Kepsek Itu, Pacarku

Kepsek Itu, Pacarku
Episode 117. Kamu kenapa mas?


__ADS_3

"Duh, iya saya sampai lupa kalau saya harus beliin nasi kuning buat Aileen. Saya malah asyik makan sendiri disini sama kamu, pasti sekarang dia udah nungguin deh," ucap Ardiaz.


"Tuh kan, yaudah kamu pesen satu lagi gih nasi kuningnya buat Aileen! Abis itu kamu pulang ya!" ucap Laura.


"Okay," singkat Ardiaz.


Ardiaz pun memesan satu porsi nasi kuning pada si penjual, dan untungnya masih ada sehingga Ardiaz merasa lega. Namun, ia menjadi bingung saat ini apakah ia harus kembali ke rumah dan meninggalkan Laura atau mengantar wanita itu terlebih dulu.


"Terus kamu pulang sama siapa dong? Saya beneran khawatir deh," ujar Ardiaz.


"Gapapa, aku bisa pulang sendiri. Kamu gausah khawatir ya!" ucap Laura.


"Kamu yakin? Apa saya anterin kamu aja dulu kali ya baru saya pulang ke rumah?" usul Ardiaz.


"Enggak enggak, jangan begitu Ardiaz! Udah kamu sekarang mending pulang aja!" tolak Laura.


"Huh kamu tuh kenapa sih gak mau banget diantar sama saya?" heran Ardiaz.


"Ya karena aku gak mau dituduh jadi pelakor dalam rumah tangga orang," ucap Laura.


"Kamu itu bukan pelakor, kamu teman saya yang udah ada buat saya selama ini. Gak ada salahnya kan kalau saya antar kamu?" paksa Ardiaz.


"Umm, aku tetap gak mau Diaz. Kamu tau kan seperti apa sikap istri kamu itu?" ucap Laura.


Ardiaz berpikir di dalam hatinya, memang benar Aileen selalu sulit untuk menerima Laura berdekatan dengan Ardiaz. Pastinya Aileen akan semakin marah dan kecewa jika tahu bahwa suaminya mengantar wanita lain saat ini.


Lalu, sang penjual datang ke meja mereka membawa satu bungkus nasi kuning yang tadi dipesan Ardiaz untuk Aileen. Setelah membayar, Ardiaz berniat pergi bersama Laura menuju parkiran di luar.


"Yuk Laura, kita bareng aja sampe ke parkiran!" ajak Ardiaz.


Laura mengangguk setuju, "Iya Diaz."


"Tapi, abis itu kamu pulang ya?" sambungnya.


"Iya iya.." Ardiaz menurut saja.


Dan tanpa disangka, mereka justru berpapasan dengan Gabino yang baru sampai di tempat nasi kuning itu. Ardiaz sontak terkejut dan tak menyangka akan bertemu dengan Gabino disana, apalagi saat ini posisinya ia sedang bersama Laura yang mungkin saja akan menimbulkan salah paham.


"Ohh, jadi ini yang lu lakuin Diaz? Pantas aja daritadi ditungguin gak balik-balik, ternyata lu malah sama cewek lain," ucap Gabino spontan.


Ardiaz menggeleng mengelak, ia mencoba menjelaskan semuanya pada Gabino.


"Kak, tunggu dulu kak jangan salah paham dulu! Saya bisa jelasin semuanya ke kak Gabi, ini gak seperti yang kakak lihat!" ujar Ardiaz.


"Lu gausah ngelak Diaz, gue udah lihat semuanya. Lu bener-bener kelewatan, istri lu lagi hamil dan nungguin lu di rumah sampai kelaparan. Eh lu malah enak-enakan disini," ucap Gabino.


"Kak, saya beneran gak ada apa-apa sama Laura. Saya juga gak sengaja ketemu dia disini, tolong jangan salah paham ya kak!" ucap Ardiaz.


"Halah gue gak percaya sama lu!" ketus Gabino.


Gabino langsung berbalik dan pergi dari tempat itu, tetapi dengan cepat Ardiaz mengejarnya serta menahan lengan Gabino dari belakang untuk mencegah pria itu pergi dari sana. Akhirnya Gabino pun berhenti melangkah, namun ia langsung menunju wajah Ardiaz tanpa aba-aba.


