
Hanin dan Andrew sedang menonton televisi sementara Kenzo sedang berjemur bersama suster, Andrew meraih remote dan memindahkan acara televisinya
"Kabar terbaru mengenai artis sekaligus model Yasmine yang selama ini tidak pernah wara wiri di televisi lagi ternyata sedang mempersiapkan kelahiran anak pertamanya" melihat itu Andrew mematikan televisinya namun Hanin kembali menyalakan
"Ayah dari sang bayi sudah 4 bulan tidak pernah menemuinya hal itu dikatakan sendiri oleh Yasmine pada wawancara di sebuah rumah sakit"
"Ya.. Tristan tidak pernah menemuiku lagi dia berpikir untuk mengejar istrinya deni harta warisan dan meninggalkanku karena ancaman akan di coret dari daftar ahli waris, tapi aku tidak berkecil hati aku akan membesarkan anak ini seorang diri" ucap Yasmine dengan raut wajah sedih
"Tristan sangat mencintaiku tapi harta itu lebih penting karena untuk membesarkan anak ini butuh biaya besar, meskipun tidak menikah tapi Tristan akan menanggung seluruh hidupku itu katanya"
"Dimana Kenzo" tanya Tristan saat baru saja turun dari kamar
Andrew segera berlari menuju halaman belakang dan mengambil Kenzo, saat Tristan hendak menyentuh Kenzo yang di gendongnya Andrew menjauhkannya
"Jauhkan tangan kotormu dari keponakanku" ucap Andrew
"Hei anak kecil.. itu anakku"
"Orang sepertimu tidak pantas mendapat gelar seorang ayah, kau akan mendapatkan anak dari Yasmine mu yang berharga itu jadi jangan menganggap Kenzo adalah putra mu" pungkas Andrew
"Hei.. ada apa ini?"
"Sudahlah drew jangan terlalu memikirkan masalah orang dewasa, kewajibanmu hanya belajar" ucap Hanin sambil mengambil Kenzo dari Andrew
"Aku tahu, aku hanya tidak suka ada seorang pria yang menyakitimu" jawab Andrew
"Aku tahu Andrew, aku telah membuat Hanin terluka tapi kali ini aku akan membahagiakan Hanin aku janji"
"Membahagiakan dengan membelenggu kakakku demi harta warisan untuk menghidupi kekasih dan anak haram mu? benar benar kebahagiaan yang sulit di Terima" sindir Andrew
"Apa maksudmu? " tanya Tristan namun Andrew malah pergi ke kamarnya begitupun Hanin
__ADS_1
Tristan mengikuti Hanin ke kamar dan meraih handphonenya lalu membuka media sosial banyak berita tentang Yasmine yang mengatakan hal macam macam
"Hanin.. aku tidak.. "
"Sudahlah Tristan, apapun yang kau lakukan tidak ada hubungannya denganku.. setelah ayah memberikan hartanya padamu aku akan pergi, aku tidak akan meminta sepeserpun aku hanya ingin kebebasan" ucap Hanin
Tristan berlutut di hadapan Hanin yang duduk di tepi ranjang, dengan paksa dia menggenggam tangan Hanin meskipun Hanin berusaha melepaskannya
"Aku bersumpah Hanin aku tidak pernah mengatakan hal itu, Aku hanya mengatakan akan bertanggung jawab pada anaknya saja jika anak itu memang anakku" ucap Tristan
"Kenapa kau meragukannya? " tanya Hanin
"Aku selalu tidur dengannya menggunakan pengaman aku tidak tahu bagaimana hal itu bisa terjadi, aku tahu aku salah padamu tapi aku berjanji akan memperbaikinya"
"Tristan.. entah kau bersungguh-sungguh atau tidak, di satu sisi aku merasa kau tulus di sisi lain aku juga takut kau kembali mempermainkan aku" mendengar itu Tristan beralih duduk di samping Hanin
"Aku tidak butuh harta itu sekarang, aku akan alihkan semuanya atas namamu jika suatu saat aku melakukan kesalahan lagi aku akan pergi tanpa membawa apapun.. percaya padaku Hanin"
"Jika aku percaya padamu apa kau juga akan percaya padaku? apa kau masih akan menuduhku sebagai penyebab kematian Edward? " Tristan menatap wajah Hanin
