kesalahan satu malam

kesalahan satu malam
Sedikit petunjuk


__ADS_3

Tristan sampai di kota yang menjadi tujuannya mereka baru saja memesan kamar hotel, Tristan berbaring menatap langit langit kamar dengan tangan sebagai bantalnya


Dia berpikir harus dari mana dia memulai mencari Hanin sementara jejaknya saja hanya di toko itu, lamunannya buyar saat mendengar ketukan di pintu kamarnya


"Ada apa? " tanya Tristan pada Dika


"Apa sudah ada tanda tanda keberadaan Hanin? " tanya Dika


"Kau ini bagaimana kita saja baru sampai aku belum sempat mencarinya"


"Maksudku bukan begitu, otakmu tidak bekerja sama sekali" Dika duduk di ranjang memainkan handphonenya


"Lihat ini" Dika menunjukkan handphonenya pada Tristan yang berbaring di belakangnya


"Ini orang yang bersama Hanin saat di toko itu dan lihat plat nomor mobil yang mereka tumpangi terlihat meskipun hanya setengahnya " mata Tristan berbinar melihat hal itu


"Kenapa aku tidak memikirkannya sampai kesana, kau hebat" puji Tristan


"Itu karena kau hanya seperti orang gila yang senyum senyum sendiri" hardik Dika


"Aku terlalu senang sampai tidak tidak bisa berpikir, menurutmu bagaimana ekspresinya jika dia bertemu denganku? " tanya Tristan


"Mungkin dia akan menendang bokongmu, aku saja yang mendengar cerita Hanin dari om Janu begitu greget apa lagi Hanin" cicit Dika


"Jadi ayahku menceritakannya padamu? luar biasa orang tua itu aib anak sendiri dia umbar"


"Kau yang bodoh, kau keterlaluan pada Hanin Tristan.. aku ragu apa dia akan kembali padamu setelah apa yang kau lakukan padanya"


"Aku akan mendapatkannya, apapun caranya" ucap Tristan


"Itu yang selalu menjadi masalahmu Tristan, kau selalu seenaknya jangan gunakan sikap dominanmu pada Hanin biarkan dia dengan keputusannya sendiri, jika kau terus menekannya sebaliknya dia akan sangat membencimu"


"Jika tidak memaksanya apa dia akan kembali? setidaknya bersikap dominan untuk mendapatkan keinginan kita bukankah tidak salah? " ucap Tristan tidak mau kalah


"Terserah kau saja, yang jelas aku hanya menemanimu saja aku tidak akan ikut campur cari saja sendiri, aku sudah menasehatimu jangan terlalu menekannya kau akan menakuti nya"


"Iya.. kau seperti Pak tua itu terlalu banyak omong"


"Jika kau bukan temanku sudah aku buang kau ke laut" hardik Dika seraya keluar dari kamarnya


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Vio dan Delina juga beberapa orang lainnya berkumpul di rumah Andrew, ketika menunggu para pemuda membakar barbeque Vio iseng iseng melihat foto foto di meja ruang tamu


"Apa ini Andrew? dia tampan dari kecil" ucap Delina


"Hmm.. kau benar" Vio ikut melihat foto tersebut


"Kalian sedang apa? " tanya Andrew membuat keduanya terlonjak


"Ahh.. hanya melihat fotomu saat masih kecil" jawab Vio

__ADS_1


"Aiisshh.. jangan di lihat aku malu" Andrew meraih fotonya lalu meletakkannya terbalik


"Ayo mereka sudah menunggu" Andrew menarik lembut tangan Vio


Vio berjalan mengikuti langkah Andrew seraya menatap tangannya yang di pegang Andrew, detak jantungnya tak beraturan membuatnya salah tingkah


"Tanganmu berkeringat" ucap Andrew dengan spontan Vio menarik tangannya


"Mu.. mungkin aku kepanasan" jawab Vio gelapan


"Kau suka melihat foto fotoku? " tanya Andrew


"Aku.. aku.. hanya iseng melihatnya"


"Benarkah? " goda Andrew membuat wajah Vio merona


Andrew meraih handphone yang di pegang Vio lalu mengarahkan kamera ke arah mereka berdua, Vio yang tidak siap menjadi kaku dalam foto tersebut


"Kau bisa melihatnya sepanjang waktu" ucap Andrew meletakkan handphonenya di tangan Vio lalu pergi


Wajah Vio kembali memerah senyum malu malu terpancar di wajahnya, dia kembali melihat foto tersebut senyumnya semakin melebar


