
Tristan bergegas pulang ke apartemennya setelah dia baku hantam dengan Luis dia baru menyadari bahwa Hanin tidak ada lagi di area kantor dia melihat CCTV untuk memastikan dengan siapa dan kemana Hanin pergi
Tristan mengepalkan tangannya sepanjang berjalan menuju apartemen sesampainya di dekat pintu dia melihat seseorang berdiri disana mengetuk pintu berkali kali
"Sayang" ucap wanita itu bergelayut manja di tangan Tristan
"Yasmine pulanglah aku lelah hari ini" ucap Tristan
"Kamu mengusir ku? "
"Terserah jika kau menganggapnya begitu, pulanglah aku sedang malas bertemu orang lain" ketus Tristan
"Sayang kamu tidak pernah seperti ini sebelumnya, bukankah aku penawar saat kau lelah? " ucap Yasmine yang memang Tristan pernah mengatakan itu
"Aku serius dengan kata kataku Yasmine pergilah sebelum aku benar benar marah" melihat kemarahan di wajah Tristan Yasmine pun memilih mengalah
"Baiklah aku pergi, jika kau butuh aku, aku akan datang" ucap Yasmine mengecup pipi Tristan lalu pergi
Tristan masuk ke apartemennya lalu menutup pintu dengan membantingnya menjatuhkan dirinya kasar di sofa menyandarkan kepalanya yang terasa berdenyut, Tristan mendengar suara di dalam kamar membuatnya kembali teringat kekesalannya pada Hanin
Dengan cepat dia membuka pintu kamar dan melihat Hanin yang sedang menelungkup dengan cemilan di sampingnya dan telinga yang di cocoki earphone pantas dia tidak mendengar seseorang mengetuk pintu
Hanin memakai dress tidur merah panjang selutut dengan tali spagetti melihat Hanin menelungkup seperti itu dengan bongkahan yang menonjol di belakangnya membuat tubuh Tristan berdesir Tristan menanggalkan semua pakaiannya dan sialnya Hanin sama sekali tidak menyadari ada orang lain
Tristan langsung saja menyergap tubuh Hanin menahan pergerakannya dan menarik paksa dress yang di kenakan Hanin, wanita itu meronta sejadi jadinya namun kekuatannya kalah di banding Tristan
Tanpa berkata kata Tristan merebahkan dirinya di samping Hanin, Hanin yang mendapat serangan dadakan menangis saat Tristan memperlakukannya secara kasar
"Kenapa kau menangis? " sinis Tristan
"Tidak bisakah kau memperlakukan aku seperti manusia normal Tristan? " lirih Hanin
"Wanita sepertimu tidak layak di perlakukan seperti manusia" ketus Tristan
" Aku tidak tahu apa kesalahanku sampai kau memperlakukanku dengan buruk" lirih Hanin dalam isak tangisnya
"Kau tidak tahu kesalahan mu? " Tristan menarik tubuh Hanin agar menghadapnya
"Pertama kau membunuh adikku, kedua kau membuatku harus terikat padamu, ketiga kau selalu mencari gara gara dan tidak patuh padaku, keempat aku suka melihatmu menderita" ucap Tristan dengan geram mencengkram kuat lengan Hanin
"Aku tidak pernah membunuh Edward Tristan, asal kau tau dia cintaku cinta pertamaku bagaimana aku bisa menyakitinya" ucap Hanin dengan tatapan sendu
__ADS_1
Tatapan sendu itu beradu dengan tatapan amarah Tristan namun anehnya melihat tatapan itu kemarahan Tristan perlahan sirna tatapannya tidak menajam seperti sebelumnya namun Tristan merasa lebih sakit di hatinya saat Hanin mengatakan itu
'Kenapa aku bisa seperti ini pada Hanin, perasaan macam apa ini' gumam Tristan dalam hatinya
Tristan melepaskan Hanin dan berbalik memunggunginya Hanin masih terisak juga membelakangi Tristan
"Jangan ulangi kejadian seperti tadi sore" ucap Tristan namun tidak ada jawaban dari Hanin
Keesokan harinya Hanin duduk di meja makan namun tidak ada makanan apapun yang tersaji disana Tristan yang baru keluar dari kamar masih mengancingkan kemejanya
"Tristan ada yang ingin aku sampaikan" ucap Hanin
