
Janu dan Ressa baru saja keluar kamar berniat untuk sarapan, dia melihat ada tiga piring di meja makan membuatnya bingung
"Tumben bi piringnya ada 3"
"Anu tuan.. tuan muda ada di rumah"
Janu dan Ressa cukup terkejut anaknya mau pulang tanpa di suruh, mereka segera mengecek kekamar Tristan dan benar saja Tristan sedang tertidur dengan pulasnya
"Anakku" Ressa membelai pipi sang anak yang sekarang terlihat berantakan
Tristan terlihat lebih kurus dengan jenggot dan kumis yang mulai tumbuh matanya terlihat menghitam karena kurang tidur
"Kenapa anakku bisa sekacau ini" lirih Ressa
"Sepertinya dia cukup kehilangan Hanin " jawab Janu seraya mengusap punggung istrinya
"Eemmhh" Tristan mengernyitkan wajahnya mencoba untuk bangun
"Apa kau baik baik saja? " tanya Ressa
"Ya " Tristan bangun memijat pelipisnya
"Mabuk lagi? " ketus Janu
"Ayah aku butuh bantuanmu" ujar Tristan
"Maaf aku tidak bersedia" jawab Janu melangkahkan kakinya hendak keluar
"Ini tentang Hanin ayah, semalam ada orang yang mengatakan padaku dia akan mengambil Hanin dariku" Janu berhenti sejenak lalu menoleh
"Bukan urusanku, bukankah ini yang kau inginkan? nikmati saja" ucap Janu seraya meninggalkan kamar Tristan
"Apa kau mencintainya? " tanya Ressa
"Entahlah" lirihnya
"Jika kau ingin dia kembali hanya untuk menyakitinya jangan cari dia lagi, biarkan dia bahagia " ucap
"Bu.. ibu aku mohon bantu aku bicara pada ayah" Tristan sampai menjatuhkan diri memeluk kaki ibunya
"Aku tau kau memperlakukannya dengan buruk tapi dia menutupi itu semua di hadapan ayahmu, aku sudah katakan dia bukan pembunuh Edward aku tahu itu "
"Tapi kau menutup mata dan telingamu sebenarnya ada dendam apa kau dengannya? " lanjut Ressa menepis tangan Tristan membiarkannya sendiri
"Apa kita tidak akan mencari Hanin? " tanya Ressa pada Janu di meja makan
"Kau tenang saja aku tahu dia dimana jangan biarkan Tristan tau, biarkan dia menyesali perbuatannya
" Apa dia baik baik saja? " tanya Ressa
"Ya dia bersama seorang temannya, dia akan baik baik saja" jawab Janu
__ADS_1
Janu mencari keberadaan Hanin dengan susah payah dan akhirnya dia mulai mengikuti beberapa orang yang dia curigai sedang bersama Hanin, Andrew, Bayu, dan Vera mereka terbukti tidak bersama Hanin, akhirnya Janu mengikuti Luis selama satu minggu dan menemukan Hanin saat Luis mendatangi Villa di akhir pekan
Hanin tampak baik baik saja dengan perut sedikit membuncit, orang suruhan Janu memotret kebersamaan mereka nampak senyum bahagia terpancar di wajah Hanin saat Luis memberi sebuah paper bag yang entah apa isinya
"Aku berangkat dulu, jangan katakan apapun pada Tristan " ucap Janu
"Baiklah hati hati"
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Hanin hanya melamun menatap keluar jendela seraya mengusap perutnya, sesekali dia mengusap bulir bening yang jatuh dari pelupuk matanya
"Sedang apa ayahmu sekarang? Apa dia merindukan kita seperti kita merindukan dia? " gumam Hanin
Tok tok tok
"Non ada di dalam? tanya bibi
" Iya bi sebentar " Hanin membuka pintunya
"Mau belanja atau makan sesuatu?"
