Kepsek Itu, Pacarku

Kepsek Itu, Pacarku
Episode 118. Memilih nama


__ADS_3

Ardiaz kini tengah menanti di depan ruang persalinan dengan cemas dan panik, berulang kali ia melangkah kesana-kemari sembari menggigit jarinya sendiri berharap-harap cemas pada istrinya yang sedang berjuang di dalam sana untuk melahirkan anak pertama mereka.


Ya hari yang ditunggu akhirnya tiba, sebuah hari dimana Aileen akan melahirkan anaknya yang sudah lama mereka nantikan. Ardiaz sangat senang, sekaligus juga panik sebab ia belum pernah dalam kondisi seperti ini. Ia khawatir akan terjadi sesuatu pada Aileen seperti yang ia baca di novel-novel dan tonton di film-film.


Tak hanya Ardiaz, pihak keluarga mereka pun sudah seluruhnya hadir disana. Ada Mita, Axel, Malika juga Gabino serta Alana. Mereka semua menanti dengan cemas di depan sana, sembari berdoa untuk kelancaran proses persalinan Aileen agar wanita itu bisa melahirkan dengan aman.


"Diaz, kamu yang tenang ya! Kita sama-sama berdoa aja supaya proses persalinannya lancar dan anak kamu bisa lahir dengan selamat, begitupun istri kamu!" ucap Mita pelan.


"Iya ma, aku terus berdoa supaya Aileen dan anak aku selamat. Jujur aku gak mau terjadi sesuatu sama salah satu dari mereka," ucap Ardiaz.


"Mama yakin kok semuanya akan baik-baik aja, Aileen itu wanita kuat, begitu juga sama calon anak kamu sayang!" ucap Mita.


Ardiaz mengangguk lesu, "Semoga aja ya ma, aku gak sabar pengen gendong dan cium anak aku!" ucapnya dengan senyum tipis yang merekah.


"Aamiin," singkat Mita sembari mengusap bahu putranya.


Lalu, tak butuh waktu lama sudah terdengar suara tangis seorang bayi dari dalam sana. Sontak Ardiaz serta yang lainnya langsung bergerak cepat menuju ke dekat pintu sembari mengucap syukur, mereka senang lantaran anak Aileen dan Ardiaz telah dilahirkan dengan selamat.


"Ardiaz, syukurlah anak kamu sudah lahir! Kamu dengar kan itu sayang? Itu pasti suara anak kamu," ucap Mita sumringah.


"Iya ma, aku juga dengar suara itu. Kalau benar itu suara anak aku, pasti aku bahagia banget ma. Aku gak sabar mau masuk dan ketemu sama mereka ma!" ucap Ardiaz.


"Sabar Diaz, kamu gak boleh gegabah. Tunggu sampai dokter keluar dan izinin kita buat masuk!" ucap Mita.


"Selamat ya Diaz, akhirnya kamu resmi jadi ayah sekarang!" ucap Malika sambil tersenyum.


"Iya Diaz, dan kita juga udah jadi kakek nenek deh. Berasa tua setelah dengar suara tangisan itu," sahut Axel.


"Hahaha, makasih ya papa mama!" kekeh Ardiaz.


Pintu ruangan itu terbuka, menampakkan sosok dokter yang tadi menangani Aileen melahirkan. Dokter itu keluar dengan senyum merekah di wajahnya, sepertinya ia ikut merasa senang sekaligus lega sebab proses persalinan Aileen kali ini berjalan lancar dan bayinya telah berhasil dilahirkan dengan selamat.


Setelah menyampaikan semuanya, Ardiaz kini tahu bahwa anaknya adalah seorang perempuan. Ia langsung memasuki ruangan itu untuk menemui istri serta putri pertamanya, tapi saat ini yang ada di dalam hanyalah Aileen dan itupun dia dalam kondisi lemah setelah berjuang melahirkan putri mereka.


"Sayang," lirih Ardiaz menyapa istrinya. Ia mendekat dan berhenti tepat di samping Aileen.


Aileen menoleh sambil tersenyum, "Mas, aku senang banget lihat putri kita tadi. Dia cantik banget tau!" ucapnya pelan.


