Kepsek Itu, Pacarku

Kepsek Itu, Pacarku
Episode 61. Sean gila?


__ADS_3

"Ya makanya kita nikahnya begitu kamu lulus sekolah aja, biar gak terlalu lama. Setelah itu, kamu kan masih bisa lanjut kuliah sayang," ujar Ardiaz.


"Iya sih, tapi—"


"Kamu gak perlu takut, saya jamin kamu masih bisa lanjut kuliah dan kerja juga! Kalau kamu belum mau punya anak, saya juga gak masalah kok. Yang penting kita nikah dulu aja," sela Ardiaz.


"Apa iya? Nanti omongan bapak tiba-tiba beda, udah nikah terus langsung mau punya anak. Bapak kan plin-plan orangnya," cibir Aileen.


"Sembarangan aja kamu kalo ngomong! Sejak kapan saya plin-plan? Yang ada tuh kamu, susah ditebak orangnya. Kadang ini kadang itu, sampe bikin saya kesel sendiri," ujar Ardiaz.


"Huh mana ada? Bapak sukanya balikin kata-kata orang aja," ucap Aileen.


Ardiaz tersenyum, lalu mencengkram rahang Aileen. Baru saja ia hendak mencium bibir gadis itu, tapi tiba-tiba pintunya terketuk dari luar.


TOK TOK TOK...


Sontak Aileen langsung mendorong tubuh Ardiaz menjauh darinya karena ia tak mau jika ada orang yang melihat mereka saat ini.


"Pak, itu siapa pak? Jangan cium dulu, ada yang datang tau!" ujar Aileen panik.


"Tenang, gausah panik! Biar saya cek ke luar, kamu disini aja!" ucap Ardiaz santai.


"Iya pak," Aileen mengangguk pelan.


Ardiaz pun bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan menuju pintu untuk memeriksa siapa yang datang.


"Siapa ya yang datang?" batin Aileen.


Ardiaz sudah sampai di depan pintu, tangannya bergerak membuka kenop sambil berpikir siapa yang ada di luar sana.


Ceklek


Pintu terbuka, memperlihatkan sosok wanita yang tengah berdiri menghadap ke arahnya sambil tersenyum membawa beberapa berkas di tangannya.


Ardiaz pun ikut tersenyum melihatnya, ia merasa lega karena yang datang ternyata Laura. Meski begitu, tetap saja ia sedikit khawatir jika sampai Aileen bertemu dengan Laura disana.


"Selamat siang pak, maaf mengganggu! Saya cuma ingin menyerahkan berkas-berkas ini," ucap Laura.


"Berkas apa itu?" tanya Ardiaz penasaran.


"Oh, eee ini tadi dari Bu Mega. Saya cuma disuruh kasih ini ke bapak, jadi saya gak tahu apa isi berkas ini," jawab Laura.


"Oalah, iya iya saya tahu. Terimakasih ya Laura kamu sudah mau mengantarkan ini!" ucap Ardiaz.


"Sama-sama pak, kalau begitu saya permisi dulu!" ucap Laura.

__ADS_1


"Ya silahkan!" singkat Ardiaz.


Setelahnya, Laura pun melangkah pergi meninggalkan ruangan Ardiaz tanpa sepatah kata apapun lagi.


"Huh ternyata cuma Laura," ucap Ardiaz bernafas lega.


Disaat ia berbalik, ia dibuat terkejut karena Aileen sudah berdiri tepat di hadapannya. Gadis itu menatapnya curiga seolah hendak mengintrogasi dirinya.


"Duh Aileen, kamu itu bikin saya jantungan aja sih!" geram Ardiaz.


"Tadi yang kesini bu Laura kan pak? Dia mau apa? Kangen-kangenan sama bapak ya?" tanya Aileen.


"Ngomong apa sih kamu? Udah yuk kita ke dalam lagi, jangan bicara disini!" ujar Ardiaz.


"Ih tunggu dulu! Bapak jelasin dulu ke aku, mau apa tadi Bu Laura kesini!" sentak Aileen.


"Iya iya, nih dia kasih ini ke saya. Kamu masih mau marah lagi?" ucap Ardiaz menunjukkan berkas di tangannya kepada Aileen.


"Itu apa?" tanya Aileen penasaran.


"Kamu kepo banget sih!" kekeh Ardiaz.


"Aku serius bapak! Itu berkas apa? Jangan bilang kalau itu sebenarnya surat cinta!" ucap Aileen.


"Tapi pak, aku—"


"Ah udah udah!" Ardiaz memotong ucapan Aileen dan menarik tangan gadis itu begitu saja.




