
Keesokan paginya, Alana telah menyampaikan kabar bahagia mengenai kehamilannya itu pada seluruh keluarganya. Kini Aileen beserta keluarga besar Alana datang ke rumah untuk melakukan syukuran, mereka semua terlihat bahagia sebab sudah lama mereka menunggu momen ini terjadi.
Alana pun tak henti-hentinya tertawa riang, meski semalam ia habis digempur oleh suaminya tanpa diberi jeda untuk istirahat. Mungkin Gabino terlalu senang, sehingga ia sangat bersemangat untuk menghujam tubuh Alana di bawahnya. Untunglah Gabino berhenti saat Alana sudah hampir pingsan.
Disaat mereka tengah asyik saling berkumpul dan memanjatkan doa, tiba-tiba ponsel Aileen berbunyi. Wanita itu pun pamit pada yang lain termasuk sang suami untuk pergi mengangkat telpon sejenak di belakang, ia harus melangkah agak jauh terlebih dulu karena disana kondisinya sangat ramai.
"Duh, Aksal mau apa sih ya? Gak biasanya dia telpon aku kayak gini," gumam Aileen.
Tanpa berlama-lama lagi, Aileen pun mengangkat telpon itu saat tiba di dapur. Ia juga penasaran mengapa Aksal menelponnya saat ini.
📞"Halo Aksal! Ada apa?" tanya Aileen di telpon.
📞"Eee ya halo Aileen! Maaf ya kalau aku ganggu, aku cuma mau tanya ke kamu aja nih. Kira-kira kamu ada waktu gak ya sekarang? Aku soalnya mau ajak kamu ketemuan di luar," ucap Aksal.
📞"Ohh, yah kalau sekarang sih gak bisa Sal. Aku lagi ada acara keluarga nih, kakak ipar aku baru aja hamil dan sekarang lagi ngadain syukuran gitu," ucap Aileen.
📞"Oh gitu ya, terus apa boleh aku datang kesana buat temenin kamu?" tanya Aksal.
📞"Hah? Buat apa Aksal? Disini kan udah rame banget, masa kamu mau nemenin aku lagi?" heran Aileen.
📞"Ya gapapa dong Len, aku soalnya kangen sama kamu. Kita kan udah lumayan lama juga gak ketemu, boleh ya?" ucap Aksal.
📞"Eee iya deh boleh, kamu datang aja ke rumah kak Gabi sekarang! Kamu tahu kan tempatnya?" ucap Aileen.
📞"Waduh, aku gak tahu tuh. Boleh kamu shareloc gak Aileen?" ucap Aksal.
📞"Iya iya, nanti aku shareloc ke nomor kamu. Yaudah ya kalo gitu aku mau balik lagi ke depan?" ucap Aileen buru-buru.
📞"Okay, tunggu aku disana ya Aileen!" ujar Aksal.
📞"Iya Sal," singkat Aileen.
Tut tut tut...
Aileen langsung mematikan telpon, ia merasa bingung bagaimana jadinya jika benar Aksal akan datang ke rumahnya nanti. Tanpa diduga, Ardiaz rupanya berdiri di dekatnya dan berhasil membuat wanita itu bingung.
"Eh mas Diaz, kamu sejak kapan ada disini?" tanya Aileen terkejut.
"Baru kok, tadi aku lihat kamu ke dapur sambil telponan. Aku penasaran aja makanya aku kesini ikutin kamu," jawab Ardiaz.
"Ohh, tapi kan aku udah pamit tadi sama kamu mas. Kamu lupa ya?" ucap Aileen.
"Ingat kok, emang siapa sih yang telpon? Kok kamu kelihatan bingung gitu pas abis telponan sama dia?" tanya Ardiaz keheranan.
"Bukan siapa-siapa mas, ini tadi cuma Aksal teman sekolah aku yang telpon," jawab Aileen.
