
Ceklek
Aileen membuka pintu, dia agak terkejut melihat Alana lah yang berada di depan sana dan bukan Gabino.
Sontak Aileen menatap Alana dengan keheranan sambil celingak-celinguk mencari kakaknya, pasalnya dia yakin betul tadi Gabino masih ada disana.
"Eee kak Lana, kok jadi kakak yang ada disini? Kak Gabino kemana?" tanya Aileen bingung.
"Eh Aileen, udah selesai ganti bajunya? Iya tadi tuh mas Gabino aku suruh turun ke bawah buat temenin Ardiaz, terus aku yang diminta gantian jaga disini. Emang kenapa Aileen? Kamu pengen ketemu kakak kamu?" jawab Alana.
"Enggak lah, ngapain? Aku cuma heran aja, soalnya tadi tuh kak Gabino bilangnya mau nunggu disini sampai aku selesai," ujar Aileen.
"Hahaha, yaudah sekarang kita ke bawah yuk! Kamu kan belum sarapan, apa kamu gak lapar Aileen?" ajak Alana.
"Lapar sih kak, tapi jujur aku males banget kalo ada kak Gabino di bawah. Bisa gak sih kak aku sarapan nya di kamar aja sendiri?" ucap Aileen.
"Loh kok gitu sih? Kamu segitunya sama kakak kamu? Dia itu begitu ke kamu karena dia sayang sama kamu Aileen, jadi kamu jangan gitu lah sama dia!" ucap Alana.
"Ya gimana kak? Abisnya kak Gabino itu nyebelin banget, tadi aja dia maksa-maksa aku buat ganti baju padahal aku gak mau," ucap Aileen.
"Gapapa Aileen, masa gitu aja dipermasalahin? Udah yuk kita ke bawah sarapan bareng! Emang kamu juga gak mau ketemu Ardiaz? Kasihan loh dia nungguin kamu disana," ujar Alana.
"Pengen sih kak, tapi aku maunya pak Ardiaz ikut ke atas biar bisa sarapan bareng disini tanpa ada yang ganggu," ucap Aileen.
"Hey! Kalian itu belum menikah loh, mana boleh berduaan di kamar?" tegur Alana sembari mencolek hidung Aileen.
"Hehe, kan gak ngapa-ngapain kak. Paling cuma sarapan bareng," ucap Aileen sambil nyengir.
"Sama aja gak boleh Aileen, kamu mau digrebek sama warga terus dinikahin paksa?" ujar Alana.
"Eee kalo itu sih gak mau kak, tepatnya belum mau. Aku kan masih pengen sekolah sampai lulus terus kuliah. Kalau aku nikah sekarang, yang ada mimpi aku bisa patah," ucap Aileen.
"Nah itu kamu tau, terus kenapa kamu tadi mau ajak Ardiaz ke kamar kamu Aileen?" tanya Alana.
"Bercanda kak, lagian mana mungkin juga kak Gabino kasih izin aku bawa pak Ardiaz ke kamar? Bisa-bisa aku dihukum sama dia," jawab Aileen.
"Ahaha, yaudah ayo kita ke bawah mumpung masih jam segini!" ucap Alana.
__ADS_1
"Emangnya kenapa kak sama jam segini?" tanya Aileen keheranan.
"Belum telat buat sarapan, masih pas. Terus juga bubur yang dibawa Ardiaz buat kamu pasti masih anget, buruan yuk ke bawah!" jelas Alana.
"Ohh, iya iya kak.." Aileen mengangguk setuju.
Mereka pun melangkah bersamaan menuruni tangga untuk menghampiri Gabino serta Ardiaz yang sudah lebih dulu berada disana.
"Aileen, sebenarnya kenapa kamu maksa banget buat berangkat sekolah tadi?" tanya Alana.
"Gapapa sih kak, aku cuma bosan kalau di rumah terus kayak gini," jawab Aileen.
"Kok bosan? Kan ada Ardiaz yang ngapelin kamu, emang kamu gak suka?" tanya Alana menggoda.
"Apa sih kak? Ada pak Ardiaz juga sama aja, kita gak bakal bisa sebebas di luar sana. Apalagi disini ada perusuh kayak kak Gabino," jawab Aileen.
"Hahaha kamu ini!" kekeh Alana.
•
•
Tanpa banyak basa-basi, Gabino langsung membahas mengenai perusahaan papanya yang ingin ia serahkan kepada orang lain untuk dikelola menjadi lebih baik.