Sementara itu, Sean masih memantau dari jauh bersama Shanum yang terus memegangi lengannya agar pria itu tidak beranjak dari sana.


Ya Shanum tidak ingin Sean memaksa pergi menemui Ardiaz dan mengacaukan suasana, itu sebabnya ia menahan pria itu tetap disana.


"Tuh kan, pak Ardiaz sama Aileen beneran disana. Lu gak percaya sih!" ucap Sean.


"Ya terus kenapa? Mereka kelihatan baik-baik aja kok, lu gausah lebay deh Sean!" ucap Shanum.


"Bukan lebay, gue khawatir pak Ardiaz ngelakuin hal yang buruk ke Aileen di dalam sana. Disana kan gak ada siapa-siapa selain mereka berdua, kasihan Aileen tau!" ucap Sean.


"Lo terlalu banyak nonton film horor kayaknya, lebay banget tau! Aileen gak mungkin kenapa-napa, udah yuk kita cabut!" ucap Shanum.


"Gak mau! Gue pengen tetap disini, kali aja nanti Aileen teriak minta tolong," ucap Sean kekeuh.

__ADS_1


"Haish, lu keras kepala banget sih! Kalo lu terus disini, terus nanti ada guru yang lihat bisa gawat. Lu disangka bolos pelajaran Sean," ucap Shanum.


"Bodo, gue gak perduli! Yang penting gue pengen jagain Aileen dari sini," ucap Sean.


"Dasar gak waras! Lo itu sebenarnya kenapa sih Sean? Aneh banget!" umpat Shanum.


"Gue gapapa, gue cuma khawatir sama Aileen. Kalau perlu, gue bakal samperin pak Ardiaz dan bawa pergi Aileen dari sana!" ucap Sean.


"Ih jangan! Itu sama aja lu cari gara-gara, nanti mereka bisa makin ribut tau!" ucap Shanum.


"Biarin, yang penting kan Aileen selamat. Daripada dia nanti kenapa-napa, gue bisa makin sedih dan merasa bersalah karena diam aja!" ucap Sean.


"Kayaknya lu perlu di ruqyah deh, omongan lu makin ngaco aja soalnya!" ucap Shanum.


"Daripada gue yang di ruqyah, mending lu ruqyah pak Ardiaz sana! Supaya dia sadar dan gak bertindak kasar ke Aileen lagi, udah pedo terus suka main kekerasan lagi. Pak Ardiaz harus segera dilaporin ke pihak berwajib!" ucap Sean.


"Sean, lu kalo ngomong dijaga ya! Pak Ardiaz gak kayak gitu, jangan asal deh lu! Emang lu mau dilaporin balik sama pak Ardiaz?" ucap Shanum.


"Apa sih? Ucapan gue itu fakta, pak Ardiaz emang pedofil kan? Dia aja macarin anak muridnya sendiri, itu apa kalo gak pedofil?" ucap Sean.


"Heh! Pak Ardiaz bukan pedofil, umur dia sama Aileen juga gak terlalu jauh kok. Lu kalo gak suka sama pak Ardiaz, jangan gitu dong Sean! Lagian emang lu ada masalah apa sih?" ucap Shanum.


"Bukan gak suka, gue cuma kasihan aja sama Aileen disakitin terus!" ucap Sean.


"Disakitin kayak gimana coba? Emang lu pernah lihat pak Ardiaz nyakitin Aileen, ha? Enggak kan?" tanya Shanum.


"Ya enggak sih, tapi gue yakin banget pak Ardiaz sering begitu sama Aileen!" ucap Sean.


"Gausah sotoy deh lu! Udah mending kita cabut aja dari sini, gawat kalau sampai ketahuan sama guru!" ucap Shanum.


"Lu aja sana yang pergi, gue masih mau disini mantau keadaan Aileen!" ucap Sean.


"Lo itu stress apa gimana sih Sean? Sayang banget cowok ganteng kayak lu bisa gila begini, mending lu tobat deh sana!" ucap Shanum.


"Apaan sih lu? Udah sana kalo lu mau pergi ya pergi, kasihan tuh cowok lu nyariin di lapangan!" sentak Sean.


"Oh iya juga ya," pikir Shanum.


Shanum amat dibuat bingung saat ini, ia khawatir Nizar mencarinya dan akan kecewa padanya. Tapi disisi lain, ia juga tak mau Sean berbuat macam-macam pada Aileen atau Ardiaz.


"Duh gimana ya ini? Gue tetap disini atau gue balik ke lapangan basket temuin ayang Nizar?" gumam Shanum dalam hati.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2