kesalahan satu malam

kesalahan satu malam
Dua orang yang berbeda


__ADS_3

Hanin baru saja bangun dari tidurnya mengerjakan matanya berkali-kali menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang Hanin melepas ikatan di tangannya dan melangkah ke kamar mandi berpegangan pada dinding tubuhnya lemas gemetaran sudah pukul 14:00 tapi dia bahkan belum makan apapun


Setelah menyelesaikan ritual mandinya Hanin mencari sesuatu untuk di masak di dapur dia baru ingat ternyata dari pagi dia tidak masak karena tidak ada bahan makanan hanya ada dua lembar roti dia memakannya dengan minum teh manis


niat hati ingin keluar namun pintunya terkunci


"Sialan" Hanin menggedor lalu menendang pintu apartemen Tristan


Di kantor Tristan tidak bisa berkonsentrasi entah apa yang dia pikirkan dia mengambil handphonenya lalu bergegas keluar


"Mau kemana lagi? kau baru saja sampai" tanya Bayu yang berpapasan dengan Tristan


"Sudah aku bilang aku ada urusan lain" ketus Tristan


"Hanin kemana? " tanya Bayu


"Dia di apartemen aku melarangnya bekerja" ucapnya seraya pergi


Tristan melajukan mobilnya dengan kencang kembali ke apartemen dengan langkah besarnya dia sampai di pintu apartemen dengan cepat


"Apa dia minta sesuatu? " tanya Tristan pada pengawal di depan pintu


"Tidak tuan nona hanya mengumpat berusaha mendobrak pintu" jawabnya


Tristan masuk langsung menuju kamarnya membuka pintu kamar dengan segera tampak Hanin sedang terbaring di ranjang dengan mata terpejam mengernyitkan wajahnya memegangi perut


Tristan duduk di tepi ranjang di samping Hanin


merasa pergerakan di ranjangnya hanin membuka mata


"Kau kenapa?" tanya Tristan tidak ramah


Hanin tidak menjawab dia membalikkan tubuhnya membelakangi Tristan Tristan membalik kasar tubuh Hanin


"Jawab aku Hanin "


"Perutku sakit" ketusnya


"Apa yang kau makan? " tanyanya


"Aku tidak makan apapun dari pagi" lirih Hanin


"Kau ini bodoh sekali, siapa suruh kau tidak makan" hardik Tristan


"Kau yang bodoh jelas jelas kau tidak pernah tau bahan pokok di rumah ini, aku yang selalu membelinya dan kau hanya tau makan, aku kehabisan uang Tristan tidak bisa membeli apapun" hati Tristan mencelos memang benar semenjak dia menikah tidak pernah memberinya uang


"Dan kau mengunci pintu apartemen, untung saja aku masih hidup" ketus Hanin


Tristan pergi dari kamar lama dia tidak kembali namun bisa di pastikan dia masih ada di dalam karena terdengar suara barang barang di dapur Pintu kamar terbuka muncul Tristan dengan seorang wanita masuk


"Apa yang anda rasakan nyonya? " ucap wanita tersebut yang bisa di pastikan bahwa itu adalah dokter


"Aku mual perutku juga terasa sakit" ucap Hanin


"Sebentar nyonya, maaf ya" dokter memasukkan tangannya dalam baju Hanin

__ADS_1


"Asam lambung dan maag anda mungkin telat makan? " tanya dokter


"Ya memang dok" lirih Hanin


Setelah meresepkan obat dokter pamit di antar Tristan keluar Sesaat kemudian Tristan muncul kembali dengan nampan di tangannya ternyata Tristan membuatkan bubur untuk Hanin


"Buka mulutmu" Hanin malah menutupnya dengan tangan


"Aku mual Tristan" ucap Hanin membekap mulutnya sendiri


"Jangan jangan kau hamil"celetuk Tristan


" Apa kau gila? kalau pun aku hamil dokter pasti sudah mengatakannya " pekik Hanin


"Kau memarahi orang seperti sedang tidak sakit" ledek Tristan membuat Hanin memberangus kesal


"Owek owek" Hanin memuntahkan isi perutnya ke pangkuan Tristan yang berada di hadapannya


Tristan menggeram menggertakkan giginya membuat wajah Hanin yang sakit semakin pucat Tristan menghela nafas kasar lalu pergi ke kamar mandi tidak ada marah tidak ada perlakuan kasar dia pergi begitu saja


"Ayo makan, setelah itu minum obat" ucap Tristan lembut duduk tepat disamping Hanin