"Iya, aku percaya kok sayang. Anak kita pasti cantik banget, karena ibunya aja udah secantik ini," ucap Ardiaz sembari mengusap wajah sang istri.


"Ih kamu mah malah gombal, aku kan jadi malu tau mas," ucap Aileen bersemu.


Ardiaz tersenyum puas dan sedikit membungkuk untuk mengecup kening Aileen, "Makasih ya sayang, kamu udah mau berjuang untuk kelahiran putri kita. Kamu emang luar biasa!" ucapnya.


"Itu udah tugas aku mas, aku kan seorang ibu jadi aku akan berjuang untuk keselamatan anak kita dan kebaikan dia," ucap Aileen.


"Aku beruntung punya kamu, sekarang aku jadi makin tambah cinta sama kamu sayang!" ucap Ardiaz.


"Aku juga mas," balas Aileen.


Ardiaz pun berdiri tegak, lalu tampak celingak-celinguk seperti mencari keberadaan anaknya. Ia sudah tidak sabar sekali ingin segera menggendong putrinya yang baru dilahirkan, itulah impian dia sejak lama.


"Kamu cari apa sih mas? Susternya masih ngurusin anak kita di belakang," sarkas Aileen.


"Siapa yang nyari suster? Aku tuh nyari anak kita sayang, aku gak sabar mau lihat secantik apa dia. Sekalian aku juga pengen kasih nama ke dia," ucap Ardiaz.


"Kamu udah punya nama buat putri kita mas?" tanya Aileen.


"Belum sih, nanti kita pikirin bareng-bareng. Soalnya waktu itu kan kita belum nemu nama yang pas," jawab Ardiaz.


"Yaudah, kamu sabar aja dulu mas. Mending kita pikirin namanya dulu sekarang?" ucap Aileen.


"Iya sayang, coba deh kamu kasih saran nama yang bagus buat anak kita!" pinta Ardiaz.


"Umm, aku paling bingung mas kalo udah disuruh mikir kayak gini. Kenapa kamu gak ajak papa sama mama sekalian buat mikir namanya?" ujar Aileen.

__ADS_1


"Oh iya sih, siapa tahu mereka ada yang punya saran nama. Kalo gitu aku ke depan dulu kali ya? Aku mau panggil mereka buat kesini," ucap Ardiaz.


"Iya mas, kamu panggil aja papa mama dan kak Gabino buat masuk kesini!" ucap Aileen.


"Okay," Ardiaz mengangguk singkat dan lalu berbalik pergi dari ruangan itu.




Di luar, orang tua mereka masih tampak bahagia dengan lancarnya kelahiran anak dari Aileen dan juga Ardiaz. Ini adalah cucu pertama bagi mereka, juga ponakan pertama Gabino. Tentunya mereka semua sangat bahagia dan tidak sabar ingin bertemu dengan putri Aileen yang cantik.


"Pa, ma, ini kita gak boleh masuk apa? Aku udah gak sabar banget tau pengen ketemu dan gendong keponakan aku," ucap Gabino.


"Ya sabar dong Gabi! Kita tunggu kabar dari Ardiaz aja dulu, mama juga udah pengen banget lihat cucu mama yang cantik itu!" ucap Malika.


"Apalagi papa, daritadi papa udah bayangin pasti cucu kita cantiknya kayak bidadari," sahut Axel.


"Hahaha, itu dia yang mama pikirin juga. Semoga cepat selesai deh semuanya, biar kita bisa masuk bareng-bareng ya pa!" ucap Malika.


"Betul ma," ucap Axel setuju.


Gabino menggeleng pelan melihat kelakuan mama papanya, sedangkan Alana terlihat bersedih di sebelahnya. Alana memang senang karena adik iparnya baru melahirkan putrinya dengan selamat, tapi ia juga sedih karena hingga kini ia masih belum diberi sosok anak.


Tak lama, Ardiaz akhirnya muncul. Pria itu keluar dari dalam ruangan dan menghampiri mereka semua, tentu saja orang-orang itu langsung mendekati Ardiaz dan bertanya mengenai kondisi Aileen serta putrinya. Semuanya sangat tidak sabar untuk bertemu dengan Aileen dan putrinya.


