kesalahan satu malam

kesalahan satu malam
Bab 8


__ADS_3

Di sebuah kamar dengan remangnya lampu kemuning di atas nakas, Bastian sedang bergumam. "Tolong selamatkan dia … tolong … To–tolong!" Lagi-lagi Bastian bermimpi buruk tentang masa lalunya lebih tepatnya kecelakaan bersama orang yang ia cintai.


Bastian terbangun dengan keringat yang begitu banyak sudah membasahi tubuhnya. Jantungnya berdegup sangat cepat dengan nafas yang naik turun, wajahnya terlihat pucat dengan bulir keringat sebesar biji jagung di keningnya.


Bastian hanya bisa mengusap wajahnya terlihat frustasi. Lagi-lagi mimpi itu yang membuatnya terjaga. Baru juga ia tertidur dengan sangat pulas setelah menghabiskan malam panas dengan wanita yang menurut nya pembawa sial.


"Tahun sudah berganti, Bulan sudah berlalu. Tapi entah kenapa aku sulit melupakanmu. Setiap ku tutup mata ini bayanganmu selalu hadir dan itu membuat hati ku terasa sakit. Dan, lagi-lagi aku tidak bisa tidur dengan semestinya." Gumam Bastian seorang diri dengan wajah yang terlihat lelah dan frustasi.


Mungkin seperti biasa Bastian akan meminum obat tidurnya untuk dapat membantu ia tertidur dengan pulas.


Bastian pun beranjak dari kasurnya untuk mengambil obat tidur yang berada di laci dan mengambil segelas air putih untuk ia minum.


Bastian langsung merebahkan dirinya lagi di kasur sambil menatap langit-langit kamarnya. Entah kenapa ia langsung teringat dengan kejadian beberapa saat lalu. Saat ia dipaksa harus menikah dengan orang yang tidak ia kenal dan cintai. Memang pernikahan itu belum terjadi saat ini, karena mana ada orang yang mau menikahkan kami berdua di jam yang hampir mau pagi itu. Tetap saja membuatnya kesal karena cepat atau lambat dirinya pasti akan menikah.

__ADS_1


"Sepertinya, hari ini hari tersial dalam hidupku. Aku harus terikat dengan sebuah pernikahan yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya. Amelia Clarissa kau pembawa sial dalam hidup ku. Maafkan aku sayang. Ini semua bukan keinginan aku," Gumam Bastian dengan suara lirih ia teringat akan cinta pertama nya yang bernama Ananta Rumi.


Ananta Rumi adalah wanita yang mengenalkan nya akan cinta dan memberikannya kasih sayang yang tidak pernah Bastian dapatkan selama ia hidup di dunia ini. Karena kehidupan nya begitu kelam jangankan cinta, kasih sayang saja Bastian tidak pernah mendapatkan nya.


Tapi sayang wanita yang memberikan itu semua telah tiada, meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya akibat sebuah kecelakaan. Samar-samar Bastian bisa mengingat kejadian itu. Sebuah mobil truk menghantam mobilnya dari arah belakang hantaman itu cukup keras membuat mobil yang ditumpangi dirinya dan Ananta Rumi terguling beberapa kali sampai akhirnya terhenti dengan keadaan posisi terbalik.


Naas kejadian itu membuat Rumi terpental dari dalam mobil. Dirinya bisa melihat Rumi yang sudah tergeletak di atas aspal dengan banyak nya serpihan kaca mobil. Ia bisa melihatnya meski tampak samar dengan posisi terbalik. Rumi yang tergeletak dengan mata yang terpejam dengan darah yang mengalir keluar dari kepalanya dengan cahaya lampu dari mobil truk yang berhenti setelah menghantam mobilnya menyorot dengan jelas keadaan Rumi yang menunjukkan bahwa semua tidak baik-baik saja.


Saat itu Bastian hanya bisa bergumam dengan suara yang lirih karena ia juga sedang sekarat saat itu hingga ia tidak sadarkan diri dan tidak menginginkan apa-apa lagi setelah itu.


Kejadian naas itu membuat Bastian selalu dihantui mimpi buruk yang sama. Membuat dirinya terjaga dari tidur nyenyak nya. Dirinya mau tidak mau harus ke Dokter karena sudah sangat mengganggu kehidupannya.


Sampai saat ini Bastian masih mengkonsumsi obat yang diresepkan oleh Dokter.

__ADS_1


Bastian yang teringat dengan Ananta Rumi itu langsung merasa bersalah. "Bisakah aku melupakanmu? Kejadian itu selalu membayangi dan menghantuiku. Maaf, karena aku tidak bisa menyelamatkanmu waktu itu. Sungguh aku menyesalinya dan sekarang aku membuatmu kecewa." Gumam Bastian sebelum akhirnya ia tertidur.


Di sebuah kamar dengan bernuansa natural dan berwarna putih. Amelia Clarissa masih terjaga padahal matahari diluar sana sebentar lagi akan nampak tapi matanya tidak mau terpejam.


Hanya ada suara Isak tangis yang diperdengarkan. Amelia terus menerus merutuki kebodohannya karena terlalu percaya dengan orang-orang yang ada di dalam sana.


"Seharusnya aku tidak datang ke acara perpisahan itu. Mungkin hidupku akan baik-baik saja," gumam Amelia dalam Isak tangisnya.


Anda saja ia tidak mudah menerima pemberian dari orang lain dan mempercayainya, mungkin semua ini tidak akan terjadi.


Inti kewanitaannya masih sangat sakit dan perih akibat malam yang panas itu. Sama sakitnya dengan hati dan perasaan saat ini. Bagaimana ia menjelaskan semua ini kepada Abian Bahran, kekasih yang sudah menemani nya hampir satu tahun. Bagaimana cara ia menceritakan semuanya dan mengakhiri kisah cintanya dengan orang yang ia sayangi?


Amelia hanya bisa meremas sprei yang sudah terlihat berantakan, ruang kamarnya tampak tidak sama lagi saat ia masuk. kaca rias yang sudah tidak utuh lagi bentuknya pecahan kaca yang berserakan, alat-alat make up yang sudah bertebaran di lantai. Semua itu menggambarkan perasaan Amelia saat ini.

__ADS_1


Hanya suara Isak tangis yang terdengar dan cacian, makian untuk dirinya sendiri, ia merutuki semua kebodohannya.


Cukup lama Amelia menangis, Akhirnya ia dapat tertidur. Karena sudah terdengar suara nafas yang teratur keluar dari hidungnya. Dengan ditandai suara denting jam yang sudah terdengar keren sudah tidak ada lagi suara Amelia yang menangis dan bergumam seorang diri yang merutuki kebodohannya.


__ADS_2