kesalahan satu malam

kesalahan satu malam
Rencana demi rencana


__ADS_3

" Engh" Hanin baru saja terbangun dari pingsannya


Perutnya terasa berat sampai dia membuka mata dia melihat sebuah tangan kekar memeluknya, Hanin menatap lekat lekat wajah Tristan yang ikut tidur di sebelahnya. Hanin menyingkirkan perlahan tangan Tristan dari tubuhnya


"Kau sudah bangun" tanya Tristan saat Hanin turun dari ranjang


"Seperti yang kau lihat orang tidur tidak mungkin berdiri seperti sekarang" ketusnya lalu pergi meninggalkan Tristan


"Hanin maafkan aku" lirih Tristan yang ikut duduk di sofa


"Aku ingin pergi Tristan aku mohon buang egomu sebentar lagi kau akan mempunyai keluarga yang utuh dan sempurna pernikahan yang kau inginkan, pernikahan kita hanyalah sebuah perjanjian" ucap Hanin dengan suara berat


"Kau akan mempunyai anak dari wanita yang kau cintai aku mohon biarkan anak ini pergi bersamaku" lanjutnya dengan putus asa


"Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskanmu" jawab Tristan


"Jika itu tentang dendammu maka kau tinggal bunuh aku sekarang, aku ada di hadapanmu" cetus Hanin


"Aku tidak mungkin membunuh anakku Hanin dia masih ada di perutmu"


"Ya mungkin ini memang anakmu tapi aku sudah tidur bersama laki laki lain, apa kau masih menginginkan anak ini setelah ternodai benih pria lain? " Hanin ingin membuat Tristan merasa jijik padanya


Namun Tristan tidak menjawab dia memilih pergi membuka pintu karena suara ketukan yang terkesan tidak sabaran, baru saja membuka pintu sebuah pukulan melayang di wajah Tristan hingga dia tersungkur masuk ke dalam


"Astaga " pekik Hanin menghampiri keributan


Tristan bangun dan adu tinju diantara mereka tidak terelakkan, Bayu yang baru saja pulang dari kantor berniat menemui Hanin namun apartemennya kosong kue yang di belinya juga masih utuh. sampai saat Bayu menginjak sesuatu yang ternyata kartu pengenal milik Tristan


"Berhenti" teriak Hanin melerai perkelahian mereka


Hanin berhasil menjauhkan mereka berdua dan menghalangi Bayu dengan tubuhnya, Tristan semakin di buat geram Hanin terkesan melindungi Bayu dari dirinya


"Kau melindungi dia? menyingkir dari sana" Tristan menarik tangan Hanin namun dia tidak bergerak


Tristan semakin menarik tangan Hanin dan Bayu tidak tinggal diam dia mengambil tangan Hanin yang di tarik Tristan dan menyembunyikannya di belakang tubuh Bayu


"Berhenti saling melindungi kalian sangat menjijikan" hardik Tristan


"Ini alasannya kenapa aku menyembunyikan Hanin, kau sangat kasar Tristan dia sedang hamil bisakah bersikap lembut padanya? " Bayu baru saja mengeluarkan suara


"Kau menyukainya bukan? apa dia pria yang sering tidur denganmu Hanin itu? " teriak Tristan

__ADS_1


Bayu spontan melirik Hanin di belakangnya sedang mengatupkan tangan seolah meminta maaf, Bayu menghela nafas


" Kalau memang iya kenapa? kau sudah tau maka lepaskan Hanin " ucap Bayu


"Jangan mimpi, pergi sekarang dari sini atau aku akan memanggil polisi" ancam Tristan


" Aku tidak akan pergi tanpa Hanin" mendengar ucapan Bayu Tristan kembali menghadiahkan bogem mentah di wajahnya


"Stop.. pergilah Bayu aku tidak apa apa" pinta Hanin melihat Bayu di hajar terus menerus


"Aku tidak akan meninggalkanmu, kau tidak akan baik baik saja disini"


"Drama sekali" Tristan senyum mengejek


"Pergilah aku akan menyelesaikan urusanku dengannya, terimakasih sudah menjagaku dan memenuhi keinginanku sebulan ini" ucap Hanin


"Tapi... aku... "


" Tidak apa Bayu pergilah aku mohon" melihat Hanin memohon seperti itu membuat Bayu tidak tega


