
Aileen baru menyelesaikan makan siangnya bersama Ardiaz, gadis itu kini terduduk lesu di sofa sembari menyandarkan punggungnya.
Ardiaz menyusul duduk di sebelahnya, ia dekap tubuh gadis itu dan mengusap puncak kepalanya lembut seraya mengecup keningnya.
Cup!
"Kamu cantik banget sayang! Abis ini saya mau kamu gausah masuk kelas!" ujar Ardiaz.
"Hah? Kenapa pak?" tanya Aileen terkejut.
"Iya Aileen, saya maunya kamu tetap disini sama saya. Ada sesuatu yang ingin saya berikan untuk kamu, dan saya yakin kamu pasti mau dan suka banget!" jawab Ardiaz.
"Berikan apa pak? Aku masih ada jam pelajaran, gak mungkin aku gak masuk kelas," ucap Aileen.
"Saya disini kepala sekolahnya, kamu bisa bebas gak masuk jam pelajaran atas perintah saya Aileen. Udah tenang aja deh!" ucap Ardiaz.
"Tapi pak, nanti aku ketinggalan pelajaran. Emang bapak mau tanggung jawab?" tanya Aileen.
"Iya dong sayang, nanti biar saya yang ajari kamu materi yang kamu lewati. Kamu gak perlu cemas soal itu, yang penting sekarang kamu nurut aja dan jangan bantah saya!" jawab Ardiaz.
"Aku gak mau ah pak, aku takut!" ujar Aileen.
"Takut apa sih? Saya punya wewenang disini Aileen, selain jadi kepala sekolah saya ini kan juga pemilik sah sekolah ini," ucap Ardiaz.
"Ya saya tahu bapak yang punya sekolah, tapi tetap aja aku gak berani. Aku takut dihukum sama kesiswaan, bapak tau sendiri kan mereka kayak gimana!" ucap Aileen.
"Alasan aja kamu Aileen, sudah saya bilang kalau saya akan lindungi kamu!" tegas Ardiaz.
"Emang bapak mau ngapain sih pak? Kenapa tumben banget bapak minta aku bolos kayak gini?" tanya Aileen penasaran.
"Nanti kamu juga tau," jawab Ardiaz singkat.
"Ih bapak jangan bikin aku penasaran deh! Kasih tau aja yang jelas bapak!" kesal Aileen.
"Sabar Aileen! Bilang iya dulu baru saya kasih tau nanti," ucap Ardiaz.
"Kalaupun aku bilang enggak, pasti bapak bakal maksa aku, iya kan?" ucap Aileen cemberut.
"Betul sih itu, kamu kan tau sendiri saya gak suka ditolak. Jadi, saya akan lakukan apapun untuk bisa bikin kamu mau terima saya," ucap Ardiaz.
"Huh dasar bapak tukang maksa! Sekarang jelasin bapak mau apa!" pinta Aileen.
"Saya cuma pengen berduaan sama kamu Aileen, saya ini kangen banget sama kamu! Kemarin kan seharian saya gak ketemu kamu," ucap Ardiaz.
"Iya, tapi gak gini juga pak. Kita kan bisa berduaan lagi nanti setelah aku pulang sekolah, jadi aku gak harus bolos juga kayak gini!" ucap Aileen.
"Saya maunya kita berduaan dari sekarang sampai nanti malam, kamu gak bisa tolak saya Aileen! Kalau kamu nolak, itu artinya kamu gak sayang sama saya," ucap Ardiaz.
"Mana bisa gitu sih pak? Aku sayang sama bapak, tapi aku juga gak pengen ketinggalan pelajaran," ucap Aileen.
"Saya kan sudah bilang, saya akan ajarkan kamu materi yang tertinggal. Udah lah Aileen, kamu gak perlu takut soal itu! Sekarang kamu diam aja dan kita nikmati waktu berdua!" ucap Ardiaz.
"Emang bapak mau ngapain? Masa cuma duduk-duduk doang begini?" tanya Aileen.
"Kita bisa nonton film lewat layar proyektor, kamu mau?" usul Ardiaz.
"Film apa?" tanya Aileen.
"Kamu maunya film apa? Tinggal bilang aja sama saya, nanti saya carikan kalau ada," ucap Ardiaz.
"Terserah bapak aja," ucap Aileen.
"Kalau terserah, berarti kita nonton film biru ya?" ucap Ardiaz.
"Hah? Gak gitu juga lah pak," sentak Aileen.