"Bicara saja tidak perlu bertele tele" ketus Tristan
"Aku ingin bercerai" ucapan Hanin membuat Tristan mengangkat kepalanya menatap Hanin
"Kau bilang apa? aku tidak salah dengar? " ucap Tristan terdengar bahagia namun hatinya merasa tidak Terima
"Aku sudah tidak sanggup denganmu Tristan, aku sudah tidak peduli lagi dengan ancaman ayahmu apapun yang akan dia lakukan akan aku hadapi lebih baik mendapatkan hujatan dari orang orang dari pada aku bersamamu " lirih Hanin
Tristan mengepalkan tangannya otot ototnya mengeras menghampiri Hanin dan mencengkram rahang wanita itu dengan keras
"Kau berani... " Tristan menunjuk wajah Hanin
"Kau pikir bisa pergi dengan mudah? kapan aku menyiksamu? bukankah aku begitu memanjakanmu dengan permainan kasarku? bahkan kau mendes** selalu mendes** nikmat sayang"
"Bahkan wanita wanita di luar sana suka rela memberikannya padaku, kau bilang itu menyiksa? " lanjut Tristan
"Lepaskan Tristan ini menyakitkan" Hanin berusaha melepaskan cengkeraman tangan Tristan
"Akan aku perlihatkan apa itu penyiksaan" Tristan melepaskan dasinya dan mengikat tangan Hanin
"Tristan lepaskan, aku mohon jangan lakukan ini" Hanin menangis seraya menggeleng
"Kau pergi kemana pun aku akan mencarimu dan akan ku pastikan kau tidak akan hidup tenang begitu pun adikmu" Ancam Tristan
Tristan mendorong tubuh Tristan hingga tersungkur di lantai lalu menyeret tangan Hanin yang terikat teriakan Hanin tidak di gubris sama sekali Tristan menyeretnya kekamar
"Kita lihat sayang apa kau bisa pergi setelah ini? " ucap Tristan menyeringai mengangkat tubuh Hanin melemparkannya ke ranjang
"Tristan aku mohon.... mmpphh" ucapan Hanin terpotong saat Tristan membungkam mulutnya dengan ciuman
__ADS_1
Ciuman itu terkesan kasar dan memaksa bahkan tangan kekar itu menarik paksa kemeja yang di pakai Hanin hingga kancingnya berhamburan Hanin berteriak dan meronta dia tahu akan berakhir seperti apa dirinya hari ini
Tristan kembali melakukannya secara paksa hingga berkali kali membuat keduanya tidak pergi ke kantor hari itu Tristan menjadi sangat buas membuat Hanin kewalahan
Tenaganya tak ada habisnya dari pagi hingga siang hanya istirahat sebentar kemudian kembali menyatukan diri dengan istrinya secara paksa, Hanin yang sudah merasa kelelahan terkapar tak berdaya tubuhnya terasa remuk entah dia tidur atau pingsan Tristan tidak memperdulikannya
Siang itu Tristan baru selesai mandi dan bersiap pergi ke kantor Tristan mengambil handphone Hanin yang terus berdering banyak nama yang tertera di layar handphonenya
Asisten Bayu
" Hanin kau baik baik saja? kenapa kau dan Tristan tidak masuk?
Luis
"Apa kau sudah bangun? "
"Jangan lupa makan kau punya maag"
"Apa Tristan melukaimu dia terlihat marah kemarin? "
"Maafkan aku sudah membuat kau dalam masalah"
Mertua
"Nak datang lah makan malam nanti ibu ingin bicara denganmu"
Andrew
"Kak kemana saja kau tidak menghubungiku, kau baik baik saja? "
***Grup JC
+62893xxxxxx***
"Saya sudah di depan mbak" taksi online
Dan masih banyak lagi Tristan membanting handphone Hanin dan mencopot kartu simnya dia juga memutus sambung telepon dan mengganti password apartemennya
menyuruh seorang menjaga di luar apartemennya
Bukankah itu berlebihan? ya memang tapi Tristan tidak ingin Hanin meninggalkannya entah karena dendam atau dia tidak bisa hidup tanpa Hanin
__ADS_1
yang jelas semenjak dia menyatakan cinta palsunya pada Hanin dia tidak pernah berhubungan dengan wanita lain
Tristan melenggang pergi meninggalkan Hanin yang hanya terbungkus selimut sendirian di apartemen