Bughh


"Gue udah pernah peringatin lu, jangan pernah main-main sama Aileen! Tapi, lu malah gak gubris perkataan gue. Sekarang gue bakal kasih pelajaran ke lu Ardiaz!" geram Gabino.


Gabino sangat emosi, ia menghampiri Ardiaz yang tersungkur dan menarik bajunya hingga pria itu berdiri kembali. Laura yang menyaksikannya tampak syok dan menutup mulut tak menyangka Ardiaz akan mengalami itu, ia ingin sekali membantu tetapi ia tidak bisa apa-apa.




Singkat cerita, Gabino sudah membawa pulang Ardiaz dalam kondisi wajah penuh lebam akibat pukulannya di tempat nasi kuning tadi. Ia tak bisa menahan emosinya, sebab yang tersakiti disini adalah adik kandungnya yang sangat ia sayangi dan cintai.


Ardiaz sendiri juga berkali-kali mencoba menjelaskan yang sebenarnya pada Gabino kalau ia tidak selingkuh, tetapi Gabino seolah tak ingin mendengarnya dan terus saja memukulinya sampai seperti sekarang. Untunglah Gabino bisa sadar sehingga tidak membuat Ardiaz meninggal.


"Diaz, sekarang kita turun dan lu harus minta maaf ke Aileen atas apa yang udah lu lakuin tadi!" suruh Gabino.

__ADS_1


"Iya kak, saya pasti akan meminta maaf sama Aileen. Tapi bukan karena saya selingkuh dan khianati dia, karena saya gak pernah ngelakuin seperti apa yang kakak tuduh itu," ucap Ardiaz.


"Lalu kalau bukan selingkuh, kenapa lu bisa berduaan sama tuh cewek di warung nasi? Siapa dia ha?" tanya Gabino tegas.


"Dia teman sekolah saya kak, Aileen juga udah kenal sama dia. Tadi saya gak sengaja ketemu sama dia disana, terus dia curhat tentang masalah rumah tangganya," jawab Ardiaz.


"Masalah rumah tangga? Tuh cewek udah nikah?" tanya Gabino sedikit kaget.


"Iya kak, Laura udah nikah. Tapi, dia sekarang baru aja cerai karena ada masalah," jawab Ardiaz.


"Nah, berarti bener yang gue lakuin tadi. Kalo gue biarin lu tetap sama tuh cewek, pasti nanti lu bakal kepincut sama dia. Secara dia janda," ucap Gabino.


"Enggak lah kak, saya itu kan cinta sama Aileen dan saya gak mungkin berkhianat dari dia. Kakak percaya aja sama saya!" ucap Ardiaz.


"Baiklah, gue pegang kata-kata lu Diaz. Tapi, awas ya kalo lu khianati Aileen!" ucap Gabino.


"Iya kak, saya juga udah tahu akibatnya kok. Contohnya kan sekarang ini, salah paham aja bisa sampe begini, gimana kalau beneran?" ucap Ardiaz.


"Bagus kalo lu ngerti, sekarang kita masuk dan temuin Aileen!" ujar Gabino.


"Eee kalau Aileen tanya soal muka saya yang begini gimana kak?" ujar Ardiaz.


"Bilang aja dengan jujur, nanti gue juga bakal jelasin ke adik gue," ucap Gabino.


"Yaudah, tapi pelan-pelan aja ya kak? Muka saya masih kerasa sakit nih, gara-gara dipukul sama kak Gabi tadi," ucap Ardiaz memegangi pipinya


"Hahaha, suruh siapa lu gak ngelawan. Malah ngebiarin gue mukulin lu terus," kekeh Gabino.


"Ya kalau saya ngelawan, nanti urusannya malah makin panjang. Saya kan gak mau musuh sama kak Gabi," ucap Ardiaz.


"Okay, yuk turun!" ajak Gabino.


Mereka pun turun dari mobil, dan berjalan ke dalam rumah bersama-sama. Wajah Ardiaz yang terluka itu sulit untuk ditutupi, meskipun ia sudah berusaha menggunakan telapak tangannya. Bahkan kondisi Ardiaz itu juga membuat para penjaga yang ada di rumahnya penasaran sekaligus keheranan melihatnya.


"Kak, kayaknya nanti jangan bilang soal kesalahpahaman kita di warung tadi deh ke Aileen!" ucap Ardiaz.


