
Sebelum lanjut membaca jangan lupa kebon othor di kasih bunga biar subur makmur indah Sentosa 🥰🥰🤣
Tok tok tok
Andrew yang baru saja pulang sekolah sedang memasak, dia mendengar ketukan pintu sejenak meninggalkan pekerjaannya
"Ayah, silahkan masuk" Andrew mempersilahkan Janu masuk
"Andrew apa kau tau Hanin sudah pulang? " tanya Janu
"Pulang? kapan? " Andrew terkejut mendengar penuturan Janu
"Dia baru saja melahirkan, apa kau ingin bertemu dengannya? "
"Tentu saja aku merindukan kakakku, dimana dia sekarang? " Tanya Andrew
"Aku membelikannya rumah, dia disana bersama Tristan tapi aku sudah menyiapkan penjaga juga suster dan pelayan untuk kakakmu"
"Apa Tristan ingin mempermainkan kakakku lagi? Kenapa kau tidak membawanya kemari? aku tidak suka dengan anakmu itu" ucap Andrew dengan jujur
"Ya... aku tahu Tristan sudah keterlaluan tapi sepertinya dia sudah berubah Tristan terus mencari kakakmu seperti orang gila, dia juga memutuskan kekasihnya "
"Tapi media masih belum tahu dengan jelas hubungan Tristan dengan keduanya, aku tidak mau dia kembali menyakiti kakakku"
"Baiklah aku akan mengadakan jumpa pers, dan menyuruh Tristan klarifikasi semuanya, baiklah sekarang kita pergi" Janu dan Andrew pergi ke kediaman baru Hanin
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Hanin menggendong bayinya ke belakang rumah menghirup udara segar duduk di bawah pepohonan, Tristan berjalan menghampiri Hanin membawa buah buahan
"Kenapa kau tidak pergi bekerja? aku muak melihatmu" ketus Hanin
"Aku.. aku.. " Tristan tidak mampu menjawab perkataan Hanin, dimana harga dirinya jika Hanin tau ayahnya memberhentikannya dari perusahaan
"Pergilah biarkan aku dan anakku tenang sebentar tanpa melihat wajahmu" Tristan tidak mendengar perkataan Hanin dia malah duduk di kursi yang berada di samping Hanin
"Kau mau buah? biar aku kupas" Tristan menawarkan diri
"Aku tidak mau apapun yang berasal dari tanganmu" ketusnya
"Perkataannya pedas sekali" gumam Tristan yang masih dapat di dengar Hanin
__ADS_1
"Kenzo.. mau ayah gendong nak? " Tristan hendaklah mengambil Kenzo namun Hanin menepis tangannya
"Jangan sentuh anakku" ucap Hanin dingin
"Dia juga anakku Hanin, jangan keterlaluan aku tidak akan menyakitinya"
"Mungkin kau tidak akan menyakitinya tapi bisa saja kau membawanya pada Yasmine untuk mendapatkan harta warisan"
"Kau terus mengatakan itu Hanin, kau tidak tahu aku sudah mengakhiri semuanya dengan Yasmine aku ingin hidup bersamamu dan Kenzo" jawab Tristan
"Lalu anakmu dan Yasmine? kau egois Tristan, kenapa kau tidak menikahinya jelas jelas kalian saling mencintai"
"Lalu bagaimana denganmu.. apa kau mencintaiku? " mendengar itu Hanin diam seribu bahasa
"Sepertinya kau mengantuk sayang, ayo kita tidur" Tanpa menjawab pertanyaan Tristan Hanin pergi membawa Kenzo masuk ke dalam rumah
"Aku tahu masih ada sedikit rasa di hatimu, aku akan kembali menumbuhkan rasa itu Hanin sekarang aku tidak peduli lagi siapa penyebab kematian adikku yang aku tahu aku sangat mencintaimu" gumam Tristan
"Ayah.. Andrew " Hanin terlalu senang sampai berlari menghampiri mereka
"Hei.. hati hati nak kau masih belum sembuh" ucap Janu
"Kakak apa kabar? aku sangat cemas memikirkan kakak meskipun kakak bilang baik baik saja" Ucap Andrew matanya sedikit berkaca kaca
"Apa pantas seorang laki laki menangis? kau payah sekali" goda Hanin lalu menyenggol bahu Andrew
Andrew mengusap ujung matanya biarlah kakaknya mengatainya apapun yang jelas dia sekarang bahagia kakaknya ada di hadapannya
"Kalian disini? " tanya Tristan yang baru saja masuk
"Apa kau tidak melihat kami sampai harus bertanya? " sinis Andrew
"Basa basimu payah Tristan" ucap Janu
"Kalian bersekongkol, menyebalkan" gerutu Tristan seraya naik ke kamarnya
"Akhir bulan ini kau akan pergi ke luar negeri, ayah sudah siapkan semua keperluanmu disana kau hanya harus belajar dengan baik dan menjadi lulusan terbaik maka ayah akan pastikan kau akan mendapatkan posisi yang bagus di kantor " ucap Janu pada Andrew
"Sebelumnya aku sangat berterimakasih ayah, aku tidak tahu harus berkata apa dan harus berterimakasih dengan cara apa kau sangat baik, kau seperti seorang dewa yang di utus untuk kami" Ucap Andrew
"Ini tidak seberapa di bandingkan dengan penderitaan kakakmu, aku merasa sangat bersalah padanya karena kelakuan Tristan.. entah dosa apa yang aku perbuat sampai memiliki anak seperti dia"
__ADS_1
"Setiap orang bisa berubah ayah semoga saja dia salah satunya, meskipun aku masih marah padanya tapi aku rasa dia tulus kali ini, semoga saja ini bukan sebuah rencana yang dia mainkan lagi"
"Jaga kakakmu sebelum kau pergi, tinggallah disini " Andrew sedikit memikirkan tentang ini, sepertinya dia memang harus melindungi kakaknya dan mengawasi Tristan
"Baiklah aku akan tinggal disini"
.
