
Ardiaz serta Axel baru kembali dari pemancingan dan berhasil membawa pulang cukup banyak ikan hasil tangkapan mereka tadi.
Keduanya langsung disambut Alana dengan secangkir kopi hangat yang sudah disediakan wanita itu sebelumnya.
"Pa, Diaz, minum dulu nih! Pasti pada haus kan habis mancing?" ujar Alana.
"Hahaha, kamu perhatian sekali Alana. Kebetulan kami emang belum minum daritadi, enak nih kayaknya abis dari luar terus minum kopi. Yuk Diaz duduk dulu kita ngopi!" ucap Axel.
"Iya pa," Ardiaz menurut saja dan duduk di sofa seperti papa mertuanya.
"Oh ya Lana, ini ikan pancingan kita tadi. Tolong kamu kasih ke bik Lesti ya buat dimasak makan siang nanti!" ucap Axel.
"Ah iya, kalo gitu aku ke dapur dulu ya pa?" pamit Alana setelah mengambil plastik berisi ikan itu dari Axel.
Alana pun kembali ke belakang, menemui bik Lesti dan menyerahkan itu padanya untuk dimasak.
Sementara Ardiaz serta Axel tetap disana menikmati kopi buatan Alana sambil berbincang ria.
"Diaz, apa Aileen sudah ada tanda-tanda kalau dia akan hamil? Emang sih ini masih terlalu dini, tapi siapa tahu aja kan?" tanya Axel.
"Aku juga maunya begitu pa, tapi kan sampai sekarang Aileen masih belum hamil pa. Ya mungkin aja belum waktunya," jawab Ardiaz.
"Iya sih, tapi kamu ngerasa ada yang beda gak gitu dari Aileen? Misal sikapnya atau bentuk tubuhnya, biasanya kan orang hamil kayak gitu," ujar Axel.
"Eee setahu aku sih Aileen emang jadi lebih manja daripada sebelumnya, ya cuma aku gak tahu itu karena dia hamil atau bukan pa," ucap Ardiaz.
"Wah kalau manja mah dari kecil Aileen udah begitu kali Diaz," ucap Axel.
"Ahaha, ya emang benar sih pa. Cuma sekarang tuh manjanya Aileen beda gitu pa, kayak lebih manja dari pas pertama aku kenal sama dia," ucap Ardiaz.
"Kalo gitu bisa jadi sih, siapa tau dia emang udah hamil. Kamu coba aja bawa dia ke dokter kandungan buat dicek!" ucap Axel.
"Aku pengen sih pa, tapi kalau kenyataannya Aileen gak hamil gimana? Itu pasti nyesek banget buat Aileen dan juga aku," ucap Ardiaz.
"Gapapa Diaz, ini masih belum ada sebulan pernikahan kalian kan. Semisal hasilnya masih nihil, ya siapa tahu lain waktu Aileen dikasih rezeki buat mengandung anak kamu," ucap Axel.
"Aamiin, aku gak sabar banget pengen punya anak dari Aileen pa. Pasti nanti anaknya tuh lucu banget kayak mamanya," ujar Ardiaz.
"Hahaha..." keduanya tertawa bersamaan.
Tak lama kemudian, Gabino datang menghampiri mereka dan berhenti tepat di sebelah papa serta iparnya itu.
"Eh papa sama Ardiaz udah balik? Dari kapan? Kok aku gak tahu sih?" tanya Gabino heran.
"Iya udah, baru aja kita balik tadi. Kamu di kamar aja sih jadinya gak tahu," jawab Axel.
"Hehe, aku kan ada kerjaan kantor pa. Terus hasil pancingannya mana pa? Dapat banyak gak?" ujar Gabino.
"Ya jelas banyak dong, dari dulu kan papa kamu ini ahlinya memancing," ucap Axel dengan sombong.
"Iya deh si paling ahli, berarti nanti siang kita makan ikan dong pa?" ucap Gabino.
"Oh jelas, masa udah dapat ikan malah gak dimakan?" ujar Axel.
Gabino langsung tersenyum senang seolah tidak sabar ingin memakan ikan hasil pancingan papanya dan juga Ardiaz.
"Eh ya Diaz, tadi Aileen cariin kamu tuh. Ada sesuatu yang mau dia kasih tahu katanya," ucap Gabino.