"Katanya tadi terserah saya," kekeh Ardiaz.
"Ih nyebelin!" kesal Aileen.
•
__ADS_1
•
"Ehem ehem.." pria itu berdehem pelan sembari memandang ke arahnya dengan senyum tipis.
"Hah Sean? Lo darimana datangnya? Kok bisa tau-tau ada disini sih? Jangan-jangan lu dukun ya punya kemampuan bergerak cepat dan menghilang?" tanya Shanum kebingungan.
"Ngaco aja lu! Gue tadi jalan lah kesini nya, lu aja yang gak ngeliat," jawab Sean.
"Masa sih? Tapi serius loh gue gak sadar, bohong kan lu! Pasti lu bisa ngilang, ngaku lu!" ujar Shanum.
"Apaan sih? Ngaco aja kalo ngomong, sejak kapan gue bisa ngilang coba?" elak Sean.
"Terus gimana caranya lu bisa ada disini tanpa sepengetahuan gue hayo?" tanya Shanum.
"Ya gue jalan lah, lu gak lihat karena lu asik sama cowok lu daritadi. Udah deh, gue pengen ngomong sesuatu sama lu Shanum!" jawab Sean.
"Soal apa?" Shanum terlihat penasaran sekali.
"Gue pengen tahu, apa benar pak Ardiaz cemburu sama gue? Terus hubungan dia sama Aileen jadi terganggu gara-gara gue?" tanya Sean.
"Hah? Lo tahu darimana?" kaget Shanum.
"Ada deh, udah sekarang lu jawab aja dulu benar apa kagak!" pinta Sean.
"I-iya, itu emang benar. Tadi Aileen sendiri yang cerita sama gue tentang itu," ucap Shanum.
"Sekarang Aileen nya kemana?" tanya Sean.
"Lagi sama pak Ardiaz," jawab Shanum.
"Loh mereka udah baikan? Kok cepet amat sih?" tanya Sean keheranan.
"Gak tahu, tapi bagus dong karena mereka gak berantem terlalu lama!" ucap Shanum.
"Ya iya sih, gue cuma heran aja. Gue takut pak Ardiaz justru masih marah sama Aileen dan pengen nyakitin dia sekarang," ujar Sean.
"Ngaco aja lu! Ya gak mungkin lah pak Ardiaz kayak gitu, dia kan sayang banget sama Aileen!" sentak Shanum.
"Lo gila ya Sean? Lagian lu tau darimana sih soal masalah pak Ardiaz sama Aileen? Bisa-bisanya lu datengin gue buat nanya soal itu," heran Shanum.
"Gue sebenarnya cuma nebak aja, eh ternyata benar," ucap Sean.
"Masa? Mending lu kasih tau aja deh ke gue yang sejujurnya, jangan bohong!" ucap Shanum.
"Itu bener kok, buat apa gue bohong? Gue cuma nebak, gak nyangka juga bakal benar," ucap Sean.
"Yaudah, terus ngapain lu masih disini? Jangan sampe pacar gue nanti salah paham juga gara-gara ngeliat lu disini!" ucap Shanum.
"Tenang aja kali! Gue tuh pengen temuin Aileen sama pak Ardiaz, kira-kira mereka ada dimana ya?" ucap Sean.
"Mau ngapain lu temuin mereka?" tanya Shanum.
"Bicara aja, sekalian gue pengen jelasin soal kejadian kemarin. Kalau gue sama Aileen itu gak ngapa-ngapain, siapa tau gue bisa bantu masalah mereka kan?" jelas Sean.
"Duh, jangan Sean! Nanti bisa berabe urusannya tau!" ucap Shanum.
"Apa sih? Gue cuma pengen jelasin kok, supaya mereka gak berantem lagi," ucap Sean.
"Udah gausah, biarin mereka selesaikan masalah mereka sendiri! Lo gausah ikut campur, nanti yang ada pak Ardiaz makin marah!" ucap Shanum.
"Emang bisa gitu ya?" heran Sean.
"Ya bisa lah, udah lu jangan macam-macam deh!" ujar Shanum.
"Biarin, gue tetep pengen ketemu mereka. Pasti mereka ada di ruang kepsek, ya kan?" ucap Sean.
"Hah??" Shanum terkejut saat Sean tiba-tiba bangkit dari duduknya.
Pria itu bahkan pergi begitu saja dari sana.
"Eh Sean tunggu! Lo jangan nekat dong!" teriak Shanum berusaha menahan Sean, tetapi gagal.