Hanin menggeser tubuhnya menjauh dari Tristan tapi Tristan meraih pinggangnya dan merapatkan tubuhnya Tristan menyuap bubur kedalam mulutnya lalu menangkup wajah Hanin dengan satu tangan menyuapkan bubur itu dengan mulutnya


"Katakan saja kalau kau mau aku menyuapimu dengan cara seperti itu" Hanin segera merebut mangkuk dari tangan Tristan dan memakannya meskipun merasa mual


Hanin makan dengan cepat hingga tidak terasa ada bubur menempel disekitar bibirnya ketika Hanin memberikan kembali mangkuknya Tristan mendekat dan menjilat bibir Hanin membuat wanita itu langsung mendorong tubuh Tristan


"Sangat lezat" ucapnya seraya menyeringai


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Hallo Tristan"


"Ya ayah"


"Handphone Hanin tidak aktif apa dia baik baik saja? "


"Dia baik, handphonenya jatuh aku belum membelikannya lagi"


"Syukurlah kalau dia baik baik saja"


"Ayah macam apa yang bahkan tidak menanyakan kabar anaknya sendiri" ketus Tristan


"Ayah percaya kau bisa menjaga dirimu sendiri tapi ayah tidak percaya kau menjaga Hanin"


"Owek owek*"


"*Suara apa itu Tristan? "


"Ayah aku tutup teleponnya* "


Tanpa menunggu jawaban dari janu Tristan memutuskan sambungan teleponnya Tristan menghampiri Hanin yang sudah duduk lemas di bawah


"Apa kita perlu kerumah sakit? " tanya Tristan seraya mengelap bibir Hanin tanpa rasa jijik

__ADS_1


Hanin hanya menggeleng tanpa bertanya lagi Tristan menggendong Hanin kembali ke tempat tidur merebahkannya lalu menyelimuti tubuh Hanin


"Aku akan buatkan teh hangat" ucap Tristan


Hanin menatap punggung Tristan yang perlahan menghilang di balik pintu orang yang memperlakukannya kasar berbeda saat dia sakit Tristan seperti dua orang yang berbeda


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Di sekolah Andrew mencari Vio untuk latihan Andrew sudah menunggu Vio satu jam salam studio musik di sekolahnya, Vio yang izin ke toilet nyatanya tidak kembali


Andrew pergi ke kelas mencari keberadaan Vio


"Del lihat Vio gak? " tanya Andrew saat berpapasan dengan Delina


"Loh kan sama kamu, ini aku juga cari dia mau kasih tas" jawabnya


"Lalu dia kemana" gumam Andrew berpikir keras


"Memangnya tadi Vio bilang mau kemana? "


"Ke toilet tapi tidak juga kembali"


"Ayo kita kesana jangan jangan Vio kenapa napa"


Andrew dan Delina pergi ke toilet di sana sudah sepi namun Delina masih penasaran, Delina membuka toilet satu persatu ada satu toilet yang terkunci membuat mereka curiga


"Dobrak aja " usul Delina saat mengetuk pintu itu namun tidak ada jawaban


"Jangan bagaimana kalau Vio ada di balik pintu, sebentar aku akan pinjam kunci cadangan" Andrew pergi mencari kunci cadangan sementara Delina menunggu dengan cemas


Ketika Andrew kembali dan membuka kunci toilet mereka di buat terkejut saat melihat tubuh Vio yang tergeletak dengan pelipis yang mengeluarkan darah


"Vio" pekik Delina duduk mengangkat kepala Vio


"Vio bangun apa yang terjadi denganmu" Delina menepuk nepuk pipi Vio


"Kita harus bawa ke rumah sakit" Andrew menggendong Vio ala bridal style


Siswa yang belum pulang melihat itu termasuk Sashi, Setelah di rumah sakit dan mendapat beberapa jahitan di pelipisnya akhirnya Vio sadar


"Vio apa yang terjadi denganmu? " tanya Delina


"Aku di dorong seseorang saat masuk toilet dan tidak ingat apa apa lagi" jawab Vio memegangi kepalanya


"Siapa yang mendorongmu? " tanya Andrew


"Aku tidak tau"


"Kau sudah sadar ayo kita pulang, aku sudah memesan taksi online" ajak Andrew membantu Vio turun dari bangkar


Untuk para pembaca yang budiman yang baik hati rajin menabung mohon like nya ya


satu like tidak akan melukai jempol manis anda 😁


like komen dan vote taburi bunga juga biar subur 🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2