"Kita tidak bisa membuka lembaran baru sebelum lembaran yang lama selesai, akan terjadi kesalahan kembali jika kita tidak mengusutnya secara tuntas" ucap Hanin
"Kau tahu Hanin mengapa Edward mengakhiri hidupnya? " tanya Tristan, Hanin hanya menggeleng
"Malam itu kau mengundangnya makan malam dan Edward mengajak ibuku untuk memperkenalkanmu padanya, malam itu ibuku melihat Edward sedang berdebat dengan seorang wanita tapi wanita itu menggunakan pakaian tertutup juga masker"
"Entah apa yang mereka ributkan sampai terjadi saling tarik menarik dan akhirnya Edward jatuh dari gedung atap restauran itu, dan anehnya si pemilik restauran langsung menutup restaurannya dan tidak bisa di temukan" lanjut Tristan
"Aku tidak pernah menemui Edward sebelum dia menghilang" sergah Hanin
"Lantas siapa yang bertengkar dengannya malam itu? "
__ADS_1
"Kau menuduhku Tristan? malam itu aku bekerja sepulang sekolah hingga larut malam, sebelum Edward menghilang handphoneku saja hilang aku tidak bisa menghubunginya, jadi bagaimana bisa aku bertemu dengan Edward saat itu? "
"Aku tidak menuduhmu, ibuku juga sempat bilang tubuhmu lebih pendek dari wanita itu.. sebentar" Tristan mengambil sesuatu di dalam tas yang selalu dia bawa kemanapun
"Ini handphoneku.. bagaimana bisa kau mendapatkannya? " Hanin mengambil handphone lamanya dari tangan Tristan
Hanin menghidupkan handphonenya masih ada pesan pesan yang dahulu pernah dia kirim kepada teman temannya serta pesannya dengan Edward, air mata Hanin tak terbendung saat melihat foto fotonya bersama Edward mengingatkannya pada masa lalu mereka
Sampai Hanin melihat pesannya dengan Luis yang sangat ganjil, pasalnya dia tidak pernah berbalas pesan dengan Luis karena dia hanya mencintai Edward
"Tunggu.. ini.. pesan ini aku tidak mengirimnya, aku bersama Luis setelah Edward lama menghilang.. ini rekayasa seseorang" ucap Hanin
"Apa kau yakin? "
"Aku yakin.. penulisannya saja berbeda, apa kau tidak melihatnya dengan seksama? " tanya Hanin
"Seseorang telah mempermainkan Edward aku yakin, apa pesan yang sudah di hapus bisa di pulihkan kembali? pasti ada pesan yang di hapus disini" lanjut Hanin
"Aku akan mengurus ini, jika benar bukan kau yang melakukan itu aku benar benar sangat bersalah padamu, aku menyimpan dendam pada orang yang salah.. maafkan aku"
"Apa kau menyiksaku selama ini karena kau dendam padaku? " tanya Hanin
"Benar, awalnya aku dendam padamu aku ingin membuatmu menderita namun aku terjebak dalam perangkap ku sendiri.. aku mencintaimu Hanin" Hanin tidak dapat berkata kata lagi
Akankah misteri meninggalnya Edward akan terpecahkan atau dia akan tetap dianggap menjadi penyebab kematian Edward, Apapun itu sepertinya titik terang sudah mulai terlihat
"Aku mohon beri aku kesempatan Hanin, aku akan percaya padamu dan akan mengusut hal ini sampai tuntas" mereka saling menatap satu sama lain, Tristan menunggu jawaban Hanin dengan hati berdebar
"Baiklah satu kesempatan Tristan, jika kau mengecewakanku lagi aku tidak akan segan meninggalkanmu dan tidak akan mempertemukan Kenzo denganmu lagi"
"Terimakasih sayang.. terimakasih" Tristan memeluk Hanin erat
__ADS_1
"Ehem.. jangan terlalu erat aku sesak" Hanin melepaskan pelukan Tristan dengan wajah yang tampak memerah
"Kau malu sayang? kau masih saja menggemaskan" sedetik kemudian Tristan mencium pipi Hanin membuat wajahnya kian memerah