
Malam itu Tristan benar benar kacau dia sampai menghabiskan waktu di bar milik Dika, Dika menelpon Yasmine untuk membawa Tristan pergi namun tidak mempan Yasmine malah di marahi gara gara kepergian Hanin
"Kau ini kenapa sangat mementingkan Hanin? apa kau lupa akan dendammu? " teriak Yasmine
"Dia sedang mengandung anakku" bentak Tristan tak kalah keras
"Tapi aku juga hamil Tristan, biarkan dia pergi kita akan memiliki anak kita sendiri"
"Walaupun dia tidak hamil aku tetap menginginkannya aku mencintainya, sangat mencintainya" teriak Tristan di ruangan VIP itu
"Kau melupakan dendammu Tristan, kau bilang tidak akan pernah mencintainya jadi aku mengijinkanmu menikahinya sekarang kenapa harus seperti ini bagaimana nasib anakku Huhuhuu.." Yasmine bersimpuh di kaki Tristan menangis sesegukan
Tristan tidak menanggapinya entah mungkin dia sudah tidur atau pingsan, Dika di buat bingung melihat kejadian ini tidak tau harus bersikap bagaimana dia hanya menjadi penonton saja, tidak menyangka gadis yang di per***a Tristan di barnya mampu memporak porandakan hati seorang Tristan
Dika memilih pergi dari ruang VIP itu dari pada kena imbas atas pertengkaran mereka
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Siang itu Hanin membawa sepiring buah yang sudah di potong dan membawanya ke ruang TV dimana disana sudah ada si bibi pelayan sedang menonton TV, Hanin memang tidak ingin bibi terlalu sopan padanya bahkan menganggapnya nyonya rumah ini
"Sedang menonton apa bi" tanya Hanin yang baru sampai di belakang Bibi
"Maaf non, bukannya yang ada di TV ini nona? " tanya bibi dengan ragu
"Ya.. aku istri orang bi, tapi hidupku tidak seperti istri kebanyakan. aku hanya istri kontrak" lirih Hanin
"Maafkan bibi non, bibi sudah lancang" bibi merasa tidak enak hati melihat wajah sedih Hanin
"Tidak apa bi, beruntung aku bertemu Luis dan membawaku pergi dari suami macam Tristan. bibi bisa menilai sendiri bukan? "
"Iya beruntung nona bisa kabur dari dia walaupun tampan dan kaya bibi juga tidak mau jadi istrinya" jawab bibi
"Ya bibi benar"
"Sebenarnya siapa yang menyebarkan berita ini, ayah, Bayu, Luis atau ahh tidak mungkin anak kecil itu" batinnya menyebut adiknya anak kecil
Hanin pergi ke kamarnya mengambil handphone lalu menelpon Luis, ketika teleponnya tersambung Luis malah bertanya tentang berita itu dan bisa di pastikan bukan dia yang menyebarkan berita itu. Hanin masih ingat dengan nomor Andrew dan langsung menelponnya
"Hallo... siapa? " tanya Andrew
"*Ini kakak"
"Astaga syukurlah kau masih hidup, aku mencarimu hingga ke club tempat kak Vera bekerja" cicitnya
"Apa? kau pergi ketempat seperti itu? dasar anak kurang ajar kau mau aku pulang dan memukulmu*" teriak Hanin membuat Andrew menjauhkan teleponnya dari telinga
__ADS_1
"Aku peduli padamu sampai mencarimu ketempat terlarang, aku juga tidak pergi sendiri temanku menemaniku"
"*Jangan pernah main ketempat seperti itu lagi"
"Aku tidak main, aku mencari seseorang yang kabur membuatku frustasi mencarinya"
"Ohh adikku kecilku yang manis rupanya mengkhawatirkan aku"
"Hentikan omong kosongmu Menggelikan, bagaimana berita pagi ini? " tanya Andrew
"Apa kau yang menyebarkannya? " pekik Hanin
"Tentu saja, aku membalaskan denganmu kak harusnya kau mengapresiasi kerja keras ku" ucapnya dengan bangga
"Hah kau mempersulitku bocah tengil aku tidak akan bebas pergi kemana pun"
"Kau tinggal menyamar, ohh ya dimana sekarang kau tinggal? "
"Rahasia, yang penting aku sekarang dalam keadaan baik dan sehat"
"Baiklah dimanapun kau berada jaga dirimu *dan keponakanku, jangan lupa selalu memberikan kabar padaku"
"Baiklah, kau juga baik baik dan jangan main ke sembarangan tempat"
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝*...
