
Hanin sudah bersiap hendak memeriksakan kandungannya ke dokter karena Luis tidak bisa menemani dia pergi bersama bibi, sebelum pergi bibi memberikan masker pada Hanin
"Untuk apa ini bi? " tanya Hanin
"Berita di luar saat ini sedang viral tuan menyuruh saya memberi ini pada anda, pasti orang orang di luar sana mengenal anda dengan beredarnya poto anda di televisi" jawab bibi panjang lebar
"Baiklah, ayo berangkat"
Sesampainya di rumah sakit Hanin mengantri dengan ibu hamil lainnya dia merasa miris hanya dia yang di temani bibi sementara yang lain di temani suaminya masing masing.
"Anak ke berapa bu? " tanya wanita di sampingnya yang perutnya sedang di elus suaminya
"Anak pertama bu" jawab Hanin
"Suaminya kemana kenapa tidak menemani? "
"Suami saya kerja di luar kota bu"
"Ohh.. seharusnya anak pertama menjadi momen paling berharga yang di tunggu setiap orang tua bukannya begitu? " ucapnya membuat hati Hanin mencelos
"Iya benar bu, suami saya juga terpaksa kerja ke luar kota untuk masa depan anak kami agar lebih baik" jawab Hanin
"Kamu tidak seharusnya bilang begitu" gerutu sang suami
"Maafkan istri saya" ucap sang suami pada Hanin
"Tidak masalah, saya permisi nama saya sudah di panggil" ucap Allea seraya berjalan pergi
Dokter meletakkan alat di perut Hanin dan menggesernya bergerak gerak dan layar monitor memperlihatkan janin yang ada di perut Hanin
"Nyonya jangan terlalu stress jaga pola makan dan istirahat yang cukup, bayi anda sehat namun tensi darah anda yang tinggi sangat beresiko pada anda dan anak anda di usahakan lebih rileks" ucap sang dokter
"Baik dok, apa jenis kelaminnya sudah bisa di lihat? " tanya Hanin
"Usia kandungan anda sudah 24 minggu seharusnya sudah tapi sepertinya anak anda menyembunyikannya sebagai kejutan untuk anda" ucap sang dokter seraya tersenyum
Setelah selesai Hanin dan bibi pulang diantar supir, di perjalanan Hanin melihat toko baju bayi dan memutuskan untuk membeli perlengkapan bayi sekarang
"Bukannya pamali ya non kalau beli sekarang? " tanya Bibi
"Mitos bi, Aku mau pilih dulu bibi mau ikut atau tunggu di mobil? " ucap Hanin
"Ikut saja" bibi mengekor pada Hanin yang memilih pakaian untuk bayinya
Hanin menarik masker ke bawah dagunya karena merasa pengap dia lupa bahwa sekarang dia sedang sembunyi sembunyi dari orang lain, beberapa ibu ibu yang mengenali wajah Hanin dengan sengaja merekam Hanin dan mempostingnya di akun media sosial
Postingan itu dalam sekejap sudah tersebar dan banyak di bagikan, toko pakaian bayi itu di serbu para wartawan yang ingin mewawancarai Hanin melihat begitu banyak orang di luar toko bibi memanggil supir dan menghalau mereka membuka jalan untuk Hanin
__ADS_1
"Nona apa tanggapan anda tentang kabar yang beredar saat ini? "
"Nona apakah nona hamil anak tuan Tristan? “
" Kenapa anda di kota ini? apa hubungan anda dengan Tuan Tristan sudah berakhir?"
