
Setelah puas bermain di taman bersama Ileana, kini Aileen dan Ardiaz pun pulang ke rumah tak lupa pula membawa Ileana di tangan mereka. Namun, wajah Aileen masih terlihat menyesal mengingat kejadian di taman tadi saat dirinya kehilangan fokus dalam menjaga Ileana.
Ardiaz sang suami pun juga terus memberitahu Aileen agar lebih fokus untuk menjaga Ileana, tentu Ardiaz tak mau jika putrinya celaka hanya karena kelalaian sang istri. Aileen semakin merasa bersalah sebab ucapan Ardiaz, ia bahkan lebih sering diam dibanding biasanya.
"Kamu tuh ngerti gak sih yang aku bilangin sayang? Kok malah diem aja bukannya bicara? Apa kamu daritadi cuma anggap ucapan aku ini angin lewat aja?" kesal Ardiaz.
"Gak gitu mas, aku masih keinget aja sama kejadian tadi. Aku benar-benar ngerasa bersalah tau mas," ucap Aileen.
"Ya maka dari itu sayang, kamu harus lebih hati-hati lagi kalau bawa Ileana! Jangan sampai kejadian tadi itu terulang! Aku gak mau ya Ileana kenapa-napa!" ucap Ardiaz.
"Aku janji mas, aku akan lebih hati-hati lagi lain kali! Kamu jangan marah dong sama aku!" ucap Aileen.
"Iya iya gak marah, tadi aku cuma mau kasih tau kamu sayang. Maaf ya kalau misal kamu tersinggung atau sakit hati," ucap Ardiaz.
"Gak kok, kan emang itu salah aku. Justru aku yang harus minta maaf sama kamu," ucap Aileen.
"Udah lupain aja, yuk kita bawa Ileana ke dalam! Dia mau dimandiin kan?" ucap Ardiaz.
"Iya mas, kamu mau bantu aku mandiin Ileana?" tanya Aileen.
"Ya enggak lah, itu kan tugas kamu. Aku mah bantu siapin baju gantinya aja buat Ileana, sama keperluan yang lain," ucap Ardiaz.
"Huh nyebelin!" ketus Aileen.
Ardiaz terkekeh geli, mengusap puncak kepala sang istri dengan lembut. Aileen yang kesal melangkah lebih dulu memasuki rumah bersama Ileana, akhirnya Ardiaz menyusul masuk mengejar istri dan anaknya itu.
"Sayangku, kamu jangan ngambek dong! Aku kan bantuin juga nanti pas kamu pakein bajunya Ileana," bujuk Ardiaz.
"Gak ngambek mas, aku mau buru-buru bawa Ileana mandi aja," ucap Aileen.
"Yaudah, aku aja yang gendong Ileana ya? Kamu nanti takut lalai lagi kayak tadi," pinta Ardiaz.
"Mas, kamu kenapa jadi begitu sih? Aku tadi kan udah minta maaf, ayolah jangan dibahas lagi!" kesal Aileen.
"Aku cuma masih terbayang aja kejadian tadi, beneran deh bikin syok banget," ucap Ardiaz.
"Aku juga syok kayak kamu, emangnya kamu pikir aku sengaja ngelakuin itu? Aku gak sengaja mas," sentak Aileen.
"Sssttt iya iya udah gausah diperpanjang lagi ah, nanti yang ada kita malah ribut! Kasihan Ileana jadi gak keurus nantinya!" tegur Ardiaz.
"Ya kamu duluan sih yang mulai, aku udah minta maaf masih aja dibahas lagi!" cibir Aileen.
"Yaudah, sekarang aku yang gendong Ileana. Besok baru kamu yang aku gendong, gimana?" kekeh Ardiaz.
"Dasar gak jelas!" kesal Aileen.
Aileen pergi begitu saja menaiki tangga dengan cepat meninggalkan suami serta anaknya, Ardiaz berteriak panik meminta Aileen memelankan langkahnya, tapi tak didengar oleh wanita itu. Akhirnya Ardiaz menyusul ke atas dengan membawa Ileana di gendongannya.
"Duh, mama kamu itu emang ambekan banget sayang. Nanti kalau kamu udah gede jangan begitu ya!" ucap Ardiaz pada putrinya.
