
"Jadi siapa namamu? " Tanya Bayu
"Ve.. Vera"
"Vera.. kenapa mereka mengejarmu? "
"Aku.. aku punya hutang dan belum bisa membayarnya jadi mereka mengejarku bahkan sekarang aku bingung harus pulang kemana karena mereka pasti akan datang kembali ke kontrakanku" ucap Vera tanpa jeda
"Kau jujur sekali" ucap Bayu
"Apa kau tidak punya keluarga? kerabat? atau teman? "
"Keluargaku di kampung sementara teman aku tidak mau merepotkannya dia sudah cukup menderita karena suami idiotnya" jawab Vera
"Lalu aku harus membawamu kemana? "
"Entahlah tuan, turunkan aku dimana saja" jawabnya putus asa
"Astaga.. hidupmu kacau sekali"
Akhirnya Bayu membawa Vera ke apartemennya, Vera menatap sekeliling apartemen mewah nan bersih dan rapih
"Kenapa kau membawaku kesini? " tanya Vera
"Kau yang bilang tidak tahu harus kemana jadi membawamu kesini, ya sudah aku mau pulang" Bayu pergi begitu saja
"Haishh... apa yang aku pikirkan, dia sepertinya pria baik baik" Vera mengira Bayu akan seperti pria kebanyakan yang akan meminta imbalan dengan tidur bersama
"Ganteng, baik, kaya, hah.. apakah aku yang hanya serpihan debu yang hina" gumamnya
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Sayang.. fyuuhh.. " Tristan meniup telinga Hanin yang sedang tertidur pulas
"Diamlah aku sangat lelah" racau Hanin mendorong wajah Tristan
"Baiklah kau tidur saja aku akan melakukan tugasku dengan baik" bisiknya
"Tidak.. tidak.. Kenzo akan bangun nanti jangan bergerak" Hanin langsung beringsut dan duduk
"Benarkah? tapi Kenzo tidak ada disini" jawab Tristan
"Dimana Kenzo? dimana anakku? " Hanin panik mencari Kenzo
"Tenanglah sayang.. suster sangat pengertian dia menidurkan Kenzo di kamarnya agar kita bisa menikmati waktu berdua" Ucap Tristan kembali membaringkan Hanin
"Tapi.. tapi.. aku"
"Sstt... sampai kapan kau terus menolakku sayang? bukankah nanti ataupun sekarang sama saja? " bisik Tristan lembut seraya membelai wajah Hanin
Hanin terbuai dengan sentuhan Tristan hingga penolakannya tak terdengar lagi, pria ini benar benar mahir dalam menjatuhkan lawannya di ranjang
.
.
__ADS_1
"Emmhh... " Hanin yang baru saja bangun tidur menggerakkan sedikit tubuhnya
"Selamat pagi sayang" Ucap Tristan yang memandanginya
Hanin mengerjapkan matanya dan "Aaaaaaaa" Hanin berteriak ketika melihat wajah Tristan begitu dekat dengannya
"Kenapa kau berteriak? "
"Ini.. ini.. bukan mimpi? " Hanin menyingkap selimut yang menutupi tubuh polos mereka
"Bukan sayang, kau begitu bersemangat semalam, apa kau lupa? " goda Tristan
Hanin kembali mengingat apa yang terjadi semalam memang benar bukan hanya Tristan yang bekerja namun dia juga ikut mengambil peran
"Astaga" Hanin menutup mulutnya
"Indah bukan? aku ingin mengulanginya" Tristan memeluk tubuh Hanin dari belakang
"Ahh.. aku lupa Kenzo mungkin belum sudah kehausan" Hanin melepaskan tangan Tristan turun dari ranjang
"Kau tidak malu? " ucap Tristan ketika Hanin menapakkan kakinya di lantai
Hanin pun tersadar bahwa dia belum memakai pakaian dengan cepat dia menarik selimut dan kini Tristan lah yang polos tanpa penutup
"Sepertinya kau suka melihatku seperti ini" goda Tristan, dengan kesal Hanin melesat masuk kedalam kamar mandi
"Ini benar benar gila, bagaimana bisa.. Aargghh.. kau bodoh Hanin sangat bodoh" gumamnya memukul mukul kepalanya pelan
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Aku menyesal pernah bekerjasama denganmu, situasi menjadi Sulit sekarang" ucap Luis
"Beri aku tempat yang layak untuk bersembunyi maka kau akan aman"
"Aku akan membawamu ke salah satu villa ku, ingat jangan berulah disana"
