
Alana kembali dengan membawa tiga gelas minuman di nampan, ia meletakkan gelas-gelas itu di atas meja dan lalu duduk pada tempatnya semula.
Ia kebingungan karena Aileen tidak nampak disana, yang terlihat hanyalah Ardiaz seorang.
"Silahkan diminum dulu!" ucap Alana.
"Ah iya, makasih banyak ya!" balas Ardiaz.
"Eee Aileen nya kemana ya pak?" tanya Alana.
"Oh, itu tadi Aileen pamit ke kamar katanya mau ganti baju," jawab Ardiaz.
"Oalah kirain dia ngambek gara-gara tadi," ujar Alana.
"Kayaknya sih emang dia ngambek, tapi paling nanti dia balik lagi kesini," ucap Ardiaz.
"Hahaha iya, yaudah silahkan diminum!" ucap Alana.
"Iya iya.."
Ardiaz pun mengambil gelas minumannya, lalu menengguk minuman itu sedikit demi sedikit meski ia merasa haus.
"Oh ya, kamu kesini pasti mau ketemu sama mas Gabino ya?" tebak Alana.
"Kok kamu bisa tahu?" heran Ardiaz.
"Cuma tebak-tebak aja sih, soalnya kan gak mungkin kalau cuma mau main bareng Aileen atau ketemu aku," kekeh Alana.
"Ahaha, iya saya emang pengen ketemu Gabino. Dia ada di rumah gak?" tanya Ardiaz.
"Nah itu dia, mas Gabi masih di kantor. Aku juga gak tahu dia pulang jam berapa, gak nentu sih soalnya. Emang kamu mau ada perlu apa sama dia?" jawab Alana.
"Gak ada sih ya, paling cuma ngobrol-ngobrol biasa bahas hubungan saya sama Aileen," ucap Ardiaz.
"Eh iya, kamu kapan mau nikahin Aileen?" tanya Alana.
"Itu dia yang mau saya bahas sama Gabino, saya sih pengennya secepatnya. Setelah Aileen lulus sekolah, kita berdua langsung menikah," jawab Ardiaz.
"Umm, apa Aileen sudah setuju?" tanya Alana.
"Sampai sekarang belum, dia tetap kekeuh mau lanjutin kuliah dulu katanya. Padahal saya juga udah bilang kalau dia boleh kok kuliah walau udah nikah, tapi dia malah gak mau diajak nikah," jelas Ardiaz.
"Mungkin Aileen masih belum siap kali buat nikah muda, kamu sabar aja buat tunggu dia sampai siap!" ucap Alana.
"Iya betul, saya juga lagi berusaha buat yakinin Aileen kok kalau pernikahan itu gak menakutkan dan justru dengan kita menikah bisa bikin kita jadi lebih leluasa gitu," ucap Ardiaz.
"Hayo leluasa apa tuh? Emangnya kenapa sih kamu ngebet banget pengen nikah?" goda Alana.
__ADS_1
"Hahaha, ya kamu kan tau sendiri usia saya sekarang gak muda lagi. Mau sampai kapan saya harus melajang terus?" kekeh Ardiaz.
"Iya juga sih, semoga aja Aileen mau ya diajak nikah sama kamu!" ucap Alana.
"Aamiin!" Ardiaz dengan cepat mengaminkan.
Tak lama kemudian, Aileen kembali kesana menemui mereka yang tengah asyik berbincang.
Tanpa sengaja, Aileen juga mendengar kalau Ardiaz membahas tentang pernikahan.
"Mas beneran mau ajak aku nikah?" tanya Aileen.
Seketika Ardiaz dan Alana kompak terkejut, mereka sama-sama menoleh ke arah Aileen dengan mulut terbuka.
"Kamu itu kayak setan aja, tiba-tiba udah ada disini. Perasaan aku gak lihat kamu turun," ujar Alana.
"Hehe, mungkin kakak terlalu asyik ngobrol sama mas Diaz. Jadinya gak lihat deh waktu aku turun kesini," kekeh Aileen.
"Iya kali ya, abisnya pacar kamu ini loh kayak ngebet banget buat nikahin kamu," ujar Alana.
"Maklum lah kak, namanya juga bujang lapuk. Ya kan mas?" cibir Aileen.
"Itu kamu tahu, makanya kamu mau dong nikah sama saya Aileen! Biar saya gak terus-terusan jadi bujangan," ucap Ardiaz.
"Gak mau wle!" ledek Aileen sembari menjulurkan lidahnya.
