kesalahan satu malam

kesalahan satu malam
Bab 22*


__ADS_3

Mobil Mercedes merah cabe itu melaju dengan kecepatan sedang berangsur menjauhi kedai es krim membawa dua orang manusia yang berbeda jenis dan karakter.


Bastian melirik orang yang ada disampingnya. Entah kenapa rasa penasaran akan kejadian yang terjadi beberapa saat lalu melintas di benaknya dan mengganggu pikirannya. Bastian juga ingin tahu bagaimana Amelia bisa meminum obat perangsang itu. Ia ingin tau lebih jelas perihal masalah tersebut yang menyebabkan ia harus menikahi Amelia karena obat itu, ia harus menuntut balas pada orang tersebut.


"Eeehhmmm..."


Amelia menoleh saat mendengar suara deheman yang sangat besar dari Bastian.


"Bolehkah aku bertanya?"


"Pasti kau sangat penasaran akan orang yang di dalam kedai itu siapa?" Bastian hanya mengangguk. Amelia tersenyum saat tebakannya benar.


Mata hazel itu beralih menatap kaca spion tengah mobil karena ia merasakan mobil yang berada di belakang kendaraannya sangat mencurigakan. Bastian membelokkan setirnya kearah kanan dan ternyata. "Sial ... seperti ada yang mengikuti mobil kita." Bastian menambah kecepatan mobilnya saat sadar ada tiga buah mobil yang sedang membuntutinya.


Wajah Amelia berubah menjadi panik, baru juga ia ingin menjawab rasa penasaran Bastian itu. Tapi suara bariton terlebih dulu membuatnya kaget dan takut seketika hingga bibir yang terbuka mengatup kembali. Tangannya mencengkeram dengan kuat handle mobil saat Bastian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Ttttiiinnnn!


Ttttiiinnnn!


Suara klakson terdengar silih berganti saat mobil Bastian menikung tanpa menyalakan lampu seinnya. kejar-kejaran antar mobil tak dapat dihindari. Jalan raya sudah seperti ajang balap formula tidak mengindahkan aturan lalu lintas. Kejar-kejaran ini bagaikan di sebuah film Fast & Furious yang Bastian sering tonton saat itu, ia merasa seperti Brian O'Conner idolanya dalam film tersebut.


Bastian menoleh ke Amelia. "Kau tolong pegang setir mobil ini, oke. Aku akan membuka jendela." Amelia memberikan anggukan dalam ketakutannya. Amelia tidak bisa mengeluarkan sebuah kalimat sedikitpun. Tenggorokan nya terasa tercekat wajah takut dan tegang menyelimuti dirinya.


Bastian menurunkan kaca mobilnya ia mengeluarkan sebuah pistol FN-FNP45 semi otomatis dari balik bajunya. Kepalanya menyembul keluar jendela, tangannya sudah siap memberikan tebakan kepada mobil yang ada di samping kanannya.


Dooorr…


Dooorr…

__ADS_1


Dua buah timah panas keluar dari pistol dalam genggaman tangannya. Bidikannya tepat mengenai sasaran yang ia incar seketika mobil yang ada di sampingnya berhenti ketika tembakan itu pas mengenai ban mobil yang mengakibatkan mobil itu tidak bisa lagi mengejarnya. Tembakan balasan dari mobil yang mengikutinya terdengar. Menyebabkan Amelia ketakutan dan tidak bisa melajukan kendaraannya dengan benar. Mau tidak mau Bastian harus kembali ke posisi duduknya lagi mengambil alih setir mobilnya.


Bastian terus melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi menghindar kejaran mobil yang ada di belakangnya. Bastian mendesis disertai umpatan. Kata-kata kotor terus saja terdengar dari mulut Bastian saat dua buah mobil itu sudah sangat dekat dengan mobil yang saat ini mereka tumpangi.


Apa yang Bastian pikirkan saat itu teriang lagi saat pertemuan ia dan Randi Saguna. Semakin mahal seseorang menawarinya harga untuk jasanya, semakin beresiko pula pekerjaannya. Seharusnya ia sudah siap dengan segala resiko saat kata 'Setuju' ia lontarkan saat itu. Sebagai laki-laki yang sejati Bastian paling pantang menarik atau merubah kata-katanya. Siap tidak siap, Bastian harus siap.


Amelia hanya mampu mengeluarkan air matanya yang sejak tadi tidak mau berhenti. Ia hanya bisa terisak tanpa suara. Amelia benar-benar takut tangannya saja sudah mengeluarkan kelenjar berkeringat yang terasa dingin. Tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini, karena ia sadar ia adalah sosok wanita yang lemah hanya bisa menagis tanpa bisa melakukan tindakan apapun.


"Ameliaaa! Coba kau buka dashboard yang ada di hadapanmu, ambil benda kotak itu lalu kamu buka penutup kotak itu. Simpan baik-baik kancing baju itu, jangan sampai diketahui oleh siapapun. Kau percayakan padaku."


