
Di sebuah kebun sayuran dan buah yang tidak begitu luas tepatnya berada di belakang rumah mewah. Seseorang sedang menelpon.
"Kau bekerja dengan baik. Rencana itu berhasil dan dia sudah pergi. Tinggal rencana selanjutnya. Kita butuh kambing hitam untuk rencana itu. Agar ia tidak curiga."ucapnya dengan suara lembut.
"Apakah rencana itu harus aku kerjakan sekarang?"
"Mungkin, tidak sekarang. Dia masih memantaunya terus, Nanti akan aku kabari lagi."
"Baiklah, aku minta komisiku."
"Uangnya akan aku taruh di loker biasa,"
"Oke, aku senang bekerjasama denganmu lagi." orang itu langsung menonaktifkan ponselnya begitu saja. Dia langsung menyimpannya di tempat rahasia yang tidak seorangpun mengetahuinya.
•
•
•
__ADS_1
•
•
Mobil tumpangan Bastian baru saja sampai di depan studio foto milik Troy. Ia pun langsung membayar ongkos perjalanannya dan melangkah masuk kedalam.
"Untuk apa mereka masih mengikutiku?" Gumam Bastian saat sadar dirinya sedang diikuti.
"Bas, kau sungguh keterlalu padaku. Kau tidak bilang wanita itu anak dari Randi Saguna," Baru saja Bastian membuka pintu sudah terdengar suara Rangga yang protes padanya. Tangan Rangga langsung menadah di hadapannya,"Mana kunci motorku. Aku hampir saja babak belur tahu akibat ulahmu" ucapnya dengan menggebu-gebu.
Bastian langsung menyerahkan kunci motor ke tangan Rangga, "Motornya masih ada di makam. Kau ambil saja ditempat biasa aku menaruhnya,"
Rangga yang mendengar itu tersungut kesal. "Kenapa tidak kau bawa? Kau sungguh laki-laki tidak bertanggung jawab," Jawabnya sambil berlalu melanjutkan pekerjaan lagi.
Rangga lantas memberikan kunci mobil itu tanpa berucap apapun. Setelah menerimanya ia melangkah keluar mengambil barang-barangnya yang ada di dalam bagasi mobilnya. Saat ingin mengambil barang-barangnya ia melihat sekitar, "Sial, seperti akan susah aku mengikuti target, jika diikuti seperti ini," gumam Bastian sambil menutup kembali pintu belakang mobilnya ia berjalan melangkah kembali ke dalam dengan map dan tas kecil di tangannya.
"Apa Troy ada di dalam?" Rangga hanya mengangguk. Bastian yang melihat itu pun pergi masuk ke dalam ruangan yang berkamuflase seperti rak buku.
Saat di dalam ruangan ternyata hanya ada Ben dan Troy saja. Saat melihat kehadirannya mereka semua langsung terkekeh geli.
__ADS_1
"Lihat siapa yang datang? Masa pengantin baru sudah disibukkan dengan pekerjaan. Sudah biar aku saja yang mengurus itu," Bastian yang mendengar itu langsung melempar map coklat yang ia bawa ke wajah sahabatnya.
"Sialan, kau. Tertawalah yang kencang selagi masih bisa tertawa," ucapnya kesal.
Mereka yang mendengar itu hanya bisa terkekeh melihat kekesalan Bastian. Bastian langsung menaruh pantatnya di sofa tempat Ben duduk. Pandangan Bastian kearah meja dimana Troy yang sedang duduk di meja kerjanya.
"Troy, ini semua salahmu. Seharusnya kau tidak memberikan klien itu untukku," ucapnya frustasi.
Troy yang mendengar itu geleng-geleng kepala tidak menyangka Bastian akan mengucapkan itu, "Aku tahu kau juga menikmatinya, Bas. Dan sekarang kau menyalahkanku. Kau sendiri yang meminta pekerjaan itu. Aku mana tau, semua akan berakhir seperti itu. Itu salahmu sendiri. Untuk apa kau datang kemari?" Tanyanya sambil melihat monitor yang ada di sebelah kanan meja kerjanya.
"Sepertinya akan sulit menjalankan misi ini. Kau taukan orang-orang itu sedang mengikutiku," Troy yang mendengar itu hanya mengangguk. "Apa bisa Ben saja yang menjalankannya."
"Terserah kau saja. Jika terjadi sesuatu kau yang akan menanggung akibatnya. Karena namamu yang akan menjadi taruhannya," Bastian yang mendengar itu langsung menatap Ben.
Ben yang mengerti tatapan itu langsung angkat bicara, "Serahkan semuanya padaku, aku akan bekerja dengan baik." Bastian yang mendengar itu hanya bisa menarik napas dan mengangguk. "Kau beruntung sekali mendapatkan anak dari Randi Saguna. Kau bisa kaya tanpa susah payah bekerja karena Randi Saguna tidak punya siapapun selain anaknya itu," ucap Ben lagi.
"Kau bicara apa? dia masih punya istri dan anak tiri laki-laki. Aku menikah dengan dia hanya nikah kontrak selama satu tahun. Setelah itu aku disuruh menceraikannya. Aku juga tidak tertarik dengannya," jawabnya malas.
Ben yang mendengar itu terkekeh. "Tetapi saja istrimu yang akan mendapatkan warisan ayahnya nanti karena dia lebih berhak atas itu semua. Paling istri dan anak tirinya mendapatkan bagian yang kecil. Awas nanti kau ketula dengan ucapanmu. Nanti malah kau yang cinta mati dengannya," Bastian yang mendengar itu hanya terdiam tidak ingin membahas lebih dalam lagi karena ia tidak tertarik dengan itu semua.
__ADS_1
Hingga suara ponselnya berdering membuat atensinya tertuju ke ponsel yang berada di dalam kantong celananya. Bastian hanya bisa menarik napas saat melihat siapa yang menelepon nya. Bastian langsung menerima pangilan itu.
Setelah menutup panggilan itu ia langsung berdiri dari sofa, "Ben, semuanya ada didalam kau jangan membuatku kecewa, uangnya juga ada di tas itu. Aku pergi dulu," Ben hanya mengangguk. Bastian yang melihat itu langsung berlalu pergi sambil bergumam "Menyusahkan saja."