kesalahan satu malam

kesalahan satu malam
Kontraksi


__ADS_3

"Aku akan mengejar Hanin, sudah aku putuskan sekarang" jawab Tristan


"Kalau begitu telepon Yasmine dan katakan kau mau mengakhiri semuanya" ucap Dika


"Apa kau gila? biar aku yang bicara nanti kau tidak usah ikut campur" kesal Tristan


"Kalau begitu aku juga tidak bisa mengatakannya, kembali ke kamarmu aku mau istirahat" ketus Dika


"Arrrggghhh ... bangsat" Tristan mencengkram kerah kemeja Dika kekesalannya sudah sampai ke ubun ubun


Dengan susah payah dia mencari Hanin namun setelah mengetahui tempatnya malah Dika mempersulitnya, seringai Dika membuatnya semakin jengkel berhadapan dengan Sahabatnya itu


"Kau menang bajingan" Tristan menghempaskannya kasar kerah baju Dika lalu mengambil handphonenya di dalam saku celana


"Hallo sayang.. kau kemana saja? " tanya Yasmine


"Yasmine langsung pada intinya saja, aku ingin mengakhiri hubungan kita berdua" singkat Tristan


"A.. apa? kau pasti bercanda, aku sedang mengandung anakmu Tristan" pekiknya


"Aku akan bertanggung jawab atas anak itu tapi aku tidak bisa menikahimu"


"Apa ini karena wanita sialan itu? kau lebih memilihnya karena takut kehilangan warisan? kita bisa bekerja sama sayang ayolah" bujuk Yasmine


"Maaf Yasmine hubungan kita sampai disini saja, kau tenang saja untuk biaya hidup anak itu aku akan mengurusnya sampai dia besar" ucap Tristan


"Tristan tunggu... " tanpa menunggu lama Tristan mematikan sambungan teleponnya


"Sudah.. sekarang katakan dimana Hanin? " tanya Tristan


"Ikut aku nanti jam 10 malam kau bisa membawanya pulang jika dia bersedia" ucap Dika


"Kau main main.. " Tristan kembali tersulut emosi


"Tidak, aku serius dia di lindungi seseorang makanya kita tidak bisa menemukan jejaknya"


"Kenapa tidak sekarang saja?"


"Jam 10 malam adalah waktu yang tepat bersabarlah" ucap Dika membuat Tristan frustasi menjatuhkan diri dengan kasar di ranjang Dika


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Kenapa malam ini dingin sekali" Hanin terbangun dari tidurnya mematikan AC


Dia berjalan keluar kamar untuk mengambil air minum, dia melihat ada bayangan sekelebat melintas dari jendela dapur

__ADS_1


"Siapa itu? " teriak Hanin


"Bi.. bibi dimana? " teriak Hanin lagi


"Ada apa nona? " bibi terperanjat mendengar teriakan Hanin


"Tadi di luar aku melihat bayangan seseorang" ucap Hanin


"Tenang saja sekeliling villa sudah di jaga disini aman, mungkin itu penjaga yang sedang berkeliling" Jawab bibi


Setelah tenang mendengar penuturan Bibi akhirnya Hanin kembali ke kamarnya, setelah mengunci pintu kamar Hanin kembali membaringkan dirinya di ranjang


Baru saja dia hendak memejamkan mata terdengar suara ribut ribut di luar seperti orang sedang bertengkar dan berkelahi namun setelah Hanin memeriksa dari jendela tidak ada apapun penjaga yang tadi berdiri di depan saja tidak terlihat, Hanin berpikir mungkin mereka istirahat sejenak


Pintu kamar di ketuk tanpa suara membuat Hanin ketakutan dia ragu ragu membukakan pintu, dia memilih diam sebelum yang mengetuk pintu itu bicara


"Non.. buka pintunya" ucap bibi membuatnya lega


"Bibi bikin takut saja" ucap Hanin


Hanin membukakan pintu terlihat bibi masuk sambil mengangkat kedua tangannya di samping kepala dan memberi isyarat agar Hanin kabur, Hanin awalnya mengernyitkan dahinya lalu sesaat kemudian betapa terkejut dia melihat siapa yang muncul dari samping bibi


"Ka.. kau.. " Hanin mundur beberapa langkah


"Apa kabar sayang? lama tidak bertemu" ucap Tristan


"Jangan takuti dia" bisik Dika dan di jawab anggukan oleh Tristan


"Sayang kau bahagia disini? kau tega meninggalkan aku" Tristan terus melangkah mendekati Hanin yang perlahan mundur