Bastian berucap tanpa melepaskan pandangannya ke arah jalan. Suaranya terdengar sangat tegang. Karena tidak mendapatkan jawaban dari Amelia, Bastian menoleh sebentar kearah Amelia. Bastian bisa melihat dengan jelas keadaan Amelia yang tidak baik-baik saja wajahnya terlihat sangat pucat. Amelia memberi anggukan kecil. Dengan gemetar Amelia mengikuti perintah yang diucapkan Bastian.


Kejar-kejaran itu terus terjadi sampai pada akhirnya mobil Bastian sudah tidak dapat menghindari lagi saat dua buah mobil sudah mengapit mobilnya di posisi tengah-tengah. Ia sudah tidak bisa mundur atau maju karena mobilnya sudah di hadag.


Bastian menatap Amelia. "Apapun yang terjadi aku akan melindungimu, oke. Kau harus percaya padaku. Kau jangan takut, ada aku. Dimanapun kau berada selama benda kecil itu bersamamu aku akan menemukanmu." Bastian meraih tangan Amelia dengan sebelah tangan lalu mengengamnya.


Bastian bisa melihat delapan orang berjalan mendekati mobilnya dengan pistol dan stun Gun tembak. Bastian menghembuskan napasnya berulang kali dengan tangannya mempererat genggaman pada pistol tersebut. Andai saja tidak ada Amelia ia Berani memberondong mereka semua dengan pistol yang saat ini ia pegang. Bastian hanya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi karena ia bertindak ceroboh atau gegabah ia tidak ingin membahayakan Amelia.



..... stun Gun .....


Bastian menatap wajah Amelia dengan sangat intens, "Amelia dengarkan aku baik-baik. Kunci pintu mobil ini setelah aku keluar. Tundukan kepalamu, oke. Jangan pernah keluar apapun yang terjadi. Tutup kupingmu saat mendengar suara tembakan. Kau mengerti Amelia?" Suara bariton itu lagi-lagi membuat Amelia semakin takut. Amelia hanya bisa memberikan anggukkan. Matanya saat ini sudah sembab dengan hidung yang memerah.


Tok…


Tok…


Mobilnya sudah di kelilingi oleh orang-orang berbadan tegap dan besar. Mereka semua berpakaian layaknya seorang pengawal. Ia menghembuskan napasnya pelan sebelum akhirnya membuka pintu mobil itu.

__ADS_1


Mata hazel itu memancarkan aura tajam menatap setiap orang seperti mengintimidasi. Rahang laki-laki itu mengeras. "Apa maumu?" Bastian langsung bertanya saat sudah keluar dari mobil.


"Serahkan wanita yang ada di dalam," ujar salah satu orang yang ada di hadapannya.


Bastian tersenyum mengejek. "Kalau aku tidak mau … Kau mau apa?"


Salah satu dari delapan orang itu memberikan isyarat kedipan matanya yang berulang kepada kawan-kawannya. Mereka semua memberi anggukan kecil saat melihat kode mata itu.


Tanpa a,i,u,e,o. Bastian mendapatkan serangan tembakan listrik dari jarak yang jauh. Badannya langsung mengejang tidak lama ia terjatuh pada akhirnya ia memejamkan mata tak sadarkan diri.


"Maafkan aku. Aku akan mencarimu," gumam Bastian dalam hati sebelum akhirnya ia ke hilang kesadarannya.


Sebenarnya Bastian sadar tidak akan mampu melawan begitu banyak orang yang ada di hadapannya, karena Bastian terbiasa bekerja secara diam-diam tanpa harus ada pertikaian.


Di dalam mobil Amelia melakukan apa yang diperintahkan Bastian tapi sayang suara pukulan benda tumpul terdengar berulang kali mengenai kaca mobil Mercedes.


"Aaaaahhh!"


Tidak ada yang bisa Amelia lakukan saat ini selain berteriak sekencang mungkin. Ia hanya mampu meringkuk dengan tangan menutup kedua kupingnya saat mendengar suara orang sedang berusaha memecahkan kaca mobil yang ia tumpangi. Ia menelan salivanya dengan susah saat sekelebat bayang yang tidak ia ketahui itu apa menghampiri dirinya.


Amelia memejamkan mata saat orang-orang itu berhasil membuka pintu mobil yang terkunci dan langsung menarik dirinya keluar dari dalam mobil. Amelia yang diperlakukan seperti itu terus memberontak tidak terima, badannya terus meronta-ronta hendak melepaskan diri. Sampai sebuah sapu tangan membekap saluran pernapasan yang membuat ia melemas dan tidak sadarkan diri.


"Oke, done." Ujar salah satu orang yang memegangi Amelia dan memberikan obat bius cair.


Kapten tim tersenyum senang karena pekerjaannya selesai dengan sempurna. Ia bisa melaporkan hasil kerjanya ke kepada bos dengan bangga. "Masukan dia ke dalam mobil dan kita menuju tempat yang telah ditentukan."


"Siap, bos."


Akhirnya delapan orang itu kembali ke dalam kendaraannya masing-masing. Dua buah mobil itu melaju meninggalkan Bastian yang tergeletak di atas aspal dengan keadaan mobil yang telah rusak.

__ADS_1


__ADS_2