"Ahh.. apa apaan ini? aku seperti orang gila saja" gumamnya saat menyadari dirinya senyum senyum sendiri


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Bagaimana apa semuanya baik baik saja? " tanya Janu pada seseorang di sebrang telepon


"Nona Hanin baik baik saja tuan, saya sudah mengirimkan fotonya" jawabnya


"Sepertinya belum tuan, menurut anak buah saya tuan muda baru menyewa kamar hotel"


"Jangan biarkan dia menemukan Hanin, biarkan dia putus asa dulu"


"Baik tuan"


Janu menatap layar handphonenya dan membuka pesan dari orang suruhannya, tampak Hanin sedang memegang sepiring buah dan berjalan di luar dengan perut buncit nya


"Lihat sayang.. cucu kita sebentar lagi akan lahir" Janu memperlihatkan foto tersebut pada Ressa


"Aku khawatir dia akan membenci Tristan dan tidak mau kembali" lirih Ressa


"Itu sudah pasti akan terjadi, tapi kau tahu bagaimana anakmu itu dia akan menghalalkan segala cara agar Hanin kembali"


"Apa Tristan akan menyakiti Hanin? "


"Aku sudah menyuruh anak buahku untuk menjaganya kau tenang saja, aku tidak akan segan meskipun Tristan anak kita'' jawab Janu


" Sudah jangan memikirkan anak itu lagi sekarang kita tidur" Lanjut Janu lalu menyelimuti istrinya


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...

__ADS_1


"Hai kecil kenapa malam ini kau tidak seaktif biasanya? " tanya Hanin pada bayi yang ada di perutnya


"Kau memikirkan sesuatu? apa kau rindu pada ayahmu? " tanyanya lagi, janin itu bergerak


"Aku pun.. aku merindukan pria pembohong itu, aku merindukan ayahmu yang membuatku hancur"


"Apa yang harus kita lakukan sekarang? Ayahmu pasti sedang bersenang-senang dengan kekasihnya"


"Mereka memang serasi, pria jahat dan wanita jahat sangat cocok bukan? tumbuh lah menjadi anak baik jangan seperti ayahmu dia sangat tidak pantas sebagai panutan" dia berdialog sendiri seraya mengusap perutnya menatap langit malam dari jendela


Dia duduk sendiri menikmati angin malam yang menerpa tubuhnya, lamunannya kembali melayang jauh membawanya ke masa lalu dimana dia bersama Tristan


Tristan yang menghancurkannya lalu seolah mengulurkan tangannya untuk membawanya bahagia namun dia salah Tristan menghempaskannya setinggi tingginya


mengingat hal itu air matanya jatuh tanpa dia sadari, Hanin mengusapnya kasar dengan punggung tangannya


"Ahh.. maaf sayang, apa kau ikut sedih? aku berjanji aku akan membuatmu bahagia tanpa ayahmu.. aku akan menjadi wanita tangguh untuk memindahkan dan membahagiakanmu" gumamnya lalu beranjak dari tempatnya menuju ranjang


"Apa yang sedang di lakukan pamanmu malam malam seperti ini, mari kita hubungi dia" Hanin meraih handphonenya dan menekan panggilan video


"Hai kak" Andrew melambaikan tangannya


"Sedang apa? " tanya Hanin


"Aku sedang bersama teman temanku" Andrew menunjukan temannya satu persatu dan mereka melambaikan tangannya pada Hanin


"Apa sekolahmu berjalan baik? " tanya Hanin


"Ya.. sebentar lagi aku lulus ayah mertuamu bilang akan menjadi waliku nanti"


"Baguslah.. jadilah anak baik, ayah sudah dengan baik hati membiayai sekolahmu"


"Iya kak... aku sangat berterima kasih pada ayah meskipun aku sangat tidak suka pada anaknya" ucap Andrew


"Balas jasanya kalau begitu, jangan mengecewakannya"


"Baik kak "


"Kalau begitu aku tutup teleponnya, jangan tidur terlalu malam"


"Hhmm.. baiklah, selamat malam jaga diri dan jaga keponakanku" ucap Andrew


"Iya.. Aku akan sering menelpon mu"


"Harus.. kalau tidak aku yang akan menelpon mu"


"Baiklah.. jadi anak baik.. bye" ucap Hanin laku mematikan teleponnya


Hai.. Hai.. aku kembali maaf selama ini menggantung cerita terlalu lama


Jangan lupa like komen dan vote ya

__ADS_1


Jadikan favorit juga jangan lupa dukungan lainnya


dukungan apapun dari kalian sangat berharga bagi author


__ADS_2