"Mau apa dia telpon kamu sayang? Gak biasanya kan dia begitu," tanya Ardiaz penasaran.
"Entahlah mas, tapi dia bilang sih dia pengen ajak aku ketemuan. Ya karena aku gak bisa, jadi aku suruh aja dia kesini ketemu kita," jawab Aileen.
"Hah? Buat apa sih sayang kamu suruh Aksal kesini? Dia kan bukan bagian dari keluarga kita," kaget Ardiaz.
"Gapapa mas, Aksal kan teman aku juga. Jadi, aku punya hak buat ajak dia kesini," ucap Aileen.
"Hadeh, iya deh terserah kamu. Aku udah gak bisa bicara apa-apa lagi kalo gini," ucap Ardiaz.
"Iya mas, Aksal juga udah lagi jalan kesini kok," ucap Aileen tersenyum.
Ardiaz mengangguk saja sembari mengusap puncak kepala istrinya, lalu mereka pun kembali ke depan untuk kumpul bersama yang lainnya dan melanjutkan kegiatan syukuran itu.
•
•
Aksal telah tiba di lokasi sesuai dengan yang diberikan oleh Aileen, ia mengambil nafas sejenak sembari menatap ke arah rumah besar itu. Niat Aksal seketika runtuh ketika melihat banyak sekali mobil mewah terparkir di depan sana, sedangkan ia datang hanya menggunakan ojek online.
Namun, disaat Aksal hendak berputar balik dan pergi, tiba-tiba saja suara perempuan muncul memanggil namanya. Aksal langsung terkejut, ia menoleh dan menemukan Aileen berdiri disana sambil menatap ke arahnya. Sontak Aksal semakin dibuat bingung dan tak tahu harus apa.
__ADS_1
Aileen melangkah menghampiri Aksal dan bertanya padanya, "Kamu mau kemana sih Aksal? Baru nyampe kok udah pergi aja?" ujarnya heran.
"Eee aku ngerasa gak pantas aja ada disini Aileen, aku kan bukan siapa-siapa kamu. Apalagi ngeliat keluarga kamu yang ramai banget dan hampir semua orang kaya, aku jadi insecure," ucap Aksal.
"Kamu kenapa sih pake insecure segala? Udah lah ayo masuk aja dulu! Kamu itu teman aku, kamu punya hak kok buat masuk!" pinta Aileen.
"Enggak Len, aku mau pulang aja," ucap Aksal.
Aileen menahan lengan Aksal dan mencegah pria itu pergi, "Jangan Sal! Kamu dengerin aku dong, kamu masuk ke dalam ayo sama aku!" pintanya.
"Gak bisa Len, kalo aku masuk nanti bakal banyak timbul pertanyaan di pihak keluarga kamu tentang aku," ucap Aksal.
"Gapapa lah Aksal, kamu itu kan teman aku. Tinggal jawab aja seadanya kalau emang ada yang nanya kamu siapa," ucap Aileen.
"Aku cuma takut buat keluarga kamu salah paham, kamu kan udah punya suami dan anak. Masa aku malah deketin kamu?" ucap Aksal.
"Udah, kamu jangan over thinking dulu ya! Nanti jadinya malah kayak iklan gojek," ucap Aileen.
"Tapi Len, suami kamu emangnya gak marah apa kalau tahu dan lihat aku ada disini sama kamu?" tanya Aksal.
"Eee dia udah tau kok kamu mau kesini, aku tadi yang kasih tau ke dia soalnya," jawab Aileen.
"Ohh, terus reaksi dia gimana? Gak mungkin dia gak cemburu kan?" tanya Aksal.
"Dia biasa aja tuh, gak kelihatan kalau dia lagi cemburu atau marah. Mungkin karena dia udah tau kamu itu siapa," jawab Aileen.
"Masa sih? Bisa aja pak Ardiaz cemburu tapi kamu gak tahu kan?" ujar Aksal.