"Hah? Soal apa ya bang?" tanya Ardiaz penasaran.
Gabino mengangkat kedua bahunya tanda ia juga tidak tahu, lalu Ardiaz bangkit dari sofa dan pergi ke kamar menemui istrinya.
•
•
TOK TOK TOK...
Ardiaz langsung mengetuk pintu kamarnya sambil memanggil-manggil nama sang istri dengan keras, ia sungguh penasaran apa sesuatu yang ingin Aileen sampaikan padanya.
"Aileen, buka pintunya sayang ini saya suami kamu udah pulang!" teriak Ardiaz.
"Iya mas."
Begitu mendengar suara balasan dari Aileen, pria itu sontak berhenti mengetuk pintu dan menanti Aileen keluar menemuinya.
__ADS_1
Ceklek
Aileen membuka pintu, ia tersenyum menatap suaminya dan tidak sabar ingin memberitahu mengenai kehamilannya.
"Eh mas udah pulang," ucap Aileen seraya mencium punggung tangan sang suami. "Yuk masuk mas!" sambungnya mengajak Ardiaz masuk ke kamar sembari melebarkan pintu.
"Iya, saya juga penasaran apa yang mau kamu kasih tahu ke saya. Tadi soalnya kak Gabino bilang kamu nyariin saya," ucap Ardiaz.
"Iya mas, emang ada yang mau aku kasih tau ke kamu. Kita bicaranya di dalam aja yuk!" ujar Aileen.
Ardiaz mengangguk setuju, ia merangkul sang istri dan melangkah masuk ke kamar. Tak lupa Ardiaz juga menutup pintu lalu duduk bersama Aileen di pinggir ranjang.
"Jadi, apa yang mau kamu kasih tau sayang? Saya udah penasaran banget nih, tadi aja sampe buru-buru saya kesini," tanya Ardiaz.
Aileen tersenyum melihat wajah penasaran suaminya.
"Sebentar ya mas, aku mau ambil sesuatunya dulu dari dalam laci. Kamu tunggu disini aja, tapi sambil meremin mata!" ucap Aileen.
"Biar apa sih sayang?" tanya Ardiaz bingung.
"Ih ya biar surprise dong, aku gak mau kamu tau gitu aja, gak asik tau. Udah buruan kamu merem atau aku gak jadi nih kasih tau ke kamu sesuatunya," ujar Aileen.
"I-i-iya deh, yaudah aku merem nih. Tapi, kamu cepetan ya ambilnya!" ucap Ardiaz.
"Iya mas suamiku sayang," ucap Aileen lembut.
Ardiaz tersenyum dan menyempatkan diri mengecup pipi istrinya sebelum mulai memejamkan mata sesuai perintah sang istri.
Aileen bangkit, kemudian berjalan menuju laci sambil sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa Ardiaz tidak mengintip.
"Awas loh ya, jangan ngintip!" peringat Aileen.
"Iya sayang," Ardiaz mengangguk saja menuruti semua perkataan istrinya.
Lalu, Aileen mengambil testpack yang sebelumnya ia sembunyikan itu dari dalam laci. Ia tersenyum kecil menatap testpack tersebut seraya menoleh ke belakang, ia tidak sabar ingin segera berbicara dengan Ardiaz mengenai semuanya.
"Mas, aku—"
"Sayang kamu hamil?" Aileen sangat kaget karena disaat ia berbalik, ternyata Ardiaz sudah berdiri tepat di hadapannya dan melihat semua itu.
Aileen masih terdiam berusaha menetralkan nafasnya, keberadaan Ardiaz secara tiba-tiba itu membuat jantungnya berdetak tak karuan.
"Ih mas, kamu mah ngeselin banget! Ngapain kamu malah nyusulin aku coba?" sentak Aileen.
"Eee sa-saya minta maaf sayang, saya cuma udah gak sabar buat tau apa sesuatu yang kamu sembunyikan dari saya. Eh ternyata tentang kehamilan kamu, saya senang banget sayang!" ucap Ardiaz tersenyum lebar.
"Iya mas, aku juga baru tau soal kehamilan ini tadi pagi kok. Kamu jangan marah ya mas!" ucap Aileen.