"Aku dengar loh mas,"
__ADS_1
Ardiaz tersenyum lebar mendengar ucapan Aileen, ia pun masuk ke kamar bersama putrinya bersiap memandikan Ileana.
•
•
Gabino tengah menanti Alana keluar dari kamar mandi, sebelumnya wanita itu memang masuk ke kamar mandi saat merasa mual dan ingin muntah. Tapi tadi Gabino juga telah memberi Alana sebuah testpack untuk mengecek apakah ada kemungkinan Alana hamil atau tidak.
Kini Gabino pun terus berharap kepada Tuhan yang maha esa, agar ia dan sang istri bisa mendapat keturunan setelah sekian lama mereka menunggu momen tersebut. Tak lama Alana keluar dengan wajah murung dan terus menunduk, hal itu membuat Gabino penasaran sekali.
"Sayang, gimana hasilnya? Apa kamu hamil?" tanya Gabino penuh harap.
Alana hanya diam dengan wajah ditekuk menampakkan kesedihannya, dari situ Gabino bisa menyimpulkan jika sepertinya kali ini harapannya untuk mendapatkan anak kembali pupus. Gabino pun pasrah saja, lalu coba menguatkan Alana agar tak bersedih.
"Kamu gak hamil ya? Gapapa sayang, kamu tenang aja ya! Kita berusaha aja terus, mungkin lain waktu kita bakal diberi keturunan yang banyak," ucap Gabino menenangkan sang istri.
"Aku gak yakin mas, satu aja susah apalagi banyak," ucap Alana cemberut.
"Gak boleh gitu dong sayang, kamu tuh harus yakin! Kalau Tuhan sudah berkehendak, apapun pasti jadi mungkin kok," ucap Gabino.
Alana justru memalingkan wajahnya dan melangkah menjauh dari sang suami, ia masih memegangi testpack di tangannya dan memandang benda tersebut sambil tersenyum. Gabino memang tak melihatnya, ia berada di belakang Alana sebab wanita itu berbalik tadi.
"Lana, udah ya jangan sedih lagi? Gimana kalau kita tengokin Ileana ponakan kita? Siapa tau dengan begitu kamu jadi lebih tenang," ucap Gabino.
"Enggak ah mas, aku mau pergi healing aja. Tapi, kamu gausah ikut ya?" ucap Alana.
"Loh kok gitu? Emang kamu mau healing kemana sayang?" tanya Gabino.
"Huft, iya deh kamu boleh pergi. Tapi, kamu ditemenin sama pak supir ya? Aku gak mau kamu benar-benar pergi sendiri," ucap Gabino.
"Oke mas, aku nanti minta antar pak supir. Makasih ya kamu udah bolehin aku pergi," ucap Alana.
"Ya sayang, kamu hati-hati aja pokoknya! Aku juga pengen ke rumah Aileen, udah kangen nih sama ponakan aku yang cantik itu," ucap Gabino.
"Iya mas, aku titip salam ya sama Aileen dan Ardiaz? Bilang maaf gitu karena aku gak bisa ikut datang ke tempat mereka!" ucap Alana.
"Iya cantik, yaudah kamu mau pergi sekarang?" tanya Gabino.
Alana mengangguk pelan, "Iya mas, tapi ini aku mau siap-siap dulu. Kamu keluar gih mas!" jawabnya.
"Kenapa harus keluar? Kita suami-istri sayang, kamu mau ganti baju di depan aku juga gak masalah kali. Lagian aku udah sering lihat tubuh polos kamu," ucap Gabino sensual.
"Haish, kamu tuh ya mesum terus jadi orang! Keluar dulu ih mas, aku malu kan belum pernah aku ganti baju diliatin kamu!" ujar Alana.
"Iya iya, aku ke luar deh. Tapi nanti kamu kasih tau ya kalo udah selesai? Soalnya aku kan juga harus siap-siap buat pergi ke rumah Aileen," ucap Gabino.
"Iya mas, aku siap-siap dulu ya?" ucap Alana.
Gabino mengangguk dan berjalan keluar kamar, sedangkan Alana tetap disana untuk berganti pakaian sebelum pergi nantinya.