Aileen mendengus kesal, "Ayolah Sal, kamu masuk aja ke dalam dan jangan banyak bicara! Kalau kamu gak masuk sekarang, kita gak temenan lagi!" ucapnya sedikit kesal.
"I-i-iya deh aku masuk, tapi tolong kamu lepas tangan aku Len! Aku gak mau ada yang lihat kita gandengan tangan begini," pinta Aksal.
"Oke, nih udah aku lepas ya?" ucap Aileen.
Aksal tersenyum saja dan akhirnya tak memiliki pilihan lain selain mengikuti kemauan Aileen, mereka pun mulai melangkah menuju ke dalam rumah wanita itu.
"Hai Aileen! Kamu sama siapa ini?" sapa wanita itu yang tak lain ialah Laura.
Aileen hanya diam tak berkata apa-apa, ia masih menyimpan rasa tidak suka pada Laura yang terlihat jelas ingin mendekati suaminya itu.
•
•
Ardiaz yang masih berada di dalam, merasa cemas memikirkan Aileen karena wanita itu tak kunjung kembali. Ia pun memutuskan pergi menyusul sang istri keluar, setelah meminta izin pada Gabino serta mamanya, kini Ardiaz melangkah ke luar rumah untuk mencari istri tercintanya.
Saat di luar, Ardiaz justru menemukan istrinya tengah bersama seorang pria dan wanita di depan sana. Tentunya ia kenal betul siapa mereka, ya Aksal dan juga Laura. Ardiaz pun terperangah sejenak, sebelum akhirnya ia memilih bergerak maju mendekati ketiga manusia itu.
"Aileen!" panggil Ardiaz sembari berdiri tepat di sebelah wanitanya, ia raih lengan Aileen dan menggenggamnya dengan erat.
"Kamu kok lama banget sih gak balik-balik? Aku sampe cemas tau mikirin kamu," sambungnya.
"Eee maaf mas, tadi pas aku baru mau masuk sama Aksal, eh Bu Laura datang. Aku jadinya harus ngobrol dulu sama dia deh," ucap Aileen.
"Oalah, iya iya aku paham. Yaudah, Aksal sama Laura ayo masuk aja sekalian!" ujar Ardiaz.
"Sebentar Ardiaz, mumpung kamu ada disini, aku mau ngomong sesuatu sama kamu," ucap Laura.
"Hah? Soal apa?" tanya Ardiaz penasaran.
Aileen menatap tak suka, "Mau bicara apa sih nih cewek ke mas Diaz?" batinnya.
"Aku cuma mau pamitan ke kamu Diaz, kalau sebentar lagi aku bakal pulang ke Bali ketemu nenek aku," jawab Laura.
"Apa? Kok mendadak kayak gini sih Laura? Kenapa kamu gak bilang ke aku dari kemarin-kemarin gitu?" kaget Ardiaz.
Laura terdiam, sedangkan Aileen langsung melirik suaminya dengan heran. Ia tak suka saat Ardiaz secara terang-terangan menaruh khawatir pada Laura ketika wanita itu berkata ingin pergi ke Bali, ia merasa Ardiaz sepertinya tidak senang dengan kepergian Laura.
__ADS_1
"Terus kapan kamu mau pergi ke Bali, Laura?" tanya Ardiaz mencoba bersikap biasa saja.
"Eee sore ini Diaz, aku udah siapin semuanya termasuk barang-barang aku dan tiketnya. Aku kesini cuma mau pamitan aja kok," jawab Laura tersenyum.
"Sore ini? Ya ampun, harusnya dari kemarin tuh kamu bilang ke aku dong Laura! Jadinya kan aku bisa bantu kamu beres-beres," ucap Ardiaz.
"Gapapa Diaz, urusan beres-beres mah gampang. Lagian aku tau kamu sibuk, ini buktinya kamu lagi ada disini kan?" ucap Laura.
