
"Jauhi anakku jika kau tidak mencintainya, jangan membuat anakku berharap lebih padamu" Rai terkejut ketika Bayu mengatakan hal itu
Cassandra sedang membuatkan mereka minuman dan Bayu langsung mengutarakan kecemasannya pada sang putri
"Apa maksud paman? apa aku terlihat mempermainkan Olivia? "
"Jelas saja.. kau menemuinya saat kau membutuhkannya, kau tidak tahu bukan bagaimana perasaannya padamu? kau terlalu naif jika tidak merasakan kasih sayang dari putriku" ucap Bayu
"Apa yang sedang kalian bahas? sepertinya kalian tegang sekali" Cassandra datang membawa minuman dan duduk di samping ayahnya
"Putri ayah belum mandi? kau bau matahari, mandi dulu sana" ucap Bayu ketika Cassandra memeluk perutnya dan bersandar di dada ayahnya
"Benarkah? apa aku bau? " Cassandra mencium tubuhnya sendiri
"Jelas kau baik, dari pagi kau belum mandi"
"Ayah sembarangan saja, pagi tadi aku mandi" Cassandra mencubit perut ayahnya
Rai tersenyum melihat kedekatan Cassandra dan Bayu, hal yang belum pernah dia rasakan sebelumnya dari sosok sang ayah
"Kenapa kau senyum senyum seperti itu? " Tanya Bayu saat Cassandra sudah pergi untuk mandi
"Aku merasa iri dengan kedekatan kalian" jawab Rai
"Kau iri padaku? "
"Bukan.. aku iri pada Cassandra yang memiliki kasih sayang seorang ayah seperti dirimu" Bayu mematung sejenak menatap wajah Rai, tampak seperti tidak ada kebohongan di matanya
"Apa Luis tidak menyayangimu? "
"Ahh.. rupanya paman kenal dengannya" Ucap Rai
"Aku menyelidiki asal usul keluargamu, jika kau berani macam macam dengan anakku maka aku tidak akan segan untuk menghancurkan keluargamu"
"Paman kau menyeramkan sekali" ucap Rai
"Aku serius.. jadi tinggalkan anakku sekarang juga jika kau tidak mencintainya, jangan buat anakku berharap lebih"
"Ayah... " Bayu hendak mengatakan sesuatu namun Cassandra sudah menghampiri mereka
"Ahh.. anak ayah sudah cantik sekali, kemarilah" Bayu menepuk sofa di sampingnya
"Bukankah ada yang ingin kau tanyakan tentang paman Tristan? " tanya Cassandra
"Itu.. apa paman mengetahui tentang keberadaan Wanita bernama Yasmine? " Tanya Rai
"Yasmine? apa hubunganmu dengan wanita itu? "
"Aku sedang mencari seseorang yang bersamanya dulu, aku ingin menanyakan beberapa hal padanya" Tutur Rai
"Tapi aku tidak tahu keberadaannya, tapi siapa yang kau cari? "
"Frederick.. bisakah paman membantuku agar berbicara dengan paman Tristan? " tanya Rai
"Aku tidak tahu.. Tristan mematikan ponselnya dia ingin fokus mengurus Hanin, jika kau mau aku bisa memberikanmu alamatnya"
"Benarkah paman? terimakasih paman aku sangat berterimakasih " Rai begitu senang sampai mengguncang tangan Bayu
__ADS_1
"Tapi ingat jangan mengejutkan Hanin, jangan membuatnya banyak berpikir, dia sedang dalam masa pengobatan" Bayu memberikan sebuah alamat yang sudah dia tulis di sebuah kertas
"Baiklah.. paman terimakasih banyak, aku akan pergi malam ini juga"
"Hmm.. kalau begitu hati hati" ucap
"Aku pamit, sekali lagi terimakasih"
"Aku akan mengantar Rai kedepan" Bayu hanya mengangguk, Cassandra berdiri dan berjalan membuka pintu untuk Rai
"Terimakasih Cassandra berkat dirimu aku mendapatkan alamat paman Tristan, aku tidak akan melupakan kebaikan mu"
"Aku senang bisa membantumu, kau akan pergi malam ini? hati hati dan semoga kau bisa menyelesaikan semua secepatnya" ucap Cassandra
"Boleh aku memelukmu? " Cassandra awalnya terdiam lalu mengangguk
"Tunggu aku kembali.. setelah semuanya selesai aku akan meyakinkan perasaanku" Cassandra masih mencerna ucapan terakhir Rai sebelum pergi
"Meyakinkan perasaannya untuk apa? " Gumam Cassandra bertanya tanya
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Rai benar-benar pergi malam itu juga tanpa menunggu waktu lama dia berada di negara yang sama dengan Hanin dan Tristan, Rai mencari hotel untuk bermalam karena saat sampai disana hari sudah gelap
"Kau selalu ada untukku, aku akan mencoba membuka hatiku untukmu" Ucap Rai lalu menutup matanya
Keesokan harinya Rai menuju alamat yang di berikan oleh Bayu, Rumah sederhana yang asri berada di puncak dengan pemandangan yang indah
Tok.. Tok.. Tok..
