kesalahan satu malam

kesalahan satu malam
Bab 9


__ADS_3

Alunan lagu Pop terdengar merdu saat Amelia membuka pintu cafe. Mata berbentuk double eylied dengan sebuah kacamata hitam tercantel di hidung mancungnya menutupi mata bengkak akibat terlalu banyak menangis. Iris mata berwarna cokelat itu mengedarkan pandangannya mencari sosok orang yang sangat ingin ia temui.


Kaki jenjangnya melangkah memasuki cafe lebih dalam lagi. Amelia berhenti saat matanya menemukan sosok yang ia cari. Abian Bahran yang sedang melambaikan tangan dengan sebuah senyuman lebar yang menghiasi wajahnya saat melihat dirinya berjalan mendekat.


Amelia hanya bisa menghembuskan napasnya dengan berat. Air matanya sudah tidak mampu lagi untuk keluar.


Amelia hanya bisa menatap wajah itu dari balik kaca mata yang ia pakai. Saat ia sudah duduk di hadapan Abian Bahran. Wajah itu yang selalu tersenyum lebar saat menatapnya. Wajah itu yang selalu ia rindukan saat jauh darinya. Wajah itu yang selalu menghiasi hari-harinya.


Suara kekehan terdengar saat Abian memandangi Amelia yang sudah duduk di hadapannya, "Kau sudah seperti tukang urut Amelia. Buka kaca matamu!" Ucapnya dengan senyum lebarnya.


Amelia hanya terdiam dengan menarik napas sangat dalam. "Maaf…." Amelia tidak bisa meneruskan ucapannya.


Amelia menundukkan wajahnya ia tidak siap untuk mengatakan itu semua. Ia tidak siap kehilangan cinta pertamanya itu. Sudah satu tahun kebersamaan Amelia dengan Abian Bahran semu itu tidak akan mudah untuk ia lupakan begitu saja. Banyak kenangan kebersamaan dengan orang yang ada di hadapannya saat ini dan itu membuatnya tidak siap bila harus dibenci dan di tinggal oleh kekasihnya itu, sungguh ia tidak siap dengan itu semu. 


Abian yang mendengar itu bingung dibuatnya, "Maaf, untuk apa Amelia?" Laki dengan wajah oval itu menatap Amelia dengan intens. Ia tidak mengerti dengan apa yang diucapkan kekasihnya itu.


Keheningan terjadi 'Jangan sembunyi. Ku mohon padamu jangan sembunyi. Sembunyi dari apa yang terjadi. Tak seharusnya hatimu kau kunci. Lumpuhkanlah ingatanku. Hapuskan tentang dia. Hapuskan memoriku tentangnya. Hilangkanlah ingatanku jika itu tentang dia. Ku ingin ku lupakannya.' Hanya terdengar suara lirik lagu yang dinyanyikan oleh grup band Geisha dari pemutar MP3.


"Lia…." Suara berat itu terdengar membuat Amelia menaikan pandangannya. "Ada apa?" Tanyanya lagi. Pandangan mata mereka bertemu meski terhalang sebuah kaca mata hitam, tapi Amelia bisa dengan jelas menatap manik mata yang ada di hadapannya saat ini.


Amelia kira ia tidak dapat menangis lagi. Tapi, ia salah. Karena saat ini air matanya sudah membasahi pipinya. Ia tidak kuat menatap mata cokelat yang ada di hadapannya saat ini.


Apakah ia sanggup menjalani hari-hari tanpa Abian. Orang yang sangat ia cintai?

__ADS_1


Apakah ia sanggup melupakannya?


Apakah kalau ia jujur Abian mau menerimanya. Dan pernikahan itu tidak terjadi?


Entah kenapa ia ragu untuk mengatakan itu. Karena selama berpacaran Abian adalah sosok laki-laki baik yang selalu menjaga kehormatannya. Karena selama satu tahun berpacaran hanya sebatas bergandengan tangan dan berpelukan saja dengan Abian. Abian tidak pernah meminta lebih dari pada itu.


Apa Abian mau dengan dirinya yang sudah pernah dijamah oleh laki-laki lain. Sedangkan dia saja belum pernah merasakan nya?


Abian Bahran yang melihat Amelia menangis langsung berdiri dan berpindah tempat dimana Amelia duduk.


Tanpa berkata apapun Abian meminjamkan pundaknya untuk Amelia menangis. Di peluklah Amelia dengan sebuah pelukan yang hangat, telapak tangannya mengusap punggung yang berguncang itu dengan lembut dan menenangkan.


