
" Apa Tristan semudah itu percaya? bodoh sekali " gumam Yasmine
"Aku tidak boleh percaya begitu saja pada Yasmine, aku harus menyelidikinya" batin Tristan lalu masuk ke dalam mobil
Di apartemen setiap pagi dan malam Hanin selalu merasa mual
obat yang di resepkan dokter sudah habis tapi rasa mual itu tidak bisa hilang
merasa lelah kemudian Hanin berbaring hingga terlelap
Tristan baru saja sampai dia yang sedang dalam keadaan mabuk melihat tubuh Hanin terbaring tanpa selimut
Awalnya dia hendak memakaikan selimut pada tubuh Hanin
namun tubuhnya bereaksi lain saat melihat lekuk tubuh Hanin yang tidur menyamping
Tristan melepaskan dasi yang di pakainya dan perlahan mengikat tangan Hanin ke kepala ranjang
melepaskan lebih dulu pakainya
Hanin menggunakan dress full kancing membuat Tristan dengan mudah membukanya
"Tristan apa yang kau lakukan bajingan? " pekik Hanin
"Ssttt diam sayang aku ingin" bisik Tristan seraya mengecupi telinga serta leher Hanin
"Lepaskan ikatan tanganku" Hanin menarik narik tangannya
"Kau harus memuaskan aku baby" bisiknya
"Empph.. aaakkhh" suara Hanin tertahan
"Jangan di tahan sayang aku lebih suka kau berteriak " benar saja Hanin berteriak saat Tristan melakukannya dengan kasar
"Tris.. than hentikan akkhh" pekik Hanin menggigit bibirnya
"Hah hah.. lepaskan aku Tristan perutku sakit" lirih Hanin terengah engah saat Tristan belum juga menyingkir dari atas tubuhnya
"Tristan stop aku tidak main main ini sakit" Hanin mengernyitkan wajahnya saat Tristan kembali bergerak di atasnya
"Jangan bohong" bisik Tristan dengan sensual
"Aku.. tidak akkhh cepat menyingkirkan" Tristan merasakan sesuatu kembali mengalir hangat di bawah sana
"Kau benar benar payah" Tristan bangun saat melihat wajah kesakitan Hanin
"Apa kau baik baik saja? " tanya Tristan seraya memeluk Hanin
"Tidak ada yang baik baik saja disini, perutku sakit" Hanin mendorong tubuh Tristan
"Kita harus ke dokter" Tristan mengambil pakainya di lemari
__ADS_1
"Tidak usah aku baik baik saja, sakitnya juga sudah hilang"
"Begitu ya.. kalau begitu kita teruskan saja" ucap Tristan
Hanin segera menggeleng melihat senjata Tristan masih tegak berdiri
dia lebih memilih di bawa pergi ke rumah sakit dari pada di gempur habis habisan
Sesampainya di rumah sakit dokter memeriksa Hanin juga melakukan USG
dokter menghela nafas saat mengetahui faktanya
"Tuan.. nyonya sedang mengandung usahakan jika berhubungan dengan lembut dan kurangi intensitasnya, hampir saja nyonya mengalami keguguran" Tristan dan Hanin masih menyimak ucapan dokter, mereka belum sadar apa yang di katakan dokter
"Jadi istri saya sakit apa? " tanya Tristan
"Hamil tuan nyonya hamil bukan sakit, dan anda jika berhubungan jangan terlalu brutal hampir saja nyawa bayi anda melayang" berang sang dokter
Hanin di buat menegang seketika bibirnya bergetar dengan air mata yang menggenang
berbeda dengan Tristan dia merasa sangat bahagia bahkan lebih bahagia saat mendengar Yasmine mengandung
Entah kenapa mendengar Yasmine hamil tidak ada rasa bahagia di hati Tristan berbeda dengan kabar kehamilan dari Hanin
"Aku keluar lebih dulu, aku mual" ucap Hanin keluar dari ruangan itu
"Apa istri anda baik baik saja? " tanya sang dokter melihat raut wajah murung Hanin
"Dia mungkin sedang terharu, dia memang mudah menangis" jawab Tristan
Hanin berjalan melamun melewati lorong rumah sakit
tepat saat pintu ruangan lain terbuka Hanin tidak sengaja menabrak seseorang
"Ah maaf tuan saya tidak sengaja" Hanin membungkukkan badannya
"Hanin sedang apa disini? " tanya Luis
"Hai Luis aku kira siapa, kau sendiri sedang apa disini?"
