kesalahan satu malam

kesalahan satu malam
Bab 18


__ADS_3

"Tiga buah," ucapnya lagi.


Bastian bukan orang bodoh ia tahu semakin mahal seseorang menawarinya harga untuk jasanya, semakin beresiko pula pekerjaannya. Apalagi di hadapannya saat ini seorang pebisnis yang tau akan untung dan rugi tidak mungkin dia menawari sebuah mobil yang terbilang mahal, dengan dia memilih kerugian yang didapat. Tapi kesepakatan apa yang laki-laki paruh baya itu inginkan?


Dalam diamnya saat ini Bastian hanya bisa menduga-duga. Apa ia disuruh membunuh seseorang tapi kenapa baru sekarang, kenapa nggak dari kemarin-kemarin saja sebelum ia bertemu dengan Amelia?


Tiga buah mobil Mercedes-AMG GT itu sangat menggiurkan untuk dirinya, sangat sayang untuk ia tolak. Menurut Bastian ini kesempatan yang sangat langka belum pernah ada seorang kliennya menawari kesepakatan seperti ini.


Dengan sangat ragu Bastian mengeluarkan suara yang sejak tadi ia simpan dan hanya memandangi orang yang ada di hadapannya saat ini, laki-laki paruh baya itu begitu sangat tenang. Bastian menghembuskan napasnya pelan semoga apa yang menjadi pilihannya nanti tidak salah.


Bastian tersenyum, "Kesepakatan apa yang kau inginkan hingga menawari diriku tiga buah mobil," 


Akhirnya suara yang ditunggu-tunggu Randi Saguna terdengar memang filing pebisnis nya tidak pernah di ragunan lagi. Bastian pasti akan tertarik dengan apa yang ia berikan.


Randi Saguna membalas senyuman itu, "Aku ingin kau menjadi pelindung untuk anakku," ucapnya tanpa ragu.


Bastian yang mendengar itu tentu membulatkan matanya, Amelia sudah besar. Kenapa harus dilindungi? memang dia anak kecil yang bisa hilang atau terluka bila tidak dijaga dengan baik. Pantas saja dia tidak bisa apa-apa meski sudah sebesar itu. Papanya saja memperlakukan dia seperti anak kecil. Apa anak orang kaya selalu diperlukan seperti itu?

__ADS_1


"Apa itu perlu? Saya rasa Amelia sudah besar tidak perlu dilindungi atau dijaga,"


Randi Saguna tidak langsung menjawab, ia mengambil sepotong sushi yang tersaji diatas meja dan memakannya. Ia mengunyahnya dengan perlahan netranya menatap wajah Bastian yang terus memperhatikan dirinya.


"Kau tahu siapa saya?" Tanya Randi Saguna setelah makanan yang ada di dalam mulutnya tandas.


Bastian yang mendengar itu menghembuskan napas pelan. Laki-laki di depannya saat ini benar-benar menyebalkan. Bukannya menjawab dari pertanyaan yang ia berikan tapi dia malah balik bertanya. Pada akhirnya ia hanya memberikan anggukan kecil.


'Pembicaraan ini sangat membosankan,' Gumam Bastian di dalam hati.


Bastian mengernyitkan alisnya, "Terus kau ingin aku menjaga Amelia sampai kapan? Aku rasa, nyawanya akan selalu terancam bila anda masih kaya seperti sekarang," ucapnya berpendapat.


Randi Saguna hanya mengangguk, ucapan Bastian memang tidak salah, "Aku ingin menceritakan kisah tentang Amelia. Ia dulu pernah diculik waktu ia duduk di bangku SMP. Tubuhnya diikat dengan kedua mata yang ditutup lalu dimasukkan di kantong plastik sampah hitam. Ia berjam-jam seperti itu, sebelum akhirnya kami bisa menemukannya di tempat pembuangan sampah setelah aku memberikan uang tebusan yang mereka inginkan. Aku melihat putri kecilku diperlakukan seperti itu tentu aku tidak terima dan itu membuat hatiku hancur sebagai Papa aku tidak bisa menjaganya dengan baik. Yang membuat hatiku tambah teriris adalah dia mengalami trauma yang sangat parah akibat kejadian itu hingga dia mempunyai fobia nyctophobia- ruang gelap tanpa cahaya sedikitpun dan Linonophobia - takut akan tali yang membelit sesuatu," Suara Randi Saguna terhenti terganti dengan tarikan lalu hembusan napas yang panjang.


