
Nada dering ponsel menggema mengganggu seseorang yang sedang asik nonton bola dengan sebatang rokok yang ia apit di kedua jemari nya.
Bastian langsung mematikan sebatang rokok itu dan mengambil ponselnya yang terus berdering dilihatnya ternyata orang yang membuat hidupnya menjadi jungkir baling dalam semalam.
"Ia halo. Ada apa, ya?" Tanyanya saat panggilan sudah diangkat.
Suara bas dari laki-laki paruh baya itu langsung terdengar, "Temui saya di Restoran XX sekarang juga. Jangan beritahu Amelia kemana kau pergi dan jangan biarkan dia keluar rumah," Bastian yang mendengar itu hanya bisa menarik napas panjang sebelum menjawabnya.
"Baik, saya akan kesana sekarang juga," ucapnya yang langsung dimatikan begitu saja oleh Randi Saguna.
Bastian hanya diam sambil menatap ponselnya yang sudah mati. Ada apa lagi kali ini, rasanya ia menyesal telah menyetujui tentang pernikahan ini.
Bastian beranjak dari tempatnya duduk dan melangkahkan kakinya menuju kamar dimana Amelia sedang berada. Bastian tidak habis pikir sebenarnya wanita itu bisa apa? Di suruh cuci piring bukannya bersih malah habis piringnya pada pecah dan disuruh merapikan pakaian sampai sekarang belum juga selesai. Sebenarnya dia wanita jenis macam apa pikir Bastian masa melakukan hal-hal yang sepele seperti itu saja dia tidak bisa.
Hanya memerlukan beberapa langkah kakinya sampai didepan kamar. Ia bisa melihat Amelia yang sedang duduk di bawah kasur sambil memegang ponselnya, "Aku ingin keluar kau jangan kemana-mana! Jika kau melanggar aku tidak mau tahu jika terjadi sesuatu padamu apapun itu. Mengerti?"
Suara bariton itu membuat Amalia kaget dibuatnya hingga ia menjatuhkan ponselnya dan menatap Bastian yang sedang berdiri didepan pintu. Amelia hanya bisa mengangguk kecil tanpa sepatah katapun.
__ADS_1
Bastian yang melihat itu langsung berlalu pergi menuju tempat dimana Randi Saguna mengajaknya bertemu.
Sebenarnya ada apa laki-laki tua itu ingin mengajaknya bertemu? Apa belum cukup ia membuat hidupnya jadi kacau balau seperti ini?
Merah cabe itu melaju di tengah remang-remang lampu jalan yang terpasang di sepanjang jalan. Mata hazelnya itu fokus menatap jalan yang masih terlihat padat oleh kendaraan. Setelah hampir satu jam kurang mobil Mercedes terparkir di depan restoran Jepang.
Bastian mengedarkan pandangannya saat sudah didalam, "Apa anda Bastian?" Tanya seorang pelayan restoran. Bastian hanya mengangguk, "Anda sudah ditunggu mari ikut saya," ucap pelayan itu lagi dan langsung berlalu menunjukan arah jalan dimana Randi Saguna berada.
Pelayan itu membawanya ke ruangan private room dan membukakan pintu.
Bastian masuk kedalam dimana Randi Saguna dan dua anak buahnya yang berdiri sudah menyambutnya didalam.
Randi yang mendengar masih terdiam belum menjawab pertanyaan dari Bastian dan mata cokelat itu menatap orang yang ada di hadapannya dengan sangat intens.
Bastian yang melihat itu juga membalas tatapan matanya dalam diam.
"Bastian Aditya sebenarnya siapa kau?" Ucapnya dingin setelah lama memilih diam.
__ADS_1
Bastian hanya diam tidak bergeming dan masih menatap orang yang ada di hadapannya saat ini.
"Seorang fotografer tapi mempunyai sebuah mobil yang sangat mewah Mercedes-AMG GT dengan harga yang terbilang fantastis yang tidak semua orang bisa milik," ucapnya lagi sambil menuangkan teh hijau kedalam gelasnya.
Bastian masih menutup rapat mulutnya belum sepatah katapun ia ucapkan.
Randi Saguna meminum teh itu dengan iris mata yang menatap Bastian. "Apa kau berteman baik dengan Troy?" Tanyanya lagi setelah menaruh gelas kosong itu kembali.
Bastian yang mendengar itu tersenyum, "Katakan saja, tidak perlu basa-basi seperti itu. Kau sudah tahu siapa aku," ucapnya dingin.
Randi Saguna mengangguk, "Killer hunter. Waaah … julukan yang bagus," ucapnya sambil terkekeh kecil setelah itu ia menghentikan tawanya, "Sungguh aku tertipu dengan wajah tampan mu itu," ucapnya lagi dengan menaikan kedua tangannya di meja.
"Kalau kau sudah tahu apa pekerjaan asliku bawa pulang anakmu itu agar menjauh dariku. Lagi pula itu semua kesalahan anakmu itu yang tidak bisa apa-apa, " Randi Saguna yang mendengar itu mengeraskan rahangnya menahan kesal karena anak kesayangan dikatain seperti itu tapi sedetik kemudian ia memberikan seulas senyuman.
"Aku ingin memberikanmu kesepakatan yang bagus. Apa kau mau? Aku bisa memberikanmu dua buah mobil yang sama seperti yang kau pakai saat ini, " ucap Randi Saguna dengan pandangan mata menatap intens orang yang ada di hadapannya saat ini. Mana mungkin Bastian menolak dengan tawaran yang menggiurkan itu. Pikir Randi Saguna.
Bastian masih bergeming dengan apa yang baru saja ia dengar saat ini.
__ADS_1
"Tiga buah." Ucapnya lagi.