
"Anakku" teriak Hanin sambil terduduk
Dia merasakan perutnya sakit luar biasa ketika dia mendadak duduk, dia menatap sekeliling menebak diamana dia berada sekarang
"Akkhh.. dimana anakku" Hanin turun meraih botol infus mulai berjalan keluar kamar
"Ini dimana? " gumamnya
"Anakku.. dimana anakku.. " teriak Hanin seperti orang gila
"Hanin.. apa yang kau lakukan disini, pegang dulu" Tristan menyerahkan bayinya pada perawat lalu bergegas naik menghampiri Hanin
"Bayiku.. berikan bayiku padaku" teriaknya semakin menggila
"Tenang Hanin tenang.. tidak ada yang akan mengambil anakmu" ucap Tristan lembut
"Kembalikan anakku atau.. "
Prang
Hanin memecahkan vas bunga dan mengancam Tristan dengan mengayunkan pecahan vas tersebut, Tristan berusaha menenangkan Hanin yang tampak kacau bahkan perutnya mengeluarkan darah. baju bagian perutnya sudah basah dengan darah
"Tenang..Hanin tenang, kau salah paham"
Perhatian Hanin teralihkan saat mendengar tangisan bayi, Tristan memanfaatkan hal itu dia langsung membuang pecahan vas bunga dari tangan Hanin kemudian menangkap tubuhnya dan memasukannya ke dalam kamar
Hanin tentu saja berontak dia melupakan rasa sakitnya membuat luka jahit di perutnya kembali mengeluarkannya darah
"Tenang.. tenang.. anakmu aman" Tristan meletakkan Hanin di ranjang
Suster datang membawa bayi dan menyerahkannya pada Hanin, tangis Hanin semakin menjadi saat dia menggendong buah hatinya. Tristan duduk di samping Hanin namun wanita yang baru saja menjadi ibu itu langsung beringsut memeluk anaknya posesif
"Hanin dengarkan aku.. aku sudah putuskan untuk melanjutkan pernikahan kita, aku tidak akan menyakitimu terutama anak kita"
"Tidak.. kau pembohong, keluar.. aku bilang keluaaar" teriak Hanin semakin mempererat pelukan pada bayinya
"Hanin kau akan menyakiti putra kita" Tristan memperingatkan
"Tuan sebaiknya keluar.. akan berakibat buruk jika nyonya terganggu, saya takut nyonya terkena baby blues"
"Baby blues? "
"Baby blues syndrome atau sindrom baby blues adalah perubahan suasana hati setelah kelahiran yang bisa membuat ibu merasa terharu, cemas, hingga mudah tersinggung. Sindrom blues disebut juga sebagai postpartum blues yang biasanya dialami oleh sekitar 80 persen atau 4-5 ibu baru. Kondisi ini dapat membuat ibu jadi tidak sabaran, mudah marah, khawatir dengan masalah ibu menyusui, hingga khawatir dengan kesehatan bayi."
"Apa itu bisa berakibat buruk? " tanya Tristan
"Tentu tuan, jika nyonya semakin tertekan masalahnya akan semakin serius" jawab suster
Tristan menatap Hanin yang sedang berbicara dengan bayinya, Hanin tampak menangis sambil bicara pada bayinya yang masih terpejam. lamunannya buyar saat suster menyuruh Tristan keluar
__ADS_1
"Nyonya bayinya butuh asi" Suster duduk di samping Hanin berusaha mendekatinya
"Apa bisa di berikan langsung? " tanya Hanin
"Silahkan, itu lebih bagus, emmhh.. siapa nama putra anda? " suster memulai percakapan untuk lebih dekat dengan Hanin
Hanin tampak berpikir sejenak "Kenzo maverick" ucapnya lalu tersenyum sambil menyusui anaknya
"Nama yang indah untuk putra setampan anak anda, perkenalkan saya suster Riska saya akan menjaga anda jadi anda tidak perlu takut anak anda diambil orang lain" ucap suster
"Apa kamu bohong? " tanya Hanin
"Tidak nyonya, saya di utus oleh Tuan Janu secara langsung dan anda tau? di sekeliling rumah ini sudah di siapkan penjaga di setiap sudut orang jahat tidak akan masuk bahkan tuan Tristan tidak akan bisa melakukan apapun pada Anda dan tuan muda Kenzo"
"Benarkah? "
"Ya.. jadi nyonya tidak usah khawatir" Allea mengangguk mempercayai orang kepercayaan janu
.
.
