kesalahan satu malam

kesalahan satu malam
Kecurigaan Bayu


__ADS_3

Setelah kepergian Bayu dan ayahnya Vera kini tinggal di rumah Iriana namun sikapnya berubah setelah kepergian anak dan suaminya, pekerja di rumahnya dia liburkan dan semua pekerjaan rumah Vera yang mengambil alih


Vera tidak banyak bicara dia mengerjakan semuanya meskipun dia lelah, Vera juga selalu salah di mata Iriana semua pekerjaannya dianggap tidak becus Vera hanya bisa bersabar tanpa mengadu pada siapapun


"Ibu ini tehnya, aku rasa gulanya sudah pas" ucap Vera kembali memberikan teh untuk yang ke sekian kalinya


"Simpan saja disitu dan pergilah aku muak melihatmu" Vera berjalan lesu menuju kamarnya


Di dalam kamar Vera memijat kakinya sendiri yang terasa pegal, Vera juga berdialog sendiri seolah sedang bicara dengan anaknya


"Sayang kita harus kuat untuk papa, jangan sampai buat papa sedih dan khawatir "


"Kelak tumbuhlah seperti papamu yang lemah lembut, penyayang, bertanggung jawab, dan punya sifat yang baik jangan seperti mama " lirih Vera


Handphonenya berdering Vera meraihnya dari nakas dan menjawab telepon dari suaminya, Vera selalu tersenyum saat suaminya melakukan panggilan video


"Hai.. " Vera melambai dengan senyum manisnya


"Hai sayang.. sudah makan? " tanya Bayu


"Sudah, ibu membuatkan banyak makanan juga cemilan" Vera berbohong menyembunyikan sikap mertuanya


"Syukurlah.. makan yang banyak jangan sampai sakit"


"Iya.. kamu juga jangan sampai sakit, cepat pulang aku merindukanmu"


"Aku akan cepat selesaikan semuanya, kenapa wajahmu pucat? apa kau kelelahan? "


"Tidak... aku terus berbaring tidak terkena sinar matahari mungkin aku harus berjemur sebentar"


"Lakukan sedikit olahraga ringan seperti berjalan di pagi hari jangan terlalu banyak tidur"


"Iya sayang"


"Aku tutup teleponnya nanti aku telepon lagi"


"Iya... cepat pulang "


"Pastikan kau baik baik saja saat aku pulang... "


"Hhmm.. I love you"


"I love you to.. " Bayu menutup panggilannya


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Tristan sedang tidur di sofa tiba tiba dia merasa ada yang bergerak di kakinya, Tristan membuka sedikit matanya ternyata itu adalah Olivia yang sedang mengusap kaki Tristan lalu menyandarkan kepalanya dan memeluk kaki ayah angkatnya itu

__ADS_1


Olivia berjalan meskipun masih sempoyongan dia berpegangan pada tubuh Tristan untuk mencapai kepala Tristan, Olivia menatap sejenak wajahnya lalu berjalan mencium pipi Tristan


"Olivia ternyata disini, sayang jangan ganggu ayah" Suster mengambil Olivia karena takut di marahi oleh Tristan


Setelah mereka pergi Tristan membuka matanya dia merasa iba melihat Olivia yang diam diam menciumnya


"Apa aku keterlaluan pada anak kecil itu? benar kata Hanin anak itu tidak berdosa"


Seketika Tristan terbangun berjalan menuju tempat anak anak bermain, Tristan menghampiri keduanya yang sedang duduk berhadapan sibuk dengan mainannya masing-masing


"Hei... apa yang kau lakukan? " Tristan menjauhkan Kenzo yang memukul kepala Olivia dengan mainan


Suster yang sedang membuat susu terkejut mendengar tangisan Olivia dia segera berlari menghampiri mereka, suster tertegun ketika melihat Tristan mendudukan keduanya di pangkuannya dan membelai kepala Olivia


"Jangan pukul adikmu dia ke sakitan" Kenzo menatap wajah ayahnya begitupun Olivia


Dari tempat persembunyiannya suster mengusap air matanya dia terharu mendengar Tristan mengakui Olivia sebagai adik Kenzo


"Sedang apa kau berdiri disini? " pertanyaan Hanin mengejutkan suster


"Nyonya ada keajaiban hari ini" suster terlihat sangat senang sampai memegang kedua tangan Hanin


"Tuan menyebut Olivia sebagai adik tuan muda Kenzo, lihat Olivia sangat senang di belai oleh tuan" Hanin mengikuti arah pandang suster, senyumnya terbit melihat Tristan bermain bersama kedua bayi yang duduk di pangkuannya


Hanin menghampiri mereka dan duduk di samping Tristan seraya memeluk mereka bersamaan, Tristan mengecup pipi Hanin