"Ardiaz, gimana keadaan Aileen? Kita semua udah boleh masuk kan?" tanya Mita tak sabaran.


"Iya Diaz, ini kita udah nunggu daritadi tau. Boleh ya kita semua masuk ke dalam?" timpal Malika.


"Eee sebentar dulu ma, anak aku masih dimandiin sama suster dan diurus di belakang. Kalau mama sama papa mau ketemu dia, mohon sabar dulu ku ya ma, pa!" jawab Ardiaz.


"Oalah, yaudah gapapa deh kalo gitu mama mau ketemu sama Aileen aja dulu. Boleh kan Diaz mama masuk ke dalam?" ucap Malika.


"Boleh aja ma, tapi aku mau tanya sesuatu dulu sama mama sama yang lainnya juga. Kita ngobrol sebentar dulu ya ma?" ucap Ardiaz.


"Ini tentang nama buat anak aku ma, aku sama Aileen butuh saran dari mama dan papa juga. Kira-kira ada yang punya usul gak?" ucap Ardiaz.


"Ohh, kenapa kamu baru bahas ini sekarang Diaz? Harusnya tuh kamu udah siapin namanya dari jauh-jauh hari," ujar Malika.


"I-i-iya ma, aku soalnya belum nemu nama yang cocok. Waktu itu udah pernah bahas sama Aileen, tapi gak ada hasilnya," ucap Ardiaz.


"Hadeh, yaudah pake saran nama dari mama aja. Kamu kasih nama putri kamu itu Adinda, gimana? keren kan?" usul Mita.


"Eee bagus sih ma, tapi aku masih ngerasa kurang sreg gitu," ujar Ardiaz.


"Nah, gimana kalau Aleeva? Biar ada campuran nama luarnya," ucap Malika ikut memberi usul.


"Jangan ma! Yang paling bagus itu Sania, biar sesuai sama wajahnya yang cantik," ujar Axel.


"Yeh Sania, emangnya cucu kita minyak goreng? Papa jangan ngada-ngada deh, mama gak setuju!" ucap Malika.


Ardiaz dan yang lainnya dibuat terkekeh akibat perdebatan kedua orang tua itu, tapi kemudian Ardiaz kembali dibuat bingung dengan nama untuk putrinya yang hingga kini belum berhasil ia temukan karena belum ada juga yang cocok.


"Duh, dari semua nama yang mama sama papa sebutin, aku kok gak cocok semua ya? Aku jadi bingung mau kasih nama apa," ucap Ardiaz.


"Yaudah Diaz, lu sama papa mama masuk aja ke dalam terus diskusi dah sama Aileen. Sekalian nih sama Alana juga, siapa tahu bisa ketemu dah tuh nama yang cocok buat anak kalian," usul Gabino.


"Ah bener juga, tapi kenapa kak Gabi gak mau ikut masuk ke dalam?" tanya Ardiaz.


"Gue harus balik ke kantor, yang penting kan gue udah tahu Aileen lahiran dengan selamat. Salam aja ya buat adik gue itu?" jawab Gabino.


"Oh gitu, iya kak pasti nanti saya sampaikan salamnya ke Aileen," ucap Ardiaz.


Alana menatap heran ke wajah suaminya, "Kamu serius mas mau pergi? Terus aku ditinggal sendiri gitu disini?" tanyanya.

__ADS_1


"Kok sendiri? Kan kamu disini sama papa mama, terus ada mama Mita, Ardiaz dan Aileen juga. Kamu lupa ya?" ucap Gabino.


"Ya maksud aku tuh kan gak ada kamu, gak enak lah kalau aku tanpa kamu," ucap Alana.


"Bisa aja kamu, gausah khawatir nanti kalau urusan aku udah selesai kan aku bisa balik lagi ketemu sama kamu dan ponakan aku," ucap Gabino.


"Iya deh, terserah kamu aja mas," ucap Alana pasrah.


"Kalo gitu aku pergi dulu ya? Pa, ma, mama Mita, sama Ardiaz, aku pamit ya?" ucap Gabino berpamitan.