"Gak gitu bang, saya takut aja terjadi sesuatu sama kandungan Aileen nantinya. Saya gak mau bikin Aileen kepikiran," jawab Ardiaz.


"Aih yasudah, nanti lu pikirin aja jawaban yang mau lu kasih ke Aileen!" ujar Gabino.


"Oke kak," singkat Ardiaz.


Mereka lalu berjalan kembali memasuki area rumah, menemui Aileen serta yang lainnya dan menjelaskan semua yang terjadi.




Di dalam, terlihat Aileen bersama Mita masih terduduk di sofa sambil berpelukan. Tampak juga Aileen tengah bersedih sepertinya karena Ardiaz yang tak kunjung kembali, melihat itu pun membuat Ardiaz merasa bersalah dan menyesal karena telah pergi terlalu lama.


Ardiaz memutuskan mempercepat langkahnya, menghampiri Aileen di depan sana untuk menenangkan istrinya itu. Begitu sang suami memanggilnya, Aileen langsung menoleh lalu bangkit dari duduknya disertai senyum lebar tanda kesenangan ia atas datangnya Ardiaz.


"Mas Diaz?" Aileen tersenyum lebar, kemudian maju mendekati suaminya.


"Kamu kemana aja sih mas? Kok jam segini baru balik? Aku nungguin kamu tau," ujarnya sembari memeluk tubuh sang suami.


"Maaf ya sayang, tadi tuh saya ada masalah sedikit sewaktu di jalan lagi mau beli nasi kuning buat kamu. Makanya saya lama deh pulangnya," jawab Ardiaz dengan santai.


Aileen terkejut, melepas pelukannya lalu menatap wajah Ardiaz. Ia bertambah kaget karena melihat bagaimana kondisi Ardiaz saat ini yang penuh luka lebam, ia langsung menangkup wajah pria itu dan menanyakan mengapa wajahnya bisa jadi seperti itu. Padahal sebelumnya Ardiaz baik-baik saja.


"Ya ampun mas, ini muka kamu kenapa lebam gini? Ada masalah apa sih emang di jalan? Kamu kena begal?" tanya Aileen cemas.


"Gak sayang, tadi ada salah paham dikit aja sama orang di jalan. Tapi saya gapapa kok, udah kamu gausah khawatir ya!" jawab Ardiaz.


"Tapi mas, muka kamu sampe begini banget loh. Aku obatin aja ya dulu? Takutnya nanti malah jadi infeksi kalo didiemin," ujar Aileen.


"Eh gausah, kamu makan aja nih nasi kuningnya sayang! Tadi kata kak Gabi, kamu gak mau makan kalau gak nasi kuning," ucap Ardiaz.

__ADS_1


"Nanti aja ah mas, aku mau obatin luka kamu dulu. Aku takut kamu kenapa-napa tau," ucap Aileen.


"Saya baik-baik aja, yang paling penting itu kamu Aileen. Kamu harus makan supaya tetap sehat, ingat loh kamu lagi hamil!" ucap Ardiaz.


Aileen langsung cemberut, ia memang masih keras kepala dan tidak ingin dibantah jika sudah ingin melakukan sesuatu. Termasuk permintaannya kali ini, ya Aileen tak mau makan kalau Ardiaz tidak diberi obat lebih dulu. Padahal Ardiaz sudah mengatakan kalau dirinya baik-baik saja.


"Iya Aileen, kamu jangan egois kayak gitu dong! Kamu harus makan, jaga kesehatan kamu dan bayi kamu!" ucap Gabino.


"Kak, kakak pasti tahu kan kenapa mas Diaz jadi bonyok begini? Coba kakak kasih tahu aku dong, aku penasaran banget siapa yang bikin mas Diaz jadi kayak gini!" ucap Aileen.


"Kakak gak tahu sayang, begitu datang wajah Ardiaz udah begini," bohong Gabino.


"Ih masa sih kakak gak tahu? Terus siapa dong yang bikin wajah mas Diaz begini?" ujar Aileen.


"Udah lah Aileen, kamu gak perlu mikirin soal itu! Udah yuk kamu makan dulu nih nasinya, jangan bantah!" tegas Ardiaz.