Tidak ada percakapan yang terdengar hanya suara isak tangis yang begitu pilu dan menyayat hati.


Untung hari ini pengunjung cafe tidak begitu ramai hanya ada beberapa orang saja yang sedang memperhatikan tempat mereka saat ini. Karena suara isak tangis Amelia dapat didengar oleh mereka.


Abian melepaskan pelukannya. Matanya langsung menatap wajah Amelia dengan intens di pegangnya kedua pundak Amelia.


"Bisa kau jelaskan tanda yang ada di leher mu itu?"


Deg…


Amelia bisa mendengar suara Abian yang berubah menjadi dingin. Ia hanya bisa menangis tanpa bisa menjawab sepatah katapun pertanyaan dari Abian saat ini. Hingga badannya menerima guncang dari orang yang ada dihadapannya, tangan kokoh itu mencengkeram sangat kuat di pundaknya, dia menuntut sebuah jawaban darinya.

__ADS_1


"Katakan Amelia!" Amelia hanya bisa memejamkan mata saat laki-laki dihadapannya berbicara. Tidak ada lagi Abian yang tersenyum hangat, suara yang lembut. Semuanya hilang begitu saja. Tergantikan dengan nada yang dingin, senyum yang pudar dari wajahnya.


"Maaf…" suara itu begitu lirih dan lagi-lagi hanya sebuah kata 'Maaf' yang Abian dengar. Abian menurunkan tangannya mencoba melepaskan kacamata yang Amelia pakai saat ini.


Terlihat jelas mata yang bengkak dan merah. Seketika Abian lemas dibuatnya dia tahu ada sesuatu yang tidak beres pasti terjadi. Tapi, apa itu?


"Maaf, untuk apa?"


"Maaf … hiks … hiks … Ak-u akan menikah," Abian yang mendengar itu langsung berdiri dan berjalan mundur seperti tidak percaya apa yang baru saja ia dengar. Matanya intens menatap Amelia yang sedang menundukkan kepala sambil menangis.


Kata 'menikah' membuat Abian terdiam jantungnya berdetak sangat cepat. Ia menelan salivanya dengan susah ingin rasanya ia bertanya tetapi tenggorokan nya terasa tercekat. Yang bisa Abian lakukan adalah memejamkan matanya dengan kedua tangan mengusar rambut cepak hitamnya.


Helaan napas berat terdengar saat Abian ingin berucap. "Menikah dengan siapa?" Suara lirih itu terdengar begitu sangat miris di telinga Amelia.


Amelia masih menangis saat Abian bertanya. Cukup lama Amelia akhirnya bisa menjawab pertanyaan dari Abian meski masih tergugu saat berucap. "Semua ini karena kecerobohan yang aku lakukan Abian. Aku melakukan kesalahan satu malam. Kedua orang tuaku mengetahuinya dan mereka ingin menikahkan kami berdua. Aku, mohon Abian. Tolong aku. Aku tidak ingin menikah dengan laki-laki itu. Kau maukan menerima keadaan aku yang sekarang?"


Abian yang mendengar itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Tolong kata 'iya' Abian. Ini bukan salahku sepenuhnya ada yang menjebakku, dengan memberi obat perangsang pada hari perpisahan. Abian …." Ucap Amelia dengan lirih saat melihat Abian yang hanya menggelengkan kepalanya. 


"Maaf, Amelia. Sepertinya, itu sangat berat untuk aku lakukan. Kau tahu, aku tidak suka dengan perempuan yang sudah disentuh oleh orang lain sebelum menikah, karena itu aku memperlakukan kamu seperti itu. Sekali lagi maaf Amelia. kalaupun 'Iya' kedua orang tuaku yang mengetahui ini pasti menentang hubungan kita." Saat selesai mengucapkan itu Abian langsung pergi begitu saja tanpa memperdulikan Amelia yang masih menangis.


Amelia hanya bisa menatap punggung Abian dengan tatapan nanar saat Abian berjalan menjauhi meninggalkannya sendiri di cafe ini. Laki-laki itu berjalan tanpa menoleh sedikitpun seperti keputusan yang ia ambil sudah tepat untuk dirinya.


Apa selama satu tahun hubungan yang mereka jalani tidak ada arti apapun untuk laki-laki yang bernama Abian Bahran?

__ADS_1


Apa ini akhir dari hubungannya dengan Abian Bahran?


Amelia hanya bisa jatuh terduduk meratapi nasib hidupnya yang malang.


__ADS_2