu lakuin apa yang harus kamu lakuin," ujar Ardiaz.
"Ayolah, sesekali kamu nurut sama saya! Sesekali kamu jadi gadis yang penurut gitu loh, biar saya makin cinta sama kamu!" pinta Ardiaz.
"Hah? Emangnya selama ini aku kurang nurut apa coba sama pak Ardiaz?" tanya Aileen.
"Ya masih kurang, kamu harus nurut sama saya di segala hal, termasuk ini. Kalau kamu nolak, yaudah nanti saya marah!" ancam Ardiaz.
"Ma-marah??" kaget Aileen.
"Iya, kamu mau saya marah dan diemin kamu seharian?" tanya Ardiaz.
"Ih ya enggak lah masa gitu!" jawab Aileen.
"Yaudah, kamu terima aja jabatan itu! Kapan lagi kan kamu jadi wakil ketua kelas?" ujar Ardiaz.
"Tapi pak—"
"Udah ya Aileen, kamu nurut aja sama saya dan jangan bantah! Saya ini paling gak suka loh dibantah, apalagi sama pacar saya sendiri!" potong Ardiaz sembari bangkit dari duduknya.
__ADS_1
Melihat tatapan tajam sang kekasih membuat nyali Aileen ciut, ia pun menunduk dan memilih duduk di hadapan Ardiaz untuk meredam emosi pria itu.
"Kok kamu tiba-tiba diem dan mau duduk?" tanya Ardiaz dengan senyum smirk nya.
"Aku gak mau suasana makin panas, terus nanti kamu malah kasar sama aku," jawab Aileen.
Ardiaz terkekeh melihat ekspresi gadisnya saat ini, oh Aileen memang sungguh menggemaskan dan selalu membuat Ardiaz tidak tahan.
"Hahaha, kamu lucu banget sih sayang!" ujar Ardiaz sembari melangkah ke dekat Aileen.
Pria itu pun mengusap puncak kepala Aileen, lalu menarik tangan Aileen hingga gadis itu kembali berdiri.
"Bapak mau ngapain?" tanya Aileen cemas.
"Kita duduknya di sofa aja, supaya saya bisa peluk kamu sesuka saya. Kalau disini, gimana caranya saya peluk kamu kan?" jawab Ardiaz.
"Ohh, kenapa bapak mau peluk aku?" tanya Aileen lagi.
"Kamu terlalu banyak tanya ya Aileen, saya lebih suka kamu diam dan nunduk kayak tadi!" ujar Ardiaz.
"Ih bapak!!" kesal Aileen, kini dirinya sudah duduk di sofa empuk dengan Ardiaz di sampingnya yang langsung memberi pelukan hangat untuknya.
"Saya paling suka kalau udah peluk kamu begini, tubuh kamu itu kerasa nyaman banget dan bikin saya suka," ucap Ardiaz.
Tiba-tiba saja, perut Aileen berbunyi mengganggu momen romantis mereka.
"Hah? Kamu lapar sayang? Perut kamu sampai bunyi begitu, udah gak tahan ya pengen makan?" tanya Ardiaz dengan sedikit menggoda.
"Umm, ya gitu deh pak. Aku biasanya kan kalau jam istirahat itu suka makan, eh tapi sekarang malah harus nyamperin kamu kesini," jawab Aileen.
"Siapa coba yang suruh kamu kesini? Gak ada kan?" tanya Ardiaz.
"Ya emang gak ada, tapi kan aku kesini juga gara-gara kamu yang nyebelin!" cibir Aileen.
"Iyain aja, cewek emang selalu benar. Sekarang kita mending ke kantin aja terus makan yuk!" ajak Ardiaz.
"Mau sih, tapi..."
"Tapi apa?" tanya Ardiaz dengan cepat.
"Tapi, nanti di kantin kamu suapin aku ya!" jawab Aileen dengan manja.
Ardiaz langsung menepuk jidat mendengar permintaan aneh sang kekasih.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...