"Baiklah aku mengerti, dan jangan lupa aku dan anakku butuh uang untuk hidup"
"Jangan banyak permintaan" ucap Luis seraya pergi
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Seorang pria baru saja turun dari mobil di depan sebuah perusahaan, para staf membungkuk hormat seiring dengan langkah besarnya
"Selamat datang kembali tuan" ucap semua staf yang dia lewati
Pria yang di kenal arogan dan sombong melepas kacamata yang bertengger di hidungnya masuk ke dalam lift khusus presdir, dengan pasti dia semakin mendekat ke ruangan yang selama ini dia tempati
"Selamat pagi ayah" ucap Tristan pada Janu yang sudah berada di ruangannya
"Tidak usah berbasa-basi Tristan, selesaikan sekarang juga apa yang sudah kamu mulai" ucap Janu membuat Tristan membuang nafas kasar
"Baiklah.. aku akan mengakhiri semuanya sekarang" Tristan dan Janu menuju tempat konferensi pers dimana wartawan sudah menunggu disana
Pertanyaan demi pertanyaan di lontarkan wartawan dan Tristan menjawabnya tanpa ragu dan tanpa terbata bata, dia memang pandai bicara diakhir kata dia menyataan permintaan maaf pada Hanin
__ADS_1
"Aku memang bersalah dalam hal ini, untuk istriku maafkan suamimu ini, aku benar benar merasa bersalah telah menyakiti mutiara berharga sepertimu dan memilih batu kerikil dari selokan waktu itu"
"Tidak memaafkannya juga tidak apa apa nak kau bisa langsung mengajukan gugatan cerai padanya, aku akan mencarikanmu pria yang lebih baik, tampan dan kaya" sergah Janu membuat para wartawan tertawa
"Nyonya lihat tuan sangat tampan dia pandai bicara" Ucap suster pada Hanin
"Begitulah buaya jangan percaya kata katanya hanya bualan" jawab Hanin
Hanin membuka kancing bajunya untuk memberi asi pada Kenzo, saat suster menoleh dia tersedak air saat minum karena melihat gunung kembar Hanin bercorak merah
"Kau tidak apa apa? " tanya Hanin
"Nyonya itu.. anu" suster menggaruk tengkuknya
"Astaga aku lupa" gumam Hanin mengambil kain yang dia bawa untuk menutupinya lalu pergi tanpa mengatakan apapun, Hanin merasa malu bukan main tanda yang di berikan Tristan bahkan tidak terhitung di seluruh tubuhnya
.
.
"Sayang.. kau dimana? " teriak Tristan saat baru pulang dari kantor
"Nyonya ada di kamar tuan" Tristan berlari kecil menaiki anak tangga
Sesampainya di kamar Tristan melihat Hanin dan Kenzo sudah terlelap dia ikut merebahkan dirinya di belakang Hanin memeluk serta menghirup aroma tubuh Hanin
"Wangimu tidak pernah berubah" gumam Tristan
"Apa yang kau lakukan Tristan" gumam Hanin saat Tristan mengusak kepalanya di tengkuk Hanin
"Aku merindukanmu"
"Apa kau sudah makan? ayo aku temani kau makan" ucap Hanin hendak bangun dari tidurnya
"Aku memang lapar tapi bukan ingin makan.. " ucap Tristan ambigu menahan tubuh Hanin agar tetap tidur
"Lalu kau lapar ingin apa? bukannya lapar karena ingin makan? " tanya Hanin
"Aku ingin minum"
"Tidak ada air disini, ayo kita turun" bukannya turun Tristan malah mengungkung tubuh Hanin
''Bukan air sayang, aku mau ini" jawab Tristan seraya menusuk nusuk dada Hanin dengan jari telunjuknya
"Jangan aneh aneh" Hanin menepis tangan Tristan
"Sedikit saja" rengek Tristan
"Tidak.. ini punya Kenzo" Hanin menyilangkan tangannya di dada
"Pelit sekali... padahal semalam.. mmpphh" belum selesai Tristan bicara Hanin segera membekap mulutnya
"Jangan bicarakan tentang semalam"
"Kalau begitu beri aku ini sedikit saja" Tristan melepaskan tangan Hanin dari mulutnya
__ADS_1
"Aku sudah menduganya kau tidak hanya minum" gumam Hanin saat Tristan mulai melakukan aktivitas suami istri