
"Maafkan aku Hanin" lirih Tristan
Hatinya merasa sesak mendengar tangisan Hanin yang memilukan, Hanin tidak menolak pelukan Tristan dia merasa nyaman berada di pelukan Tristan meskipun hanya sejenak
"Beri aku satu kesempatan lagi, aku berjanji tidak akan mengecewakanmu Hanin, aku akan membahagiakanmu bersama membesarkan Kenzo"
"Entah aku harus bersikap bagaimana padamu Tristan, hatiku sudah mati rasa aku tidak bisa merasakan apapun lagi.. aku hanya ingin sendiri membesarkan anakku, sebaiknya lupakan niatmu aku sudah tidak bisa lagi menerima siapa pun di hatiku"
"Hanya ada Andrew dan Kenzo tidak ada orang lain" lanjutnya melepaskan tangan Tristan dari pinggangnya lalu berdiri hendak melangkah pergi
Tristan menahan tangan Hanin dan membalikkan tubuhnya agar mereka berhadapan, Tristan menangkup wajah Hanin menatap matanya lekat
"Ucapkan itu sekali lagi, tatap mataku Hanin" ucap Tristan
Hanin memejamkan matanya sejenak lalu kembali menatap Tristan "Aku tidak bisa menerima siapapun hatiku sudah mati di hidupku kini hanya ada Andrew dan Kenzo, tidak ada siapapun lagi" ucapnya
"Kau Bohong Hanin, matamu tidak bicara demikian"
"Apa kau gila? mata gunanya untuk melihat bukan untuk bicara, sudahlah jangan membuang waktumu untuk hal yang sia sia" ucap Hanin seraya melepas tangan Tristan dari wajahnya lalu pergi keluar
"Ini tidak akan sia sia Hanin aku tahu masih ada cinta di hatimu untukku kau hanya terlalu marah untuk mengakuinya, tunggu Hanin aku akan membuktikan ucapanku" gumam Tristan
.
.
Keesokan harinya Hanin merasa sangat nyaman dalam tidurnya ini pertama kalinya setelah sekian lama dia merasa nyaman seperti ini, tubuh Hanin terasa menghangat matanya enggan terbuka dia mengusak kepalanya
Hanin mengerjapkan matanya kala seseorang mengusap kepalanya dia berpikir tidak mungkin itu Kenzo, pandangan pertama yang dia lihat adalah dada bidang seseorang
Hanin mendongak menatap wajah tampan yang sedang terlelap terlihat Damai, tangan Tristan juga melilit pinggang Hanin sepertinya enggan untuk melepaskannya malah mengeratkan pelukannya kala Hanin berusaha melepaskannya
"Aku tau dari dulu kau selalu terpesona saat melihat wajahku" ucap Tristan
"Percaya diri sekali kau" Hanin memukul dada Tristan lalu mendorongnya dan bergegas ke kamar mandi
Hanin menyandarkan dirinya di pintu memegangi dadanya yang bergemuruh, Entah apa yang dia rasakan tapi berada di dekatnya membuat Hanin berdebar tak karuan
"Dasar sialan kenapa kau berdebar begitu kencang" ucap Hanin menepuk nepuk dadanya
__ADS_1
Tristan menguping di balik pintu mengembangkan senyumnya, sesuai dugaannya Hanin masih menyimpan rasa cinta untuknya meskipun rasa itu kini menjadi tampak tertutupi kemarahan
"Sayang ibu mu lambat laun akan menerima ayah, bagaimana apa kau senang? " Ucap Tristan seraya menciumi pipi bayinya
"Oe.. oe.. oe.. " bayi kecil itu terbangun dari tidurnya karena Tristan
Tristan menggendong Kenzo dan menepuk-nepuk bokongnya agar dia tidur kembali namun sepertinya bayi itu juga menangis karena lapar, Tristan mengetuk pintu kamar mandi saat Hanin baru saja membasahi tubuhnya
"Sayang.. Kenzo mungkin lapar" ucap Tristan
"Kasih sama suster aja di kulkas ada susu" jawab Hanin
Tristan memberikannya pada Suster namun stok asi di kulkas habis jadi Tristan kembali membawanya naik dan mengetuk pintu kamar mandi
"Sayang cepat mandinya stok asi di kulkas habis"
"Iya.. iya.. sebentar" Hanin buru buru keluar hanya menggunakan handuk
Mata Tristan terbelalak menatap bongkahan yang semakin membesar menyembul dari atas handuk, dia menetralkan kembali wajahnya dan menyerahkan Kenzo. Tangannya tidak sengaja menyenggol dada Hanin membuat sesuatu di bawah sana mengeras
"Keluar " titah Hanin
"Cepat beri dia asi, lagi pula kalau aku tetap disini juga tidak masalah bukan? aku bahkan sudah melihat seluruh tubuhmu"
Baru saja Tristan membuka pintu Kenzo menangis kencang tidak mau minum asinya, Tristan kembali duduk di belakang Hanin dan Kenzo berhenti menangis setelah beberapa saat Tristan hendak melangkah pergi karena Hanin menyuruhnya namun Kenzo kembali menangis
"Baiklah.. baiklah.. kalian menang, kau tetap disini" ucap Hanin menyerah
"Anakku yang terbaik" batin Tristan
.
