kesalahan satu malam

kesalahan satu malam
Bab4


__ADS_3

Menurutnya ini adalah Kesalahan satu malam yang ia sesali dalam hidupnya. Mungkin kejadian ini tidak akan ia lupakan begitu saja karena ia ditangkap polisi bukan karena kasus pembunuh yang sering ia lakukan, tapi karena kenikmatan sesaat yang membuat ia harus di gelandang seperti orang pesakitan. Pasti ia akan mendapatkan bullyan dari para sahabatnya bila masalah ini sampai diketahui oleh mereka. Saat ia memasuki ruang kantor yang terlihat sepi hanya ada beberapa orang saja, tatapan mata mereka seperti mencibir atas tindakan yang baru saja Bastian lakukan.


Bastian terlihat masa bodo dengan itu semua. Ia meras itu sesuatu yang lumrah dilakukan jaman sekarang. Tapi sepertinya tidak dengan teman duetnya itu karena Bastian melihatnya terus menangis meski tidak ada isak tangis yang diperdengarkan tapi buliran air mata itu terus terjun bebas membasahi pipinya. Ini semua bukan salahnya, laki-laki mana yang tidak tergoda melihat kemolekan tubuh perempuan dan perempuan itu terlalu nakal dengan memberikan rangsangan yang membuatnya menegang.


Padahal sudah lama ia berpuasa, semenjak kematian sang kekasih ia tidak melakukan penyatuan penuh kenikmatan itu lagi. Selama ini Bastian juga tahan dengan semua godaan yang ada. Ia selalu bisa menghiraukan tubuh gemulai dengan pakaian ketat yang selalu meraba-rabanya bila ada di dalam club malam.


Tapi kenapa malam ini tidak bisa ia tahan?


Apa goda itu terlalu besar atau itu adalah batas titik ketahanan Bastian. sialnya wanita itu masih murni, segelnya saja masih rapat belum pernah ada yang membukanya. Bastian yang mengingat itu hanya bisa menarik napas dengan berat dan untung saja ia selalu menaruh benda-benda penting di dalam bagasi yang sudah dimodifikasi untuk menaruh barang-barang berharganya. Bila tidak, pasti banyak pertanyaan yang dihadiahi oleh mereka.


Bastian sedang duduk di kursi dihadapannya saat ini ada sebuah meja lebar yang terdapat banyaknya dokumen yang tersusun rapi diatas meja itu dan sebuah laptop dengan seseorang yang sedang mengoperasikan nya. Tatapan mata pria itu seperti ingin memakannya hidup-hidup.


"Siapa namamu?" Katanya.

__ADS_1


"Bastian Aditya,"


"Umur?"


Bastian yang mendengar itu langsung menghembuskan napasnya frustasi. Ia langsung mengeluarkan kartu identitasnya diatas meja. Bastian terlalu malas untuk menjawab pertanyaan sepele itu. "Kenapa nggak langsung minta KTP aja kalau ingin tahu identitas saya." Orang yang di balik laptop mendelikkan matanya seperti tidak terima dengan jawaban yang Bastian berikan.


Pria itu langsung mengambil kartu identitas Bastian dan mengetik nya." Pekerjaan?" Tanyanya lagi.


"Fotografer."


"Apa kau tahu kesalahan yang kau buat?" Bastian yang ditanya itu hanya terdiam. "Apa perbuatan seperti itu pantas dilakukan di pinggir jalan? Dan kau tahu siapa perempuan itu?" tanya pria itu lagi.


Bastian hanya mengangkat pundaknya sedikit dengan wajah datar. ia sama sekali tidak berminat untuk menjawab pertanyaan dari orang yang ada didepannya saat ini. Laki-laki itu juga terlihat tidak peduli siapa wanita itu dan berasal dari mana sebab tidak ada untungnya untuk dirinya.

__ADS_1


Pria yang dibalik meja itu tersenyum simpul saat melihat gerakan nonverbal itu dan meneruskan pertanyaan kembali.


Di parkiran kantor polisi suara decitan ban mobil terdengar begitu nyaring karena keheningan malam yang begitu sunyi. Mobil itu berhenti tepat di depan kantor polisi, keluarlah seorang pria yang tidak muda lagi usianya yang bernama Randi Saguna dengan ditemani seorang perempuan yang tidak jauh berbeda umurnya tetapi masih terlihat cantik di usianya sekarang ini bernama Restu anggraini.


Randi Saguna berjalan dengan langkah tegap, sorot matanya terlihat nyalang, gemerutuk rahangnya berulang kali terdengar menahan marah yang teramat sangat. Orang tua mana yang tidak marah saat dikabarkan anaknya tertangkap basah berbuat asusila di pinggir jalan.


Kabar itu seperti bom atom yang meledakan Nagasaki tepat di jantungnya hingga ia sulit bernapas, rasakan kantuk yang ia rasa saat mengangkat panggilan itu hilang sudah berganti dengan hati yang bergemuruh. Apa selama ini didikannya kurang baik sebagai orang tua? Ia merasa sudah gagal menjadi orang tua. Dirinya juga telah gagal mengemban amanah mendiang istrinya berikan.


Akhirnya Langkah kaki itu sampai di dalam kantor. Pandangan matanya langsung mengedar menatap satu persatu orang yang ada di dalam. Sampai mata itu terhenti, karena sudah menemukan sosok yang ia cari. Napasnya langsung memburu melihat apa yang ada dihadapannya saat ini.


Ia bertanya pada hatinya, apakah dirinya tidak salah lihat kan? Ingin rasanya ia menyangkal semua itu, tapi jelas-jelas didepan matanya saat ini itu nyata.


Restu yang melihat suaminya akan marah besar langsung menahan lengan suaminya yang ingin menghampiri Amelia. "Mas, ingat di sini banyak orang. Kamu harus tahan amarahmu," ujarnya menenangkan.

__ADS_1


Randi tidak mendengarkan ucapan istrinya itu, ia langsung berjalan tergesa-gesa menghampiri anak perempuannya yang dia jaga dengan sepenuh hati. "Ini yang kamu lakukan saat di luar, Amelia?!" Suara berat mengagetkan Amelia yang sedang duduk dengan pandangan yang menunduk hingga helaian rambut Amelia menutupi wajah cantiknya yang sudah basah dengan lelehan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.


Amelia yang mengenal suara itu langsung mematung dengan perlahan menaikan wajahnya menatap manik-manik yang terlihat nyalang. "Papah … ini nggak seperti apa yang papa kira," ucapnya dengan suara lirih.


__ADS_2