"Tidak bi"
"Ayo kita ke luar cari udara segar" ajak bibi
"Pasti Luis menyuruh bibi"
"Heehe iya Non, tuan bilang Non jangan terlalu banyak melamun di kamar gak baik buat baby"
"Siap non, bibi tunggu di bawah"
"Ok aku ganti baju dulu"
Mereka meluncur ke salah satu pusat perbelanjaan saat sedang memilih buah suara televisi membuat tangan Hanin berhenti memilih dan menoleh ke arah TV
"*Pewaris perusahaan Tristan januar di kabarkan tidak sudah beberapa minggu tidak dapat di temui, tentang berita yang kini tengah beredar di tengah tengah masyarakat membuat sang ayah enggan menanggapi media. Sikapnya yang di nilai ramah pada awak media kini tertutup dan enggan di wawancarai. sementara istri sah dari Tristan januar tidak di ketahui keberadaannya hanya sang tunangan yang sibuk dengan pemotretan dan sesekali angkat bicara tentang berita ini"
"Intinya aku disini adalah korban, aku dan Tristan sudah menjalin hubungan sangat lama sebelum wanita itu datang, memang hubungan kami di tentang oleh ayahnya hingga dia menikahkan Tristan dengan wanita itu. namun seperti yang kalian lihat Tristan mencintaiku dia lebih dulu mengumumkan pertunangan kami meskipun dia sudah menikah, Aku dan Tristan masih berhubungan kami saling mencintai aku mohon jangan pisahkan kami lagi" ucap Yasmine yang sempat di wawancarai
"Nona tidak apa apa? " tanya bibi melihat perubahan Hanin
"Tidak.. ayo kita lanjutkan pilih buahnya" Hanin segera menjawab
"Tidak seharusnya aku merindukan lelaki bajingan seperti dia" Batin Hanin
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Drew kamu lihat berita pagi ini? " tanya Vio
"Ya aku lihat, dia teman baik kakakku dulu aku tidak menyangka dia sejahat itu pada kakakku" ucap Andrew
__ADS_1
"Teman baik? "
"Iya dia berubah setelah beberapa tahun terakhir tidak tau kenapa tapi dia seperti menghindar dari kakak"
"Apa mereka bertengkar?"
"Tidak tahu kakak tidak pernah cerita aku hanya pernah melihat dia kabur saat melihat kakak berada di tempat yang sama"
"Emmhh.. dia model ya? " tanya Vio
"Ya dulu dia tidak secantik itu, mungkin dia operasi plastik "
"Aku merasa pernah melihat wanita itu tapi.. aku tidak yakin melihat wajahnya" Vio menggantung kata katanya
"Apa kau yakin? "
"Tidak juga sih" jawab Vio dengan cengir kudanya
"Ajak Delina malam nanti kita barbeque di rumahku"
"Aku gak yakin bisa keluar" jawab Vio
"Aku yang jemput dan minta izin sama ayah kamu" ucap Andrew
"Nanti malam aku telepon kalau sudah sampai rumah kamu" ucap Andrew seraya pergi
"Haish.. Andrew ini selalu saja semaunya sendiri" gumam Vio
Belum sempat Vio berdiri Sashi menekan bahu Vio agar duduk, Vio hanya menatap sinis membuat Sashi semakin geram
"Aku tau kau tidak selemah itu" ucap Sashi melihat Vio hanya duduk mengetuk ngetuk meja dengan jarinya
"Apa maumu? " tanya Vio
"Jangan menunjukan wajah sok polosmu di hadapan Andrew"
"Lalu apa masalahmu dengan itu? “ tanya Vio
" Aku tidak suka"
"Dengar ya Sashi Andrew tidak menyukaimu jangan terlalu memaksanya, kau bisa lihat sendiri dia lebih menempel padaku" ucap Vio memanas manasi Sashi
"Kau.... " tangan Sashi mengepal kuat
"Aku bahkan bisa memeluk tubuhnya" Vio berdiri memeluk tubuhnya sendiri membuat Sasi semakin geram
"Kau... aku akan membuatmu di keluarkan dari sekolah" Sashi menunjuk wajah Vio
Vio menyentuh telunjuk itu dan melipatnya
"Jangan mengancamku sayang, kau ingat setiap kau berusaha menyakitiku aku selalu bisa melawanmu dan membuatmu tersudut"
__ADS_1
"Bukan hal sulit bagiku membalikkan perbuatanmu pada dirimu sendiri" ucap Vio lalu pergi menabrak bahu Sashi
"Hey j*l*ng dasar wanita tidak tahu malu" teriak Sashi