"Pergi.. pergi.. Biarkan aku sendiri pergi... " teriak Hanin


"Aku merindukanmu Hanin" lirih Tristan


"Tidak, kau pembohongan, kau bajingan, pergi dari sini" teriak Hanin yang sudah menangis gemetaran melihat pistol di tangan Tristan


"Aku salah Hanin, maafkan aku.. aku menyesal setelah kau pergi baru aku merasakan kehilangan dirimu.. aku mencintaimu Hanin"


"Tidak.. kau bohong, aku mohon biarkan aku hidup tenang aku Mohon" Hanin menangis sesenggukan memegangi perutnya


"Aku benar-benar menyesal Hanin, pulanglah denganku, aku mencintaimu" Tristan berhasil memeluk Hanin


"Arrrggghhh.. lepaskan kau menjijikkan.. aku membencimu" Hanin berontak saat Tristan memeluk dan mencium pipi serta keningnya


"Aku mencintaimu Hanin, aku menyesal"

__ADS_1


"Pergi kau bajingan.. hiks.. hiks.. pergi" Hanin mendorong tubuh Tristan sekuat tenaga hingga terjungkal


Saat hendak lari tiba tiba saja Hanin merasa perutnya sangat kencang dia memegangi perutnya yang kini terasa sakit sampai tidak bisa berjalan lagi


"Hanin.. kau kenapa? " Tristan memegangi Hanin dari belakang


"Arghh.. pergi Tristan aku mohon" lirihnya enggan di sentuh Tristan


"Aku bukan wanita yang kau inginkan pergilah sekarang aku tidak akan menuntut apapun darimu, anak ini milikku jangan mengambilnya" lirih Hanin dengan tangisan pilunya


"Aku tidak akan mengambilnya Hanin, kita akan merawatnya bersama kita akan bahagia bersama aku janji"


"Kebahagiaanku adalah menjauh darimu, bisakah Tristan? bisakah kau melepaskan aku dan anakku? " Tristan tidak dapat menjawab dia memeluk Hanin dari belakang menyembunyikan wajahnya di tengkuk Hanin


Tangannya mengelus perut Hanin yang mengeras bayinya terkadang menendang dengan keras diiringi ringisan Hanin


"Awww.. arrrggghhh.. sakit" tanpa sadar Hanin mencengkram tangan Tristan yang melingkar di pinggangnya


"Hanin.. kau baik baik saja? Hanin"


"Aaaa... sa-kit emmhh.. huh.. huh.. arghh" racau Hanin


Tristan melihat air mengalir bersama bercak darah dari kaki Hanin, dia benar benar panik langsung menggendong Hanin dan memasukannya ke dalam mobil


"Cepat Dika" teriak Tristan ketika Dika menjalankan mobilnya


"Emmhh.. arghh.. sakit" Tangan Tristan menggenggam tangan Hanin, karena rasa sakitnya kuku kuku Hanin bahkan menancap di tangan Tristan hingga mengeluarkan darah


Sakit di perutnya sedikit memudar Hanin baru menyadari ternyata sedari tadi dia memegangi tangan Tristan, Hanin menepis tangannya saat perutnya terasa sakit kembali Hanin berpegangan pada sandaran kursi depan menempelkan keningnya dengan sandaran kursi


Hanin menggigit bibir bawahnya jari jari di tangannya terlihat memutih karena terlalu kuat mencengkram sandaran kursi, Tristan berniat menggenggam tangan Hanin namun dia menipisnya


"Jangan sentuh aku" ketusnya


"Arrrggghhh.. " suara terakhir Hanin sebelum dia jatuh tidak sadarkan diri, Tristan menangkap tubuhnya agar tidak terhuyung kedepan lalu mendekapnya menyandarkannya di dada bidang Tristan


"Sial.. kenapa dia menyimpan Hanin di tempat seperti ini, sampai kapan kita akan sampai ke rumah sakit? " gerutu Tristan


"Sebentar lagi, sabar jangan membuatku semakin panik" ucap Dika


Sesampainya di rumah sakit Hanin langsung di tangani di ruang operasi, Tristan mondar mandiri di depan pintu operasi. Dika menarik tangan Tristan agar duduk


"Duduk dengan tenang aku tambah pusing melihatmu berjalan kesana kemari" ucap Dika


"Bagaimana aku bisa tenang anak dan istriku sedang di meja operasi" ucapnya dengan kesal

__ADS_1


"Anak dan istri? sekarang kau mengakuinya? " sindir Dika


"Jangan membuatku kesal atau aku akan menyuruh dokter membedah isi kepalamu" hardik Tristan dengan tatapan tajam


__ADS_2