
Randi Saguna yang mendengar itu tersenyum simpul. "Apa yang ingin kau jelaskan lagi, Amelia? Semuanya sudah terekaman cctv. Kau itu telah mencoreng nama baik yang sudah ku jaga sejak dulu. Kau juga membuat Papa malu dengan tingkah laku mu. Sia-sia saja aku menjaga mu selama ini. Mama mu pasti akan menangis melihat ini diatas sana. Apa ini yang kau sebut pesta perpisahan kelulusan? Dengan berpakaian seperti ini? Kau itu tidak jauh berbeda dengan wanita penghibur, Amelia. Seharusnya Mamamu tidak merelakan dirinya dulu untuk melahirkan kamu. Seharusnya dia masih hidup jika tidak mengalah padamu. Papa rasa Mamamu menyesal melakukan itu saat melihat kamu seperti ini. Aku merasa malu mempunyai anak sepertimu. Kau hanya bisa menyusahkan saja dengan tingkah laku mu seperti ini. Siapa orang yang melakukan itu padamu?" Suara berat itu berbicara dengan nada rendah tapi begitu menyakitkan.
pria paruh baya itu terus berbicara tanpa henti mengeluarkan semua kekesalannya terhadap Amelia tanpa memperdulikan apakah ucapannya itu menyakiti perasaan putri itu.
Amelia semakin menundukan kepalanya sebab setiap kata yang keluar dari mulut yang ia sebut Papah itu bagaikan panah yang beracun yang menembus jantungnya bukan sekedar sakit biasa, itu teramat sakit dan mematikan untuk dirinya dengar.
Selamat ini Amelia selalu menuruti apa yang Papanya katakan. Seperti mengambil jurusan kuliah yang tidak sama sekali Amelia inginkan. hanya untuk membuat hati yang ia panggil papa itu senang. Amelia juga harus mengubur mimpinya menjadi seorang pelukis. Belum lagi ia juga harus mengurangi pergaulan dengan sahabatnya. Hingga dirinya di cemooh anak Papa, karena harus selalu mengabari orang tuanya. Bahkan pernah Papanya menyewakan pengawal untuk dirinya, karena ia tidak mengabari kemana dirinya pergi atas perbuatannya itu Papanya marah besar.
Entah karena apa papanya melakukan itu semua untuk dirinya. Tetapi itu semua membuat dirinya malu, karena kemanapun ia melangkah selalu diikuti oleh pengawal yang berbadan tegap dan besar. Hingga tidak ada seorangpun yang mau mendekatinya karena takut. Termasuk para laki-laki, tapi ada satu laki-laki yang berani mendekati dirinya, hingga waktu berjalan lama mereka saling kenal dan akhirnya mereka berpacaran.
__ADS_1
Amelia yang ditanya hanya diam tidak bergeming. Om Bayu yang melihat itu langsung berdiri dan menghampirinya.
"Sebaiknya kita bicarakan ini dengan kepala dingin," ujarnya setelah ia di samping Randi Saguna.
Randi Saguna tak mengindahkan ucapan sahabatnya itu. "AKU TANYA SEKALI LAGI SIAPA YANG MELAKUKAN ITU, AMELIA?!" suara Rendi Saguna menggelegar di ruangan yang sunyi itu.
Atensi semua orang tertuju padanya. Randi tidak menghiraukan itu semua, ia hanya menatap anaknya yang sedang duduk di depannya dengan pandangan yang menunduk. kesabarannya sedang diuji saat ini, karena anaknya tidak bergeming sama sekali atas pertanyaannya.
Om Bayu yang melihat itu mencoba untuk memisahkan nya tetapi langsung mendapat tatapan mengancam dengan sorot mata yang sudah merah padam.
__ADS_1
Restu anggraini yang melihat itu langsung menarik lengan suaminya untuk menyudahi perbuatannya saat ini. Tetapi tenaganya kalah dengan kekuatan suaminya. Restu anggraini menghela napas berat. "Jangan salahkan Amelia. Salahkan saja aku karena aku yang membujukmu untuk mengizinkannya pergi." Restu berucap dengan suara lirih. Saat sudah tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini.
Randi Saguna yang mendengar itu langsung melepaskan cengkraman nya. "Ini bukan salahmu sayang, ini salah dia yang tidak bisa memegang janjinya untuk menjaga dirinya dengan baik. Bagaimana nanti aku akan menjelaskan kenapa Maria bahwa aku sudah lalai menjaga amanat yang ia berikan," Randi berucap dengan mengusap wajahnya terlihat frustasi.
Amelia adalah anak yang sangat diinginkan oleh keluarga saguna. Karena keluarga kecil itu menantikan kehadirannya selama 10 tahun lebih pernikahan mereka, tetapi mereka belum juga dikaruniai seorang anak.
Berbagai cara Randi Saguna mewujudkan keinginan istrinya itu, yang bernama Maria Clarissa untuk memiliki keturunan tapi sayang semua cara sudah ia coba tapi tidak ada yang berhasil.
Tapi saat mereka sudah tidak lagi meminta, berharap, mengiba, dan memelas. Keajaiban itu muncul, Maria dinyatakan hamil dan itu membuat keluarga kecil itu bahagia karena tidak ada yang menyangka keinginan yang terlupakan itu terkabul.
__ADS_1
Memang tidak ada seorangpun yang tahu pasti, tentang apa yang terjadi hari ini dan esok semua masih menjadi misteri Nya.
Sampai akhirnya persalinan Maria berlangsung Tuhan berkendara lain. Persalinan itu mengalami komplikasi Emboli Air Ketuban. Karena komplikasi itu terjadi Dokter hanya bisa menyelamatkan bayi yang mereka harapkan dan harus merelakan Maria.