Rai mengetuk pintu rumah tersebut beberapa kali barulah pintunya terbuka, Tristan berdiri membuka pintu dengan kaca mata bertengger di hidungnya
"Siapa kau? apa aku mengenalmu? " tanya Tristan
"Aku teman sekolahnya Olivia" Tristan menurunkan kacamatanya melihat dengan seksama wajah Rai
"Ahh.. ya aku ingat, apa yang kau lakukan disini? Olivia tidak ada disini dan kau tau juga bukan dia sudah menikah"
"Paman aku bukan ingin bertemu Olivia, aku ingin bertemu denganmu ada beberapa hal yang harus di bicarakan" Tristan tampak masih berpikir
"Aku ingin tahu tentang wanita yang bernama Yasmine paman"
Deg..
Tristan tersentak saat mendengar nama Yasmine apalagi Hanin memanggil tepat di belakangnya
"Sayang.. siapa di luar? " Tanya Hanin, Tristan dengan cepat menutup pintunya membiarkan Rai di luar sendiri
"Aku tahu anak itu ada di luar, apa yang kalian bicarakan? " terdengar suara Hanin dan Tristan di balik pintu
"Sayang dia mencari Olivia, mungkin Kenzo menyembunyikannya"
"Tidak mungkin dia sampai kesini jika hanya mencari Olivia, biarkan dia masuk" Hanin menyingkirkan tubuh suaminya
"Sayang" Tristan berusaha menahan namun Hanin berbalik menatapnya horor
"Diamlah" tegas Hanin
__ADS_1
Hanin membuka pintu dan menyuruh Rai untuk masuk dan menyuruhnya duduk, Rai masih diam dia tidak ingin pertanyaannya akan membuat keadaan Hanin semakin memburuk
"Bicaralah.. kenapa kau hanya diam? " ucap Hanin
"Itu.. aku.. aku.. "
"Kau mencari siapa? " tanya Hanin
"Pa.. paman Tristan"
"Katakan maksud dan tujuanmu datang kesini? " Rai menatap Tristan yang mengangguk padanya namun Rai masih takut untuk bicara dia khawatir mengganggu kesehatan Hanin
"Itu... sebelumnya aku ingin bertanya, apakah kabar bibi baik? " tanya Rai
"Aku baik.. katakan saja lagipula aku sudah mendengarnya tadi ketika kalian di depan" Jawab Hanin
"Ya... aku ingin tahu keberadaan wanita yang bernama Yasmine, Apa kalian tahu keberadaannya? "
"Ada apa kau mencari dia? " tanya Hanin
Rai menceritakan semua yang terjadi padanya dan keluarganya, Hanin berkaca-kaca ketik mendengar Rai bercerita tentang Luis
"Bibi.. kau baik baik saja? " Tanya Rai ketika Hanin mengusap air matanya
"Aku baik baik saja, aku hanya merasa sedih dengan nasib ibumu, aku tahu betapa menderitanya mengharapkan cinta seorang suami" Lirih Hanin
"Kenapa kau harus menangis? bukankah akhirnya kau mendapatkanku? " Ucap Tristan
"memang benar tapi aku berniat membunuhmu dulu" ketus Hanin
"Dia selalu emosional saat membahas masalalu" Gumam Tristan
"Jadi... untuk apa kau mencari pria itu? " tanya Hanin
"Aku anaknya dari wanita lain, dia tidak mau bertanggungjawab dan lari bersama wanita bernama Yasmine"
"Apa? " pekik Hanin dan Tristan bersamaan
"Apa apaan ini? kenapa bisa begini? " Hanin menyandarkan tubuhnya dengan tatapan kosong sementara Tristan menatap wajah Rai dengan tatapan sulit di artikan
"Paman.. bibi.. apa ada yang salah? Apa kalian tahu sesuatu? "
"Pria itu.. pria itu sudah meninggal dan Yasmine berada di penjara untuk menebus kesalahannya" jawab Tristan
"Kesalahannya yang dulu? "
"Dulu dan sekarang, dia menelpon kami dan saat kami sampai di sana Fredrick sudah tidak bernyawa dengan sejumlah luka, Yasmine yang melakukannya di hadapan Olivia" Hanya Tristan yang menjawab karena Hanin sudah tidak bisa berkata kata lagi
"Olivia? kenapa ada Olivia? "
Tristan menceritakan sesuatu membuat Rai benar-benar terkejut tidak dapat berkata kata bahkan dia menegang seperti patung, Perkataan Tristan berputar-putar di otaknya membuatnya lemas seketika
"Bermalamlah disini, kau sudah tahu yang sebenarnya, sekarang kau bisa melepaskannya bukan? " ucap Hanin
"Ini... ini.. bagaimana bisa? " Rai tidak bisa berkata kata lagi, dadanya menjadi sesak dengan mata memanas
Hanin tahu Rai sedang bersedih dia beralih duduk disamping Rai mengusap punggungnya, kata kata Hanin yang lembut mampu membuat Rai tenang
__ADS_1
"Kami keluargamu, Jangan merasa sendiri lagi" Ucap Hanin