"Nona apa benar anda di jodohkan oleh tuan Mahardika? "
"Nona jawab satu pertanyaan saja"
"Nona.. nona.. nona.. " mereka mengetuk pintu mobil Hanin yang sudah perlahan melaju
"Ya Tuhan hampir saja aku mati sesak nafas," ucap Hanin
"Saya sampai jantungan, bagaimana jika anda dalam masalah bisa bisa saya di pecat tuan" ucap bibi dengan nafas ngos ngosan
"Apa mereka mengikuti kita? " tanya Hanin
"Sepertinya tidak nona, saya mengemudi dengan cepat" ucap sang supir membuat Hanin bisa bernafas lega
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Berita pagi itu kembali membuat heboh jagat dunia maya dan jagat hiburan dengan kemunculan Hanin di toko di kota tersebut, berita itu membuat berita kalangan selebriti kalah trending
"Haish dasar ceroboh" gumam Andrew melihat kakaknya di kerubungi wartawan
Suara handphone Andrew membuyarkan fokusnya pada tayangan di televisi, Andrew meraih handphonenya dan menjawab panggilan tersebut
"Andrew apa kau melihatnya? " tanya Vio
"Ya.. kakakku memang ceroboh"
"Jadi bagaimana? apa kau akan menyusulnya? " tanya Vio
"Tidak, aku takut ada yang mengikutiku biarkan dia aman toh dia juga bahagia disana"
"Begitu ya, bagaimana dengan acara barbeque yang tertunda? "
"Malam ini ajak Delina kemari aku juga mengundang beberapa temanku"
"Baiklah sampai jumpa nanti "
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Tristan yang sedang menonton televisi di kamarnya di kejutkan dengan kemunculan Hanin dia segera mengambil ponselnya dan menelpon Dika untuk menemaninya pergi ke kota itu
Setelah Dika menyetujuinya Tristan bergegas mengambil jaket dan kunci mobilnya lalu berjalan tergesa gesa turun ke bawah
__ADS_1
"Mau kemana kau? " tanya Janu
"Bukan urusanmu" ketus Tristan
"Dasar anak kurang ajar" bentak Janu
"Apa kau masih peduli padaku? apapun yang aku lakukan bukankah kau tidak mau tahu? " jawab Tristan tak kalah tinggi
"Kau ingin mencari Hanin? " tebak Janu
"Ya aku akan mencarinya sendiri aku tidak membutuhkan bantuanmu sekarang" ucap Tristan lalu melenggang pergi
"Kau tidak akan berhasil " teriak Janu diiringi dengan tawa
"Kau kejam sekali pada anakmu sendiri" tutur Ressa
"Dia harus di beri pelajaran, sudah cukup dia semena mena selama hidupnya jangan bela dia" Jawab Janu kemudian mengambil handphonenya
"Ikuti mobil Tristan pastikan dia tidak melakukan hal hal nekat" ucap Janu pada seseorang di telepon
"Ternyata dia menyayangi anaknya" batin Ressa
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Di perjalanan Tristan selalu mengembangkan senyumnya membuat Dika bergidik ngeri melihat Tristan, sesekali Tristan juga bersiul seraya membenarkan rambutnya berkaca di mobil
"Kau menakutkan jika sudah seperti ini" ledek Dika
"Benarkah? lalu aku harus bagaimana? " Tristan menganggap perkataan Dika serius
"Kau harus tetap tegas, tenang tapi tetap menawan" jawab Dika
"Benar... aku tidak boleh terlihat terlalu senang"
"Itu memang benar karena belum tentu kita menemukan rumah yang di tinggali Hanin, video itu di sebuah toko bukan di rumah" ucap Dika
"Astaga kenapa aku bisa sebodoh ini, kau benar bahkan aku tidak tau dimana tempat tinggal Hanin" Tristan baru tersadar dia terburu buru sehingga tidak memikirkan hal tersebut
"Aku kira kau sudah tau tujuan kita, kalau begini kita akan semakin lama tinggal disana" gerutu Dika
"Kau kan temanku yang paling baik tidak masalah bukan jika menemaniku sedikit lebih lama? "
"Memang tidak masalah tapi kau juga memerasku sialan, kau pergi tidak membawa uang sama sekali" kesal Dika
"Kita kan teman jangan perhitungan seperti itulah, jika semuanya sudah selesai aku akan bayar semua beserta bunga bunganya, kau mau kan membantuku? " ucap Tristan seraya memegang tangan Dika dengan nada bicara lembut
"Kau sangat menjijikkan" Dika menepis tangan Tristan yang sudah seperti G*y saja
__ADS_1
Tristan hanya terkekeh melihat Dika yang merasa geli dengan tingkahnya, dia sangat bersemangat hari ini karena akan menemui sang istri entah bagaimana nanti saja dengan Yasmine yang terpenting Hanin di temukan lebih dulu, pikirnya