
Mata dengan warna hazel itu sedang mengintip dari lobang tengah pintu. Ia sedang melihat keadaan di luar sana dari balik pintu nya. Hembusan napas terdengar sangat berat setelah mata mono-kelopk itu selesai melihat pemandangan yang ada di balik pintu. Ia mengusar rambutnya terlihat frustasi. Hentakan kaki terdengar saat Bastian sedang mondar-mandir di dalam apartemen.
"Sial, bagaimana aku bisa bekerja kalau dimata-matai seperti ini. Sepertinya waktu satu Minggu tidak akan cukup untuk itu semua. "Damn … informasi itu juga masih ada di dalam bagasi mobil. Sial, sial …." Kedua tangan Bastian sedang menjambak rambut hitam kecoklatan.
Ia tidak menyangka kenikmatan satu malam itu akan ia bayar dengan sangat mahal. "Aku tidak menyangka orang tua paruh baya itu adalah Randi Saguna orang terkaya urutan nomor dua di Asia. Sialnya lagi dia akan menjadi mertuaku. Entah keberuntungan atau kesialan yang akan aku dapat nanti." Gumam Bastian seorang diri setelah ia mengetahui siapa orang yang kemarin malam memukulinya dengan sangat brutal dari Mbah Google.
Kalau waktu bisa ia putar kembali pasti ia akan melakukan itu sekarang. ia tidak menyangka niat hati hanya ingin membantu seorang wanita malah berujung menjadi sebuah kesialan untuk dirinya.
Kalau ia mempunyai kekuatan untuk memutar waktu Bastian enggan dan akan menolak mentah-mentah untuk membantu wanita itu.
Tapi nasi sudah menjadi bubur, mau tidak mau Bastian harus mau. Ancamannya tidak main-main di penjara karena kasus pemerkosaan. Bastian yang mengingat itu mengidikan badannya ngeri.
Lebih baik ia di penjara karena kasus pembunuhan ataupun kasus lain, tapi tidak dengan kasus pemerkosaan atau perbuatan asusila lainnya.
Karena didalam penjara sana orang yang terkena pidana itu sudah tidak ada harga dirinya lagi. Orang itu akan menjadi bahan bullyan oleh narapidana lainnya. Lebih parahnya lagi barang berharga atau aset untuk berkembang biaknya akan diberi balsem sebagai salam perkenalan mereka.
Ayunan kaki Bastian terhenti ketika sebuah ide muncul di kepalanya dengan segera ia mengambil ponsel yang ia taruh di atas ranjang. Ia menekan sebuah nama di nomor kontak ponselnya yang tertulis Rangga.
"Halo kau dimana?" Tanyanya setelah sambungan itu diangkat.
"Di jam seperti ini aku ada dimana lagi kalau bukan di studio foto," ucap Rangga dengan nada sewot saat menjawab pertanyaan dari Bastian.
Bastian yang mendengar itu terkekeh geli. Orang itu tidak berubah sama sekali masih sama, tidak pernah takut dengan dirinya. "Cih … kau ini tinggal di jawab saja apa susahnya tidak usah pakai tarik urat segala. Kau datang kemari harus berpakaian Jaket Hoodie hitam, Pakai topi dan masker juga tutup wajahmu dengan itu semua. Jangan banyak tanya bila umurmu ingin panjang,"
__ADS_1
Rangga yang mendengar itu bingung dibuatnya. Tapi tidak mungkin seorang Bastian menyuruhnya berpakaian seperti itu tidak ada maksud lain pikirnya. "Kau ini. Bisa nggak, kata-kata keramat itu nggak usah di ucapkan. Ya sudah, aku akan kesana," Sambungan telepon disudahi begitu saja oleh Rangga.
•
•
•
•
•
30 menit sudah berlalu. Bel pintu apartemen berbunyi nyaring dibukanya pintu itu dari dalam.
Dilepasnya tudung, topi dan masker. Matanya mendelik menatap Bastian yang sedang berdiri di hadapannya.
"Apa kejahatanmu selama ini sudah ketahuan?" Tanyanya dengan wajah tegang. Kepala Bastian hanya menggeleng ia mengayunkan kakinya kembali ke sofa dimana tadi ia menunggu Rangga.
Rangga yang melihat itu mengikuti langkah kaki Bastian. "Kenapa ada orang yang berjaga di depan pintu dan parkiran mobil?" Tanya setelah mereka duduk di sofa.
Bastian pun menceritakan kisah naas itu yang langsung mendapatkan kekehan dari Rangga teman masa kecilnya yang selalu berbagi suka dan duka bersama.
Rangga adalah saksi kisah hidupnya. Bagaimana ia menjalani masa kecil yang begitu suram karena ditinggal mati kedua orang tua nya dengan hutang yang menumpuk.
__ADS_1
Semua harta berharga dan aset perusahaan yang kedua orang tuanya milik harus dijual dan sebagian aset ada yang disita oleh pihak bank untuk menutup semua hutang-hutang itu.
Keluarga dari kedua orang tuanya tidak ada yang mau menampung dirinya. Membuat ia harus luntang-lantung di jalanan yang kejam. Karena hanya orang yang mempunyai mental seperti baja saja yang mampu dapat hidup di jalanan yang keras.
Ia mengenal Rangga saat ia hampir pingsan di pinggir jalan dengan pakaian yang lusuh, rambut yang gondrong, tubuh yang kumal. Rangga tidak jijik dengannya saat orang lain hanya memandanginya saja. Dia datang bagaikan pahlawan untuk dirinya dan membawanya pulang untuk tinggal di rumah yang tidak cukup besar hanya terdiri dari dua ruangan saja.
Dan sejak saat itu mereka tinggal bersama dan menghabiskan waktu bersama hingga beranjak remaja. karena setelah itu Bastian pergi mengikuti orang yang bernama Troy.
"Terus kau menyuruhku untuk berpakaian ini untuk apa?" tanya Rangga setelah ia berhenti tertawa.
"Buka bajumu biar aku memakai itu. Aku ingin keluar tapi tidak ingin diikuti mereka."
Rangga yang mendengar mengelengkan kepalanya, "Aku tidak mau, bagaimana nanti mereka tahu dan marah jika telah di tipu dan menanyakan kamu. Aku harus jawab apa?"
"Bilang saja tidak tahu gitu aja repot. Aku akan membayar mu, aku tahu di dunia ini tidak ada yang gratis." ucap Bastian yang langsung mengeluarkan beberapa lebar uang berwarna merah dari dalam dompetnya.
Rangga yang melihat itu tersenyum senang. Bila nanti ia dipukuli akibat ulahnya ia menerimanya dengan senang hati.
Bastian yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepalanya, "kau sama sekali tidak berubah bila melihat uang matamu masih ijo. Nanti kau pakai mobil aku, biar aku yang mengendarai motormu." Rangga yang mendengar itu hanya manggut-manggut saja.
Akhirnya Bastian keluar mengunakan pakaian yang dipakai Rangga. Ia keluar dengan melenggang bebas karena tadi pas Rangga masuk kedalam apartemennya Rangga sudah ditanya-tanya oleh orang yang berada didepan apartemen Bastian.
Setelah satu jam lebih baru Rangga keluar dari apartemen Bastian menuju studio foto yang dimiliki oleh Bastian.
__ADS_1