Tristan baru saja membuka matanya dia memijat kepalanya yang terasa berdenyut, samar samar dia melihat seseorang di sampingnya dan memeluknya. tanpa sadar dia segera bangun dan menangkup El wajah itu
"Hanin" Tristan menangkup wajahnya dengan pandangan tidak jelas
"Kau masih memikirkan wanita itu setelah kejadian semalam" Tristan segera membuka matanya lebar lebar melihat siapa yang ada di bawahnya
"Ya.. Yasmine"
"Kenapa kau masih memikirkannya? apa semalam saat kita lakukannya kau mengira aku wanita itu? " ucap Yasmine
Tristan mengedarkan pandangannya lalu membuka selimut yang menutupi mereka, dia berada di apartemen nya dan terlihat banyak tanda merah di tubuh Yasmine dan juga dirinya, tanpa bicara Tristan segera turun dan memakai bajunya kembali lalu pergi
Baru saja membuka pintu satu pukulan mendarat di wajah Tristan hingga tersungkur, dia mendongak melihat wajah ayahnya yang sudah memerah menahan amarahnya dan memukulnya berkali kali
"Dasar anak tidak tahu diri, kau hanya membuat malu keluarga, aku menyesal mempunyai anak sepertimu kenapa kau tidak pergi ke neraka saja" Teriaknya sambil terus memukul
"Apa apaan ini? " tanya Tristan memegangi wajahnya
"Kau tidak melihat berita pagi ini? aku malu sangat malu mempunyai anak sepertimu"
__ADS_1
Mendengar keributan Yasmine keluar dari kamar hanya di lilit selimut, melihat itu ayah Tristan semakin meradang
"Dan kau j*l*ng tidak tahu malu bawa anak sialan ini bersamamu, aku tidak akan memberikan pekerjaan apapun padanya kau yang sekarang harus menjaganya" ucap Janu
"Kalau aku tidak pandang bulu maka kau akan aku habisi lebih dulu" tunjuk Janu pada Yasmine lalu pergi membanting pintu
"Arrrggghhh.... hancur semuanya hancur" Tristan kini benar benar berada di titik terendahnya
"Tristan tenanglah masih ada aku" ucap Yasmine menenangkan
Setelah ini sepertinya Tristan akan bergantung pada Yasmine sebelum dia memiliki pekerjaan baru, karena jika ayahnya sudah bicara maka keputusan itu tidak bisa di ganggu gugat
"Aku bergantung padamu sekarang, jangan hanya kau yang selalu menghabiskan uangku dulu" ucap Tristan
"Sial, kenapa semua bisa seperti ini" batin Yasmine dia merutuki dirinya sendiri sekarang malah tidak bisa menikmati harta Tristan
Sementara di dua Mansion yaitu milik kakek dan Janu semua televisi di matikan dan tidak boleh memberi akses handphone pada Ressa dan kakek semua orang menutup rapat berita ini pada dua orang tersebut demi kesehatan mereka berdua
"Bay apa kau tau dimana hanin? " tanya mamanya
"Sekarang tidak, sebulan yang lalu Hanin tinggal di apartemenku tapi Tristan membawanya lagi secara paksa" jawab Bayu
"Lalu dimana dia? bagaimana keadaannya mama jadi kasihan" lirihnya
"Aku tidak tahu, tanya adiknya juga sama bahkan dia juga sedang mencari cari keberadaan Hanin"
"Tuhan lindungi anak itu, mama kasihan mendengar cerita hidupnya dari pamanmu"
"Dia wanita yang tangguh ma percayalah dia akan baik baik saja dengan orang baik di sekelilingnya"
"Semoga saja, jika kakak tidak menikahkannya dengan Tristan rasanya ingin sekali mama menikahkannya denganmu" ucapnya berandai-andai
"Ya.. aku juga berfikir begitu, bagaimana bisa Tristan menyia-nyiakan wanita sebaik Hanin demi wanita ular itu"
"Mama juga tidak habis pikir"
"Aku akan mencari bukti tentang kebusukan wanita itu, dan saat semua terbongkar Tristan akan menjadi pria yang sangat frustasi merutuki dirinya sendiri"
"Jangan buat masalah dengan Tristan" mama memperingati
"Justru aku ingin mengeluarkannya dari jerat wanita ular itu"
"Terserah kau saja tapi jangan sampai membahayakanmu"
"Tentu saja mama jangan khawatir"
__ADS_1