.
Hanin menidurkan bayinya di kamar membiarkan Andrew berbincang dengan Janu, dia menatap Tristan yang sedang terlelap di tepi ranjang. senyum miris tampak di wajahnya dengan mata berkaca kaca
"Bajingan ini selalu datang mempermainkanku" gumamnya
"Aku terlalu bodoh mencintai seseorang sepertimu, aku menyesal bertemu denganmu, aku menyesal kenapa aku terlalu mudah jatuh cinta padamu"
"Andai saja waktu bisa di putar kembali maka aku akan memilih ayahmu menyebarkan video itu dari pada harus menikah denganmu, aku lebih memilih di benci banyak orang dari pada aku harus membenci orang yang aku cintai"
"Tidakkah menurutmu itu menyakitkan? ahh.. aku lupa pria yang selalu bermain wanita sepertimu tidak akan tahu rasanya cinta bahkan kau bisa memasuki wanita manapun tanpa cinta, heh.. aku merasa bodoh sekali " Hanin sepertinya ingin mencurahkan semua isi hatinya, dia terlalu lelah memendam segalanya sendirian
"Aku amat bahagia hari itu ketika kau mengatakan mencintaiku dan ingin memiliki anak dari ku, kenapa aku harus jadi orang bodoh yang mempercayai omong kosongmu bahkan kau tidak punya hati sama sekali"
"Kau menghamili dua wanita sekaligus, aku harus melewati masa kehamilan ku sendirian, bukan hanya hatiku yang sakit pikiranku jiwaku ragaku semua tidak baik baik saja saat aku memutuskan untuk pergi" Hanin berdialog sendiri seraya menangis tersedu
"Kau tidak tahu itu Tristan dan kau tidak akan pernah tahu karena kau hanya memikirkan harta yang di berikan pada anakmu, jika saja ayah tidak memberikan harta itu pada Kenzo aku yakin sampai kami mati pun kau tidak akan pernah mencari kami" Hanin berbalik memunggunginya dia terisak menutupi wajahnya
Wanita mana yang akan kuat jika di perlakukan seperti Hanin, meskipun dia mencoba kuat namun tetap saja dia wanita lemah dan rapuh. dia bisa saja bersikap keras namun itu hanya untuk menutupi kelemahannya
Di kala Hanin terisak dengan pilu sebuah tangan melingkar di pinggangnya, Tristan sebenarnya tidak benar benar tidur dia hanya ingin tahu apa yang akan di lakukan Hanin ketika dia melihatnya terlelap tak disangka Hanin mengatakan semua itu
Tristan memeluk Hanin menyandarkan keningnya di bahu Hanin, tidak ada pembicaraan Hanin hanya diam dia tidak menolak atau pun menghardik seperti biasanya Hanin masih merasa sesak dia dadanya dia hanya menangis untuk meluapkan segalanya
"Maaf" hanya itu yang terdengar dari mulut Tristan
Hanin tidak menjawab apapun dia masih diam membisu, pelukan itu, permintaan maaf itu selalu Hanin dambakan namun bukannya merasa senang dia malah merasa semakin sesak tangisnya semakin menjadi
Tristan pun tidak mengatakan apa apa lagi dia hanya memeluk Hanin membiarkannya menangis sepuasnya
Apakah setelah ini hubungan mereka akan semakin membaik?
Jangan lupa like komen dan vote ya
__ADS_1