Kepsek Itu, Pacarku

Kepsek Itu, Pacarku
Episode 105. Masalah selesai


__ADS_3

Tak lama kemudian, angin kencang kembali muncul dan membuat Aileen sontak panik lalu reflek berdiri menatap ke sekeliling.


"Pak, ini kenapa pak?" ujar Aileen.


"Tenang Aileen!" pinta Ardiaz.


Sosok wanita berbaju putih tiba-tiba muncul di hadapan mereka, Ardiaz sontak bangkit dan memegang tangan Aileen dengan erat.


"Hah? Siapa itu pak??" kaget Aileen.


"Vivi?" ucap Ardiaz lirih saat menyadari wanita di hadapannya mirip sekali dengan sang mantan.


"Mas Ardi," balas perempuan itu.


"Vivi, kamu apa kabar? Kamu aman-aman aja kan di atas sana? Aku harap kamu bisa tenang dan gak mengusik kehidupan Aileen lagi, karena itu bukan sikap kamu yang dulu sayang!" ucap Ardiaz.


Tanpa sadar, air mata menetes di wajah Ardiaz serta Vivi. Keduanya sama-sama bersedih dan bayangan masa lalu kembali terlintas.


"Aku sayang sama kamu, dari dulu sampai sekarang rasa itu tidak akan pernah hilang Vivi. Tapi, aku juga butuh sosok pasangan hidup yang bisa ada untuk aku di dunia ini," ucap Ardiaz.


"Bukan sebagai pengganti kamu Vivi, tapi lebih ke orang yang membantu kamu," sambungnya.


"Aku paham, aku minta maaf atas sikap aku belakangan ini yang selalu ganggu hubungan kalian. Aku sadar apa yang aku lakukan itu salah, aku benar-benar menyesal," ucap Vivi.


"Kamu gak perlu minta maaf, aku sudah maafkan kamu kok dan aku yakin Aileen juga begitu. Asalkan kamu mau berubah dan berjanji tidak akan melakukan itu lagi," ucap Ardiaz.


"Semua yang aku lakukan kemarin semata-mata karena aku cemburu mas, aku belum siap kalau kamu harus menikah dengan wanita lain," ujar Vivi.


Ardiaz menghela nafas, ia melangkah maju mendekati Vivi dan berniat menyentuhnya.


Namun, dengan cepat Vivi mengangkat tangan menahan Ardiaz agar tak mendekatinya.


"Tahan mas, kamu gak perlu kesini samperin aku! Kamu benar mas Ardi, dunia kita sudah berbeda dan aku gak bisa memaksakan kehendak untuk tetap memiliki kamu," ucap Vivi sambil terisak.


Melihat itu membuat Ardiaz tak kuasa menahan air mata yang semakin meledak.


"Aileen, aku titip mas Ardi sama kamu ya? Tolong kamu jaga dia dengan baik, sayangi dia dengan tulus dan jangan pernah tinggalkan dia!" ucap Vivi.


"Hah? Eee i-i-iya.." gugup Aileen.


Vivi kini tersenyum beralih menatap Ardiaz dan melambaikan tangan seolah hendak berpisah.


"Aku pergi dulu ya mas? Aku janji gak akan ganggu kalian lagi, selamat atas pernikahan kalian dan semoga kalian bahagia selamanya!" ucap Vivi.


"Terimakasih Vivi, kamu juga bahagia ya disana!" ucap Ardiaz tersenyum.


Setelahnya, perlahan-lahan Vivi menghilang dari pandangan keduanya. Sontak Ardiaz makin terisak karena ia tidak dapat melihat Vivi lagi.

__ADS_1


Aileen pun mendekati Ardiaz, menyentuh pundak pria itu dan mengusapnya lembut bermaksud menenangkan nya.


"Pak, udah ya jangan sedih! Vivi kan udah mau bahagia disana," bujuk Aileen.


"Kamu benar Aileen, saya ikut senang karena ternyata Vivi mau mengakui kesalahannya. Dia juga janji gak akan ganggu kita lagi, saya jadi bisa lega sekarang," ucap Ardiaz.


Aileen turut membantu menyeka air mata di wajah Ardiaz dengan tangannya.


"Jangan nangis terus pak! Nanti Vivi nya jadi makin susah loh buat bahagia, bapak gak mau kan itu terjadi?" ucap Aileen.


"Ya Aileen, makasih ya!" ucap Ardiaz singkat.


"Sekarang kita balik aja yuk!" ajak Aileen.