__ADS_1
Akhirnya Shanum pun ikut mengejar Sean.
"Gue harus cegah tuh cowok!" batin Shanum.
•
•
Cup!
Ardiaz tersentak kaget saat tiba-tiba Aileen mengecup bibirnya dari samping, pria itu baru saja hendak kembali duduk, namun sebuah kecupan sudah mendarat tepat di bibirnya.
Aileen sendiri terkekeh geli melihat reaksi Ardiaz setelah mendapat kecupan darinya, ia senang karena berhasil membuat Ardiaz gugup dan terkejut akibat ulahnya.
"Kamu nakal ya sekarang? Berani banget kamu cium saya duluan, gak takut?" ujar Ardiaz.
"Kenapa harus takut? Bapak aja sering cium aku, apa salahnya kalau aku cium balik bapak?" ucap Aileen masih terkekeh.
"Gak salah kok, saya justru senang kamu begitu. Tapi, saya jadi tegang nih sayang, kamu sih cium gak bilang-bilang dulu!" ucap Ardiaz.
"Tegang? Maksud bapak gimana?" tanya Aileen.
"Ya gitu lah Aileen, masa kamu gak paham? Saya yakin kamu paham sama yang saya maksud barusan," jawab Ardiaz melirik ke arah celananya.
Seketika Aileen menutup mulutnya, ia sadar tegang yang dimaksud Ardiaz tadi.
"Hahaha, kamu tenang aja! Walaupun saya udah tegang, tapi saya bakal tetap berusaha tahan kok. Saya gak mau merusak kamu sebelum waktunya," ucap Ardiaz.
"Maaf ya pak! Aku gak tahu kalau cuma cium bisa bikin bapak kayak gitu, aku gak bakal gitu lagi deh!" ucap Aileen.
"Eh jangan dong! Masa cuma sekali aja? Lagi dong!" protes Ardiaz.
"Ta-tapi bapak kan jadi tegang, nanti malah aku yang disalahin lagi. Mending bapak aja yang cium aku," ucap Aileen.
"Sama aja, tetap bikin saya tegang," ucap Ardiaz.
"Masa iya? Yaudah, kalo gitu kita gausah ciuman dulu sampai kita nikah," ucap Aileen.
"Kapan kita nikah sayang?" tanya Ardiaz.
"Eee tunggu aku lulus sekolah sama kuliah pak, sama kalo aku udah dapat pekerjaan yang layak dan bisa bahagiain orang tua aku," jawab Aileen.
"Kelamaan dong, mana bisa saya tahan selama itu Aileen? Kamu mau saya jebol sebelum waktunya? Jangan salahin saya loh kalo sewaktu-waktu saya gak tahan, soalnya susah banget!" ujar Ardiaz.
"Bapak ih ngaco aja! Gak boleh gitu pak, bapak harus tahan sampe kita nikah nanti!" ucap Aileen.
"Ya makanya kita nikahnya begitu kamu lulus sekolah aja, biar gak terlalu lama. Setelah itu, kamu kan masih bisa lanjut kuliah sayang," ujar Ardiaz.
"Iya sih, tapi—"
"Kamu gak perlu takut, saya jamin kamu masih bisa lanjut kuliah dan kerja juga! Kalau kamu belum mau punya anak, saya juga gak masalah kok. Yang penting kita nikah dulu aja," sela Ardiaz.
"Apa iya? Nanti omongan bapak tiba-tiba beda, udah nikah terus langsung mau punya anak. Bapak kan plin-plan orangnya," cibir Aileen.
"Sembarangan aja kamu kalo ngomong! Sejak kapan saya plin-plan? Yang ada tuh kamu, susah ditebak orangnya. Kadang ini kadang itu, sampe bikin saya kesel sendiri," ujar Ardiaz.
"Huh mana ada? Bapak sukanya balikin kata-kata orang aja," ucap Aileen.
Ardiaz tersenyum, lalu mencengkram rahang Aileen. Baru saja ia hendak mencium bibir gadis itu, tapi tiba-tiba pintunya terketuk dari luar.
TOK TOK TOK...
"Pak, itu siapa pak? Jangan cium dulu, ada yang datang tau!" ujar Aileen panik.
"Tenang, gausah panik! Biar saya cek ke luar, kamu disini aja!" ucap Ardiaz santai.
"Iya pak," Aileen mengangguk pelan.
Ardiaz pun bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan menuju pintu untuk memeriksa siapa yang datang.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...