Ardiaz langsung memeluk erat istrinya seolah tak ingin melepasnya, ia sangat bahagia hari ini sebab mengetahui jika Aileen sedang mengandung anaknya.
•
•
7 bulan kemudian...
Sepasang suami-istri itu kini tengah berada di rumah sakit melakukan kontrol terhadap kondisi kandungan di dalam rahim Aileen, mereka juga memantau pergerakan janin di dalam sana melalui layar monitor yang digunakan dokter.
Ardiaz tersenyum lebar mengetahui calon anaknya dalam kondisi baik-baik saja, ia terus memegang erat telapak tangan Aileen dan sesekali mengecup keningnya untuk melampiaskan rasa senang yang ia rasakan saat ini.
Memang tak ada hal yang paling membahagiakan di dunia ini bagi pasangan suami-isteri selain dikaruniai anak dalam keadaan sehat dan baik-baik saja, begitu juga yang dirasakan Aileen serta Ardiaz setelah mereka berhasil mendapatkan anak pertama dari pernikahan mereka.
Setelah proses pengecekan selesai, Ardiaz mengajak Aileen pulang ke rumah sembari membawa hasil USG yang mereka lakukan tadi. Aileen terus tersenyum memandangi foto calon anaknya, ia makin tidak sabar menantikan kehadiran anaknya di dunia ini.
"Duh sayang, mama gak sabar nunggu kamu lahir di dunia ini. Sehat-sehat selalu ya nak!" ucap Aileen sambil mengecup foto itu.
Ardiaz yang berada di sampingnya ikut tersenyum, ia memacu kendaraan dengan kecepatan sedang agar tidak membahayakan dirinya dan juga sang istri. Tentu ia tidak mau jika Aileen terluka atau kenapa-napa karena ulahnya.
Setibanya di rumah, Aileen dituntun oleh Ardiaz turun dari mobilnya. Perlahan mereka memasuki rumah yang mana disana telah kumpul keluarga besar mereka, mulai dari orang tua sampai saudara yang akan mengadakan syukuran tujuh bulan.
Aileen tersenyum lebar melihat semuanya ada disana, ia bersama sang suami mulai menghampiri keluarga mereka dan menunjukkan foto hasil USG di rumah sakit tadi kepada orang-orang disana yang tentunya sangat bahagia.
Gabino, Alana, Mita, Axel, Malika dan para saudara mereka yang lain mulai dari sepupu hingga keponakan ada disana. Semuanya bahagia melihat hasil USG tersebut, meskipun Alana sedikit iri pada adik iparnya sebab hingga kini ia masih belum diberi karunia oleh Tuhan berupa seorang anak.
Acara syukuran dimulai, seluruh orang disana mengadakan prosesnya sesuai adat yang selama ini dilakukan secara turun temurun. Banyak sekali prosesi yang dilakukan, dan semua itu Aileen ikuti dengan sukacita demi calon anaknya.
__ADS_1
Hari sudah malam dan acara pun berakhir, semua saudara juga telah pulang ke rumah masing-masing. Hanya tersisa Mita sang ibu dari Ardiaz, serta keluarga Aileen di rumah itu. Mita memang masih ingin berada disana bersama putra serta menantunya.
"Sayang, mama boleh kan ada disini dulu temenin kamu sama Ardiaz? Mama pengen jaga kamu untuk malam ini," ucap Mita.
"Ya pasti boleh dong ma, masa iya aku ngelarang mama buat disini? Udah mama disini aja, malah kalo perlu mama nginep sekalian!" ucap Aileen.
"Iya ma, malam ini mending mama nginep aja. Daripada mama maksain buat pulang, nanti sampe rumahnya malah tengah malam," ucap Ardiaz.
Aileen manggut-manggut menyetujui ucapan suaminya, begitupun dengan Mita yang juga setuju untuk menginap di rumah putranya. Ia memang tidak mau dan tidak bisa berjauhan dari Ardiaz maupun Aileen untuk saat ini.
"Uhh mama gak sabar banget buat lihat cucu mama di perut kamu ini lahir sayang!" ucap Mita sembari mengusap perut besar menantunya.
Aileen tersenyum senang, ia melirik suaminya berbagi kesenangan yang ia rasakan. Ia senang sebab banyak orang yang bahagia dengan kehamilannya saat ini, ia merasa menjadi manusia yang paling beruntung di dunia.