"Iya Gabino, kamu hati-hati ya!" ucap Mita pelan.


"Iya tuh, jangan ngebut loh Gabino!" sahut Malika.


"Siap ma!" Gabino mencium punggung tangan kedua orangtuanya sebelum pergi dari sana.


Lalu, Ardiaz dan yang lainnya pun kembali ke dalam ruangan itu untuk menemui Aileen. Mereka akan membahas mengenai nama yang akan diberikan pada anak dari Ardiaz dan juga Aileen.




Saat di dalam, Aileen langsung melihat kedatangan orangtuanya juga sang suami yang telah kembali. Ia mencoba bangkit untuk duduk, tetapi dengan cekatan Ardiaz menahannya karena khawatir kondisi Aileen belum pulih benar. Ardiaz pun meminta istrinya untuk tetap berbaring disana.


"Hey, jangan maksa buat bangun deh! Kondisi kamu itu belum pulih sayang, udah ya tiduran aja dulu!" ujar Ardiaz.


"Iya mas, aku kan cuma senang aja waktu lihat papa mama dan mama Mita datang kesini," ucap Aileen.


"Kok cuma sama papa mama dan mama Mita aja sih Aileen? Aku gak disebut nih?" protes Alana.


"Ahaha, iya iya sama kak Alana juga kok. Pokoknya semua keluarga aku yang ada disini pasti bikin aku senang karena aku ada yang nemenin," ucap Aileen.


Malika menghampiri putrinya dan mengusap kening wanita itu dengan lembut, "Gimana kondisi kamu sekarang Aileen? Udah baikan?" tanyanya.


"Iya ma, aku baik-baik aja kok. Walau tadi pas mau melahirkan itu rasanya sakit banget, udah kayak aku mau meninggal gitu. Maafin aku ya ma, kalau selama ini aku sering bentak mama!" jawab Aileen.


"Hus, kamu jangan bilang gitu ah! Jangan bawa-bawa meninggal, mama jadi ngeri!" tegur Malika.


"Iya Aileen, itu gak baik tau. Kalau nanti didengar sama malaikat gimana hayo?" timpal Axel.


"Maaf pa, ma. Abisnya emang itu yang aku rasain tadi, aku gak nyangka kalau melahirkan tuh rasanya sakit banget. Pasti mama juga begitu kan dulu waktu lahirin aku?" ucap Aileen.


"Ya iya sayang, setiap perempuan yang melahirkan dengan normal pasti pernah ngerasain itu. Udah ya yang penting sekarang kamu baik-baik aja," ucap Malika.


"Kamu gausah sedih Aileen, sekarang gimana kalau kita mulai lagi cari nama buat anak kalian? Masih belum ketemu kan daritadi?" ujar Mita.


"Nah iya tuh, aku setuju sama mama. Aku belum tau harus namain anak kita apa sayang, makanya aku bawa mama papa kesini buat diskusi sekalian sama kamu," ucap Ardiaz.


"Ohh, pantas aja kalian semua pada masuk. Aku kira udah ada yang nemu namanya," ucap Aileen.


"Belum sayang, abisnya susah banget sih. Siapa tahu kamu ada saran gitu," ucap Ardiaz.


"Aku juga bingung mas, kamu mikir dong coba sekali-sekali gitu mas jangan aku terus yang disuruh mikir! Aku lagi sakit disuruh mikir tuh rasanya susah banget," ucap Aileen.


"Eee ya masalahnya aku kan juga bingung sayang," ucap Ardiaz menggaruk kepalanya.


"Udah gausah pada bingung, kita kan disini mau mikirin nama bareng-bareng. Kalau ada yang punya saran, bilang aja!" ucap Mita.


"Iya tuh, tapi sarannya jangan yang aneh-aneh kayak papa tadi!" cibir Malika.


"Masih aja dibahas, padahal nama Sania itu kan gak melulu soal minyak goreng," kesal Axel.


Aileen terkekeh dibuatnya, dan lalu mereka semua pun mulai berpikir keras untuk memberi nama putri cantik yang baru dilahirkan Aileen itu.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2