"Aku sedang sial Hanin baru saja menabrak seseorang"
"Lalu bagaimana keadaannya? "
"Untung hanya luka kecil, hanya perlu di jahit"
Tristan yang menyusul Hanin melihatnya sedang berbincang dengan Luis
Tristan melangkah dengan cepat dan menarik tangan Hanin hingga menubruk dada bidangnya
"Jangan ganggu istriku" ucap Tristan memeluk Hanin posesif
__ADS_1
"Apa kau merasa terganggu Hanin? kelihatannya Hanin biasa saja" jawab Luis terkesan mengejek
"Sudah sudah, Luis aku permisi pulang dulu" ucap Hanin
"Baiklah, sampai jumpa lagi" ucap Luis seraya melambaikan tangan
"Tidak ada perjumpaan setelah ini" ketus Tristan
Sesampainya di apartemen Tristan berubah menjadi lembut dan perhatian
namun sikapnya yang berlebihan malah membuat Hanin merasa risih, seperti sekarang
"Mau kemana? " tanya Tristan ketika Hanin turun dari ranjang
"Aku mau ke kamar mandi" jawab Hanin
"Lepaskan aku Tristan, aku bisa sendiri" pekik Hanin saat Tristan menggendongnya
"Kandungan mu lemah biar aku bantu" Hanin hanya bisa pasrah saat Tristan memperlakukannya bakal orang cacat
"Aku akan beritahu ayah dia pasti akan sangat senang" ucap Tristan setelah kembali membaringkan Hanin
Tristan memencet nomor ayahnya dan melakukan panggilan video
sepanjang obrolan mereka Tristan sengaja mencuri kesempatan memeluk bahkan menciumi pipi Hanin
dengan alasan agar mereka kelihatan harmonis
"Ayah mengundang kalian makan malam besok dan untuk kabar gembira ini ayah akan membelikan rumah atas nama Hanin sebagai hadiah" ucap Janu
"Apa hanya Hanin yang di beri hadiah? harusnya aku yang ayah beri hadiah secara aku yang membuat Hanin hamil" ucap Tristan tanpa tahu malu mendapatkan cubitan dari Hanin
"Kau tidak mendapatkan apapun, kau hanya akan mengelola perusahaan yang akan ayah berikan pada anak kalian"
"Apa? ayah akan memberikan perusahaan pada bayi kecil? " ucap Tristan tidak percaya usahanya mendapatkan perusahaan ayahnya gagal karena akan di berikan pada anak Hanin
"Ya... tentu saja bukankah kau juga masih bisa menikmatinya? " ucap Janu
"Tapi ayah... "
" Tidak ada tapi tapian aku sangat paham sifatmu Tristan, kau akan kembali pada wanita itu jika aku memberikanmu hak atas perusahaan " Wajah Tristan menjadi muram seketika
Setelah mematikan teleponnya Hanin memperhatikan wajah Tristan
dia paham sekarang Tristan benar benar hanya menginginkan harta ayahnya bukan anak dariny
Hanin tidur membelakangi Tristan dengan air mata yang mengalir
dia bingung harus apa setelah ini kehadiran anak ini akan mempersulit Hanin untuk pergi
"Kau sudah tidur? " tanya Tristan memeluk Hanin dari belakang
__ADS_1
Hanin memejamkan matanya berpura pura tidur
Tristan menciumi Tengkuknya dan menyembunyikan wajahnya di tengkuk Hanin