
Kaki jenjang dengan celana jeans hitam menggantung semata kaki melekat sempurna dengan atasan blouse lengan pendek berwarna cokelat membalut sempurna di tubuh Amelia.
Ketukan berirama tercipta ketika tumit kaki berpijak menyentuh lantai suara itu berasal dari Amelia yang baru saja turun dari apartemen Bastian. Langit senja menghampiri Amelia saat ia keluar dan berdiri didepan pencakar langit itu.
Tidak lama mobil Fortuner putih menghampiri Amelia, "LIAaaa!!!" Teriak Debi saat kaca mobilnya di turunkan.
Amelia langsung membuka pintu mobil itu dan duduk di samping Debi.
"Lia kamu pas kemarin malam ko pulang nggak bilang-bilang?" Ucap Debi saat mobilnya melaju.
Amelia yang mendengar itu menarik napas dengan berat. Ingatan malam kelam itu berputar kembali di kepalanya. Gara-gara malam panas itu ia harus menikah dengan orang yang ia tidak cintai dan harus merelakan kekasihnya yang sudah menemaninya satu tahun belakangan ini.
"Sebenarnya kamu dapat ruang VIP di club malam itu dari mana, sih?" Ucap Amelia menggebu-gebu.
Debi terdiam mengingat kembali kejadian waktu itu sebelum menceritakannya, "Kalo boleh jujur aku juga nggak kenal siapa dia. Aku sama cowok aku lagi belanja alat-alat buat party terus ada orang di sebelahku lagi nelpon dan nggak sengaja denger percakapan mereka 'Kalau nggak jadi aku kasih orang aja tempatnya dari pada sayang' katanya gitu. Terus orang itu nawarin aku deh tempat VIP itu. Aku yang tahu tempat itu bagus sayang untuk disia-siakan. Mangkanya aku terima lagi pula orangnya baik, ko. Masih muda pula, genteng lagi. Itu orangnya yang kasih minuman ke kamu," ucapnya setelah mengingat kejadian waktu itu.
"Sumpah cowok itu udah ngasih aku obat perangsang yang membuat aku melakukan hal yang nggak seharusnya aku lakukan. Dan kamu tahu, aku harus putus dengan Abian, karena dia nggak terima aku udah nggak virgin lagi. Belum sampai disitu aja kesialan yang harus aku tanggung. Aku harus nikah sama laki-laki yang aku nggak cintai," Debi yang mendengar itu kaget dibuatnya dan melirik Amelia.
__ADS_1
"Sumpah Lia. Aku nggak tahu," ucapnya merasa bersalah. "Terus Papah kamu gimana?" Tanyanya lagi.
"Udah pasti marah besar. Udahlah jangan dibahas lagi." Debi yang mendengar itu mengangguk dan terus melajukan kendaraannya. Ia hanya bisa menghembuskan napasnya pelan. Debi tahu bagaimana posesif Papanya Amelia itu.
Tidak lama mobil itu terparkir di pusat perbelanjaan di mana Amelia akan membeli perlengkapan melukisnya.
Saat sudah didalam Amelia langsung melangkah menuju tempat yang ia tuju dan mengambil beberapa perlengkapan melukisnya saat mereka sudah sampai di toko yang menjual alat seni, "Kamu benar mau beli ginian bukannya nggak boleh, ya?" Ucap Debi.
Belum sempat Amelia menjawab ponselnya berdering ia pun mengambil dan melihatnya siapa yang menelepon.
"Kenapa, Pah?"
"Pulang sekarang! Sudah Papa bilang untuk tidak keluar," Ucap Randi lagi.
Amelia bisa melihat ada orang yang biasa mengawasinya pada akhirnya ia hanya bisa menghembuskan napasnya dengan berat. Ia kira setelah menikah Papanya itu tidak akan menyuruh orang untuk mengikutinya lagi tapi ternyata tidak.
"Ayolah, Pah. Jangan seperti ini, Amelia sudah besar, jangan menyuruh orang untuk mengikuti Amelia. Mereka tuh, sudah seperti penguntit. Oke, Amelia akan pulang dan tidak akan membeli ini lagi,"
__ADS_1
Amelia hanya bisa pasrah dengan keadaan ini yang entah kapan ia bisa bebas seperti anak lainnya. Kenapa Papanya sampai segitunya menjaganya? Toh, kalau sudah bernasib buruk, semuanya pasti akan terjadi. Contohnya seperti malam itu. Amelia juga sudah lelah untuk berdebat dengan Papanya itu karena ia tahu semua akan percuma.
"Biar Bastian yang akan menjemputmu." Sambungan telepon langsung terputus begitu saja.
Amelia menaruh ponselnya kembali kedalam tas selempang yang ia kenakan. Ia menatap sahabatnya dengan pandangan nanar, "Kita pulang!" Ucapnya lirih. Debi yang mendengar itu hanya bisa menepuk-nepuk pundak Amelia tanpa banyak bertanya.
Akhirnya dua wanita cantik itu keluar dari pusat perbelanjaan dan menunggu jemputan.
Mercedes-AMG GT berwarna merah cabe menghampiri Amelia yang sejak tadi menunggu kedatangan mobil tersebut. Bastian menurunkan kaca mobilnya, "Masuk!" Ucapnya singkat tanpa basa-basi.
Amelia yang melihat itu langsung menoleh menatap Debi, "Aku pulang, ya. Dan terimakasih," ucapannya tidak bersemangat.
Debi hanya mengangguk merasa iba dengan nasib sahabatnya itu yang memiliki segalanya tapi tidak memiliki kebebasan untuk menikmatinya.
Akhirnya Mercedes merah itu melaju meninggalkan Debi yang masih berdiri di depan pusat perbelanjaan itu.
Di dalam mobil Keheningan terjadi hanya ada suara dari radio yang Bastian steel memperdengarkan musik populer yang sedang hits saat ini. 'Bagaimana kalau aku tidak baik-baik saja? T'rus mengingatmu, memikirkanmu, semua tentang dirimu. Bagaimana kalau aku tidak baik-baik saja? Tak seperti kamu, yang mampu tanpaku, tak seperti kamu, bagaimana.' Amelia yang mendengar lirik lagu itu langsung meneteskan air matanya, dan lama-lama menjadi isak tangisnya yang kencang.
__ADS_1
Bastian yang melihat itu hanya diam tidak ingin bertanya dan terus melajukan kendaraannya di tengah-tengah keramaian jalan ibu kota.