Akhirnya Aileen pun mau menurut dengan ucapan suaminya, ia bersama Ardiaz pergi ke meja makan dan mulai memakan nasi kuning yang sudah dibeli pria itu.




Sementara Laura tiba di rumahnya, namun entah kenapa ia masih memikirkan kondisi Ardiaz yang tadi sempat dihajar oleh Gabino saat memergoki mereka tengah berduaan di warung nasi kuning. Laura merasa bersalah dan ingin tahu bagaimana kondisi Ardiaz saat ini.


Disaat ia hendak melangkah, tiba-tiba saja tangannya ditahan oleh seseorang dari belakang. Ia sedikit kaget, lalu reflek menoleh untuk memastikan siapa yang ada di belakangnya. Betapa terkejutnya ia karena ternyata yang memegang tangannya ialah Bagas, mantan suaminya.


"Mas Bagas? Kamu mau ngapain lagi sih datang ke rumah aku?" tanya Laura sedikit ketus.


"Aku kesini untuk cek kondisi kamu aja, aku khawatir kamu kenapa-napa. Sebagai seseorang yang pernah jadi bagian dari hidup kamu, aku ini masih perduli loh sama kamu," jawab Bagas.


"Bohong kamu mas, kalau kamu perduli sama aku kenapa kamu ceraikan aku?" ujar Laura.


"Ohh, jadi kamu belum terima soal perceraian kita? Dengar ya Laura, aku lakuin itu juga karena terpaksa kok. Andai aja kamu bisa cinta sama aku, pasti kita gak bakal cerai sayang," ucap Bagas.


"Yaudah mas, intinya sekarang kita udah cerai kan? Kamu mending pergi sana, jangan kembali lagi ke rumah aku!" ucap Laura mengusir Bagas.


"Kamu kenapa sih begitu banget sama aku? Aku ini cinta loh sama kamu, aku perduli sama kamu dan aku gak mau kamu kenapa-napa!" ucap Bagas.


"Aku gak bakal kenapa-napa mas, ini rumah aku dan disini aman. Gak mungkin ada yang celakai aku di rumah aku sendiri," ucap Laura.


"Kejahatan itu bisa ada dimana aja Laura, biarin aku disini untuk beberapa saat ya? Aku juga mau temenin kamu, karena pasti kamu kesepian tinggal sendirian disini?" ucap Bagas.


"Sok tahu banget sih kamu, siapa yang kesepian coba? Aku justru suka sendirian, daripada berdua tapi sama kamu," ucap Laura.


"Oh aku tahu nih, kamu gak mau ditemenin sama aku tapi kamu maunya sama yang kamu suka itu kan? Siapa dah tuh namanya, Ardiaz ya? Suami orang itu?" goda Bagas.


"Apa sih? Gausah bawa-bawa Ardiaz ya mas, dia gak ada hubungannya sama perceraian kita!" ucap Laura mengelak.


"Aku gak lagi bahas soal perceraian, tapi aku bahas orang yang kamu cintai. Aku tahu sampai sekarang kamu masih cinta sama Ardiaz, walau dia sudah beristri dan kamu sudah bersuami," ucap Bagas.


"Kalau kamu gak tahu, gausah sok tahu deh mas. Aku jijik banget sama orang kayak gitu!" ujar Laura.


"Aku bukan sok tahu Laura, tapi aku emang tahu. Kamu pikir aku anak kecil apa yang gak tahu apa-apa?" ucap Bagas tersenyum kecil.


"Haish, bodo lah terserah kamu. Aku mau ke dalam dulu, lepasin tangan aku!" sentak Laura.


"Aku ikut ya?" ucap Bagas.


"Kamu gila ya mas? Kita itu udah bukan suami-istri, kita gak boleh berduaan di dalam. Nanti malah timbul fitnah loh dari orang-orang sekitar sini," ucap Laura menolak.


"Gapapa Laura, aku kangen main sama kamu. Aku belum bisa lupain rasa tubuh kamu yang enak itu," ucap Bagas sensual.


Laura merinding dibuatnya, tatapan serta seringaian yang keluar di wajah Bagas memang seringkali berhasil membuat Laura ketakutan dan tidak bisa apa-apa. Seperti sekarang ini, Laura akhirnya mengangguk pasrah mengikuti kemauan Bagas. Laura pun memberi izin Bagas masuk ke rumahnya dengan sangat terpaksa.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2