"Jadilah ayah untuk Olivia juga, aku ingin keluarga kita hidup tenang dan damai " Jawab Hanin


"Aku akan menganggap Olivia sebagai anakku mulai sekarang"


"Terima kasih.. aku senang" Hanin mencium Kenzo dan Olivia lalu mengecup bibir Tristan bertubi-tubi


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Terimakasih sudah membantuku.. Ayah sudah membicarakan ini dengan orang tua Sashi yang kebetulan adalah rekan bisnisnya" ucap Andrew pada Vio


"Aku senang bisa membantumu, kelak kejadian seperti ini aku harap tidak akan terjadi lagi"


"Vio.. "


"Ya? "


"Kau belum menjawab sesuatu" Vio mengerutkan dahinya mendengar perkataan Andrew


"Aku.. aku mencintaimu" Andrew menatap lekat wajah Vio


"Kenapa? kenapa aku? " tanya Vio

__ADS_1


"Perasaanku yang merasakannya, aku merasa nyaman denganmu, bisakah kau menjawabnya sekarang agar aku tidak menunggu terlalu lama"


"Aku.. aku.. " Vio berdiri lalu pergi begitu saja, raut wajah Andrew berubah murung


Namun raut wajah Andrew kembali bahagia saat mendapatkan pesan dari Vio yang menerima cintanya, Andrew menatap Vio yang juga berbalik menatapnya dari kejauhan lalu kembali melanjutkan langkahnya


Andrew mengejar Vio dan berhasil merangkulnya, Vio pergi hanya karena malu dia lebih memilih menjawabnya melalui pesan


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Sayang, kenapa sepertinya kau sangat lemas? " tanya Bayu pada Vera yang tengah hamil besar


Tujuh bulan kemudian


Vera dan Bayu sudah lama tinggal dengan Iriana penderitaan Vera juga selama ini dia pendam sendiri, Vera selalu terlihat baik baik saja di hadapan suaminya


Iriana selalu memaksanya mengerjakan pekerjaan rumah sementara pelayan hanya di perintahkan untuk masak, pelayan yang merasa tidak tega selalu sembunyi-sembunyi membantu Vera jika Iriana tidak ada di rumah


Malam ini Bayu merasa ada yang aneh dengan Vera yang terlihat lemas, selama ini dia sibuk bekerja dan hanya akan berada di rumah malam hari itu dan tidur lebih awal karena rasa lelahnya


"Sayang.. " Bayu memeluk Vera seraya menciumi lehernya


Vera hanya tersenyum manis menyambut hasrat suaminya di tengah tengah pergulatan panasnya Vera meringis namun masih bisa menahan rasa sakitnya sampai suaminya selesai, Rasa sakitnya semakin hebat sampai dia tidak bisa menahan tangisnya


"Sayang apa yang terjadi? " Bayu bergegas memakaikan Vera baju dan membopongnya ke mobil


Di tengah ke panikan anak dan suaminya melihat menantu mereka kesakitan Iriana terlihat santai saja, Dia bahkan tidak ikut ke rumah sakit dengan alasan tidak enak badan


"Saya sudah katakan sebelumnya, anda harus banyak istirahat ini kedua kalinya anda seperti ini" Vera menundukkan kepalanya


"Jadi sebelumnya istri saya juga pernah mengalami hal seperti ini? " tanya Bayu


"Benar tuan.. nyonya pernah diantar supir taksi dengan kondisi seperti ini, akibat kelelahan dan mengangkat beban berat ini sangat beresiko yang di takutkan janin akan lahir prematur" Bayu menoleh ke arah Vera yang meremas ujung jarinya sendiri


"Apa yang sebaiknya di lakukan dok? "


"Perbanyak istirahat jangan buat pekerjaan berat, makan makanan bergizi karena janin yang di kandung berat badannya jauh di bawah janin biasanya yang berusia tujuh bulan, apa anda sebagai suami tidak memperhatikan? "


"Istri saya selalu bilang dia baik baik saja, dia kenyang, dia selalu sedang tidur jika saya telepon"


"Sebaiknya anda harus lebih memperhatikan istri anda tuan, kondisinya bisa memburuk jika terus seperti ini"


Setelah selesai pemeriksaan Bayu merasa kesal dia kesal dengan dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga istri dan anaknya, Vera tidak menjawab pertanyaan pertanyaan yang di lontarkan Bayu dia hanya menunduk sesekali membuang wajah melirik ke luar jendela


"Sebenarnya apa yang terjadi? " tanya ayah Bayu yang tidak tahu keadaan menantunya


"Gak ada apa apa yah" jawab Vera dengan cepat

__ADS_1


Bayu tidak ingin bicara lagi dia merasa ada yang tidak beres dengan istrinya dan memutuskan untuk memasang kamera pengawas di rumahnya


__ADS_2