"Bagaimana? " tanya Tristan pada suster yang baru saja keluar
"Nyonya sedang memberi asi tuan, dia lebih tenang sekarang, jangan mengganggunya dulu atau saya akan melaporkan hal ini pada tuan Janu" ucap suster lalu pergi
"Jadi bagaimana aku bisa mulai mendekati Hanin jika aku saja di larang masuk" Tristan mencari ide agar dia bisa masuk tanpa Hanin tolak
Malam hari suster hendak tidur di kamar Hanin untuk membantu memudahkannya menggendong bayi karena masih ada infus yang terpasang di tangannya, namun Tristan melarangnya karena dia akan ikut tidur disana
Sempat terjadi perdebatan antara dirinya dan suster namun akhirnya mereka berdua tidur di kamar Hanin, Tristan tidur di sebelah bayi sementara suster tidur di sofa
Tidur Hanin terganggu karena suara tangisan bayinya, Hanin memanggil manggil suster Riska namun sepertinya dia tidak mendengar dia terlalu pulas akhirnya Tristan terbangun
"Kenapa sayang? mau minum ya" Tristan menggendong bayinya
"Kembalikan anakku" ucap Hanin cepat dengan tatapan tajam
"Aku hanya membantumu untuk mengambilnya, kau kesusahan karena selang infus ini" ucap Tristan seraya menyerahkan bayinya
"Pergi sana aku mau memberinya asi" ucap Hanin
"Nanti kau kesusahan lagi sepertinya suster Riska terlalu lelah sampai tidurnya sepulas itu"
"Kalau begitu berbalik" titah Hanin
"Kenapa? bukannya aku sudah tau semua milikmu? " tanya Tristan
"Berbalik atau aku tidak akan memberinya asi" ancam Hanin
__ADS_1
Tristan menuruti keinginan Hanin dia berbalik membelakangi Hanin, namun entah kesialan atau keberuntungan tepat di hadapannya terdapat lemari dengan cermin membuat Tristan dengan jelas dapat melihat bukit kembar yang semakin mengembang sedang di sedot putranya
Jakunnya naik turun menelan salivanya dengan kasar, dengan tidak tau situasi juniornya malah bangkit di saat yang tidak tepat hanya karena melihat Hanin menyusui
Hanin bergantian memberi bayinya asi sementara Tristan hanya melihatnya dari cermin merasa tersiksa dengan sesaknya sang junior yang terjepit di dalam celana
"Oohh.. Tuhan" gumamnya seraya memijat keningnya
"Bisa tolong tidurkan" ucap Hanin dingin
"Tentu" Tristan mengambil bayinya dari gendongan Hanin dan sialnya lagi tangannya tidak sengaja menyenggol bukit kembar Hanin
"Ya tuhan" mata Tristan terpejam sejenak keningnya sudah berkeringat
Hanin kembali berbaring memeluk memegangi tangan bayinya seolah takut bayinya hilang, Tristan memeluk bayinya dan itu membuat Hanin marah
"Jauhkan tanganmu dari anakku" ketus Hanin
"Jangan keterlaluan Hanin dia juga anakku" jawab Tristan
"Anakku tidak mempunyai ayah, ayahnya sudah lama mati, lepaskan tanganmu darinya" hati Tristan mencelos mendengar perkataan Hanin
Tristan tidur membelakangi Hanin dan bayinya dia tidak bisa bicara apapun, dia menerima semua yang di katakan Hanin karena memang dia yang bersalah dalam hal ini
"Semoga kau bisa menerima permintaan maafku secepatnya Hanin, aku tulus aku benar-benar menyayangi kalian" ucap Tristan tanpa berbalik
"Sulit merekatkan serpihan gelas Tristan, karena bukan hanya pecah namun remuk berkeping-keping" jawab Hanin
"Maaf aku terlalu banyak menyakitimu selama ini"
"Baguslah kalau kau sadar, aku pikir manusia sepertimu tidak akan sadar dengan kesalahannya sendiri" hardik Hanin
"Setiap orang bisa berubah Hanin, bisa jadi perubahannya melebihi orang yang selama ini kau anggap dewa"
"Aku tidak pernah mendewakan siapapun, bagiku kalian para pria sama saja"
"Aku mungkin pernah membuat kesalahan tapi apa aku tidak pantas mendapatkan pengampunan? " tanya Tristan
"Aku akan memaafkanmu setelah itu mari kita bercerai, kau ambil hak kenzo yang di berikan ayah dan aku tidak akan meminta apapun darimu aku hanya akan membawa kenzoku pergi"
"Tidak Hanin.. sampai mati pun aku tidak akan membiarkan kalian pergi lagi dari hidupku"
"Baiklah.. mungkin aku tidak akan pernah bisa lari darimu maka kita hidup masing masing saja, kau boleh melakukan apapun sesukamu, aku akan tetap disini tapi jangan ikut campur tentang kehidupanku"
"Aku ingin menjalani pernikahan yang sesungguhnya Hanin" ucap Tristan seraya berbalik menatap Hanin
"Tapi aku tidak" jawabnya tegas
Tristan tidak menjawab dia menatap lekat wajah Hanin membuatnya merasa malu, Hanin tidur terlentang karena enggan menatap mata Tristan
__ADS_1