"Menurut kamu gimana Ardiaz? Apa kamu bisa diberikan tanggung jawab untuk menjaga dan mengelola kantor papa saya?" tanya Gabino.
"Waduh! Kalau untuk itu sih saya belum siap kak, saya takut gak berhasil dan malah mengecewakan kak Gabino sendiri. Sebaiknya perusahaan itu diserahkan pada orang yang memang ahli dalam bidangnya, supaya kak Gabino gak perlu takut akan kegagalan nantinya," jawab Ardiaz.
"Jadi, kamu menolak tawaran saya Ardiaz? Kamu gak mau diberikan tanggung jawab ini?" tanya Gabino lagi.
"Sekali lagi maaf kak! Saya memang belum ahli untuk mengelola perusahaan itu," jawab Ardiaz.
"Baiklah, saya mengerti. Saya juga tidak bisa memaksa kamu, apalagi diantara kita kan belum menjadi keluarga. Gak elok rasanya kalau saya paksa kamu," ucap Gabino.
"Maaf ya kak! Bukan maksud saya mengecewakan kak Gabino," ucap Ardiaz.
"Kamu gak perlu minta maaf, ini kan cuma sebuah tawaran. Kalau kamu mau ya syukur, tapi kalau enggak juga saya gak bisa maksa," ucap Gabino.
__ADS_1
"Eee memangnya kak Gabino tidak bisa mengelola perusahaan itu sendiri?" tanya Ardiaz.
"Awalnya sih bisa, tapi itu dulu sebelum saya sesibuk sekarang. Saya kan juga harus fokus sama perusahaan yang saya dirikan sendiri, saya cukup kesulitan untuk membagi fokus pada dua perusahaan sekaligus," jawab Gabino.
"Iya sih, emang berat buat kayak gitu. Lalu bagaimana dengan Aileen kak? Apa kak Gabino gak mempertimbangkan dia buat memegang kendali perusahaan itu?" tanya Ardiaz.
"Aileen? Saya rasa dia belum siap untuk itu, sikap dia aja masih kayak bocah dan belum bisa dewasa. Bagaimana dia bisa pegang kelola sebuah perusahaan besar? Apalagi dia belum lulus sekolah, ya kan?" jawab Gabino.
"Iya juga sih kak, agak riskan juga kalau dipaksakan Aileen yang pegang kendali sepenuhnya. Saya yakin dia akan kesulitan," ucap Ardiaz.
"Ehem ehem.." kedua pria itu dikejutkan dengan suara deheman yang tiba-tiba muncul.
Mereka kompak menoleh ke asal suara dan menemukan Aileen serta Alana disana, mereka terkejut lalu sontak bangkit dari tempat duduk masing-masing.
"Pada ngomongin apa sih? Kayaknya serius banget sampe kaget begitu pas aku datang," tanya Aileen.
"Biasa aja, gak ada yang serius. Kamu aja yang datangnya ngagetin," jawab Gabino.
"Masa? Perasaan aku gak ngagetin tuh, tadi emang kakak sama mas Diaz bahas apa sih? Sekilas aku dengar kayak pada sebut-sebut nama aku," ucap Aileen.
Gabino tersenyum lalu mencubit kedua pipi adiknya.
"Apa sih kamu? Ge'er banget jadi orang! Siapa coba yang sebut-sebut nama kamu? Jangan kege'eran deh!" kekeh Gabino.
"Emang aku denger begitu kok, ngaku aja deh kak! Kak Lana juga dengar kok, ya kan kak?" ucap Aileen.
"Eee iya iya.." jawab Alana lirih.
"Tuh kan, berarti bener kak Gabino sama mas Diaz lagi ngomongin aku. Ngaku gak kalian ngom—mmpphh!!" belum sempat Aileen selesai bicara, Gabino sudah lebih dulu membungkam mulutnya dengan telapak tangan.
"Berisik banget sih kamu, ngomong terus! Udah dibilang gak ada yang ngomongin kamu, masih aja gak percaya! Sekarang rasain nih, kakak gak akan lepas mulut kamu!" kesal Gabino.
"Mmppphhh mmppphhh!!" Aileen coba melepaskan tangan Gabino dari mulutnya, tapi yang terjadi justru pria itu semakin menguatkan cengkeramannya.
Ardiaz dan Alana terkekeh saja melihat tingkah adik-kakak yang tidak ada akurnya itu.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...