•
•
Sejak pertama bertemu, Silvi sudah memiliki perasaan pada Gabino. Terlihat dia terus mencoba untuk menggoda bosnya itu meski sulit.
"Umm bos, apa bos gak mau berhenti dulu? Bos belum makan siang loh," ucap Silvi.
"Enggak Silvi, saya belum lapar," tolak Gabino.
"Tapi bos, kalau bos telat makan nanti bos sakit loh. Biar saya ambilin makanannya deh buat bos, gimana?" ucap Silvi membujuk bosnya.
"Ya boleh deh kalau kamu maksa," ucap Gabino.
"Baik bos! Kalo gitu saya ke bawah dulu ya?" ucap Silvi sambil tersenyum.
Gabino hanya mengangguk singkat.
"Yes kesempatan!" batin Silvi sembari bangkit dari duduknya dan pergi keluar.
Sementara Gabino terus melanjutkan pekerjaannya, ia ingin cepat menyelesaikan semua itu agar bisa pulang ke rumahnya.
__ADS_1
"Huh udah mau jam lima, tapi masih belum kelar. Alana nyariin saya gak ya?" gumam Gabino.
"Ya semoga aja Aileen udah pulang, jadi ada yang nemenin Alana di rumah!" sambungnya.
Ceklek
"Permisi pak bos!" Silvi sudah kembali dengan membawa makanan untuk Gabino, ia membuka pintu lalu melangkah mendekati Gabino dan meletakkan piring serta gelas di meja.
"Silahkan bos, ini makanannya dimakan dulu!" ucap Silvi.
"Saya gak ada waktu, saya harus selesaikan ini sebelum jam enam sore. Kamu taruh aja dulu makanannya disitu!" ucap Gabino.
"Eee saya bisa bantu bos kok, misalnya kalau bos mau, biar saya suapin aja gimana?" ucap Silvi.
"Bicara apa kamu? Kamu mau menggoda saya?" kesal Gabino.
"Hah? Enggak kok bos, saya cuma pengen bantu bos biar bos tetap bisa makan," ucap Silvi.
"Yaudah lah terserah kamu aja," ucap Gabino pasrah.
Silvi sontak tersenyum, dia pun mulai mengambil piring dan bersiap-siap menyuapi Gabino. Ia berharap dengan ini Gabino bisa merasakan rasa sukanya yang ia pendam selama ini.
"Nih pak, aaaaa.." Silvi menyodorkan sendok berisi makanan ke mulut Gabino.
"Saya rasa kita jangan seperti ini! Kamu taruh lagi aja piringnya di meja, nanti saya bisa makan sendiri!" ucap Gabino.
"Loh, tadi pak bos bilang terserah saya. Kenapa sekarang tiba-tiba bos jadi berubah pikiran?" tanya Silvi keheranan.
"Iya setelah saya pikir-pikir, yang kamu lakukan itu gak benar. Saya sudah mempunyai istri, jadi gak pantas kalau saya disuapi perempuan lain. Apalagi kamu itu kan asisten saya, tugas kamu bukan untuk menyuapi saya," jelas Gabino.
"Gapapa kok pak, melayani bapak kan tugas saya. Lagian ini juga demi kesehatan bapak, saya gak mau bapak sakit karena telat makan. Pak bos makan dulu ya?" ucap Silvi.
"Enggak Silvi, kamu ngerti gak yang saya bilang barusan?" sentak Gabino.
"Eee iya iya pak, saya minta maaf! Kalau bapak gak mau saya suapi, yaudah saya gak akan maksa kok. Ini saya taruh lagi piringnya di meja, tapi saya bantu kerjaan pak bos ya?" ucap Silvi.
"Ya boleh," singkat Gabino.
Dengan berat hati, Silvi terpaksa meletakkan kembali piring itu di meja. Ia bergerak mendekati Gabino lalu membantu pria itu mengurus pekerjaannya.
"Pak bos kelihatan capek banget, sampe keringatan begitu. Padahal disini AC nya dingin loh pak," ucap Silvi.
"Namanya juga kerja pasti capek lah," ucap Gabino.
"Sebentar pak," Silvi bangkit dan mengambil tisu yang ia bawa di dalam tasnya, lalu dengan berani ia menyeka keringat di dahi Gabino menggunakan tisu tersebut.
Gabino yang mendapat perlakuan seperti itu pun tersentak hebat, ia melongok lebar menatap Silvi seolah tak percaya.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...