Tak lama kemudian, Axel serta Malika pun datang menghampiri mereka bertiga disana. Keduanya tampak sudah bersiap untuk pamit pulang ke rumah mereka, ya Axel dan Malika memang tidak ada niatan untuk menginap disana.
"Aileen, Ardiaz, Bu Mita, kita berdua pamit dulu ya?" ucap Axel menyapa ketiga manusia itu.
"Eh papa? Mama?" Aileen terkejut dan sontak berdiri dengan bantuan Mita serta Ardiaz.
"Papa sama mama mau kemana sih? Kok pake pamit segala?" tanya Aileen bingung.
"Ya kita mau pulang dong sayang, ini kan sudah malam. Lagian acaranya juga sudah selesai dengan lancar dan semua sudah dibereskan," jawab Axel santai.
"Yah kok pulang sih pa? Aku kira papa sama mama bakalan nginep disini buat nemenin aku," ucap Aileen kecewa.
"Gak bisa sayang, besok papa udah harus pergi ke Spanyol buat urus perusahaannya yang ada disana. Jadi mama juga harus bantu papa untuk siap-siap berangkat besok," ucap Malika.
"Hah? Papa mau pergi?" kaget Aileen.
Axel tersenyum seraya menganggukkan kepala, membuat Aileen menggeleng tak menyangka dengan semuanya.
•
•
Keesokan paginya, Aileen datang menghampiri sang suami yang sudah lebih dulu berada di meja makan bersama Gabino. Ya semalam memang Gabino dan Alana ikut menginap di rumah Ardiaz yang baru dibeli sejak tiga bulan kehamilan Aileen, alasannya tentu karena Ardiaz tidak mau merepotkan mamanya lagi.
"Mas, kak, ini lagi pada nunggu sarapan apa gimana?" tanya Aileen menegur kedua pria itu.
"Eh kesayangan saya udah turun, kamu tuh kenapa bandel banget sih? Kan setiap hari tuh saya selalu kasih tau kamu, kalau mau keluar kamar kabarin saya dulu biar saya bisa bantu kamu jalan kesini! Eh ini malah jalan sendiri," ujar Ardiaz.
"Biarin lah mas, lagian aku juga bisa jalan sendiri kok. Toh juga gak terjadi apa-apa tadi, kamu gausah lebay deh!" ucap Aileen.
"Bukan lebay sayang, saya—"
"Ah udah deh mas, mending kamu keluar sekarang terus beliin aku nasi kuning yang paling enak!" sela Aileen sambil tersenyum.
"Nasi kuning? Kamu ngidam?" tanya Ardiaz.
"Iya mas, kayaknya anak kita kepengen makan nasi kuning deh. Beliin ya mas?" jawab Aileen.
"Pasti dong saya beliin, tapi tunggu sebentar ya?" ucap Ardiaz mengusap perut Aileen.
Aileen mengangguk pelan, Ardiaz langsung bangkit dari duduknya setelah berpamitan dan menitipkan Aileen kepada Gabino karena ia harus pergi ke luar membelikan nasi kuning permintaan istrinya itu.
Saat sampai di tukang nasi kuning, tanpa diduga pria itu justru tak sengaja bertemu dengan Laura yang juga baru datang kesana untuk membeli nasi kuning. Ardiaz sungguh kaget, tapi ia cukup senang juga sebab sudah lama mereka tak bertemu.
"Eh Laura, kamu disini juga? Mau beli nasi kuning buat sarapan ya pasti?" ujar Ardiaz.
"Ardiaz? Duh iya nih, aku lagi kepengen nasi kuning. Gak nyangka banget ya kita bisa ketemu disini? Kamu apa kabar Ardiaz?" ucap Laura pelan.
"Aku baik, kamu sendiri gimana? Terus kok kamu kesini sendiri? Suami kamu mana?" tanya Ardiaz.
Laura menundukkan kepala menunjukkan wajah sedih, "Aku sama suami aku udah cerai Diaz," jawabnya pelan.
"Apa??" Ardiaz terkejut bukan main.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
...•...
...HARI SENIN NIH KALO MAU VOTE SEKALIAN JUGA GAPAPA, TAPI ENGGAK JUGA GAK MASALAH SIH YANG PENTING BACA...
__ADS_1
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️...