"Ini kan hari terakhir kita barengan sebelum kamu dipingit, boleh dong saya ajak kamu jalan-jalan dulu?" ujar Ardiaz.


"Umm, ya boleh deh.." Ardiaz tersenyum mendengarnya.


Akhirnya mereka pun pergi dari pemakaman itu.




Sore harinya, giliran Aileen yang menangis bersedih setelah hendak ditinggal pergi oleh Shanum sang sahabat sejati.


"Shanum, kamu yang bahagia ya disana! Jangan lupain aku loh!" ucap Aileen terisak.


"Ya enggak lah, mana mungkin gue bisa lupain lu Aileen? Lo satu-satunya orang yang tulus sahabatan sama gue, pasti gue bakal selalu ingat sama lu!" ucap Shanum.


"Thanks Shanum! Jujur aku sedih banget harus pisah sama kamu," ucap Aileen.


"Gue juga, tapi ya mau gimana lagi. Semoga aja ada kesempatan buat kita ketemu lagi nanti!" ucap Shanum.


"Aamiin, pastinya aku nantikan banget momen itu. Aku gak sabar buat bareng-bareng lagi sama kamu," ucap Aileen.


"Udah lu gausah sedih, lu kan masih ada pak Ardiaz. Langgeng terus ya dan semoga lancar pernikahan kalian! Sorry gue gak bisa hadir di acara lu," ucap Shanum.


"Gak masalah, yang penting kamu doain buat hubungan aku sama pak Ardiaz," ucap Aileen.


"Itu sih pasti, tiap hari gue doain kalian. Yaudah ya gue pergi dulu? Sampai ketemu lagi nanti di lain waktu!" ucap Shanum.


Aileen memandang wajah Shanum dengan air mata yang berlinang.


"Iya, kasih kabar ke aku ya kalo kamu udah sampe! Hati-hati Shanum, jaga kesehatan disana!" ucap Aileen terisak.


Shanum mengangguk pelan disertai tetesan air mata yang semakin merembes.

__ADS_1


Setelah selesai berpamitan, akhirnya Shanum pergi bersama kedua orangtuanya.


"Bye Shanum!" teriak Aileen lantang.


"Bye juga Aileen, sampai jumpa!" balas Shanum.


Aileen tak henti-hentinya menangis begitu Shanum menjauh dan tidak terlihat lagi di hadapannya.


Gabino yang ada di sampingnya pun merangkul gadis itu, mengusapnya perlahan untuk menenangkan sang adik.


"Sabar Aileen! Udah dong jangan nangis terus kayak gitu!" ucap Gabino.


"Iya kak, makasih ya udah mau temenin aku dikala pak Ardiaz gak bisa datang," ucap Aileen.


"Gak masalah, gue kan kebetulan juga lagi gak ada kegiatan. Jadi mending gue temenin lu kesini," ucap Gabino.


Aileen tersenyum dan membenamkan wajahnya di bahu sang kakak.


"Aku gak punya teman lagi deh kak," ucap Aileen.


"Gausah sedih, lu pasti bakal dapat banyak teman lagi nanti," ucap Gabino.


"Iya banyak, tapi gak ada yang bisa setia seperti Shanum," ucap Aileen.


"Lu sabar aja, gausah lu sedih terus begini! Bentar lagi kan lu mau nikah, masa nangis mulu sih?" ucap Gabino menenangkan adiknya.


"Hiks, iya kak aku gak nangis lagi kok," ucap Aileen seraya mengusap air matanya.


"Yaudah, mau pulang sekarang apa gimana? Atau lu mau mampir makan dulu?" tanya Gabino.


"Enggak deh kak, kita makan di rumah aja nanti. Yuk aku mau pulang nih!" jawab Aileen.


"Okay," Gabino setuju dan mengajak adiknya pergi dari bandara itu.


Saat di mobil, Aileen masih belum bisa melupakan Shanum yang baru saja pergi. Ia terus memikirkan gadis itu sambil mengingat kenangan yang pernah mereka lakukan.


"Lo masih sedih aja, ayolah Aileen kuatin diri lu pasti lu bisa kok!" bujuk Gabino.


Aileen menoleh menatap kakaknya, ia tersenyum dan mengangguk kecil meskipun sangat sulit melupakan Shanum.


Tiinnn


Gabino tersentak kaget dan reflek membanting setir ke kiri sampai menabrak pembatas jalan.


Aileen yang tak siap juga ikut terbentur bersamaan dengan sang kakak dan langsung tak sadarkan diri.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2