Bastian cukup kaget saat mendengar cerita itu, ia memilih diam dan hanya mendengarkan apa yang laki-laki paruh baya itu ceritakan.


"Aku merasa kejadian di club malam itu disengaja oleh orang lain. Bagaimana dia tahu Amelia keluar tanpa pengawasan dariku. Aku juga tidak tahu apa motif mereka melakukan itu semua. Aku ingin kau menjaga Amelia dari orang-orang yang ingin berbuat jahat terhadapnya, aku juga ingin kau membunuh orang-orang itu. Aku sadar Amelia sudah besar dia selalu protes terhadapku. Ia merasa terganggu oleh orang-orang yang mengikutinya karena itu aku ini kau menjaganya. Aku juga ingin mereka berpikir Amelia sudah tidak ada yang menjaganya lagi dan orang-orang yang berniat jahat terhadapnya bisa mendekatinya tentu saja Amelia harus dalam pengawasanmu," Randi Saguna berbicara dengan menatap intens orang yang ada di hadapannya saat ini karena tidak memberikan respon apapun.

__ADS_1


"Bagaimana kau mau? Kalau kau mau, aku ingin acara resepsi pernikahan diadakan dan memperkenalkan kamu sebagai menantuku. Aku ingin kau juga merubah profesi pekerjaan yang tadi hanya seorang potografer menjadi pengusaha. Tapi ingat, kau tidak boleh jatuh cinta terhadap putri. Aku sudah memaafkanmu karena telah berani menyentuhnya. Aku tidak ingin kejadian yang lalu terulang lagi,"


Satu sudut bibir Bastian terangkat saat kata-kata yang terakhir Randi Saguna ucapkan. Itu pasti tidak akan pernah terjadi mana mungkin ia bisa jatuh cinta dengan wanita seperti dia apalagi di dalam hatinya masih ada Ananta Rumi yang ia cintai. Itu tidak akan mungkin terjadi. Lagi pula ia tidak tertarik dengan Amelia. Meniduri wanita itu adalah kesalahan untuk dirinya dan tidak akan pernah terulang lagi.


"Aku rasa tiga buah mobil adalah bayar yang kecil untuk tugas seberat itu. Aku juga tidak mengerti dengan dunia perbisnisan," ujar Bastian dengan nada yang tidak berminat.


Suara kekehan terdengar pelan, "Wwaaahhh .... Ternyata kau pintar bernegosiasi. Apa yang ingin kau tambahkan, " ucapnya mengerti.


Bastian tidak menyangka Randi Saguna langsung paham apa yang ia inginkan, "Aku ingin kau memberikanku sebuah apartemen dipusat kota dan aku ingin lima buah mobil yang sama sepertiku dalam bentuk uang," ucapnya tanpa berpikir lagi dengan seutas seyuman.


Randi Saguna hanya mampu memberikan kekehan dan gelengan kepala, "Cih ... Aku rasa sebuah apartemen dan tiga buah sudah cukup untuk itu. Kalau kau tidak mau, tidak masalah. Biar aku mencari orang yang seperti dirimu yang mau menjaga anakku,"


"Baiklah, aku setuju," ucapnya cepat.


Randi Saguna hanya mengangguk kecil, "Oke, kita akan membuat kesepakatan tugas ini tidak boleh satu orang pun yang tahu. Kau juga harus menjaganya dengan baik temani kemanapun yang dia inginkan. Kau juga harus ingat dengan ucapanku yang tadi. Kau mengerti Bastian," Randi Saguna mengulurkan tangannya di depan Bastian. Bastian yang melihat itu menjabat uluran tangga itu.


Akhirnya kesepakatan itu terjadi dan mereka pergi dengan perasaan hati yang berbeda-beda.

__ADS_1


__ADS_2