.
Semalaman Hanin tidak bisa tidur karena Kenzo selalu ingin asi, meskipun di bantu suster tetap saja Hanin kurang tidur sementara Tristan tidur dengan nyenyak meskipun suara anaknya yang menagis hampir memekakkan telinga
"Kenapa dia tidur disini? tidak membantu sama sekali" gerutu Hanin
"Mungkin tuan lelah nyonya" jawab suster
__ADS_1
"Ya.. dia lelah menganggur" ucap Hanin
Sudah hampir subuh Hanin menyuruh suster kembali saja ke kamarnya, dia juga tertidur pulas dalam sekejap. Pagi pagi sekali Tristan sudah bangun dia pindah kesamping Hanin dan terus menatap wajah lelahnya
Perlahan Tristan memajukan bibirnya sekali dia mengecup bibir Hanin namun dia tidak terganggu sama sekali, Tristan kembali mengecup bibir Hanin dan menempelkannya lama disana
Hanin sedikit membuka mata lalu tersenyum entah kenapa Hanin malah tersenyum mungkin dia sedang bermimpi tapi Tristan mengartikannya lain, dia menarik sedikit dagu Allea hingga bibirnya terbuka dan mulai memagutnya
Tristan juga membuka kancing baju Hanin dan memberikan kecupan kecupan meninggalkan bekas merah di tubuhnya, tentu saja Hanin merasakannya sekarang dan terganggu dari tidurnya, Hanin membelalakkan mata saat Tristan menjelajahi tubuhnya dengan bibir
"Aarrggghhh... sialan apa yang kau lakukan bajingan, menyingkir dari tubuhku" pekik Hanin memukuli Tristan
Sontak saja bayinya terkejut dan menangis kencang membuat Hanin kesal, Hanin memukul Tristan dengan bantal terjadi saling tarik menarik antara Hanin dan Tristan sampai keduanya terjengkang dengan posisi Hanin menimpa Tristan
"Nyonya.. tuan muda kenapa? " suster langsung saja masuk tanpa mengetuk pintu mendengar Kenzo yang menangis tanpa henti dia mengira Tristan masih tidur
"Ohh.. maaf maaf.. saya kira.. " suster langsung membelakangi keduanya melihat kancing baju Hanin terbuka serta menindih Tristan pikirannya langsung travelling
Suster langsung menutup pintu Hanin yang kesal kedua kalinya memukul kepala Tristan lalu bangun menggendong Kenzo, Tristan hanya bisa mendengus mengusap kepalanya
"Lihat yang kau lakukan, apa kau ingin mengubahku jadi macam tutul? " gerutu Hanin
Tristan terkekeh dia merasa gemas dengan Hanin yang terus menggerutu bibir mungilnya bergerak gerak dengan cepat, tidak apa apa dia terus di marahi setidaknya Hanin sudah mau bicara tanpa mengungkit masa lalunya
Tristan berharap Hanin akan bisa menerimanya kembali dengan cepat, dia sadar sekarang berada di antara Hanin dan Yasmine benar benar berbeda, dengan Hanin dia merasakan rasa nyaman dan tentram sementara dengan Yasmine dia hanya melampiaskan kesenangan saja layaknya membeli seorang p*l*c*r
"Hanin" Tristan memanggil Hanin
"Apa? " jawabnya dengan ketus
"Aku mencintaimu" mendengar itu Hanin mencebikkan bibirnya
"Kau tidak menjawabnya? " goda Tristan
"Tristan"
"Ya.. " Tristan menoleh
"Aku.... membencimu" Tristan menunggu kata selanjutnya dengan semangat namun setelah mendengar kata setelahnya Tristan menghela nafas kasar
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan vote
penuhin kebon othor dengan bunga ya