"Aku pergi bukan karena takut aku lakukan ini demi Hanin, jika Hanin terluka aku akan membuat perhitungan denganmu" Ancam Bayu sebelum pergi


"Kau senang mendengar pahlawanmu rela melakukan apapun demi dirimu? sungguh kisah cinta yang menjijikan" Tristan mencengkram rahang Hanin dengan kencang dan menghempaskannya kasar


Sampai tengah malam Tristan tak kunjung kembali, Hanin sampai tertidur dengan keadaan perut kosong karena tidak ada bahan makanan yang dapat di masak, dia hanya memakan satu apel sebelum tidurnya


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Siang itu di sekolah Andrew lebih memilih menyendiri di bawah pohon besar, pikirannya sedang kacau mengingat tentang kakaknya yang menghilang begitu saja tanpa memberi tahu apapun padanya, dia sangat menyesal tidak menyadari sejak awal bahwa rumah tangga kakaknya tidak baik baik saja


"Kak Hanin belum ada kabar? " tanya Vio yang baru saja duduk bersama Delina di sampingnya


Andrew hanya menggeleng dapat mereka lihat wajah sendu Andrew yang sedang memikirkan kakaknya, setelah berita itu beredar teman yang pernah berkunjung ke rumahnya bertanya tentang yang sebenarnya pada Andrew dan dia menceritakan semuanya. beruntung mereka adalah sahabat yang baik dan tidak bicara apapun pada siapapun


"Ingin sekali aku membalas mereka" lirih Andrew


"Aku kira Andrew bukan orang yang pemarah" bisik Delina yang mendapat sikutan dari Vio


"Aku dan Delina akan membantumu" jawab Vio membuat Delina melotot sempurna


"Bagaimana caranya? " tanya Andrew mulai menatap Vio

__ADS_1


Vio mengatakan rencananya yang membuat Delina merasa takut berurusan dengan Tristan berbeda dengan Andrew yang mengangguk angguk merasa setuju dengan rencana Vio


"Kau setuju? " tanya Vio


"Aku setuju besok kita jalankan rencana" jawab Andrew


"Hei apa kalian gila? aku tidak berani kalau sampai ketahuan bisa mati kita" ucap Delina


"Kalau kau tidak mau ya sudah aku tidak akan mau berteman denganmu lagi" Vio mengerucutkan bibirnya


"Kau ini kejam sekali, baiklah aku ikut tapi kalau sampai ketahuan jangan bawa bawa namaku" gerutu Delina


"Dasar tidak setia kawan" cicit Vio


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Pagi pagi sekali Tristan kembali ke apartemen membawa asisten rumah tangga, Tristan masuk ke kamar dia melihat Hanin masih terlelap dan menyingkap selimutnya dengan kasar membuat Hanin tersentak


"Bangun dan makan" ucapnya dingin, dia tahu semalam Hanin tidak makan


Tanpa bicara Hanin mengambil piring yang di bawa Tristan dan melahapnya sampai habis, saat Hanin makan Tristan pergi mandi dan bersiap ke kantor. Tristan keluar hanya menggunakan handuk dan Hanin melihat jelas tanda merah di dada Tristan membuat hatinya kembali sakit


"Jangan coba coba kabur, disini sekarang ada pelayan katakan apapun yang kau inginkan padanya" ucap Tristan sebelum pergi


Hanin tidak menanggapi ucapan Tristan otaknya fokus merencanakan cara agar bisa keluar dari neraka ini, dia begitu putus asa sampai mengacak rambutnya sendiri


"Aku akan pikirkan sambil berendam" ucap Hanin melangkahkan kakinya kekamar mandi


Bukannya memikirkan cara agar dapat kabur Hanin malah memikirkan tanda merah di dada bidang Tristan, Hanin sampai berteriak frustasi otaknya tidak bekerja dengan benar


"Arrrggghhh sial otakku sangat bodoh" teriakannya di dengan pelayan sampai terburu buru masuk ke kamar Hanin


"Nona apa anda baik baik saja? " pelayan itu mengetuk pintu kamar mandi


"Ya tentu, jangan khawatirkan aku" jawab Hanin


"Dia pikir aku akan bunuh diri? " gerutu Hanin


"Bunuh diri? " gumamnya lalu tersenyum mengangguk Anggukan kepalanya


Kira kira apa yang akan di lakukan Hanin agar dapat kabur?

__ADS_1


Like komen dan vote untuk meneruskan membaca


__ADS_2