•
__ADS_1
•
Setelah selesai membantu Aileen memakaikan baju untuk Ileana, kini Ardiaz membawa putrinya untuk bermain di halaman samping rumahnya. Sedangkan Aileen sendiri masih berkutat di kamar membereskan bekas mandi putrinya dan juga pakaian Ileana.
Ardiaz menggendong Ileana sambil membawanya berkeliling rumah menikmati pemandangan sore hari yang cerah, ia sangat senang bermain dengan sang anak seperti sekarang. Sudah lama memang Ardiaz mendambakan memiliki seorang anak seperti sekarang dan bermain bersamanya.
"Duh duh duh, anak papa cantik banget sih yang abis mandi!" ujar Ardiaz.
Ileana tertawa saja saat Ardiaz tersenyum ke arahnya, tampaknya Ileana juga merasa nyaman berada dalam gendongan sang papa. Wajar saja sebab Ardiaz adalah papa kandungnya, mungkin jika Ileana digendong sama orang lain tidak akan mudah tertawa seperti sekarang.
"Anak papa yang cantik ini lapar gak? Mau disuapin sama papa? Abis mandi begini pasti enaknya tuh makan tau sayang, mau ya?" ucap Ardiaz.
Disaat ia hendak membawa Ileana kembali ke dalam untuk makan, tiba-tiba saja sebuah mobil memasuki halaman rumahnya. Ardiaz terbelalak lebar melihatnya, ia tahu betul mobil yang ada di depan itu adalah mobil milik Laura. Betul saja, saat sang pemilik mobil keluar yang muncul adalah Laura alias sahabat lama Ardiaz.
"Hai Ardiaz!" sapa Laura sambil tersenyum dan menghampiri Ardiaz.
"Laura? Ada apa kamu kesini? Gak biasanya loh," tanya Ardiaz sedikit heran.
"Ah iya nih, kebetulan tadi aku lewat dekat sini. Makanya aku mampir aja sekalian mau ketemu sama anak kamu. Eh ini ya anak kamu yang kamu pamerin di sosmed itu?" jawab Laura.
"Benar, ini Ileana namanya. Kamu pengen ketemu sama dia kan?" ucap Ardiaz.
"Iya dong Diaz, dari lihat fotonya di sosmed aja aku udah gak sabar banget pengen ketemu. Eh ternyata dia lebih gemesin aslinya," ucap Laura.
"Hahaha, iyalah namanya juga anak aku. Jadi udah pasti bakal cantik dan gemesin," ucap Ardiaz.
"Iya emang cantik banget dia, tadi namanya siapa? Ileana ya? Waw nama yang indah dan cocok banget sama anak kamu ini!" ucap Laura.
"Thanks, ini Aileen yang usulin namanya. Dia emang pintar banget kasih nama buat anaknya, aku aja gak nyangka," ucap Ardiaz.
"Oh ya? Aileen keren banget deh!" puji Laura.
"Eh yaudah, masuk aja yuk! Gak enak lah masa tamu dibiarin aja berdiri di luar kayak gini?" ajak Ardiaz.
"Eee boleh deh, sekalian aku juga mau ucapin selamat buat Aileen atas kelahiran anak pertamanya," ucap Laura.
"Okay, eh tapi kamu sendiri sama mantan suami kamu itu gimana sekarang? Dia masih sering ganggu kamu?" tanya Ardiaz.
"Enggak kok, ya paling dia datang sesekali aja buat ngecek kondisi aku sama calon bayi di kandungan aku ini," jawab Laura sambil mengusap perutnya.
"Wajar sih, justru bagus kalau dia masih suka cek kondisi kamu dan anak kamu. Itu tandanya dia perduli sama kalian, secara kan dia juga ayah dari anak di kandungan kamu ini," ucap Ardiaz.
"Iya Diaz, cuma masalahnya dia sekarang kan udah ada istri baru. Aku takut aja ini jadi masalah nantinya," ucap Laura.
"Hah? Mantan suami kamu itu udah nikah lagi? Waw cepet juga ya?" kaget Ardiaz.
Laura manggut-manggut sambil tersenyum.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1