"Iya Laura, sekarang lagi ada syukuran atas kehamilan kak Lana. Kamu mau mampir sebentar sebelum pergi?" ucap Ardiaz.
Laura menggeleng, "Gak perlu, aku kan bukan bagian dari keluarga kalian. Lagian aku juga harus pamitan ke keluarga mantan suami aku," ucapnya.
"Ohh, yaudah deh gapapa. Terus mantan suami kamu emangnya setuju kamu pergi dari sini?" tanya Ardiaz.
"Aku gak perlu persetujuan dia buat pergi dari kota ini, lagian aku rasa juga aku butuh sesuatu yang beda supaya aku gak sedih lagi. Dan mungkin pulang kampung adalah jalan yang baik buat aku," jawab Laura sambil tersenyum.
Ardiaz mengangguk pelan disertai senyum tipisnya, "Okay, aku paham sama alasan kamu. Hati-hati ya kamu di jalan, jangan lupa arah jalan pulang!" ucapnya melambaikan tangan.
"Iya Diaz, kalo gitu aku pergi dulu ya? Terimakasih atas semua kebaikan kamu ke aku selama ini, aku akan selalu ingat itu!" ucap Laura.
"Sama-sama Laura," singkat Ardiaz.
Lalu, pandangan gadis itu beralih ke arah tempat Aileen berdiri.
"Aileen, aku permisi ya?" ucap Laura.
"Iya Bu, hati-hati ya!" ucap Aileen.
Laura hanya mengangguk, kemudian ia berbalik dan pergi meninggalkan tempat itu dengan mobilnya. Sedangkan Aileen masih terlihat kesal pada suaminya, hal itu membuat Ardiaz sungguh heran dan tak mengerti.
"Yuk sayang kita masuk!" ajak Ardiaz.
Namun, Aileen malah menghentak tangannya dengan kasar dan menatap tajam ke arah Ardiaz.
"Loh kamu kenapa Aileen?" tanya Ardiaz heran.
"Kamu yang kenapa mas! Ngapain tadi kamu pake kayak gak rela gitu Bu Laura mau pergi ke Bali? Kamu sedih ya karena kamu gak bisa ketemu dia lagi?" ucap Aileen.
"Bukan gitu sayang, sebagai teman aku kan cuma sedih aja karena sahabat aku bakal pergi jauh ninggalin aku. Kamu juga begitu kan waktu Shanum pergi?" ucap Ardiaz.
"Ya iya, tapi kan wajar aku sama Shanum itu sama-sama perempuan. Lah ini kamu sama Bu Laura itu kan beda jenis tau," ucap Aileen.
"Apa sih Aileen? Bisa gak gausah debat dulu? Ayo kita masuk aja ah ke dalam!" ujar Ardiaz.
"Gak mau, aku pokoknya bakal bahas ini terus sampai kamu mau ngaku ke aku kalau kamu suka sama Bu Laura!" tegas Aileen.
"Gausah ngada-ngada deh, udah ayo kita masuk!" paksa Ardiaz.
"Ih enggak mau!"
"Ayo masuk!"
Mereka terus berdebat seperti itu seolah tidak ada selesainya, Ardiaz hanya bisa tepuk jidat menghadapi sikap istrinya yang tidak berubah itu. Meski begitu, justru Ardiaz merasa gemas dengan tingkah sang istri.
...~Selesai~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
...•...
...•...
Hore tamat, setelah sekian lama tamat juga nih novel. Pasti udah pada bosen kan sama kisah Aileen & Ardiaz yang lama banget ini, makanya author kelarin aja hehe. Toh semuanya juga udah kelar, masalah udah selesai dan kehidupan Aileen juga udah bahagia.
Kata-kata terakhir aku, makasih ya buat yang udah setia dukung novel ini dari awal sampai akhir. Semoga kalian sehat terus dan gak nyesel udah baca cerita-cerita aku!
Salam, petrik tampan.
__ADS_1