kesalahan satu malam

kesalahan satu malam
Bab 6


__ADS_3

Kegaduhan yang terjadi membuat Bastian menoleh. Mata berwarna hazel itu tertuju ke arah suara yang menggelegar.


Bastian tertegun melihat pemandangan yang ada di hadapannya saat ini. Ia terpaku dan terdiam melihat Pemandangan kekerasan seperti itu sebenarnya sudah biasa untuk Bastian lihat. Ia sudah tidak kaget lagi akan hal itu malah ia pernah melihat yang lebih parah dari kejadian yang ada di depannya saat ini.


Tapi yang membuatnya tertegun adalah kata-kata yang keluar dari pria paruh baya itu begitu menyakitkan untuk didengar.


Sialnya Bastian ikut ambil dalam masalah yang kali ini terjadi. Bastian yang melihat itu hanya bisa menarik napas. Yang bisa ia lakukan saat ini adalah menyiapkan mentalnya untuk siap menerima pukulan kembali tanpa harus melawan, karena ia sadar, kalau ia melakukan pembalasan apa yang sudah ia terima, ceritanya akan lebih panjang lagi.


Sebenarnya lawannya kali ini bisa dikatakan tidak sepadan untuk dirinya. Bastian juga tidak mau masalah ini melebar kemana-mana, ia tidak ingin identitas asli nya tercium oleh para polisi. Bastian juga ingin secepatnya segera bisa pulang dan beristirahat.


Suara langkah kaki terdengar mendekatinya dan Bastian bisa melihat dengan jelas siapa yang menghampiri nya saat ini. Pria paruh baya itu berjalan dengan sebuah tatapan mata yang penuh kebencian, sorot matanya tidak pernah lepas menatap dirinya yang saat ini sedang duduk disebuah kursi. 


Bastian hanya bisa menarik napas terlihat pasrah dengan keadaan ini, ia siap bila dihadiahi sebuah pukulan asalkan masalah ini cepat selesai.


BUGH...

__ADS_1


Dan benar saja, satu pukulan mulus mendarat tepat di pipinya sebelah kanan. Bastian hanya bisa memejamkan matanya menahan gelenyar sakit saat kepalan tangan menyentuh permukaan kulitnya. Ternyata, pukulan dari pria paruh baya itu cukup lumayan sakit hingga kepalanya menoleh ke arah berlawanan dimana pipinya ter-tonjok.


Darah langsung terlihat dari ujung bibir Bastian akibat luka robek yang dihasilkan kepalan tangan itu.


Randi Saguna mencengkeram kuat kerah baju Bastian dan meluncurkan pukulan bertubi-tubi yang mengarah ke perut Bastian. Meluapkan semua kekesalan yang ada pada dirinya.


Para polisi yang melihat itu buru-buru menahan Randi Saguna dengan beberapa orang yang memegangi tubuhnya. Bastian berjalan mundur dengan menatap orang yang ada dihadapannya saat ini. "LEPASKAN AKU! BIARKAN AKU MEMBUNUHNYA! DIA SUDAH BERANI MENYENTUH ANAK KU." Suara Randi Saguna mengelegar bagaikan petir di hujan yang deras.


Bastian yang mendengar itu menampakan seyuman sinisnya dihadapan Randi Saguna. Randi Saguna yang melihat itu menatapnya nyalang ia tidak terima dengan senyum mengejek yang diberikan pria yang ada dihadapannya saat ini.


Tubuhnya memberontak amarahnya sudah tak dapat ia bendungan lagi saat melihat wajah yang ada dihadapannya tersenyum dan ia ingin segera kembali menghajar orang yang ada dihadapannya saat ini.


Randi Saguna yang mendengar itu langsung tertegun. Ia terdiam sudah tidak ada lagi pemberontakan dari dirinya. Ia langsung membalikkan tubuhnya menatap anaknya, dengan wajah tidak percaya bahwa anaknya berani melakukan itu.


Bayu langsung angka bicara dengan suara tegasnya setelah mendengar itu. "Sebaiknya, kita bicarakan ini dengan tenang dan kekeluargaan. Mari kita ke ruang rapat agar masalah ini terselesaikan dengan baik. Ayo, Amelia. Kau juga harus ikut kami." Bayu langsung berjalan memimpin yang di ikuti mereka semua.

__ADS_1







Di ruang rapat kantor kepolisian. Mereka duduk dengan jarak yang berjauhan. Ruangan itu seketika menjadi mencekam. Kabut kegelapan menyelimuti ruang rapat. Tatapan mata nyalang tidak henti-hentinya Randi Saguna berikan untuk pria yang duduk di hadapannya dengan sebuah meja yang memisahkan mereka.


Amelia hanya bisa menangis meratapi hidupnya saat ini. Karena kesalahan satu malam yang ia lakukan menempatkan ia dalam masalah besar ini.


"Aku ingin kau segera menikahi Amelia!" Suara lembut berhasil memecahkan Keheningan di ruangan yang sunyi ini.

__ADS_1


Membuat siapa saja yang menderanya membelalakkan mata tidak percaya dengan ucapannya yang baru saja mereka dengar saat ini.


Termaksud Randi Saguna yang menatap istrinya tidak percaya bahwa istrinya akan mengatakan hal itu yang tidak pernah terpikirkan sedikit pun oleh dirinya saat ini.


__ADS_2