kesalahan satu malam

kesalahan satu malam
Bab 11


__ADS_3

Bastian melajukan motornya seperti pembalap profesional menyalip setiap mobil yang berada di depannya. Suara raungan motor terdengar meriuhkan jalan beraspal yang sedang lengang. Mata hazelnya fokus menatap kearah depan.


Motor itu berhenti di sebuah tempat yang luas tidak ada bangunan rumah yang berjajar. Tempat ini lagi sunyi dan sepi. Terkadang, jika Bastian ketempat ini, ia suka melihat dan mendengar tangisan-tangisan ratapan yang begitu memilukan dari orang yang ditinggalkan.


Ia memarkirkan kendaraan ditempat biasa. Langkah kakinya berayun seperti sudah hafal dengan jalan yang akan dilaluinya. Ia menelusuri jalan setapak menuju tempat peristirahatan sang pujaan hati.


Sepanjang mata memandang hanya ada tanah bergunduk dengan hamparan rumput halus yang menutupinya, dengan batu nisan sebagai penanda berjajar rapi. Ada satu pohon rindang Mongolia dengan bunga-bunga seperti sakura yang bermekaran terlihat sangat indah. Tumbuh subur di atas begitu banyak kematian dan di atas tangisan kepiluan.


Bastian melangkahkan kakinya ke salah satu nisan yang tertulis Ananta Rumi. Bastian terdiam untuk sesaat ada kerinduan yang menjalar di hatinya. Satu tahun lebih tidak cukup melupakan Ananta Rumi, malah kerinduan itu semakin menjadi.

__ADS_1


Ada sesak teramat sangat yang menusuk dadanya, kerinduan yang menjelma menjadi belati menusuk begitu sakit hingga Bastian tidak kuat menahan tangis. keluarlah cairan bening dari sudut matanya mengalir membasahi pipinya. Tangisan meratapi kepergian sang pujaan hati.


Ia usap dengan segera air mata itu. Sekuat apapun laki-laki di dunia ini jika kehilangan orang yang begitu sangat dicintainya, pasti ia akan terpuruk dalam duka dan tangis yang tak bersuara menjadi penanda dia begitu sangat kehilangan.


Bastian bukan laki-laki cengeng atau lemah hanya karna ia menangis. Ia begitu karena sangat kehilangan, orang yang mengenalkannya apa itu arti dari sebuah cinta dan kasih sayang. Yang belum pernah ia rasakan selama hidupnya. Ditinggal begitu saja tanpa sepatah katapun untuk selama-lamanya.


Bastian berbicara seolah ada Ananta Rumi di depannya. "Apa kau baik-baik saja disana? Aku rindu," ucapnya terhenti menahan gejolak kerinduan didada.


"Maaf, atas perbuatanku. Aku tahu, aku salah. Apa … kau mau memaafkan aku. Aku tahu kau pasti kecewa dengan itu. Tapi tenang saja namamu akan selalu ada dihati ini. Aku saja masih selalu memimpikanmu … meski mimpi itu menyakitkan untukku. Bisakah kau merubah mimpi itu menjadi lebih indah. Aku ingin melihatmu yang tersenyum. Aku rindu dengan pelukmu, tak terkira itu adalah hal terindah yang pernah aku rasakan. Kau tahu, hidup tanpamu terasa berat jiwaku seakan hilang ikut bersamamu. Aku begitu hampa tanpamu. Kenapa aku harus melalui hidup seperti ini lagi? Selalu ditinggalkan. Aaahh." Kemudian ia mendongak menatap birunya langit sambil terkekeh.

__ADS_1


Merasa lucu akan dirinya yang sekarang. Karena menjadi sosok yang begitu banyak bercakap tidak seperti dulu yang pelit akan ucapan.


Sebegitu besarnya sosok Anata Rumi dalam hidupnya yang sudah mengubah banyak kehidupannya. Anata Rumi tidak akan pernah terganti di dalam hatinya, tidak akan pernah.


Segalanya begitu menyedihkan untuk dirinya. Ingin rasanya ia menyusul Anata Rumi. Karena terus merindukannya dan selalu merasa tidak ada yang seperti Anata Rumi yang bisa membuat ia tenang, bahagia, nyaman, dan memahami perasaannya.


Suara kekehan itu terhenti terganti dengan tarikan napas yang teramat berat, "Sebaiknya, aku pergi. Sebelum aku membunuh diriku sendiri karena terlalu merindukanmu, I love you," Bastian berdiri mengayunkan kakinya menjauh dari tempat peristirahatan terakhir sang kekasih meninggalkan sejuta kenangan dan kesedihan.


Menurutnya kehidupan yang ia jalani tidak lagi sama. Ia bisa bertahan hanya karena ada orang-orang yang masih menyanyangi dirinya meski tak ada ikatan darah yang mengalir.

__ADS_1


__ADS_2